Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 218 Nasib


__ADS_3

"Kak Izam tungguin Salsa!"


Salsa berteriak seraya berlari memanggil Izam. Mereka kini sudah bersekolah kembali. Izam yang sudah sembuh lebih bersikap dingin pada orang lain selain keluarganya.


Kematian Umi Sarifah lah yang membuatnya menjadi pendiam dan lebih dingin pada orang lain. Namun hanya Salsa lah yang bisa membuat Izam tertawa dan kembali seperti dulu. Dengan tingkah konyol dan kelucuan Salsa itu yang bisa menghibur Izam dari rasa sedihnya atas meninggalnya neneknya yang kecelakaan bersamanya.


Izam pun menghentikan langkahnya, dan....


Bruk!


Kepala Salsa terbentur punggung Izam yang berhenti mendadak di depan Salsa.


"Awww.... Kak Izam.... sakiiiit...."


Salsa berseru sambil mengusap-usap dahinya yang terbentur punggung Izam.


"Lelet banget sih kayak siput. Gak bisa cepat dikit apa?" ucap Izam sambil membantu Salsa meredakan rasa sakit di dahinya dengan mengusap-usap dahinya.


"Kak Izam aja yang kakinya panjang, jadi langkahnya lebar-lebar. Salsa kan imut jadi langkahnya gak selebar Kak Izam," jawab Salsa yang bibirnya mengerucut mendengar Izam mengatainya seperti siput.


"Udah yuk jalan, nanti telat, sebentar lagi bel masuk bunyi," ucap Izam sambil menarik tangan Salsa agar tidak tertinggal lagi olehnya.


Izam melepas tangannya dari tangan Salsa ketika mereka sudah masuk di dalam kelas. Banyak sekali teman-temannya yang sering sekali menyoraki mereka karena terlalu dekat sebagai lawan jenis.


"Ciiiie gandengan....."


"Pagi-pagi udah pacaran aja."


"Salsa itu adikku, kalian jangan bicara sembarangan," ucap Izam dengan tegas dan berwajah datar.


Aura dingin terpancar di wajah Izam membuat semua temannya diam seketika dan tidak lagi bersuara.


"Izam yang sekarang beda ya, gak seperti Izam yang dulu sering main sama kita," bisik salah satu teman Izam yang tadi meledeknya.


"Iya, sejak kecelakaan itu dia jadi seperti ini," ucap teman satunya dengan balas berbisik.


"Ini semua karena anak pembawa sial itu," balas anak tersebut berbisik kembali.


"Hana?" tanya anak satunya lagi masih dengan saling berbisik.


Anak tersebut mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan temannya.


"Bagaimana ya kabar dia sekarang? Sekolah di mana dia, di sini kan sekolah paling dekat di daerah sini?" tanya si anak tersebut pada temannya yang masih saling berbisik.


"Tau deh. Kamu kangen ya sama dia sampai nanya kabarnya gitu?" anak tersebut berbalas bisik dengan temannya.


"Ngawur!"

__ADS_1


Tanpa sadar anak tersebut berseru menanggapi bisikan dari temannya. Dan semua pasang mata yang berada di dalam kelas beralih menatapnya, sehingga membuat si teman yang berbisik di telinganya tertawa puas melihatnya.


Jauh dari sekolah Izam dan Salsa, di suatu Pondok Pesantren yang terletak di daerah lain, Hana sedang berjuang melawan rasa rindu pada keluarganya.


Awal-awal dia berada di Pondok Pesantren tersebut terasa sangat berat baginya. Rasa kerinduan dan rasa belum terbiasa berada di sana membuat dia ingin sekali kembali pulang ke rumahnya.


Setiap malam dia menangis sendiri menahan rasa itu. Namun melihat semua perlengkapan dan apa yang dipakainya saat ini membuat Hana meyakinkan dirinya bahwa dia harus bisa tetap berada di sana.


Mbak Anita sudah membelikan aku semua pakaian dan semua perlengkapan ini. Pasti semua ini tidak murah. Semua ini pasti mahal dan aku tidak boleh mengecewakan Mbak Anita dan Kakek. Apalagi biaya untuk masuk di Pondok Pesantren ini juga tidak sedikit, aku tidak boleh membuat Bapak dan Ibu kecewa. Hana, kamu pasti bisa.


Hana berkata dalam hatinya dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Dia menyemangati dirinya sendiri agar bisa menghadapi semuanya dengan baik. Beberapa detik kemudian Hana mengusap air matanya dan berkata dalam hatinya,


Ibu, ibu doakan Hana ya Bu agar Hana bisa bertahan dan menjadi anak sesuai harapan mereka semua.


Hari-hari memang tidak mudah dilewati oleh Hana. Namun setiap dia mengeluh dan menangis, dia selalu teringat dengan alasannya berada di Pondok Pesantren tersebut dan dia selalu memberi semangat pada dirinya sendiri agar bisa bertahan agar bisa melewati itu semua dengan baik serta tidak mengecewakan Pandu, Mirna, Anita dan Pak Ratmo.


Dua bulan sudah Hana berada di Pondok Pesantren tersebut, dan kini tibalah saat keluarga Hana bisa mengunjunginya.


