
"Sakiiit.....," Ustadz Jaki memasang wajah mewek ketika alat USG itu sudah terlepas dari mulutnya.
"Eh maaf... maaf Sayang. Habisnya kamu sih ngomong yang enggak-enggak.
"Lah kan suamimu ini khawatir kalau istrinya kenapa-napa. Kamu kenapa Sayang? Kamu gapapa kan? Kamu sakit? Apanya yang sakit?" ucap Ustadz Jaki penuh dengan kekhawatiran.
Shinta melongo mendapatkan banyak pertanyaan dari suaminya. Pasalnya tiap dia membuka mulutnya akan menjawab, suaminya mengeluarkan pertanyaan kembali hingga Shinta tidak menjawab apapun sampai suaminya itu selesai dengan pertanyaannya.
Namun bibir Shinta melengkung ke atas. Dia tersenyum melihat wajah panik suaminya yang sangat mengkhawatirkannya. Sekarang Shinta yakin jika suaminya sangat mencintainya.
Shinta meraih benda yang berada di dekatnya dan memberikan pada Ustadz Jaki. Tapi sebelum diberikan pada Ustadz Jaki, Shinta melihatnya terlebih dahulu. Senyumnya kembali mengembang karena semua alat menunjukkan hasil yang sama.
"Ini, coba kamu lihat," Shinta memberikan alat yang berbentuk panjang dan pipih pada Ustadz Jaki.
Ustadz Jaki mengambilnya dan memandangnya heran, karena dia tidak tahu benda apa itu dan mengapa diberikan padanya.
"Apa ini Sayang?" tanya Ustadz Jaki heran sambil membolak-balikkan alat tersebut.
"Itu testpack, lihat garisnya. Dan itu, lihat monitor itu," ucap Shinta sambil menunjuk testpack tersebut kemudian beralih pada layar monitor.
Ustadz Jaki mengikuti arah tunjuk Shinta, tapi dia masih saja tidak mengerti. Pikirannya sudah jauh, dia takut jika semua itu menunjuk pada suatu penyakit sehingga mata Shinta tadi berkaca-kaca.
"A-apa itu?" ucap Ustadz Jaki menunjuk gumpalan yang ada di layar monitor tersebut.
"Astaghfirullahaladzim Sayang.... itu testpack alat untuk tes kehamilan, dan lihat itu ada dua garis, kamu tau kan artinya apa?" Shinta berkata dengan sedikit kesal pada Ustadz Jaki.
Ustadz Jaki menggeleng dengan muka bingungnya membuat Shinta ingin sekali mengarahkan tangannya pada suaminya.
Tahan Shinta... tahan... dia suamimu. Berdosa jika kamu berani terhadapnya, Shinta berkata dalam hatinya.
"Kalau testpack itu menunjukkan dua garis, berarti positif. Dan gumpalan di layar monitor itu, janin yang masih berusia sekitar tiga minggu," Shinta menjelaskan dengan pelan dan hati-hati, berharap suaminya mengerti dengan baik apa yang dia ucapkan.
"A-apa? Positif? Kamu?" Ustadz Jaki merasa tidak percaya bertanya kembali pada Shinta dengan menunjuk ke arah Shinta.
Shinta tersenyum dan mengangguk. Dengan segera Ustadz Jaki berjalan mendekati Shinta dan memeluknya dengan erat.
"Alhamdulillah... aku senang sekali. Terima kasih Sayang. Mulai sekarang kamu harus hati-hati dan gak boleh terlalu capek," ucap Ustadz Jaki yang sangat senang mendengar berita kehamilan dari istrinya.
Ustadz Jaki mengurai pelukannya, dan dia memandang wajah istrinya dengan penuh cinta. Wajah Ustadz Jaki semakin mendekat.
__ADS_1
"Dok, apa sudah siap menerima pasien?" tiba-tiba seorang perawat yang bertugas membantu Shinta masuk ke dalam ruangan Shinta karena pintu tidak tertutup.
"Ma-maaf," ucap perawat tersebut sambil membalikkan badannya membelakangi Ustadz Jaki dan Shinta.
Ustadz Jaki dan Shinta terperanjat kaget dan mereka sangat malu karena terpergok oleh perawat yang kenal dengan mereka.
"Ehem... lima menit lagi. Saya akan bersiap-siap terlebih dahulu," ucap Shinta dengan kikuk.
"Baik dok, saya permisi dulu," dengan segera perawat tersebut keluar dari ruangan Shinta dan menutup pintu tersebut agar tidak ada yang masuk seperti dirinya.
