
"Lalu, apa kedua orang tua Mas Pandu masih ada?" tanya Mirna dengan antusias.
"Aku belum tau. Aku belum sempat ke sana," jawab Pandu lemas.
Pandu memang ingin sekali menemui kedua orang tuanya semenjak dia ingat semuanya. Namun dia tidak memiliki biaya untuk pergi ke luar pulau.
Karena setelah Pandu menikah, kedua orang tuanya pindah ke kampung asal ibunya. Sehingga Pandu dan Rhea jarang sekali bertemu dengan mereka. Malah bisa dibilang mereka hampir tidak pernah bertemu.
"Bagaimana kalau kita cari mereka Mas?" tanya Mirna pada Pandu.
"Aku lupa alamat persisnya. Mungkin jika aku pergi ke sana akan ingat sedikit-sedikit. Tapi... sepertinya akan sangat rumit," Pandu menghela nafasnya, harapannya untuk bertemu kedua orang tuanya memang hanya ada di angannya saja.
"Kita ke sana saja Mas, tapi asal Mas Pandu yakin jika ingatan Mas Pandu sudah benar-benar pulih," ucap Mirna dengan antusias dan dengan mata yang berbinar.
"Sebenarnya obat Pak Minto itu memang benar-benar sangat membantu Mir. Hanya saja efeknya itu ya seperti yang kemarin. Jika kamu tidak keberatan melakukannya, aku bisa terus meminumnya. Tapi aku rasa ingatanku sudah pulih. Ya memang ada yg belum tersusun rapi, tapi menurutku ini suatu kemajuan, karena aku sudah mengingat banyak masa laluku."
Pandu menjelaskan pada Mirna keadaannya yang sebenarnya.
Mirna merasa sangat antusias karena menurutnya Pandu tidak seperti yang dia kira.
Ternyata selain dia ganteng, ternyata dia orang yang terpelajar juga. Sayangnya kini pekerjaannya sudah berbeda. Coba aja kalau pekerjaannya masih sama seperti yang dulu, pasti bisa aku bangga-banggakan di hadapannya Rhea. Meskipun masih lebih ganteng Mas Fariz dikit sih. Dikit aja, jangan banyak-banyak, biar gak terlalu besar kepala si Rhea itu.
Mirna sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga mengabaikan Pandu yang ada di hadapannya.
"Mir, kamu gak marah kan?" tanya Pandu pada Mirna dengan ragu.
"Marah? Marah kenapa Mas?" tanya Mirna yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Pandu.
"Tentang semalam. Maaf karena aku melanggar janjiku padamu untuk tidak menyentuhmu," Pandu menundukkan kepalanya dan berucap lirih namun masih bisa didengar oleh Mirna.
Tiba-tiba muka Mirna jadi merona, dia jadi ingat tentang malam pengantinnya bersama dengan Pandu semalam.
Bagaimana aku bisa marah, aku juga menikmatinya kok, Mirna berkata dalam hati sambil melihat ke lain arah.
__ADS_1
Mirna kok diam aja, apa dia marah? Tapi kalau marah kan harusnya ngomel. Apa malah sebaliknya? Apa mungkin dia malu karena suka dengan peristiwa yang semalam? kini giliran Pandu yang bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mir... kamu gak marah kan? Maaf kalau kamu marah sama keja-"
"Ehemm, dimakan dulu Mas," Mirna menyela pembicaraan Pandu agar tidak lagi membicarakan masalah semalam yang masih terbayang dengan indah diingatan Mirna.
"Bapak.... Ibu...."
Suara teriakan seorang gadis kecil mengalihkan perhatian Pandu dan juga Mirna di saat mereka sedang makan dalam hening.
Hana berlari masuk ke dalam rumah dan menghampiri mereka di meja makan.
"Hana sudah mandi ya?" tanya Pandu pada Hana yang sudah terlihat segar sehabis mandi.
"Udah dong, tadi mandi sama mbak Anita," jawab Hana dengan semangat dan senyum khas anak kecil.
"Hana sudah makan?" kini giliran Mirna yang bertanya pada Hana yang kini sudah duduk di kursi sebelahnya.
