
"Pak, apakah pasien setuju dengan operasi ini?" kini Shinta bertanya pada Pandu yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Nanti coba saya tanyakan lagi dok," jawab Pandu dengan lemah.
Dokter Dion dan dokter Shinta saling menatap , kemudian dokter Shinta mengangguk pada dokter Dion, dan dokter Dion pun membalas mengangguk pada dokter Shinta.
"Baiklah Pak, kami tunggu keputusan kalian. Kami permisi dulu," ucap dokter Dion pada Pandu.
Dokter Shinta menganggukkan kepalanya pada Pandu untuk berpamitan, kemudian dia berjalan bersama dengan dokter Dion untuk membahas pasien mereka.
Pandu masuk ke dalam untuk menemui istrinya. Dia memandang iba tubuh istrinya yang terbujur lemah di atas bed pasien dengan selang infus yang tertancap di tangannya.
"Mas...," Ani menyapa Pandu dengan senyum yang lemah ketika Pandu berjalan mendekatinya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" Pandu mendekati Ani dan mengusap rambutnya seraya menatap wajah Ani yang sedikit pucat.
Ani menggelengkan kepalanya disertai senyumnya yang menghiasi wajahnya yang sedikit pucat.
"Aku baik-baik saja Mas. Jangan khawatir, kami pasti baik-baik saja. Dan anak ini pasti akan lahir dengan selamat. Kita harus menjaganya dengan baik seperti kita menjaga Hana. Dan kita harus menyayanginya seperti Hana yang tidak kurang kasih sayang dari kita," Ani berkata lirih sambil menatap wajah Pandu dengan lekat.
Huffft....
Pandu menghela nafasnya untuk mengenyahkan himpitan rasa yang menyesakkan dadanya.
"Kamu tidak perlu khawatirkan itu, aku janji dia akan mendapatkan semuanya. Oleh karena itu aku harap kamu mau melakukan apa yang dokter sarankan pada kita," Pandu bertutur lembut dan tersenyum pada Ani seraya mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Operasi?" tanya Ani pada Pandu dan diangguki oleh Pandu.
"Aku takut Mas," jawab Ani lemah dan menundukkan kepalanya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Pandu dengan menaikkan dagu Ani agar Ani melihatnya.
"Semuanya. Aku takut operasi Mas, karena selama ini aku tidak pernah dioperasi Mas. Bahkan melahirkan Hana saja normal Mas, hanya dengan bantuan dukun bayi. Dan....," jawab Ani dengan menatap mata Pandu yang sedang menatap intens manik matanya.
"Dan apa?" Pandu menanyakan kelanjutan ucapan dari Ani yang belum selesai.
Ani diam, dia terlihat ragu untuk berbicara. Tampak jelas dari raut wajahnya keraguan dan ketakutan yang membuatnya menjadi bimbang.
__ADS_1
"Masalah uang? Pembayaran biaya rumah sakit?" tanya Pandu berturut-turut mencoba untuk menebak apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.
Seperti yang dikatakan oleh Pandu, Ani pun mengangguk, membenarkan semua tebakan dari Pandu.
"Dan... biaya hidup kita nantinya,"sambung Ani kemudian.
Pandu menghela nafasnya kembali dan tangannya yang sedang mengusap rambut Ani berpindah memegang erat kedua tangan Ani untuk menenangkannya.
"Kamu tenang saja. Aku janji akan bekerja apa saja untuk biaya hidup kita nanti," ucap Pandu menenangkan istrinya.
"Apa kita akan kembali ke rumah kita Mas?" Ani bertanya kembali pada suaminya.
Pandu melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan Ani. Kemudian dia menghadap ke lain arah sambil berkata,
"Kita lihat saja nanti bagaimana kondisimu setelah melahirkan dan kondisi anak kita setelah lahir."
"Apa Mas Pandu belum mengikhlaskan mantan istri Mas Pandu?" Ani bertanya dengan suara lirih dan terdengar sedih.
"Jangan bicarakan itu sekarang. Fokuslah pada kesehatanmu dan kelahiran anak kita," jawab Pandu tanpa melihat istrinya.
Anehnya, suara Ani yang lirih dan terdengar sedih itu bisa membuat hati Pandu terasa sakit seperti tersayat.
Pandu menoleh, melihat ke arah Ani yang kepalanya masih menunduk. Pandu merasa iba dan tidak tega melihat Ani yang notabene nya adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya.
Pandu kembali mendekat pada Ani dan duduk di depannya. Kemudian dia kembali mengarahkan dagu Ani untuk melihat ke arahnya.
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin membicarakan hal lain selain kesehatanmu dan anak kita untuk sekarang ini," Pandu menjawab dengan memandang lekat wajah istrinya yang kini ada di hadapannya.
