
"Karena kamu merebut yang aku miliki. Suamiku, kebahagiaanku dan semuanya yang kamu miliki harusnya menjadi milikku," jawab Mirna emosi.
"Astaghfirullahaladzim Mirna... cukup!" Seru Ustad Fariz sambil berdiri, rasanya hilang sudah kesabarannya.
"Bener kan?" Mirna terbawa emosi.
"Kamu-"
"Maaf, biar saya bawa Mirna pulang," sahut Pak Ratmo dengan menarik tangan Mirna.
"Apaan sih Paman, aku belum selesai. Aku belum tau siapa penyebar fitnah itu," seru Mirna tidak mau beranjak dari duduknya.
"Ayo Mirna daripada Paman berbuat kasar padamu. Kamu tadi kan bilangnya cuma mau pamit," Paman MIrna menarik sekuat tenaga tangan Mirna hingga dia terseret.
"Pokoknya aku tidak mau cerai!!" teriak Mirna sembari berjalan keluar dengan diseret Pamannya.
Rhea sedari tadi hanya diam dan mengalir bulir air dari matanya. Dia teramat sedih dan kaget sehingga tidak bisa mengeluarkan suara tangisnya.
Umi Sarifah yang berada di sebelahnya memeluk Rhea dan menenangkannya dengan kata-kata yang dibisikkannya. Sedangkan Ustad Fariz, tidak tega dia melihat Zahra nya menangis terlebih karena mendengar ucapan Mirna tentang hubungan mereka, pernikahan mereka.
"Sayang, perkataan Mirna itu gak benar. Kamu gak usah pikirkan ya. Kamu bukan perebut dan tidak ada yang direbut di sini," ucap Ustad Fariz lembut dan mengusap jejak air mata Rhea dengan sangat lembut, kemudian dia mencium ke dua mata Rhea agar tidak lagi menangis.
__ADS_1
Umi Sarifah tersenyum senang menyaksikan sepasang suami istri dihadapannya itu begitu romantis, namun dia sedih karena sepertinya tidak mudah bagi mereka meskipun Mirna sudah tidak lagi menjadi bagian dari hubungan mereka.
Untung saja Ayah dan Ibu Rhea pada saat itu sedang berbincang-bincang dengan Ustad Bani dan Ustadzah Anisa sambil berkeliling pondok sehingga mereka tidak menyaksikan putri mereka disalahkan atas yang terjadi pada Mirna sekarang ini. Sedangkan Ustad Jaki kembali ke Pondok putra karena ada yang harus dia kerjakan.
Rhea sangat terguncang dengan apa yang diucapkan Mirna padanya. Dia menjadi agak pendiam, tidak seperti sebelumnya yang ceria dan kadang manja juga banyak bicara.
Umi Sarifah menyuruh Ustad Fariz membawa Rhea ke kamar untuk beristirahat dan menenangkannya.
Dibawalah Rhea ke kamar dengan digendong ala bridal style oleh Ustad Fariz.
"Turunkan Bie, aku bisa jalan sendiri," ucap Rhea yang merasa tidak enak pada suaminya.
"Tapi aku berat Bie," ucap Rhea malu.
"Gapapa kan lagi hamil. Dan lagi masih lebih berat cintaku padamu sayang," Ustad Fariz berhasil menggombali Rhea dengan rayuannya.
Kini muka Rhea bersemu merah, dia tersenyum dengan pipi meronanya. Disembunyikannya wajahnya itu di dada bidang suaminya.
Ustad Fariz sedikit lega karena paling tidak gombalannya tadi bisa mengurangi beban pikiran Rhea karena ucapan Mirna tadi padanya.
"Sayang, istirahat dulu ya," Ustad Fariz meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati sekali.
__ADS_1
Setelah itu dia menyelimuti tubuh istrinya dan mulai menidurkannya dengan mengusap lembut rambutnya yang sudah tidak memakai hijab.
"Bie, sini.... aku gak bisa tidur," Rhea menepuk ranjang di sebelahnya agar suaminya mau tidur bersamanya.
Ustad Fariz berbaring disebelah Rhea dan menghadap ke arah istrinya.
"Kenapa gak bisa tidur sayang?" tanya Ustad Fariz pada Rhea.
"Bie, apa benar aku merebut Hubby dari Mbak Mirna? Apa aku lebih jahat dari perbuatannya padaku?" Rhea menerawang melihat ke atas, ke arah atap, dia tidak ingin air matanya menetes dan membuat suaminya bersedih.
"Enggak sayang, gak ada yang direbut dan yang merebut. Semua terjadi karena kehendak Allah. Aku harap kamu tidak memikirkan perkataan Mirna lagi ya," Ustad Fariz meraih tubuh Rhea dan memeluknya penuh dengan kasih sayang agar rasa itu bisa dirasakan oleh istrinya.
"Tapi Bie, aku harus bagaimana agar Mbak Mirna tidak lagi berpikir seperti itu? Aku yang telah masuk dalam kehidupan rumah tangga kalian," suara Rhea kini agak berat, sepertinya dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya.
"Tapi aku yang memintamu untuk berada di sisiku, menemaniku sebagai istriku. Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri sayang," jawab Ustad Fariz dengan suara yang lembut agar istrinya tidak merasa terbebani.
"Tapi Bie-"
"Sayang, aku mohon... aku mohon kamu jangan memikirkan itu lagi, ingat anak yang ada di kandunganmu. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, aku akan bersedih jika melihat kamu sedih ataupun menangis. Jadi tolong, kamu harus bahagia hidup bersamaku, bersama anak kita, keluarga kecil kita. Aku mohon....," suara Ustad Fariz begitu penuh dengan permohonan sehingga membuat Rhea seolah terhipnotis dan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada suaminya.
"Aku mencintaimu sayang, Zahra ku, istriku, Ibu dari anak-anakku," setelah mengucapkan itu, Ustad Fariz mengecup lama dahi Rhea dan kemudian mereka saling terhanyut oleh suasana sehingga bibir mereka bersatu, menyalurkan rasa yang ada dalam hati mereka.
__ADS_1