"Tadi Hana udah disuapi sama Mbak Anita, tapi cuma dikit, soalnya Hana pengen disuapi sama Bu Mirna," jawab Hana dengan sumringah.
Hana menggeleng lemah, dia melihat ayahnya kemudian melihat ke arah Mirna, kemudian dia berkata,
"Hana pengen disuapi Bu Mirna. Sekarang Bu Mirna kan udah jadi ibunya Hana."
"Hana, Bu Mirna kan sekarang sedang-"
"Gapapa Mas. Hana, sini. Hana mau lauk yang mana, biar ibu suapi," ucap Mirna sambil tersenyum manis pada Hana.
Pandu melongo mendengar jawaban dari Mirna. Dengan mulut yang terbuka dan mata yang melebar karena kaget, Pandu tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Seorang Mirna yang dia kira judes, tukang omel dan ceplas-ceplos, kini mendadak penuh senyum, sabar, perhatian dan memperlihatkan dirinya seperti layaknya seorang ibu pada anaknya.
Hana tersenyum lebar karena keinginannya tidak ditolak oleh Mirna. Pandu merasa aneh dengan sikap Mirna yang sepertinya sudah berubah banyak. Dia kini semakin bertanya-tanya akan penyebabnya.
__ADS_1
Setelah mereka makan, Mirna mencuci piring dan gelas kotor bekas mereka makan tadi di dapur dibantu oleh Hana yang sangat riang serta bersemangat.
"Mas Pandu... Mas...," suara Anita yang memanggil Pandu terdengar sampai dapur oleh Mirna dan Hana.
Sontak saja Hana berlari keluar dapur dengan meneriakkan nama Anita.
"Mbak Anita!" teriak Hana dengan senangnya.
Mirna diam saja, dia meneruskan kegiatannya mencuci piring dan gelas kotor serta alat masaknya tadi.
Namun ada yang aneh dengan perasaannya. Tiba-tiba saja perasaannya itu terselip rasa kesal, entah karena apa dia juga tidak tahu.
"Ada apa Nit?" tanya Pandu yang baru keluar dari kamarnya menata barang-barang.
"Ini Mas, susu Emir mau habis. Mumpung masih jam segini lebih baik dibelikan saja daripada nanti malam kehabisan," tutur Anita sambil menggendong baby Emir.
"Oh ya sudah, kalau gitu sekarang aku belikan. Tapi biasanya beli di mana ya Nit? Biasanya kan kamu yang aku titipi untuk membelikannya," ucap Pandu dengan menggaruk-garuk kepalanya karena merasa malu selama ini telah merepotkan Anita.
"Ya sudah kalau gitu Anita tunjukkan saja Mas, biar besok-besok Mas Pandu bisa beli sendiri," jawab Anita sambil terkekeh dengan menggendong baby Emir.
Mirna yang mendengar pembicaraan Pandu dengan Anita dari dapur, seketika keluar dan ikut mendekat mendengar pembicaraan mereka.
"Mbak Mirna?! Anita kira Mbak Mirna sedang gak ada di rumah," ucap Anita sambil tersenyum senang melihat Mirna.
Entah mengapa Mirna tidak senang melihat Anita yang tersenyum padanya. Dilihatnya baby Emir yang berada dalam gendongan Anita, dan itu membuat Mirna menjadi semakin kesal.
"Sini Emir biar aku yang gendong," ucap Mirna dengan datar tanpa membalas senyum Anita padanya.
Anita pun memberikan baby Emir pada Mirna, namun Anita merasa Mirna sedang merasa kesal padanya, seperti biasanya jika Mirna marah padanya pasti akan menampakkan sikap seperti itu pada Anita.
"Pak, Hana boleh ikut kan beli susunya adek Emir?" tanya Hana pada ayahnya.
"Boleh, nanti belinya sama Mbak Anita juga," jawab Pandu pada Hana sambil mengusap lembut rambut anaknya itu.
__ADS_1
Seketika Mirna membulatkan matanya mendengar apa yang diucapkan oleh Pandu.
Kok sama Anita sih? ucapnya dalam hati sambil memandang Pandu dan Anita secara bergantian, kemudian dia melihat ke arah Hana dan baby Emir yang ada di dalam gendongannya.