"Lalu setelah itu?" tanya Ani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin. Tenang saja," jawab Pandu kembali.
"Berarti Mas Pandu tidak menyerah untuk mendapatkan kembali masa lalu Mas Pandu?" Ani bertanya pada Pandu dengan raut wajahnya yang bertambah sedih dan matanya yang berkaca-kaca itu semakin banyak menyimpan air mata.
"Sudahlah Ani, aku hanya ingin ketenangan sekarang. Cobalah mengerti dan kamu hanya perlu memikirkan kesehatanmu dan anak kita saja, jangan pikirkan yang lainnya," jawab Pandu dengan sedikit kesal.
Dan benarlah sudah, air mata Ani menetes hanya dengan satu kali mengedipkan matanya saja. Hati Ani terasa sedih dan sakit mendengar kenyataan yang tidak secara langsung dikatakan oleh suaminya.
__ADS_1
Ani mengerti jika dia tidak bisa dibandingkan dengan mantan istri dari suaminya. Apalagi kini mantan istrinya itu diperistri oleh seorang Kyai yang mempunyai Pondok Pesantren.
Pasti wanita itu sangat hebat. Pantas saja Mas Pandu tidak bisa melepaskannya. Apalah aku ini yang hanya sekedar lulusan sekolah dasar saja, Ani berkata sedih dalam hatinya.
Pandu merasa ada yang aneh karena tidak ada suara dari istrinya. Tidak seperti tadi yang selalu menjawabnya. Pandu menoleh padanya, dia merutuki dirinya yang tidak bisa menenangkan istrinya dan sekarang malah membuatnya menangis.
"Aku minta maaf, jangan menangis lagi. Aku hanya ingin kamu memikirkan kesehatanmu dan anak kita saja. Lakukanlah apa yang dikatakan oleh dokter. Dan istirahatlah sekarang," ucap Pandu sambil mengusap air mata Ani.
Di ruangan Mirna, dokter sedang memeriksanya. Di sana masih ada Hana yang duduk dipangkuan Anita.
"Bu Mirna, kita lakukan besok ya. Persiapkan hati, pikiran dan tubuh Ibu agar besok bisa berjalan dengan lancar. Berdoa ya Bu, agar penyakitnya tidak ada lagi setelah ini," ucap dokter tersebut setelah memeriksa keadaan Mirna.
"Baik dok. Terima kasih," jawab Mirna lirih.
Takut, iya benar, Mirna merasa takut. Ketakutan itu berkecamuk dalam pikiran dan hatinya. Dia takut seperti waktu pertama kali melakukannya, dan kini dia kembali melakukannya.
"Hufffttt.... sampai kapan aku harus melakukan ini? Katanya setelah operasi, penyakitnya akan hilang, kenapa sekarang ada lagi?" Mirna menggerutu meratapi keadaannya.
"Sabar Mbak, kita harus berdoa agar penyakit Mbak Mirna gak akan ada lagi setelah ini. Percaya saja dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Mbak. Pasti nantinya Mbak Mirna akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang Mbak Mirna inginkan," Anita mencoba menenangkan Mirna.
"Kapan? Kebahagiaan yang mana? Rasanya kebahagiaanku sudah dirampas oleh orang lain," Mirna menyahuti ucapan Anita dengan sewot.
"Mungkin kebahagiaan yang Allah persiapkan untuk Mbak Mirna bukan kebahagiaan yang Allah persiapkan untuk Mbak. Yakin saja Mbak dengan apa yang akan direncanakan oleh Allah," Anita masih saja berusaha untuk menyadarkan pikiran Mirna.
"Eh Nit, itu anak tidur ya? Sejak kapan?" Mirna mengganti topik pembicaraannya dengan Anita ketika melihat Hana tertidur dipangkuan Anita.
Sontak saja Anita melihat Hana yang berada di pangkuannya dan kepalanya menempel pada dada Anita. Anita tersenyum melihat Hana yang tertidur menampilkan wajah polos yang menenangkan jika dilihat.
"Mungkin dia serasa didongengi kali Mbak dengar kita bicara tadi," ucap Anita sambil tersenyum melihat wajab Hana yang sedang tertidur.
"Kamu pantas sekali Nit jadi ibunya," ucap Mirna sambil terkekeh.
"Mbak Mirna juga pasti akan merasa senang jika melihat wajah polos anak kecil yang sedang tertidur," sahut Anita sambil tersenyum melihat Mirna.
"Udah, sana, balikin dia ke Bapaknya sana," Mirna berkata kesal setelah mendengar ucapan dari Anita.
Anita pun membawa Hana kembali ke Bapaknya dengan menggendongnya secara hati-hati agar Hana tidak terbangun.
__ADS_1