"Bapak...."


Hana berseru seraya berlari menghampiri Pandu dan memeluknya dengan erat.


"Hana kangen sama semuanya," ucap Hana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bapak sama semuanya juga kangen sama Hana," ucap Pandu yang kini sudah melepaskan pelukannya pada Hana.


Hana kini beralih memeluk Mirna, dan dia menciumi pipi adiknya yang berada dalam gendongan Mirna.


"Hana baik-baik saja kan?" tanya Mirna pada Hana.


"Iya Bu, Hana baik-baik saja," jawab Hana.


Kemudian dia beralih memeluk Anita yang sering sekali menghubungi pihak Pondok Pesantren untuk menanyakan kabar Hana.


"Hana sudah punya banyak teman di sini?" tanya Anita pada Hana ketika sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Hana.


Hana mengangguk dan memberikan senyumnya pada Anita. Kemudian dia berbisik di telinga Anita.


"Terima kasih Mbak Anita sudah sering menanyakan kabar Hana di sini."


Anita kaget mendengar apa yang dibisikkan oleh Hana. Memang benar dia sering sekali menanyakan kabar Hana dan adiknya pada Ustadz Fadli ketika Ustadz fadli mengirimkan pesan padanya. Namun jika Ustadz Fadli tidak mengirim pesan padanya, Anita menanyakan kabar Hana dan adiknya pada pihak Pondok Pesantren.


"Hana tau dari mana?" tanya Anita lirih di sebelah telinga Hana.


"Ustadz Fadli," jawabnya.


Kemudian Hana meninggalkan Anita yang masih kaget mendengar jawabannya itu beralih untuk memeluk Pak Ratmo.

__ADS_1


"Apa Hana betah berada di sini?" tanya Pak Ratmo ketika sedang memeluk Hana.


"Betah Kek. Berkat Kakek Hana ada di Pondok Pesantren ini. Terima kasih ya Kek," ucap Hana, kemudian dia mengurai pelukannya dan mencium pipi Pak Ratmo.


Hal inilah yang membuat Pak Ratmo merindukan Hana. Anak yang penurut dan membuatnya seperti mempunyai cucu sendiri itu mempunyai ruang tersendiri di hati Pak Ratmo.


"Bagaimana Hana? Apa Hana mau tetap berada di sini?" tanya Pak Ratmo pada Hana ketika mereka sudah duduk bersama di tempat yang telah disediakan oleh pihak Pondok Pesantren untuk berkunjung menemui para santri.


"Hana tetap di sini saja Kek," jawab Hana sambil memakan makanan yang mereka bawakan khusus untuk Hana.


"Apa Hana tidak mau pulang ke rumah bersama kami?" tanya Pandu pada Hana.


"Hana sudah betah di sini, jadi buat apa dia ikut kita pulang. Lagian jika Hana ikut kita pulang, dia akan bersekolah di mana?" sahut Mirna kemudian.


Hana segera menelan makanannya dan dia menghentikan makannya. Kemudian dia berkata,


"Hana di sini saja Pak. Hana betah di sini. Tapi Hana minta Bapak dan semuanya sering-sering datang ke sini menjenguk Hana agar adik Hana tidak lupa dengan Hana," jawab Hana sambil tersenyum agar Bapaknya tidak terlalu mengkhawatirkannya.


"Hana hebat. Mbak Anita bangga sama Hana," ucap Anita sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Hana.


"Saya juga bangga pada Hana. Dia bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan baik."


Tiba-tiba terdengar suara yang terdengar asing di indera pendengaran mereka. Kemudian mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Fadli?! Eh maaf, Ustadz Fadli," ucap Anita dengan kikuk.


Ustadz Fadli tersenyum pada Anita, kemudian dia mengucapkan salam pada mereka yang ada di sana.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab mereka semua.


"Apa kabar Anita?" tanya Ustadz Fadli yang sedang menatap Anita dengan senyum yamg ditujukan untuk Anita.


"Alhamdulillah baik. Ustadz Fadli gimana kabarnya?" ucap Anita dengan tersenyum menutupi rasa canggungnya di hadapan keluarganya dan tentunya di hadapan Ustadz Fadli yang membuatnya canggung.


"Siapa dia Mas?" Mirna berbisik di telinga Pandu.


Pandu tidak menjawab, dia menggerakkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Mirna padanya.


Pandu pun juga melihat Ustadz Fadli dari atas sampai bawah. Jujur saja dia juga menyayangkan dirinya yang tidak bisa menjadikan Anita sebagai istrinya.


Apa dia pacar Anita? Seorang Ustadz? Kok bisa Anita kenal Ustadz di sini? Mirna berkata dalam hatinya, kemudian dia melirik Pandu yang duduk di sebelahnya.


Sedangkan suami aku yang sekarang jauh sekali dengan Ustadz itu. Mas Pandu tidak tau apa-apa tentang agama, beda sekali dengan Mas Fariz. Kenapa nasibku jadi begini?


Mirna kembali berkata dalam hatinya sambil menghela nafasnya meratapi nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2