
Rhea memegangi pelipis kepalanya karena merasakan pusing setelah mendengar keadaan Mirna dari obrolan Shinta dan Ustadz Jaki. Badannya seolah tidak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Mirna yang selama ini bersikap kurang baik padanya sekarang sedang merasakan sakit dan butuh dukungan dari orang yang terdekat.
"Bie...," Rhea kaget mendengar penuturan Shinta tentang Mirna.
Ustadz Fariz menahan tubuh Rhea yang terasa lemas karena mendengar berita tentang penyakit Mirna.
Seketika Ustadz Jaki dan Shinta menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara di depan pintu.
"Rhea?!" ucap Ustadz Jaki dan Shinta bersamaan dengan ekspresi kaget dan tidak percaya.
Ustadz Fariz segera menggendong Rhea dan didudukkan di kursi yang berada di dekat Shinta. Kemudian Ustadz Fariz segera mengambilkan minuman hangat untuk Rhea. Dan dengan sigap Shinta memeriksa keadaan Rhea.
"Gimana, apa yang sakit?" tanya Ustadz Fariz panik melihat istrinya diam seperti banyak pikiran, tidak seperti biasanya.
Rhea hanya tersenyum pada suaminya, karena dia tahu pasti suaminya itu sangat mengkhawatirkannya. Namun Ustadz Fariz tahu jika senyuman istrinya itu senyuman paksa yang diberikan padanya, tidak seperti senyuman manis yang selalu menghiasi bibirnya.
"Tidak apa-apa kok Ustadz, Rhea hanya kaget saja sepertinya," Shinta memberi tahu hasil pemeriksaannya pada Ustadz Fariz.
"Benarkah Sayang?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea seakan tidak percaya dengan apa yang diberitahukan oleh Shinta.
"Iya Bie, gapapa kok. Gak percayaan amat sih," ucap Rhea memaksakan dirinya tertawa kecil agar suaminya itu tidak lagi khawatir padanya.
"Apa ini karena kamu mendengar obrolan kami?" kini Ustadz Jaki yang menanyakan pada Rhea.
Rhea kini melihat Ustadz Jaki dan tersenyum sedikit seraya menganggukkan kepalanya.
"Apa itu semua benar Shin?" kini Rhea bertanya pada Shinta mengenai penyakit Mirna yang dia dengar dari percakapan Shinta dengan Ustadz Jaki tadi.
"Maaf, sebenarnya aku tidak bisa mengatakan pada kalian, tapi... ya sudahlah kalian sudah mendengarnya. Memang Bu Mirna memeriksakan dirinya ditemani dengan seorang wanita muda, dia mengeluhkan nyeri di perutnya. Dan hasil pemeriksaan dia terkena mioma. Mungkin sudah sejak lama, tapi baru terasa sekarang," ucap Shinta dengan ragu.
Sebenarnya Shinta merasa tidak enak mengatakannya pada Ustadz Fariz dan Rhea, karena Shinta tahu jika mereka berdua pasti kepikiran dengan keadaan Mirna sekarang. Sebab mereka berdua itu orang baik dan mempunyai hati lembut, tidak tegaan dengan orang lain. Shinta mengerti itu dan ditambah lagi Ustadz Jaki membenarkan penilaian Shinta tersebut.
Benarlah, Ustadz Fariz kini diam dan sepertinya sedang berpikir. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya, Shinta hanya merasa bersalah dengan menceritakan keadaan Mirna pada Ustadz Jaki di tempat yang tidak tepat.
"Bie....," Rhea memanggil Ustadz Fariz.
Rhea pun merasakan jika suaminya juga kaget dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Ustadz Fariz segera sadar dari keasyikannya dalam berpikir dan memandang Rhea yang sedang memandangnya dengan penuh tanya.
"Ada apa Sayang? Kamu gapapa kan?" ucap Ustadz Fariz yang memang benar-benar khawatir pada Rhea.
Rhea menggeleng dan memberikan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Apa Hubby sedang memikirkan Mbak Mirna?" tanya Rhea dengan ragu.
"Tidak Sayang, hanya saja aku merasa bersalah jika penyakitnya itu sudah dia derita sejak lama, itu saja. Dan sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya, jadi aku tidak boleh mengkhawatirkannya. Lebih baik aku mengkhawatirkan istriku dan juga anakku ini," ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum dan tangannya mengusap perut Rhea yang sudah sedikit membuncit.
"Apa kita perlu menjenguknya Bie?" tanya Rhea untuk menenangkan suaminya.
"Kalian ti-" ucapan Ustadz Jaki terpotong oleh Ustadz Fariz.
