Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 56 Konferensi Forum Pergibahan


__ADS_3

"Bie, boleh gak aku minta sesuatu? tanya Rhea pada suaminya.


Ustad Fariz menoleh memandang wajah ayu istrinya, selang beberapa detik dia mengangguk memperbolehkan istrinya berbicara kembali.


"Apa boleh aku menulis buku tentang bagaimana menjadi istri yang shalehah?" tanya Rhea dengan menatap intens mata suaminya.


"MasyaAllah Tabarakallah," ucap Ustad Fariz dengan tersenyum dan kini tangan kanannya mengusap lembut rambut panjang Rhea yang terurai.


"Wafika Barakallah," jawab Rhea dengan senyum mengembang di bibirnya dan mata mereka masih saling menatap dengan intens.


"Makin pintar ya istriku," ucap Ustad Fariz dan tangannya masih mengusap lembut rambut Rhea dan menyelipkannya ke belakang telinga.


"Istrinya siapa dulu dong," ucap Rhea dengan senyum lebarnya sehingga terlihat semua deretan giginya.


"Istrinya siapa sih ini....," tangan Ustad Fariz kini mencubit gemas kedua pipi Rhea dan dengan kekehannya itu membuat Rhea menjadi kesal.


Plak! Rhea memukul ringan lengan Ustad Fariz. Hanya pukulan ringan saja, bahkan mungkin tidak terasa bagi Ustad Fariz.


"Gitu mau nulis buku tentang istri shalihah, suaminya sendiri dipukul," sindir Ustad Fariz dengan wajah terintimidasi.


"Ya maaf Bie... abisnya Hubby sih gak kira-kira, masa' pipi aku diuyel-uyel, ditarik-tarik, kan sakit," Rhea mengusap-usap lembut lengan suaminya yang dia pukul tadi dan meniupinya agar tidak sakit lagi.


Ustad Fariz memandang wajah istrinya yang khawatir dan dia tersenyum senang bisa mengerjai istrinya. Sungguh lucu dan menggemaskan menurutnya.


"Udah sini. Gak sakit kok, cuma geli. Kamu mukulnya kayak melambai manggil orang aja," kekeh Ustad Fariz sambil meraih tubuh Rhea agar ada di depannya.


Kini Rhea berada di depan tubuh Ustad Fariz dan menghadap ke depan. Ustad Fariz berada di belakang Rhea dan tangannya melingkar di pinggang Rhea seolah sedang memangkunya.


"Butuh bantuan buat nulis bukunya?" tanya Ustad Fariz dengan menaruh dagunya di pundak Rhea.

__ADS_1


"Oiya dong, mangkanya itu tadi aku ngomong sama hubby," jawab Rhea.


"Oh, jadi tadi bukannya minta ijin buat nulis?" Ustad Fariz kembali menggoda istrinya.


"Dua-duanya sih. Hehehe....," Rhea tersenyum lebar menyadari kebodohannya yang tidak memberi tahu maksudnya dari awal tadi.


"Ya udah nanti aku bantuin kamu. Semoga berhasil ya. Eh tapi ingat, gak boleh kecapekan, dan gak boleh begadang," tutur Ustad Fariz.


"Dih, kayak sendirinya gak pernah ngajak istrinya begadang aja," sindir Rhea sambil terkekeh.


"Kapan sih sayang....?" ucap Ustad Fariz.


"Tuh kan mendadak amnesia. Siapa hayo yang ngajak olahraga malam sampai begadang?" sindir Rhea.


"Beda sayang, itu kan ibadah," ucap Ustad Fariz sambil terkekeh.


"Oooh beda ya?" tanya Rhea lugu.


"Dikira aku bisa dibodohi apa," ucap Rhea yang akhirnya membuat Ustad Fariz tertawa terbahak-bahak.


"Gak lucu Bie, udah gak usah ketawa gitu," Rhea memberengut kesal.


"Iya, iya maaf, cuma mau ngerjain aja lagi kayak tadi. Abisnya kamu ngegemesin banget sih kalau lagi ngambek," kini Ustad Fariz mendekap erat tubuh istrinya agar tidak ngambek lagi.


Di luar Pondok Pesantren, gosip yang disebarkan oleh Mirna menyebar dengan sempurna. Tidak ada ibu-ibu yang tidak tahu gosip mengenai penyebab Mirna diceraikan oleh Ustad Fariz versi Mirna.


Banyak yang beranggapan bahwa Ustad Fariz tidak seperti apa yang diucapkan oleh Mirna, namun ketidakpercayaan mereka telah dipatahkan oleh Mirna.


Kini mereka semua lebih percaya dengan Mirna karena Mirna selalu memakai air matanya ketika berbicara dengan mereka.

__ADS_1


"Kebanyakan ulama kan poligami. Mangkanya jangan mau nikah sama ulama," ucap Bu C yang tempo hari, kini mereka tiap hari berjumpa dengan Mirna kembali pada saat berbelanja.


Kini ibu-ibu setiap berbelanja di warung sayur Bu Dian selalu menunggu Mirna terlebih dahulu, mereka tidak akan pulang sebelum Mirna datang berbelanja. Tujuan mereka adalah meneruskan kembali obrolan mereka tempo hari. Mereka ingin tahu semua yang terjadi untuk bahan bergibah nanti di tempat lain.


"Masa' sih Bu, bukannya itu tergantung orangnya ya? Jadi kembali lagi sama orangnya. Banyak juga ulama yang tidak melakukan poligami," ucap Bu E yang baru pagi ini dia bergabung rumpi di warung sayur Bu Dian.


"Buktinya kebanyakan mereka poligami," Bu C masih dengan pikirannya.


"Iya juga sih, tapi bisa juga punya istri banyak tanpa sepengetahuan istrinya," kini Bu A mendukung ucapan Bu C.


Yes mereka semua udah percaya sama aku. Sekarang mereka tinggal menunggu waktunya aja. Hahahaha..... Mirna tertawa dalam hati merayakan kemenangannya untuk mengelabui ibu-ibu sekitar daerah rumah Pak Ratmo yang artinya daerah Pondok Pesantren Al-Mukmin juga.


"Bu ibu... gak pada bubar apa? udah jam tujuh loh ini. Apa gak pada masak buat sarapan?" Bu Dian mencoba membuyarkan konfrensi pergibahan mereka.


"Ah udah bu, tadi suami dan anak-anak saya udah saya belikan nasi bungkus di warung bu Tina," jawab Bu B.


"Iya aku juga," ucap Bu A.


"Aku juga," ucap Bu C.


"Sama, aku juga," ucap Bu D.


"Ya... cuma aku aja dong yang belum masak?" ucap Bu E yang masih baru pagi ini bergabung.


"Mangkanya Bu kalau mau belanja, beliin dulu sarapan buat yang di rumah, biar kita gak terburu-buru ngobrolnya," ucap Bu A yang diangguki ibu-ibu yang lain.


Bu Dian hanya melongo mendengar jawaban dari ibu-ibu yang berbelanja di warungnya. Mereka lebih mementingkan bergibah daripada memasak untuk keluarganya.


"Lah terus ngapain kalian belanja?" tanya Bu Dian heran.

__ADS_1


"Buat makan nantilah, sekalian ngobrol sama Bu Mirna," jawab Bu B yang juga diangguki oleh ibu-ibu yang lain.


Bu Dian dan Anita yang ada di situ melongo dan menggelengkan kepala mendengar jawaban dari ibu-ibu forum pergibahan yang ada di depannya. Sedangkan Mirna tersenyum manis karena merasa tujuannya sedikit lagi berhasil.


__ADS_2