
"Astaghfirullahaladzim Mbak... mulutmu gak bisa ya kalem dikit?" kesal Ustad Jaki pada Mirna.
"Aku kan cuma tanya, apa salahnya?" ucap Mirna dengan entengnya.
Semua orang di sana hanya menggelengkan kepalanya seraya beristighfar mendengar perkataan-perkataan dari Mirna kecuali Rhea yang tidak tahu apa-apa mengenai insiden yang dialaminya.
"Pertanyaanmu gak salah, kamu yang salah," sahut Ustad Jaki kesal pada Mirna.
"Sudah kalian berdua diamlah. Gak baik berdebat di depan tamu," tutur Umi Sarifah agar mereka tidak berdebat kembali.
Mirna menatap penuh permusuhan pada Ustad Jaki, sedangkan Ustad Jaki menampilkan senyuman meremehkan pada Mirna.
Rhea memegang punggung tangan Ustad Fariz dan menatapnya, seolah tahu jika Rhea bertanya ada apa, Ustad Fariz menggelengkan kepalanya. Rhea sebenarnya heran, namun dia tidak mau ambil pusing karena dia sudah berjanji untuk tidak memikirkan apapun selama mengandung.
"Mirna, besok aku harap kamu bisa datang ke ruangan kantorku selepas ashar," ucap Ustad Fariz tegas.
Raut wajah Mirna berubah menjadi senang ketika Ustad Fariz menyuruhnya untuk datang ke kantornya.
Pasti dia akan memberitahu tentang kesehatan Rhea padaku, buktinya hanya aku saja yang disuruh datang ke sana. Rhea tidak disuruh datang. Mungkin benar dia keguguran. Akhirnya, hari ini datang juga. Hahahaha...
"Mir, Mirna... kamu dengar kan?" tanya Ustad Fariz pada Mirna.
"I-iya Mas, besok kan ke ruangan Mas? Aku pasti akan datang tepat waktu," Mirna tersadar dari lamunannya dan menjawab pertanyaan Ustad Fariz dengan sumringah.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu pulang dulu ya Nak, besok kita akan ke sini lagi," ucap Ibu mewakili Ayah.
"Loh kok udah langsung pulang sih Bu? Kan baru aja ketemu,"rengek Rhea pada Ibunya.
"Besok kan ke sini lagi," Ibu mengusap sayang kepala Rhea.
Rhea mengangguk dan memeluk Ibunya, kemudian Ibunya mencium kedua pipi Rhea bergantian. Dan Rhea mencium punggung tangan Ibunya. Kemudian Rhea mencium punggung tangan Ayahnya. Bergantian dengan Ustad Fariz.
Setelah itu Ayah dan Ibu berpamitan pada Umi Sarifah dan Ustad Jaki. Kemudian Rhea dan Ustad Fariz mengantar Ayah dan Ibu keluar rumah sampai pada mobilnya.
Ustad Fariz mengajak Rhea masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas melewati Mirna yang berada di ruang tamu bersama Umi Sarifah dan Ustad Jaki.
"Loh Mas.. Mas Fariz mau kemana? Mas...," seru Mirna akan mengikuti Ustad Fariz dan Rhea.
__ADS_1
"Udah kamu pulang aja, orang mau ke kamar kok diikutin," ucap Ustad Jaki seraya berdiri dan pergi meninggalkan ruang tamu.
"Loh kok aku ditinggal sih Mas? Aku baru datang loh, harusnya kalian itu-"
"Mirna, Rhea masih butuh banyak istirahat, mungkin udah waktunya dia istirahat sekarang. Kamu pulang aja dulu ya, nanti aja lagi kalau mau ngobrol sama Rhea," Umi Sarifah mengajak Mirna untuk duduk di teras ngobrol bersamanya, namun Mirna tidak mau, dia lebih memilih untuk pulang.
Di dalam kamar, Rhea sedang bermanja-manja dengan suaminya. Sebenarnya dia hendak bertanya mengenai Mirna yang disuruh suaminya untuk menemuinya di ruangannya besok, tapi Rhea tidak berani bertanya. Biarlah suaminya sendiri yang mengatakan padanya, karena Rhea sadar jika Mirna juga istri dari suaminya. Dia tidak berhak mencampuri atau melarang suaminya untuk bertemu atau bersama Mirna.
"Mikirin apa?" Ustad Fariz berbaring miring dengan bertumpu pada satu telapak tangan di kepalanya menghadap ke arah Rhea.