"Aku rasa gak perlu Sayang. Aku gak mau mencampuri kehidupannya lagi karena aku takut dia akan masuk dalam kehidupan kita lagi. Aku tau dia seperti apa, jadi lebih baik biar keluarga Pak Ratmo saja yang mengurusnya, kita hanya bisa bantu doa saja agar dia cepat sembuh," ucap Ustadz Fariz dengan menatap mata istrinya sambil tersenyum untuk meyakinkannya dan tangannya menggenggam kedua tangan istrinya itu.
"Itu sudah menjadi kehendak takdir, kita tidak bisa mengubahnya. Le, kamu tidak usah merasa bersalah karena dulu ketika kamu masih menjadi suaminya, kamu tidak mengetahui penyakit Mirna karena dia sendiri tidak merasakannya, mungkin dengan sulitnya kalian mendapatkan keturunan itu sudah menjadi pertanda. Le, kamu sudah sering meminta Mirna untuk memeriksakan dirinya, tapi dia selalu menolak, jadi jangan salahkan dirimu sendiri. Sekarang kamu hanya perlu memikirkan istrimu dan kandungannya saja," ucap Umi Sarifah sambil berjalan dan duduk di sebelah Ustadz Fariz dan memegang pundaknya untuk menenangkannya.
Tadi Umi Sarifah segara berjalan ke ruang tamu ketika melihat Ustadz Fariz mengambil minuman hangat dengan terburu-buru. Merasa ada hal yang aneh, Umi Sarifah pun segera mengikutinya. Ternyata Umi Sarifah mendengar semuanya ketika kakinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu. Umi Sarifah menghentikan langkah kakinya dan mendengarkan semuanya dari tempat tersebut. Dan ketika dirasa Ustadz Fariz menyalahkan dirinya karena penyakit yang diderita Mirna sekarang, Umi Sarifah segera keluar dan memberikan penuturan pada Ustadz Fariz.
"Iya Umi," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum pada Umi Sarifah.
"Tadinya aku mau bilang begitu, hanya saja Ustadz Fariz memotong ketika aku sedang berbicara, dan sekarang malah keduluan Umi yang ngomong gitu," ucap Ustadz Jaki tidak terima.
"Halah kamu palingan mau ngomong supaya mereka gak usah mikirin Bu Mirna kan?" Shinta mencoba menebak pikiran Ustadz Jaki.
"Nah tuh tau. Hehehe... emang kita berjodoh kayaknya Shin. Kamu tau betul apa yang aku pikirkan," ucap Ustadz Jaki yang membumbui suasana serius dan tegang itu menjadi santai dan mencair kembali karena candaannya.
Semuanya tersenyum mendengar Ustadz Jaki yang sempat-sempatnya menggoda Shinta di saat seperti itu.
Bisa-bisanya Jaki ngomong gitu di depan banyak orang. Shinta... Shinta... banyakin stok sabar punya suami kayak dia. Ups suami...hehehe... Shinta berkata sambil tertawa geli dalam hatinya.
Semuanya teralihkan oleh candaan yang diberikan oleh Ustadz Jaki, namun Rhea memandang suaminya dengan perasaan yang entahlah... ada rasa takut, sedih dan tidak rela. Takut jika suaminya memikirkan mantan istrinya lagi, sedih karena melihat suaminya merasa bersalah atas yang diderita oleh mantan suaminya dan tidak rela jika kebahagiaannya sekarang yang dia dapat akan hilang jika Mirna masuk kembali dalam kehidupan mereka meskipun bukan menjadi istri dari suaminya.
Ustadz Fariz merasakan Rhea menatapnya dengan wajah yang tidak bisa diartikan olehnya. Dia meraih tangan Rhea kembali yang sempat terlepas tadi karena kedatangan Umi Sarifah.
"Sayang, yuk ke kamar," ucap Ustadz Fariz sambil membantu istrinya untuk berdiri dari duduknya.
Rhea pun menurut dan berjalan bersama dengan suaminya dengan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya menuju kamar mereka.
"Dasar, ngamar melulu sukanya," ledek Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz.
"Mangkanya cepetan halalin biar bisa cepet ngamar," ucap Ustadz Fariz balas meledek Ustadz Jaki sambil terkekeh sembari berjalan menuju kamarnya.
"Shin, besok aja gimana nikahnya, biar bisa cepet ngamar kayak mereka," ucap Ustadz Jaki sambil menaik turunkan alisnya.
"Jaki, ada Umi," ucap Shinta sambil melotot dan sekilas melihat Umi Sarifah yang tersenyum geli melihat tingkah Ustadz Jaki dan dirinya.
