Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 122 Antara ingin dan malu


__ADS_3

Shinta masih betah menatap wajah suaminya yang sedari tadi terlihat khawatir padanya. Perlahan air mata Shinta menetes ke pipinya karena teringat kata-kata poligami terlintas di benaknya.


"Apa kamu akan menikah lagi?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Shinta.


Ustadz Jaki terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya. Pertanyaan yang sangat membuatnya marah dan kesal karena teringat dengan peristiwa tadi. Teringat dengan Ustadzah Farida dan ibunya serta keinginan dari bapaknya Ustadzah Farida.


"Astaghfirullahaladzim... kamu ngomong apa sih Sayang? Gak akan, aku gak akan melakukan itu. Dan kamu gak usah memikirkan hal-hal yang gak berguna seperti itu. Yang kamu pikirkan hanya kesehatan kamu, agar kami bisa cepat pulih dan...," ucapan Ustadz Jaki menggantung, tidak diselesaikan.


"Dan apa?" Shinta penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh suaminya.


"Dan kita bisa cepat bikin dedek lagi," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar.


"Tuh kan.... mangkanya aku mikirnya kamu mau nikah lagi, kan aku habis keguguran," ucap Shinta sewot.


"Maunya cuma sama kamu Sayang... gak usah mikir macem-macem deh," ucap Ustadz Jaki sambil mencubit hidung istrinya.


Kemudian Ustadz Jaki berdiri dan itu membuat Shinta berpikiran macam-macam, dia takut suaminya akan meninggalkannya karena marah padanya.


Namun beberapa detik kemudian dia merasa aneh, tubuhnya serasa ringan dan terbang. Tapi dia mencium aroma tubuh suaminya, dan benar saja, ketika dia tersadar dan menoleh ke samping, terlihat dada bidang suaminya yang masih terbalut baju. Ternyata dia sudah ada dalam gendongan suaminya.

__ADS_1


Shinta menatap wajah suaminya dari posisinya saat ini. Sepertinya dia terpesona pada suaminya sendiri.


Ternyata suamiku ganteng juga meskipun dilihat dari bawah, pantas aja Ustadzah Farida ngebet banget pengen jadi istrinya. Apa aku harus lebih ekstra menjaga suamiku ya? Shinta berkata dalam hatinya yang masih dalam posisi memandang wajah suaminya tanpa berkedip.


Ustadz Jaki merasa istrinya sedang melihatnya, dia lirik sekilas dan dia tersenyum melihat istrinya yang melihatnya tanpa berkedip. Diletakkannya tubuh istrinya itu di ranjang mereka setalah sampai di dalam kamar. Kemudian segera dibawa ke dalam pelukannya tubuh istrinya itu. Ustadz Jaki memeluknya dengan erat dan sesekali mencium bibir istrinya dan pipinya hingga membuat Shinta tertawa bahagia.


Berbeda dengan keadaan kamar Ustadz Jaki yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, kamar di rumah sakit ini terasa tegang. Tampak Ustadzah Farida yang sedang berdebat dengan ibunya. Dan Bapaknya Ustadzah Farida pun menginginkan hal yang sama dengan istrinya. Namun melihat anaknya yang malu karena ditolak langsung dihadapan orang banyak dengan alasan yang sangat menyakitkan hati anaknya, maka dia juga melarang istrinya untuk kembali menemui Ustadz Jaki dan Umi Sarifah.


"Mungkin saja jika mereka tau Bapak sakit parah, mereka akan menyetujuinya Pak," ibu dari Ustadzah Farida masih saja dengan pemikirannya.


"Ibu!" seru Ustadzah Farida sambil beristighfar dalam hatinya.


"Astaghfirullahaladzim... Ibu mendoakan Bapak meninggal?" ucap Bapak Ustadzah Farida yang masih berada di ranjang rumah sakit.


"Iya Bu, dan ibu juga dengar sendiri kan kalau akhirnya mereka bercerai? Dan setahuku memang sepertinya suaminya tidak bahagia hanya karena terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Aku udah ikhlasin perasaanku Bu sejak Ustadz Jaki menikah waktu itu, hanya saja memang sangat sulit, tapi aku masih berusaha melupakannya. Nah ini malah Ibu nyeret aku supaya deket lagi sama dia. Tambah sulit kan Bu aku ngelupainnya," Ustadzah Farida menyalahkan Ibunya.


