Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 149 Hanya waktu yang bisa menjawab


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Izam kini sudah berumur sekitar tiga tahun. Umur di mana dia sedang aktif-aktifnya. Begitu juga dengan Salsa yang selalu meniru apa yang dilakukan oleh Izam.


Hana, anak dari Pandu dan Ani ini berumur sepantaran dengan Izam. Bedanya, kini Ani telah hamil kembali anak dari Pandu. Sayangnya Pak Minto baru saja meninggal dunia beberapa minggu yang lalu. Dan ingatan Pandu mulai pulih dengan perlahan setiap harinya.


"Ani, aku ingin bekerja saja di kota. Apa kamu tidak mau ikut denganku bersama Hana? Kamu dalam keadaan hamil aku tidak tega meninggalkanmu sendiri di sini," Pandu berbicara pada Ani dengan mengusap kepala Hana yang sedang tertidur di pangkuannya.


"Kenapa harus ke kota Mas? Tidak bisakah Mas Pandu bekerja di sini saja seperti Bapak dulu?" Ani bertanya pada Pandu bermaksud menyuarakan keberatannya.


"Aku bukan Bapak yang bisa mengobati orang. Aku hanya bisa membuat obat untuk diriku sendiri, itupun karena diajari oleh Bapakmu beberapa minggu sebelum Bapakmu meninggal. Mungkin juga Bapakmu sudah mempunyai firasat. Dan aku yang tidak mempunyai keahlian khusus, di sini tidak bisa mendapatkan pekerjaan, karena mereka rata-rata mengerjakannya sendiri. Berbeda dengan di kota yang sebagian besar orangnya bergantung dengan tenaga orang lain untuk melakukan pekerjaan mereka," Pandu menjelaskan pada Ani mencoba untuk bisa meyakinkan Ani agar dia mau ikut bersamanya ke kota.


"Tapi di mana kita akan tinggal Mas? Kita di sana tidak memiliki tempat tinggal dan uang yang kita miliki pas-pasan. Jika kita pergi ke kota, apa uang kita akan cukup?" Ani memberitahukan ketakutannya ketika berada di kota.


"Aku lelaki, aku akan berusaha untuk mencari uang dan tempat tinggal untuk kalian," Pandu berusaha untuk meyakinkan Ani.


Ani tampak berfikir, dia tidak ingin jauh dari suaminya, terlebih kini Bapaknya telah tiada. Dan dia juga punya Hana yang pastinya akan mencari bapaknya. Belum lagi nanti misalnya dia butuh sesuatu atau ngidam karena dia sedang mengandung saat ini.


Pandu memang ingin mencari ingatannya yang hilang di kota. Namun dia juga berniat untuk bekerja di sana karena harus menghidupi keluarganya. Dia memang ingin mencari wanita yang ada dalam mimpinya itu, namun dia juga tidak bisa meninggalkan istri dan anaknya, terlebih kini istrinya sedang mengandung anak kedua mereka.


"Pikirkan baik-baik, mau makan apa kita di sini?" Pandu mencoba membuat Ani mengerti.


"Makan seperti biasanya aja, seadanya," jawab Ani yang masih memikirkan keinginan Pandu yang mengajaknya untuk ke kota.


"Oke kita bisa makan seadanya, lalu bagaimana dengan Hana? Apa kamu tidak bisa memikirkannya? Bagaimana dengan sekolahnya? Uang dari mana aku untuk biaya sekolahnya?" Pandu berkata dengan sedikit kesal pada Ani karena tidak mengerti kecemasan Pandu tentang biaya hidup mereka.


"Tolonglah Ani... jangan egois, jangan hanya memikirkan dirimu saja, pikirkan kehidupan anak-anak kita," Pandu kini bersuara lembut agar Ani mau menyetujui permintaannya.


Ani kembali berpikir. Dalam hatinya dia membenarkan semua ucapan suaminya. Memang benar mereka harus memikirkan biaya sekolah anak mereka. Sekolah bisa saja tidak membayar, tapi untuk buku, seragam, sepatu, tas dan yang lainnya pasti akan sangat mahal, sedangkan mereka tidak mempunyai uang untuk membelinya.

__ADS_1


Dengan berat hati, Ani pun menyetujuinya. Ani melihat semua sudut ruangan rumah yang penuh kenangan akan keluarganya. Kini dia harus meninggalkannya. Pasti dia akan sangat merindukannya. Merindukan semua kenangan yang terbangun di rumah itu dengan Bapak dan Ibunya. Dan kenangan pada saat Pandu memulai hari-harinya menjadi seorang Pandu.


