
Perjalanan mereka terhenti ketika suara adzan ashar berkumandang. Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Rhea berhenti di rest area yang kebetulan mereka lewati. Mereka melaksanakan shalat ashar di Mushalla yang ada di rest area tersebut dan beristirahat sebentar untuk mengisi perut mereka.
Tiba-tiba ada suara dering telepon dari ponsel Ustad Fariz. Ustad Jaki dan Rhea memandang ke arah Ustad Fariz, mereka takut jika perkiraan mereka benar, mereka takut jika Mirna yang menghubungi Ustad Fariz karena tadi mereka melihat Mirna masuk ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Umi," ucap Ustad Fariz memberitahu sambil memandang Rhea dan Ustad Jaki.
"Assalamu'alaikum Umi...," salam Ustad Fariz mengangkat panggilan telepon dari Umi Sarifah.
Umi Sarifah menceritakan tentang Mirna yang tiba-tiba datang ke rumah dengan membawa banyak makanan.
"Baik Umi, Insya Allah nanti akan saya sampaikan. Wa'alaikumussalam...," Ustad Fariz mematikan teleponnya ketika sambungan telepon sudah diputus oleh Umi Sarifah.
"Ada apa?" tanya Ustad Jaki tidak sabar.
"Mirna tadi datang ke rumah membawa rantang makanan yang isinya bermacam-macam makanan. Dia nunggu lama di sana, akhirnya dia pulang dan berpesan pada Umi dan Mbak Atik agar memberikan makanan itu untukku," Ustad Fariz menceritakan apa yang dikatakan oleh Umi Sarifah tadi di telepon.
Rhea memandang suaminya dengan tatapan yang... entahlah tidak bisa digambarkan karena ada berbagai macam perasaan yang dirasakan oleh Rhea ketika mendengar cerita Umi Sarifah dari suaminya tadi.
Rhea merasa bersalah pada Mirna, namun dia tidak suka jika Mirna memaksakan kehendaknya seperti biasanya. Tapi dia juga merasa sedih dan tidak rela harus jauh dari suaminya yang dekat dengan mantan istrinya.
Ustad Fariz memegang tangan Rhea dan tersenyum padanya untuk menenangkan hati istrinya.
"Memangnya dia gak telepon sama sekali dari tadi?" tanya Ustad Jaki pada Ustad Fariz.
Ustad Fariz menggeleng dan berkata, "Gak ada telepon dari dia sama sekali."
"Tumben, gak biasanya dia begitu. Biasanya nih, Mbak Mirna pasti telepon berkali-kali. Mbak Mirna kan gak sabaran orangnya. Salah orang kali, bukan Mbak Mirna kali tadi," ucap Ustad Jaki heran disertai candaannya.
"Lah kamu pikir siapa?" tanya Ustad Fariz yang juga heran dengan ucapan dari Ustad Jaki.
"Rohnya kali," canda Ustad Jaki sambil terkekeh.
"Udah yuk berangkat. Udah selesai kan makannya?" Ustad Fariz mengajak Ustad Jaki segera berangkat agar tidak terlalu lama diperjalanan.
Ustad Fariz akan mengambil alih kemudi, namun dilarang oleh Ustad Jaki karena dia tidak merasa lelah.
Sebenarnya Ustad Jaki juga memberi kesempatan agar Ustad Fariz dan Rhea bisa berlama-lama bersama sebelum mereka berpisah nanti.
Akhirnya sebelum maghrib mereka sampai. Ayah dan Ibu Rhea kaget melihat anak dan menantu mereka tiba-tiba datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
__ADS_1
"Rhea, sayang kamu tuh gak ngabari Ibu kalau mau datang. Ibu belum masak masakan kesukaan kamu," ibu memeluk Rhea lama karena merasa sangat rindu pada anak perempuannya itu.
"Ayo Bu, diajak masuk dulu anaknya, jangan diluar gini," Ayah menyadarkan ibu jika mereka masih berada di teras rumah.
