Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 212 Kenyataan yang sangat rumit


__ADS_3

Hana menerawang jauh pikirannya. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Di dalam kamar yang sempit itu, dia tidak bisa memejamkan matanya. Setiap matanya terpejam, maka terbayang wajah teman-temannya yang memandangnya dengan jijik dan mengatainya sebagai anak pembawa sial.


Pergi dari kenyataan yang membuatnya takut akhir-akhir ini atau dia harus menghadapinya dan menanggung semuanya dengan lapang dada?


"Huufffftttt.... Apa yang harus aku pilih?" ucap Hana lirih sebelum memejamkan matanya.


Mata Hana tidak bisa terlelap meskipun dia sudah memejamkan matanya dengan sangat rapat. Badannya bergerak ke kanan dan ke kiri mencari tempat ternyaman untuk bisa membuatnya tidur terlelap dengan nyenyak.


Pandu membuka pintu kamar Hana yang pintunya tidak tertutup dengan sempurna.


Baru kali ini memang Pandu masuk ke dalam kamar putrinya ketika malam hari. Tidak seperti Izam dan Salsa yang selalu mendapat ucapan selamat malam dari kedua orang tua mereka.


Perlahan kaki Pandu mendekati ranjang Hana. Dia bisa melihat jelas kegundahan hati putrinya hingga dia tidak bisa tertidur dengan nyenyaknya.


"Hana, apa Hana tidak bisa tidur?" tanya Pandu ketika sudah berada di dekat Hana.


Hana membuka matanya perlahan, dan dia kaget melihat bapaknya berada di depannya saat ini.


"Bapak. Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Hana heran melihat bapaknya.


Pandu tersenyum melihat Hana yang ternyata memang belum tidur, terlihat sekali matanya yang masih jernih belum mengantuk sama sekali.


"Bapak tau pasti Hana sedang memikirkan tentang Pondok Pesantren itu kan?"


Pandu bertanya pada Hana ketika sudah duduk di ranjang Hana dan berhadapan dengannya.


Hana mengangguk lemah. Kemudian dia berkata,


"Apa Hana pergi ke sana saja ya Pak? Hana tidak yakin jika Hana bisa bertahan di sekolah Hana."


Hati Pandu terasa trenyuh melihat putrinya yang seperti itu. Tangannya mengusap kepala Hana dengan lembut untuk mencoba memberi ketenangan pada putrinya itu.


"Kenapa Hana tidak coba masuk Pondok Pesantren saja? Di sana juga ada adiknya Mbak Anita kan? Nanti pasti Kakek dan Mbak Anita memperkenalkan kalian."


Pandu mencoba memberikan pendapatnya untuk mempengaruhi pilihan Hana.


"Akan Hana coba Pak. Emmm... tapi... tapi jika Hana tidak betah di sana, apa Hana boleh kembali pulang?" tanya Hana ragu.


"Kata kakek tadi kan begitu. Hana coba saja dulu, jika memang tidak betah Hana pulang saja ke rumah," jawab Pandu kembali.

__ADS_1


"Lalu Hana akan bersekolah di mana Pak jika Hana kembali?" tanya Hana kembali mengulangi pertanyaannya di meja makan tadi.


"Itu bisa kita pikirkan nanti. Lebih baik Hana coba dulu saja. Tadi menurut Mbak Anita, Hana pasti akan betah di sana. Hana coba dulu saja ya."


Pandu memberikan pendapat akhirnya agar Hana tidak lagi bimbang.


"Baiklah Pak, Hana akan coba," jawab Hana sambil memberikan senyumnya.


"Anak pintar," ucap Pandu dengan memberikan senyumnya pada Hana.


Seketika Hana memeluk tubuh Pandu yang ada di hadapannya sambil berkata,


"Hana sayang Bapak."


Tanpa sadar air mata Pandu menetes, rasanya sudah sangat lama dia tidak memeluk Hana seperti sekarang ini.


Kasihan Hana, pasti dia sangat butuh kasih sayang orang tuanya. Dulu Ani yang selalu ada untuknya, dan sekarang aku tidak yakin jika Mirna bisa seperti Ani. Aku harus mencoba bicara padanya, Pandu berkata dalam hatinya sambil memeluk erat putri pertamanya itu.


"Sekarang Hana tidur dulu ya. Hari sudah sangat malam. Besok kita bicarakan lagi bersama dengan Kakek untuk membahas soal Pondok Pesantren itu," ucap Pandu sambil menutupi tubuh Hana dengan kain selimut.


Melihat Hana yang sudah memejamkan matanya, Pandu berjalan keluar dari kamar Hana menuju kamarnya sendiri.