"Emmm... enggak Bie, gapapa," Rhea mencoba membohongi suaminya.
"Gak usah bohong, aku tau kalau kamu sedang berbohong," ucap Ustad Fariz sambil merapikan rambut Rhea dan diselipkannya ke belakang telinga.
"Mmm... boleh aku bertanya sesuatu Bie?" Rhea memandang penuh harap pada suaminya.
"Boleh dong sayang, mau tanya apa?" ucap Ustad Fariz sambil tersenyum.
"Mmm itu... soal... soal Mbak Mirna," ucap Rhea ragu dengan suara lirih.
"Dih, bukan itu maksudku. Apa ada masalah?" tanya Rhea ragu.
"Udah gak usah dipikirkan, nanti saja aku ceritakan. Untuk saat ini kamu tidak boleh banyak pikiran dan banyak aktifitas selama dokter belum mengijinkan untuk beraktifitas kembali. Mengerti?" tutur Ustad Fariz panjang lebar yang membuat Rhea melongo.
"Sayang... sayang..." Ustad Fariz mencubit gemas pipi Rhea.
"Iiih kok dicubit sih?" Rhea mengerucutkan bibirnya.
"Abisnya ditanyain malah diem aja, mana ngegemesin lagi," Ustad Fariz terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Aku tuh baru tau kalau suamiku bisa ngomong panjang lebar gitu, biasanya irit banget kalau ngomong."
"Terpesona ya?" Ustad Fariz mencubit hidung Rhea.
"Terpesona, tersepona," seru Rhea sebal.
Ustad Fariz hanya terkekeh mendengar istrinya berbicara dengan ekspresi yang menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Abisnya nyubit-nyubit mulu ih... kesel," Rhea merajuk.
"Gemes banget sih," Ustad Fariz kembali mencubit hidung Rhea kemudian mencuri kecup sekilas dari bibir pink alami sang istri.
Rhea melotot kaget dengan tingkah suaminya, sedangkan Ustad Fariz tersenyum dan menarik tubuh Rhea untuk berbaring dalam pelukannya.
"Udah yuk istirahat dulu, mumpung masih jam segini. Rasanya udah lama gak berbaring nyenyak di ranjang. Rasanya nyaman sekali, apalagi bisa pelukan sama istri tercinta," ucap Ustad Fariz sambil memeluk tubuh Rhea.
"Mmm udah pinter menggombal ya sekarang," sahut Rhea sambil menyandarkan kepalanya pada dada suaminya untuk mencari tempat ternyaman.
Keesokan harinya, selepas ashar,sesuai dengan janjinya, Mirna menemui Ustad Fariz di ruangan kantornya.
"Assalamu'alaikum...," salam diucapkan oleh Mirna.
"Wa'alaikumussalam...," jawab beberapa orang yang ada di dalan ruangan tersebut.
Mirna kaget ketika masuk malah mendapati banyak orang di dalam ruangan kantor suaminya.
Loh, kok banyak orang? Bukannya kita hanya berdua aja? Kenapa jadi banyak orang? Yaaa gagal deh berduaan, padahal aku udah dandan cantik begini, udah pakai gamis baru lagi, masa' gak jadi?
"Mirna, duduklah," perintah Ustad Fariz pada Mirna.
Mirna menatap semua orang yang hadir. Nampak di sana ada Pak Ratmo yang merupakan Paman Mirna, Ustad Jaki, Pak Adrian, Bu Ratih, Ustad Bani dan Ustadzah Anisa sebagai perwakilan dari Ustad dan Ustadzah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Mirna, duduklah, semua orang menunggumu," Ustad Fariz kembali memerintah Mirna untuk segera duduk.
Dengan berat hati Mirna duduk di kursi yang tersisa. Tidak dekat dengan suaminya, malah berada jauh dari suaminya.
Apaan ini, udah dandan abis-abisan, eh malah kayak gini. Huffft.... lagian ini mereka ngapain pada kumpul di sini sih? batin Mirna menggerutu.
"Baiklah, saya rasa sekarang kita bisa memulainya," ucap Ustad Jaki dan diangguki oleh semua orang yang hadir di sana.
"Silahkan Ustad Fariz," Ustad Jaki mempersilahkan Ustad Fariz untuk memulainya.
"Bismillahirrahmanirrahim.... Mirna-"
"Ya, kenapa Mas Fariz?" jawabnya sumringah.
__ADS_1