Ustadz Jaki masih saja betah memandang wajah istrinya sejak insiden gagalnya adegan ciuman mereka. Dan hal itu membuat Shinta salah tingkah karena dipandang seperti itu oleh Ustadz Jaki meskipun dia sudah menjadi suaminya.
"Emmm... kamu pulang dulu ya. Aku harus praktek sekarang. Nanti aja kamu jemput seperti biasanya," ucap Shinta dengan kikuk sambil merapikan pakaiannya.
"Gak dikasih apa-apa gitu biar aku tenang pulangnya?" Ustadz Jaki masih saja menggoda istrinya.
"A-apa? Ah ini," Shinta gugup, dan dia memberikan testpack yang diletakkan Ustadz Jaki di ranjang pemeriksaan tadi pada tangan Ustadz Jaki.
"Bukan ini Sayang.... ini," Ustadz Jaki memonyongkan bibirnya.
"Ih apaan sih, nanti ada perawat masuk kayak tadi gimana? Kan ma-"
Setelah tidak berapa lama, Ustadz Jaki melepaskan ciuman itu dan memandang kembali wajah Shinta.
"Kan masih ada lima menit waktunya sebelum praktek. Masih bisa kan?" Ustadz Jaki tersenyum melihat wajah Shinta yang tegang dan malu.
"Aku pulang dulu ya istriku... hati-hati, jangan kelelahan dan jaga anak kita baik-baik," ucap Ustadz Jaki.
Kemudian dia mencium kening Shinta dan memberikan tangannya untuk dicium oleh Shinta. Dan Shinta pun mencium punggung tangan suaminya.
"Oh ya, itu HP kamu aku taruh di meja," ucap Ustadz Jaki sambil menunjuk meja tersebut.
"Assalamu'alaikum....," Ustadz Jaki mengucap salam sebelum dia keluar dari ruangan Shinta.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Shinta lirih dan tersenyum sambil memegang bibirnya yang telah dicium oleh suaminya.
Sangat bahagia dirasakan oleh Shinta. Bersuamikan Ustadz Jaki yang selengehan tapi juga sangat mencintainya. Sungguh anugerah buatnya, apalagi sekarang dia sedang mengandung. Rasanya Allah begitu baik padanya.
Tok... tok.. tok...
__ADS_1
Pintu diketuk sebelum perawat itu masuk ke dalam ruangan Shinta.
"Dok, apa sudah bisa menerima pasien?" perawat itu bertanya pada Shinta.
"Iya, silahkan," jawab Shinta sambil merapikan kembali jas nya.
Perawat tersebut akan keluar dari pintu, namun perawat tersebut berbalik kembali menghadap Shinta.
"Dok, selamat ya atas kehamilannya," perawat tersebut mengucapkan selamat pada Shinta sebelum dia keluar dari pintu.
"Kok... eh tau dari mana?" tanya Shinta bingung.
"Sus, tolong jaga istri saya baik-baik. Jangan sampai dia kelelahan. Jangan sampai dia telat makan. Karena dia sedang hamil sekarang. Jangan sampai kejadian seperti dulu terulang lagi. Mengerti?" perawat tersebut menirukan Ustadz Jaki yang tadi memerintahkan itu padanya.
Shinta tertawa mendengar perawat tersebut menirukan suaminya. Ternyata suaminya sangat mengkhawatirkannya.
Sesampainya di rumah, Ustadz Jaki dengan langkah lebarnya masuk ke dalam rumah.
"Umi... Umi...Umiiiiii....," Ustadz Jaki berteriak memanggil Umi dari ruang tamu.
Umi Sarifah tergopoh-gopoh keluar dari dapur. Begitupula Rhea yang sedang berada di ruang tengah dengan baby Izam merasa kaget dengan teriakan dari Ustadz Jaki.
"Ada apa toh Le, masuk rumah bukannya salam malah teriak-teriak," Umi Sarifah mengomel ketika sudah berada di depan Ustadz Jaki.
"Umi..," ucap Ustadz Jaki sambil berjalan cepat memeluk tubuh Umi Sarifah.
"Kamu kenapa Le?" tanya Umi Sarifah heran.
"Positif," jawab Ustadz Jaki yang masih dalam posisi memeluk tubuh Umi Sarifah.
"Positif?" celetuk Rhea yang berjalan sambil menggendong baby Izam dari ruang tengah.
"Maksudnya, Ustadz gila?" pertanyaan itu keluar dari mulut Rhea secara tidak sengaja.
"Sembarangan," ucap Ustadz Jaki kesal sambil mengurai pelukannya dengan Umi Sarifah.
"Lah biasanya orang-orang nyebut orang gila positif," ucap Rhea sambil tersenyum lebar.
"Negatif!" sahut Ustadz Jaki dengan kesal.
__ADS_1