"Oiya ayo masuk, maaf ibu kelupaan saking senangnya liat kalian datang," ibu menggandeng Rhea masuk ke dalam rumah.
"Ayah, Ibu, maaf kita datang mendadak tidak mengabari kalian terlebih dahulu," ucap Ustad Fariz ketika mereka sudah duduk di ruang tamu, kemudian dia mengambil nafas sebentar untuk melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya kami datang kemari untuk mengantarkan Rhea yang akan tinggal sementara di sini," Ustad Fariz memberitahu maksud kedatangan mereka.
"Tinggal di sini? Bukankah kalian tidak mau dipisahkan?" tanya Bu Ratih heran.
Ustad Fariz dan Rhea saling memandang, lalu mereka mengangguk bersamaan.
"Lalu kenapa?" tanya Bu Ratih kembali karena penasaran, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kemudian Ustad Fariz menceritakan bahwa dia sudah memberikan talak pada Mirna dan Mirna tidak terima sehingga melakukan tindakan yang membuat Rhea sedih. Semuanya di ceritakan oleh Ustad Fariz pada mertuanya dan dia akan menjemput Rhea ketika putusan sidang sudah keluar agar Rhea merasa tenang tinggal di sini tanpa takut akan perbuatan Mirna nantinya.
Bu Ratih dan Pak Adrian mengerti dan mereka mendoakan agar semuanya berjalan dengan lancar.
......................
Tidak biasanya Pak Ratmo pulang ke rumah. Sebenarnya secara tidak sengaja, dia tadi melihat Mirna masuk ke dalam rumah Umi Sarifah. Oleh karena itu Pak Ratmo langsung pulang ke rumah untuk menunggu Mirna di rumah.
Karena Mirna sangat lama tidak pulang-pulang, Pak Ratmo menghubungi telepon rumah Umi Sarifah dan kebetulan yang mengangkat telepon itu adalah Mbak Atik. Pak Ratmo menanyakan tentang kedatangan Mirna pada Mbak Atik, dan Mbak Atik pun membenarkannya. Kemudian Pak Ratmo menitip pesan untuk Umi Sarifah karena Pak Ratmo menunggu Mirna di rumah, jika ada hal penting Pak Ratmo meminta Mbak Atik untuk mengabarinya.
"Paman kok udah pulang?" bukannya menjawab, Mirna malah balik bertanya pada Pak Ratmo.
"Kamu dari mana Mirna?" Pak Ratmo bertanya kembali dengan nada penekanan.
"Dari luar sebentar," Mirna berbohong karena takut dimarahi Pamannya jika ketahuan pergi ke rumah Umi Sarifah.
"Mirna, Paman tahu kamu berbohong. Paman sudah melarang kamu pergi ke Pondok Pesantren Al-Mukmin kan? Lalu kenapa kamu datang ke rumah Umi Sarifah?" akhirnya Pak Ratmo sudah tidak tahan untuk menanyakannya pada Mirna karena Mirna tak kunjung jujur menjawab pertanyaannya.
"Hanya mengantar makanan Paman. Aku gak ngapa-ngapain kok, beneran. Tanya aja ke Umi Sarifah kalau Paman gak percaya," Mirna pun menjawab pertanyaan Pamannya.
"Kenapa kamu melakukan itu Mirna? Harusnya kamu diam saja di rumah," Pak Ratmo kembali emosi karena Mirna selalu saja tidak mau menurut.
"Aku hanya ingin berbicara dengan Mas Fariz Paman. Tadi pagi pada saat aku berbelanja, aku mendengar banyak ibu-ibu yang membicarakan tentang perceraianku. Aku gak mau Paman, aku gak mau cerai. Aku mau balik lagi jadi istrinya Mas Fariz, mangkanya aku ke sana bawa makanan. Mas Fariz pasti akan terkesan dengan makanan yang aku bawa," Mirna membayangkan Ustad Fariz tersenyum memakan makanan yang dia bawa.
__ADS_1
"Kamu masak sendiri? Kik gak ada banyak makanan di sini?" tanya Pak Ratmo heran.
"Enggak. Aku tadi beli di warung masakan Padang yamg ada di seberang jalan. Mas Fariz kan sangat suka sekali rendang, jadi aku belikan saja beberapa masakan di sana. Pasti deh Mas Fariz senang. Pasti Mas Fariz nanti akan terkesan lagi padaku," Mirna mengucapkan kembali harapannya.
"Mimpi kamu Mirna. Sudahlah, kamu ikhlaskan saja semuanya. Mulailah hidup kamu yang baru dengan menjadi Mirna yang lebih baik lagi. Dan jangan kamu ulangi lagi kesalahan kamu," Pak Ratmo meninggalkan Mirna untuk kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Sebenarnya apa sih yang salah sama aku? Aku rasa aku tidak salah. Ya memang sih aku kadang suka iri sama Rhea. Wajar aja kan aku iri. Tapi dimana salahnya? Kenapa sih, kenapa aku yang dikorbankan di sini? Kenapa kebahagiaanku dirampas oleh wanita itu? Kenapa semuanya tidak menyayangiku? Kenapa... kenapa... kenapa...?!" Mirna frustasi berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil marah-marah dan melempar hijab yang dipakainya ke sembarang arah untuk melampiaskan kemarahannya.
Malam harinya, ketika Pak Ratmo pulang, Mirna sudah berpakaian rapi dan berhias seperti akan menghadiri suatu acara.
"Mau kemana kamu Mirna?" tanya Pak Ratmo yang berpapasan dengan Mirna di ruang tamu rumahnya.
"Mau menemui Mas Fariz, pasti dia berterima kasih padaku sudah mengiriminya makanan," Mirna tersenyum bahagia sambil melangkah pergi keluar dari rumah.
"Mirna, sebaiknya kamu ja-"
"Udahlah Paman, bye...," saking senangnya Mirna tidak mengucapkan salam pada Pamannya.
"Mirna... Mirna...," Pak Ratmo hanya menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya. Dia tidak menduga jika keponakannya akan tetap bersikap seperti itu.
Tok... tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum....," Mirna mengetuk pintu rumah Umi Sarifah.
"Wa'alaikumussalam....," suara dari dalam rumaj yang mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Mbak Atik, Mas Fariz sudah pulang? Apa sudah dimakan makanan yang saya bawa tadi?" tanya Mirna dengan sopan dan lembut sama seperti tadi siang, serta senyuman manisnya yang diberikannya ketika berbicara.
"Belum Bu, Ustad Fariz dan Ustad Jaki belum pulang dari tadi," Mbak Atik menjawab pertanyaan Mirna disertai senyum kikuk, sama seperti tadi siang.
"Belum pulang? Mereka kemana Mbak?" Mirna agak kesal, namun melihat ekspresi Mbak Atik yang kaget, Mirna kembali ke sikap sopan dan lembutnya tadi.
Mbak Atik menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Mirna. Kemudian Mbak Atik segera menutup pintu dan menguncinya karena terdengar Umi Sarifah yang sedang memanggilnya.
"Eh kurang ajar, orang belum selesai ngomong udah ditutup pintunya. Dasar pembantu kurang ajar," maki Mirna pada pintu yang tertutup.
"Kemana sih kamu Mas... kok dari tadi gak pulang-pulang? Masa' aku harus nunggu di sini? Banyak nyamuknya lagi," Mirna mengomel sendiri di teras rumah Umi Sarifah.
"Ya udah deh pulang aja, besok aja ke sini lagi," Mirna bermonolog pada dirinya sendiri seraya melangkah meninggalkan rumah Umi Sarifah.
__ADS_1