"Halah, wong kamu sendiri tadi juga mau gitu kok, malah kesenangan pas tau kita berniat menikahkan kamu dengan Ustadz Jaki," ibu Ustadzah Farida menyudutkan anaknya.


"Iya, tapi itu sebelum aku ditolak dengan cara seperti itu, di hadapan orang banyak bu... aku malu meskipun mereka hanya keluarganya saja. Belum lagi jika ada orang luar yang tau gimana Bu? Pasti aku akan sangat malu berada di sana Bu," ucap Ustadzah Farida yang merasa bingung akan dirinya.

__ADS_1


"Sudahlah Bu, kita batalkan saja niatan kita. Ibu carikan saja lelaki lain untuk jodoh anak kita," kini Bapak Ustadzah Farida menyuarakan pendapatnya.


"Siapa lagi Pak? Lagian kapan lagi kita bisa menjadi bagian dari keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin? Pasti anak kita akan dihormati banyak orang," jawaban dari ibu Ustadzah Farida membuat bapak Ustadzah Farida beristighfar sambil memegang dadanya.


Sebenarnya dari dulu Ustadzah Farida menaruh hati pada Ustadz Jaki, dan alasan lainnya Ustadzah Farida memantapkan dirinya untuk menyukai Ustadz Jaki yaitu sama dengan alasan dari ibunya. Namun semua itu hanya khayalannya saja, keinginannya itu sudah terkubur sejak Ustadz Jaki memutuskan untuk menikahi Shinta, wanita yang menjadi cinta pertamanya.


"Udah Bu, gak usah jodoh-jodohin Farida. Nanti juga Farida ketemu jodohnya Farida sendiri," ucap Farida yang kemudian keluar dari kamar inap Bapaknya.


Di taman rumah sakit, Ustadzah Farida merenungi nasib percintaannya. Dia menyalahkan dirinya yang dari dulu tidak mengatakan perasaannya pada Ustadz Jaki. Namun sisi lain dari dirinya mengatakan bahwa mereka memang tidak berjodoh dan menyuruhnya untuk melupakan Ustadz Jaki.


Ustadzah Farida mengurut setiap kejadian di mana dia dan Ustadz Jaki yang sedang bersama dalam suatu kegiatan, dia merasa senang mengingatnya, namun dia kembali bersedih ketika ingatannya merujuk pada saat dia menyatakan perasaannya pada Ustadz Jaki saat dia membantu membungkus seserahan dan penolakan Ustadz Jaki tadi di hadapan keluarga mereka. Sangat menyakitkan hatinya dan sangat memalukan menurutnya.


Terlintas sesaat perkataan Ustadzah Anisa yang kerap sekali menasehatinya untuk melupakan dan mengikhlaskan Ustadz Jaki. Hal itu membuat Ustadzah Farida sedikit sadar jika dia harus menerima semuanya dengan ikhlas.


"Kamu gak balik ke Pondok Pesantren? Besok kan kamu harus ngajar. Tadi kamu sudah ijin, masa' kamu ijin lagi besok?" tanya bapak Ustadzah Farida ketika melihat Ustadzah Farida masuk dan duduk di kursi yang ada dalam kamar tersebut.


"Farida mau di sini aja Pak. Farida mau ijin lagi besok gak ngajar dulu," jawab Ustadzah Farida sambil memejamkan matanya.


"Lho kenapa harus ijin? Di sini sudah ada Ibumu yang jagain Bapak. Kamu gak perlu khawatir," bapak Ustadzah Farida tidak setuju dengan apa hang dikatakan oleh Ustadzah Farida.

__ADS_1


"Bukan masalah itu Pak. Aku malu pada keluarga Ustadz Jaki dan bagaimana kalau aku bertemu dengan Ustadz Jaki besok?" akhirnya Ustadzah Farida mengatakan apa yang dirasakannya.


"Harusnya kamu tetap ngajar, siapa tau Ustadz Jaki besok berubah pikiran dan mau menerima kamu jadi istrinya," tiba-tiba ibu Ustadzah Farida yang tadinya sudah memejamkan matanya kini mengeluarkan suaranya.


__ADS_2