"Baiklah. Kapan kita akan berangkat?" Ani bertanya dengan berat hati.


"Besok. Bagaimana kalau kita berangkat besok?" ucap Pandu dengan sangat antusias.


"Apa tidak bisa diundur beberapa hari saja Mas?" tanya Ani yang sepertinya berat meninggalkan rumahnya.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Pandu yang sepertinya sudah tidak bisa diganggu gugat.


Keesokan paginya Pandu mengajak Ani dan Hana untuk berjalan keluar dari wilayah hutan tersebut. Pandu menggendong Hana dan membawa beberapa tas yang berisi pakaian mereka. Pakaian yang mereka punya pun tidak banyak, sehingga baju yang mereka bawa pun hanya sedikit saja.


Mereka berjalan kaki karena mereka memang tidak mempunyai kendaraan. Sering sekali mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah tempat ataupun di pinggir jalan. Mereka kini mirip gelandangan yang tanpa tujuan.


Hingga ada sebuah mobil pick up yang melewati mereka. Dan mobil pick up tersebut mau memberikan tumpangan ketika Pandu menghentikannya.


"Baik Pak, tidak apa-apa. Kami sangat berterima kasih sekali malahan," jawab Pandu.


Dan mereka pun menaiki mobil pick up tersebut untuk bisa sampai di desa yang disebutkan oleh sopir pick up tadi.


Di suatu desa yang tidak mereka kenal mobil pick up itu pun berhenti. Mereka turun dari mobil tersebut untuk mencari tempat yang bisa mereka tinggali karena hari sudah mulai gelap.


"Pak, Hana lapar....," Hana mulai merengek kelaparan.


"Sebentar ya, kita cari tempat yang jual makanan dulu," ucap Ani pada Hana.


"Makanan yang kita bawa tadi sudah habis Bu?" Pandu bertanya pada Ani mengenai bekal makanan yang mereka bawa dari rumah.

__ADS_1


"Sudah dari tadi Pak, bahkan aku saja menahan lapar sedari tadi. Belakangan ini kan nafsu makan aku bertambah," jawab Ani.


"Ya sudah aku akan membeli makanan. Kamu di sini saja dulu ya agar kamu tidak capek," Pandu meminta Ani untuk menunggunya.


"Pak, Hana ikut. Hana mau milih makanannya," ucap polos Hana yang tidak mengetahui kondisi keuangan orang tuanya.


Pandu menggendong Hana berjalan mencari warung makanan. Hingga sampailah mereka di warung yang ada beberapa pembeli sedang makan di warung tersebut.


"Pak, Hana mau itu," ucap Hana sambil menunjuk ayam goreng yang berada di dalam etalase warung tersebut.


Pasti mahal sekali, tapi kasihan jika Hana tidak bisa memakannya. Lagipula aku pasti malu jika tidak menuruti permintaan Hana, Pandu berkata dalam hatinya.


"Bu, dua bungkus nasi. Satunya pakai ayam goreng dan satunya pakai tahu tempe aja ya," ucap Pandu pada penjual yang berdiri di hadapannya.


Penjual itupun membungkuskan nasi sesuai pesanan Pandu. Dan menerima uang dari Pandu.


"Pak, kita sekarang mau ke mana? Hana capek, Hana ingin tidur," ucap Hana ketika mereka menunggu uang kembalian dari ibu pemilik warung tersebut.


"Loh kalian bukan orang sini ya?" tanya seorang permpuan yang membantu pemilik warung tersebut.


"Bukan Mbak, kami baru saja sampai di sini, dan kami ke sini untuk mencari pekerjaan, jadi kami belum punya tempat tinggal," jawab Pandu dengan senyum kikuk.


"Kenapa kalian tidak mencoba ke Pondok Pesantren Al-Mukmin saja?" ucap perempuan tersebut.


"Anita!" pemilik warung tersebut berseru pada perempuan tadi.


"Bukannya begitu Mbak Mirna, siapa tau aja di Pondok Pesantren Al-Mukmin mereka bisa tinggal sambil bekerja membantu di sana," Anita memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Pondok Pesantren Al-Mukmin? Di mana itu? Apa benar kami bisa tinggal di sana?" Pandu bertanya dengan antusias.


__ADS_2