"Gapapa, Umi seneng kok punya banyak cucu. Iya kan Umi?" Ustadz Jaki meminta dukungan Umi Sarifah.
__ADS_1
"Iya, seneng banget malah. Katanya mau fitting baju pengantin, kenapa gak berangkat sekarang?" jawab Umi Sarifah sambil mengingatkan rencana mereka untuk fitting baju.
"Masih lama Umi," jawab Ustadz Jaki.
"Ya siapa tahu kalau ada macet nanti," ucap Umi Sarifah.
"Eh iya loh Jak, ini udah jam segini sekarang, lebih baik kita berangkat sekarang aja, takut ada macet nanti," Shinta menyetujui ucapan Umi Sarifah.
"Ck Umi doainnya jelek sih. Katanya gak boleh lama-lama berduaan. Nanti di mobil kan gak ada orang lain," ucap Ustadz Jaki yang sebenarnya malas kalau disuruh menunggu di tempat fitting baju mereka terlalu lama.
"Bukannya doain jelek Le, hanya antisipasi saja," Umi Sarifah meralat ucapan Ustadz Jaki.
"Ayo berangkat sekarang, benar yang Umi katakan," Shinta beranjak dari kursinya dan berpamitan pada Umi Sarifah.
Kalau sudah begini, Ustadz Jaki tidak bisa mengelak lagi, dia harus menuruti kemauan wanita-wanita yang sangat di sayanginya.
Di dalam kamar Ustadz Fariz mencoba memberitahukan pada Rhea agar tidak memikirkan tentang Mirna, karena menurut Ustadz Fariz raut wajah Rhea berubah setelah dia mendengar tentang penyakit Mirna dari Shinta.
"Sayang, aku tau kamu masih memikirkan tentang Mirna. Aku harap kamu tidak lagi memikirkan dia, karena itu hanya menjadi beban pikiran kamu dan nantinya akan berpengaruh pada perkembangan dedek bayi ini," ucap Ustadz Fariz sambil mengusap lembut perut Rhea dan Rhea kini sedang berbaring dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Aku hanya merasa.... entahlah... Apa, apa Hubby juga merasa bersalah pada Mbak Mirna?" ucap Rhea ragu sambil menatap mata suaminya mencari kebenaran dari pertanyaannya.
Ustadz Fariz menggeleng dan tersenyum menenangkan istrinya.
"Enggak, kata siapa aku memikirkannya? Benar kata Umi, aku hanya perlu memikirkan kalian berdua," ucap Ustadz Fariz sambil tangannya masih mengusap-usap lembut perut istrinya.
"Lagian itu sudah menjadi suratan takdir. Mungkin Allah memberikan jalan seperti itu agar kita bisa berpisah tanpa ada masalah, oleh sebab itu Allah belum memberikan keturunan padaku ketika bersama Mirna. Sudahlah, dia sudah menjadi orang lain bagi kita, jadi kita tidak usah lagi merisaukannya," ucap Ustadz Fariz yang kini tangannya sudah beralih mengusap pipi istrinya.
Rhea tersenyum senang karena dia melihat tidak ada keraguan dan kebohongan pada mata dan wajah suaminya ketika menjawab pertanyaannya.
Ustadz Fariz meraih tubuh Rhea dalam dekapannya dan mengusap-ngusap punggungnya untuk menidurkannya.
"Istirahat ya, biar gak capek. Aku temani di sini," ucap Ustadz Fariz yang mendapat anggukan kepala dari Rhea sebelum dia memejamkan matanya.
Di dalam mobil Ustadz Jaki terdiam, tidak menyalakan mesin mobilnya ketika Shinta sudah naik ke dalam mobil.
"Shin, harus ya kamu naik di belakang? Kursi di sebelahku ini kosong loh," ucap Ustadz Jaki sambil jari tangannya menunjuk kursi di sebelahnya yang kosong.
"Kan katanya gak boleh dekat-dekatan. Tadi aja ngomong kalau takut berduaan di dalam mobil lama-lama sama aku. Lah mangkanya itu aku duduk di belakang," jawab Shinta dengan tersenyum manis yang membuat Ustadz Jaki menjadi jengkel.
"Ya gak harus dibelakang juga Shin. Udah ah pindah depan sini," perintah Ustadz Jaki pada Shinta.
"Tetap duduk di sini atau gak jadi berangkat nih?" ancam Shinta dengan jahilnya.
__ADS_1
"Waduh ngancamnya masalah nikah. Tau banget kamu sama kelemahanku," ucap Ustadz Jaki kesal sambil menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengemudikannya.