Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 116 Salah paham


__ADS_3

Dokter laki-laki muda yang berjaga di UGD itu menghubungi dokter Dina, yang merupakan rekan Shinta dokter Sp.OG di rumah sakit tersebut. Memang dokter Fina sedang bertugas pada saat itu, sehingga ketika dokter Randi menghubunginya dengan menceritakan keadaan dokter Shinta yang berada di UGD saat ini, dokter Dina dengan segera berlari menuju ruang UGD.


Beberapa menit kemudian Rhea dan Umi Sarifah datang ke rumah sakit dan segera menuju ruang UGD untuk mengetahui keadaan Shinta.


"Bagaimana keadaan Shinta?" Umi Sarifah bertanya pada Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki yang sedang menunggu di depan ruang UGD.


"Umi....," Ustadz Jaki berhambur memeluk Umi Sarifah.


"Masih belum tau Umi," Ustadz Fariz menjawab pertanyaan Umi Sarifah.


"Tenang Le, kita berdoa untuk keselamatan istrimu dan kandungannya," ucap Umi Sarifah sambil mengusap punggung Ustadz Jaki.


"Apa masih belum ada kabar Bie?" Rhea bertanya pada Ustadz Fariz ketika berada dalam pelukannya.


Ustadz Fariz mengurai pelukannya dan mengarahkan Rhea untuk duduk di kursi yang dia duduki tadi selama menunggu di sana sebelum istrinya datang.


"Masih dalam pemeriksaan lebih lanjut," ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum agar istrinya tidak terlalu khawatir.


Ustadz Fariz tahu jika Umi Sarifah dan Rhea sangat cemas, oleh karena itulah dia selalu menjawab pertanyaan mereka setenang mungkin agar mereka tidak bertambah cemas dan khawatir.


Ustadz Jaki masih berada di pelukan Umi Sarifah, sepertinya dia sekuat tenaga tidak menangis karena dia tidak mau Umi Sarifah bersedih karena melihat air matanya. Hanya pelukan Umi Sarifah lah yang bisa menenangkannya disaat dia bersedih selama ini, disaat dia mengingat dan rindu akan kedua orang tuanya, bahu dan pelukan Umi Sarifah lah yang selalu menjadi sandaran Ustadz Jaki untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan.


"Dengan keluarga dokter Shinta?" dokter Dina keluar dari ruang UGD dan ingin menemui keluarga dari Shinta.


"Iya dok," jawab Ustadz Jaki yang beranjak dari pelukan Umi Sarifah.


"Maaf Pak, kandungan dokter Shinta tidak bisa diselamatkan karena masih rawan sekali, sekitar dua mingguan. Kami turut bersedih Pak karena tidak bisa menyelamatkannya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan sepertinya Tuhan berkehendak lain. Dan tolong Bapak sebagai suami dari dokter Shinta agar memberikan support untuknya, karena takutnya dokter Shinta akan menyalahkan dirinya sendiri untuk keguguran ini," ucap dokter Dina memberikan penjelasan tentang keadaan Shinta dan calon bayinya yang masih ada dalam kandungannya.


Ustadz Jaki lemas tidak berkata-kata. Lidahnya kelu, bibirnya seolah membeku. Dia hanya diam saja seolah tak beraga. Sungguh tidak pernah terbayangkan kejadian seperti itu akan dia alami bersama dengan Shinta. Mereka berdua memang sedang menunggu kehadiran anak dalam keluarga kecil mereka. Namun Allah berkehendak lain, bayi yang sudah mereka tunggu-tunggu selama beberapa bulan itu kini sudah tidak berada dalam kandungan istrinya lagi.


"Terima kasih dok. Lalu bagaimana dengan keadaan Shinta?" Ustadz Fariz bertanya mewakili Ustadz Jaki yang terlihat sangat syok dan sedih.


"Dokter Shinta baik-baik saja, hanya saja saya takut dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga kandungannya. Banyak sekali kasus seperti itu. Dan dokter Shinta sering menangani pasien seperti itu juga, namun kadang dia sendiri tidak bisa menerimanya meskipun biasanya dia yang menenangkan dan menjelaskan pada pasiennya bahwa bukan karena sang ibu yang tidak bisa menjaga kandungannya, itu semua karena kehendak dari Tuhan. Dan untuk sementara waktu biarkan dia beristirahat dulu untuk memulihkan kondisinya dan pikirannya," dokter Dina menjelaskan kembali kondisi Shinta saat ini.


"Baik dok, terima kasih. Apa boleh kita melihatnya?" Ustadz Fariz bertanya kembali pada dokter Dina.


"Boleh Pak, tapi setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya. Silahkan untuk mendaftar terlebih dahulu. Maaf saya permisi dulu," jawab dokter Dina sebelum meninggalkan ruang UGD tersebut untuk kembali menjalankan tugasnya.


"Le, yang sabar ya," Umi Sarifah berucap sambil mengusap kembali punggung Ustadz Jaki yang masih berdiri mematung dengan memandang pintu ruang UGD.


"Sabar Ustadz, semoga cepat diberikan anugerah kembali oleh Allah," ucap Ustadz Fariz mendoakan Ustadz Jaki.


"Amin...," doa Ustadz Fariz diamini oleh dirinya sendiri, Umi Sarifah dan Rhea.


"Mari Ustadz kita urus dulu kamar inapnya agar Shinta bisa cepat dipindahkan," Ustadz Fariz mengajak Ustadz Jaki bersamanya agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.

__ADS_1


Ustadz Jaki menurut, dia berjalan ketika tangannya ditarik oleh Ustadz Fariz, namun dirinya tetap diam tidak mengatakan apapun.


Ustadz Fariz mengerti bahwa Ustadz Jaki menahan air matanya sehingga dia tidak bisa berkata-kata, dia pasti takut air matanya menetes jika dia berucap.


Setelah mereka mengurus kamar untuk Shinta, mereka kembali ke ruang UGD, dan ternyata Shinta sudah dipindahkan, sehingga Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki segera menyusul ke kamar inap Shinta setelah menghubungi Rhea dan menanyakan keberadaan mereka.


Rhea berada di luar kamar inap Shinta untuk menunggu Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki, sedangkan Umi Sarifah berada di dalam kamar menunggu Shinta yang sedang diperiksa kembali oleh dokter Randi.


Ketika Ustadz Jaki hendak masuk ke dalam kamar inap Shinta, dia berpapasan dengan dokter Randi yang melihatnya seperti tidak suka pada Ustadz Jaki.


"Maaf, anda suami dokter Shinta kan? Seharusnya anda bisa menjaga dokter Shinta dengan lebih baik lagi sehingga tidak terjadi hal seperti ini. Pasti dokter Shinta sangat bersedih mendengar dia telah keguguran. Saya harap anda bisa menjaganya lebih baik lagi mulai sekarang ini, jika tidak....," dokter Randi seolah memarahi Ustadz Jaki, dia menyalahkannya.


"Jika tidak kenapa dok?" tanya Ustadz Jaki yang merasa sedikit emosi mendengar semua perkataan dari dokter Randi.


Jika tidak, aku akan mengambilnya darimu, tentu saja kalimat ini diucapkan dalam hati oleh dokter Randi, tidak mungkin dia secara terang-terangan mengatakan pada suami Shinta jika sedari dulu dia mencintai Shinta, semenjak mereka berada di fakultas kedokteran sebelum Shinta mengambil spesialis untuk keahliannya.


Ustadz Jaki memandang tidak suka pada dokter Randi karena menurutnya dokter Randi menyukai istrinya. Sejak berada di UGD, kecemasan dan pandangan dokter Randi pada Shinta membuat Ustadz Jaki tidak nyaman, dia tidak suka istrinya dipandang seperti itu oleh laki-laki lain.


"Tidak apa-apa, lupakan saja. Saya permisi," ucap dokter Randi sebelum meninggalkan ruang inap Shinta.


Ustadz Jaki mendengus kesal,namun dia tahan kekesalannya ketika Ustadz Fariz mendorong tubuhnya untuk segera masuk ke dalam kamar menemui Shinta.


"Le, duduklah sini," Umi Sarifah berdiri ketika Ustadz Jaki sudah berada di dekatnya.


"Shinta belum sadar Umi?" Rhea kini bersuara setelah sekian lama dia hanya diam karena dia mengingat dirinya yang beberapa kali hendak kehilangan bayinya.


Umi Sarifah menggelengkan kepalanya dan berkata,


" Kata dokter sebentar lagi pasti Shinta akan sadar."


"Duduklah sini Sayang, kamu jangan terlalu capek," Ustadz Fariz mendudukkan tubuh Rhea di sofa yang berada dalam rungan tersebut disebelah Umi Sarifah.


Rhea hanya menurut dan duduk bersama Umi Sarifah dan suaminya di sofa tersebut.


Air mata Ustadz Jaki tidak lagi bisa terbendung ketika dia menciumi tangan istrinya dan melihat perut istrinya yang tadinya terdapat calon anak mereka, namun dia tidak mengetahuinya.


Shinta mulai sadar, matanya mengerjap dan pandangan matanya langsung tertuju pada suaminya yang berada di sampingnya sedang mengeluarkan air mata ketika menciumi tangannya seraya berkata,


"Maafkan aku Sayang, maaf jika aku tidka bisa menjadi suami yang perhatian sehingga aku tidak tau jika kamu sedang mengandung anak kita. Maafkan aku karena tidak siaga menjaga kamu dan calon anak kita. Maafkan aku... maafkan aku Sayang..."


"Aku yang salah, aku sendiri tidak tau jika aku sedang mengandung. Aku baru tau setelah aku terpeleset dan merasakan sakit di perutku serta keluar darah yang mengalir di kakiku," suara Shinta yang masih lemah ini membuat Ustadz Jaki menoleh.


"Shinta...," Ustadz Jaki kaget melihat istrinya sadar ketika dirinya sedang mengeluarkan air mata.


Ustadz Jaki segera beranjak dari kursinya dan keluar meninggalkan Shinta penuh dengan tanda tanya. Ustadz Jaki keluar karena dia ingin menetralkan hatinya dan menghilangkan air matanya, karena dia tidak ingin jika Shinta menjadi sedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Namun Shinta merasa sedih karena dia berpikir suaminya itu marah padanya karena lalai menjada anugerah yang dititipkan oleh Allah dalam kandungannya.

__ADS_1


Rhea, Umi Sarifah dan Ustadz Fariz mendekat. Mereka ingin melihat keadaan Shinta yang baru saja sadar.


"Bagaimana keadaanmu Nduk?" tanya Umi Sarifah sambil mengusap kepala Shinta yang berbalut hijab.


Shinta tersenyum getir, dia tahu jika Umi Sarifah pasti bersedih karena kehilangan calon cucunya, hal yang paling Umi Sarifah nantikan selama ini.


"Maafkan Shinta Umi," suara Shinta bergetar dan keluarlah bulir air mata dari mata Shinta.


"Tidak apa-apa Nduk, yang penting kamu selamat dan sehat. Mungkin itu belum rejeki kalian berdua. Kalian harus berusaha lagi agar Allah menitipkan kembali anak pada kalian. Sudah jangan bersedih, kamu harus cepat pulih dan segera pulang bersama kita ya," Umi Sarifah kembali menghibur dan menenangkan Shinta.


Namun raut wajah Shinta masih terlihat jelas kesedihannya, ditambah lagi matanya yang memandang ke arah pintu seolah menanti seseorang.


"Suamiku pasti sangat sedih dan kecewa padaku Umi," air mata Shinta kembali menetes dan suaranya sangat berat dan bergetar.


"Bie, ada apa dengan Ustadz Jaki?" Rhea berbisik lirih di telinga Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz tidak menjawab, dia memandang istrinya sebentar, kemudian dia berjalan keluar pintu untuk menemui Ustadz Jaki.


"Tidak Nduk, suamimu tidak akan seperti itu, dia sangat mencintaimu," Umi Sarifah mencoba menenangkan Shinta.


"Pasti Ustadz Jaki sedang memanggil dokter Shin, dia tidak akan seperti itu padamu, tenang aja," kini giliran Rhea yang menenangkannya.


"Ustadz kenapa di sini? Shinta mencarimu, dia bersedih karena menurutnya kamu marah dan menyalahkannya," suara Ustadz Fariz menyadarkan Ustadz Jaki dari lamunannya.


"Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar, karena aku tidak mau Shinta melihatku sedih dan mengeluarkan air mata karena aku takut dia akan menyalahkan dirinya sendiri," Ustadz Jaki menjawab pertanyaan dari Ustadz Fariz.


"Kamu salah Ustadz. Shinta kini menangis dan bersedih karena dia mengira Ustadz marah dan kecewa padanya. Cepatlah masuk dan jangan sampai pemikiran salahnya itu berlarut-larut, dan jangan sampai dia salah paham," Ustadz Fariz menegur Ustadz Jaki.


Dengan segera Ustadz Jaki masuk ke dalam kamar inap Shinta dan memeluk tubuh istrinya. Ustadz Fariz mengajak Rhea dan Umi Sarifah keluar dari kamar tersebut agar sepasang suami istri itu bisa menjernihkan kesalahpahaman mereka.


"Ada apa dengan Jaki Le?" tanya Umi Sarifah pada Ustadz Fariz ketika mereka sudah duduk di luar kamar inap Shinta.


"Tidak apa-apa Umi, hanya saja Ustadz Jaki tidak mau Shinta melihat air matanya, dia takut jika Shinta menyalahkan dirinya sendiri," Ustadz Fariz menjelaskan pada Umi Sarifah dan Rhea.


"Tapi Shinta tadi..."


"Iya Umi, mereka salahpaham," sahut Ustadz Fariz.


Di dalam kamar, Shinta menundukkan kepalanya ketika Ustadz Jaki berada di dekatnya.


"Sayang... maafkan aku...," ucap Ustadz Jaki sambil memeluk tubuh Shinta.


"Aku yang salah Sayang, aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk calon anakku, oleh karena itulah Allah mengambilnya kembali," Shinta menyalahkan dirinya sendiri.


"Shinta!"

__ADS_1


__ADS_2