"Dari kamar Hana. Dia tidak bisa tidur dari tadi. Kasihan dia, anak sekecil dia harus mengalami keadaan seperti ini."


Pandu mengatakan itu sambil duduk di ranjangnya. Mirna yang sedari tadi berada di ranjang tersebut kini bergerak mendekati Pandu.


Tangan Mirna menggenggam tangan Pandu. Hal itu membuat Pandu merasa heran. Pandu menatapnya heran seolah bertanya ada apa pada Mirna.


Mirna yang mengerti arti tatapan heran Pandu itu segera melepaskan genggaman tangannya dan tangannya mulai membuka kancing baju miliknya.


"Mir, sebenarnya aku mau membicarakan tentang Hana denganmu," ucap Pandu menghentikan tangan Mirna yang sedang membuka kancing-kancing bajunya.


"Bicara apa? Ck, apa gak bisa bicaranya nanti saja? Ini aku lagi subur loh Mas, apa Mas Pandu gak mau melakukannya denganku? Siapa tau nanti aku bisa hamil?"


Mirna mencebik kesal pada Pandu yang seolah menghentikan aksinya untuk memulai aktivitas malam mereka.


Waduh anak lagi? Mirna apa gak mikir juka Emir masih kecil? Apa dia bisa mengurus bayi bersamaan? Lagian biaya bayi sangat mahal, untuk membeli susu Emir saja Hana hampir tidak bisa jajan, Pandu berkata dalam hatinya sambil melihat wajah Mirna yang sangat kesal padanya.


"Maaf Mir, ini tentang Hana. Sebentar saja, setelah itu kita pasti melakukannya," ucap Pandu untuk meredakan kekesalan Mirna padanya.

__ADS_1


"Janji?" tanya Mirna sambil mengalihkan perhatiannya pada Pandu.


"Iya. Eh tapi tadi kamu bilang siapa tau kamu bisa hamil, berarti kamu belum pernah hamil? Eh iya, aku belum pernah tau tentang kamu sama sekali. Kenapa kamu tidak bercerita padaku? Padahal aku sudah menceritakan semua kisahku padamu."


Pandu menatap Mirna yang ekspresinya berubah menjadi kebingungan. Sebenarnya Pandu bertanya agar Mirna menceritakan padanya tentang kisah hidupnya dan melewatkan malam masa suburnya agar keinginan Mirna tentang kehamilannya bisa terlewati.


"Sebenarnya, aku belum pernah hamil, dan karena itulah aku diceraikan oleh suamiku karena dia sudah memiliki istri baru yang bisa memberikannya anak."


Mirna mulai memberitahukan pada Pandu tentang dirinya.


"Hah, apa itu benar? Jahat sekali mereka, aku saja waktu itu tidak pernah terpikir menceraikan istriku ketika dia belum juga bisa memberikan aku anak."


Pandu menanggapi cerita Mirna dengan menceritakan tentang kehidupannya dulu.


Mirna pun terbelalak, dia mulai mengira-ira siapa yang dimaksud oleh Pandu.


Apa istri yang dia maksud adalah Rhea? Berarti ini saat yang tepat untuk aku menjelek-jelekkan Rhea di hadapannya agar dia tidak melihat Rhea seperti dia menginginkannya lagi, Mirna berkata dalam hatinya.


"Mantan suamiku adalah Kyai di Pondok Pesantren Al-Mukmin, dan yang merebut suamiku adalah Rhea, mantan istrimu," ucap Mirna dengan menatap mata Pandu.


"Apa?"


Pandu terbelalak mendengar apa yang diucapkan oleh Mirna. Dia tidak menyangka jika wanita yang dimaksud oleh Mirna adalah Rhea, mantan istrinya yang masih diinginkannya kembali padanya.


"Mangkanya Mas, bantu aku supaya aku bisa hamil agar aku bisa mempunyai anak denganmu dan bisa membuktikan pada mereka bahwa aku tidak mandul."


Mirna ingin membuat Pandu terkesan dengan ceritanya dan membuat Pandu berada di pihaknya.


Pandu hanya diam tidak merespon ucapan Mirna, di dalam pikirannya kini bergejolak.


Pantas saja mereka berdua sangat menghindari aku dan Mirna apabila kita bertemu dan pantas saja Mirna selalu menggandengku pada saat di pasar malam waktu itu, ternyata mereka...... Ahh... kenapa jadi serumit ini?


"Mas... mas Pandu... kenapa Mas?"


Mirna bertanya pada Pandu sambil menggoyang-goyangkan lengan Pandu.


"Eh iya Mir, anu.. Hana.. tadi...," ucap Pandu terbata-bata.


" Oh Hana, kenapa Hana?"

__ADS_1


__ADS_2