Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 160 Bisakah berdamai dengan masa lalu?


__ADS_3

Beberapa menit setelah diperiksa oleh dokter Shinta, kandungan Ani memang harus segera dioperasi. Sedangkan Ani saat ini masih dalam keadaan lemah.


Dokter Shinta dan dokter Dion mempertanyakan tentang persetujuan operasi untuk persalinannya, dan Ani pun meminta waktu untuk berpikir.


"Mas Pandu apa setuju dengan operasi persalinan ini?" tanya Ani pada Pandu yang sedang menggendong Hana yang dalam keadaan tidur.


"Jika itu memang diperlukan, kenapa tidak?" jawab Pandu sambil memandang wajah Ani yang sedikit pucat.


"Lalu biayanya dari mana Mas untuk membayar tagihannya? Kita tidak punya cukup uang untuk membayarnya," ucap Ani yang terlihat sangat khawatir.


"Itu urusanku, aku yang akan mencarinya. Kamu tidak usah memikirkannya. Kamu hanya cukup memikirkan kesehatanmu dan anak yang ada di dalam kandunganmu ini," jawab Pandu sambil mengusap perut Ani yang sudah membuncit.


"Ini belum waktunya lahir Mas. Kemungkinan jika lahir pun dia akan lahir prematur dan banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan nantinya untuk bayi ini," Ani kembali mengatakan apa yang dia ketahui.


"Ya bagaimana lagi, memang itu yang harus kita lalui. Sudahlah Ani, lebih baik kamu beristirahat dan persiapkan dirimu untuk operasi besok," Pandu mengakhiri perdebatannya dengan Ani.


"Mas, Mas Pandu.... Ani suka Mas Pandu yang seperti ini. Mas Pandu yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya. Mas Pandu yang sayang dan cinta dengan anak dan istrinya, dan aku harap Mas Pandu akan tetap jadi Mas Pandu yang seperti ini," Ani menjeda ucapannya dan tersenyum manis pada Pandu, kemudian Ani melanjutkan ucapannya kembali.


"Aku sangat berharap agar Mas Pandu bisa ikhlas, bisa legowo dengan masa lalu Mas Pandu. Bukannya aku melarang mas Pandu mengingat masa lalu Mas Pandu, tidak Mas. Aku hanya tidak ingin Mas Pandu bersikap egois dan mengabaikan kebahagiaan orang lain. Aku mohon Mas... aku harap Mas Pandu bisa berdamai dengan masa lalu Mas Pandu. Dan jalani lah masa sekarang dengan ikhlas agar kita bisa meraih kebahagiaan bersama."


Pandu hanya terdiam mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Ani dengan suara yang lembut hingga masuk dalam hati Pandu.


Tak terasa air mata Pandu menetes tanpa diketahuinya. Dan dia segera menundukkan wajahnya seolah-olah sedang menciumi Hana yang berada dalam gendongannya.


Ani pun tidak mengetahui air mata Pandu yang hanya sekali menetes itu. Namun Ani merasa jika diamnya Pandu saat ini karena Pandu sedang memikirkan ucapannya.

__ADS_1


"Maafkan semua perkataan ku Mas. Aku tidak ada niatan untuk menggurui Mas Pandu," ucap Ani sambil tersenyum getir dan menundukkan kepalanya untuk melihat jari tangannya yang sedang dia mainkan.


Seketika Pandu melihat Ani yang menurut Pandu sebenarnya tidak ada sikap buruk pun dari Ani yang membuat Pandu harus meninggalkannya. Diakui oleh Pandu memang Ani wanita yang baik, sederhana, tidak banyak menuntut dan selalu melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri dan ibu dari anaknya.


Oleh karena itulah Pandu tidak pernah berniat untuk meninggalkan Ani, apalagi mereka sudah memiliki Hana dan anak yang akan lahir sebentar lagi. Namun keinginannya untuk bersama Rhea lagi juga ingin dia wujudkan agar tidak ada lagi rasa bersalah dalam dirinya.


Pandu memang sadar jika dia tidak memiliki banyak harta untuk memiliki dua istri, namun niatnya sangat kuat hingga mendorongnya untuk meminta Rhea kembali padanya tanpa memikirkan hal yang lainnya.


Pernah Pandu berkata dalam hatinya,


Dulu saja aku bisa mencapai dan mendapatkan uang serta jabatan yang lebih dari cukup untuk aku dan Rhea bersama. Mustahil jika sekarang aku tidak bisa. Bukankah semua akan berhasil dengan usaha yang gigih? Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa meraih kejayaan ku kembali dan Rhea pasti juga akan bisa aku dapatkan kembali seperti dulu ketika aku mendapatkannya diantara beberapa lelaki yang menginginkannya.


Tanpa mereka sadari, Shinta berada di belakang tirai dari bed tempat Ani berada. Tadinya Shinta akan mengunjungi Ani sebelum dia pulang, namun dia berhenti ketika mendengar Ani yang sedang berbicara dengan Pandu.


Bukannya Pandu berniat untuk menguping pembicaraan Ani dengan Pandu, namun Shinta merasa tersentuh hatinya ketika mendengar Ani berbicara pada Pandu.


Segera Shinta pergi dari tempatnya setelah apa yang didengarnya dirasa sudah cukup. Kemudian Shinta menghampiri perawat di UGD tersebut dan memberitahukan apa yang ingin dia katakan.


"Sus, saya mau pulang dulu. Untuk Bu Ani, tolong dijaga ya. Dan jika ada apa-apa dengan dia, tolong segera hubungi saya. Dan semua yang saya perintahkan mengenai perawatannya, tolong dikerjakan dengan baik," perintah Shinta pada perawat yang berada di ruang UGD.


"Baik dok," jawab perawat tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


Shinta segera keluar dari ruang UGD untuk menghampiri suaminya yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.


Ustadz Jaki memang sudah datang beberapa menit yang lalu dan menunggu Shinta di parkiran khusus mobil di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Lama bener... untung gak jamuran nungguinnya," Ustadz Jaki menyindir Shinta yang baru saja mendekat padanya.


"Enak dong, tinggal dikasih tepung terus digoreng," ucap Shinta sambil terkekeh menanggapi sindiran suaminya yang terlihat sedikit kesal.


"Dikira jamur crispy apa?" ucap Ustadz Jaki dengan bibir manyunnya.


"Dih sensi, lagi mens ya Pak?" Shinta mengeluarkan candaannya pada Ustadz Jaki.


"Mens sana in corpore sano, yang artinya jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Oleh sebab itu, saya mengundang Bu Shinta untuk datang menghadiri acara pelaksanaan program kesejahteraan keluarga berencana di kamar Ustadz Jaki. Sekian terima kasih," jawab Ustadz Jaki dengan nada layaknya berpidato.


Shinta melongo melihat Ustadz Jaki yang berbicara dengan gaya sedang berpidato. Tangannya diletakkan di kedua saku celananya dan berjalan mondar-mandir di depan Shinta.


Sedetik kemudian Shinta tertawa mendengar ucapan Ustadz Jaki yang terlalu modus menurutnya. Namun dilakukan dengan cara yang tidak biasa.


"Dasar modus!" seru Shinta sambil melewati Ustadz Jaki masuk ke dalam mobil.


"Bukannya modus, tapi....," ucapan Ustadz Jaki menggantung dengan senyum jahil yang ditampilkannya.


"Tapi apa?" tanya Shinta yang penasaran dengan jawaban dari suaminya yang pastinya tidak jauh-jauh dari kekonyolannya.


"Kode.... kode...," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


Pantas saja Salsa kadang-kadang bersikap konyol. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Shinta berkata dalam hatinya sambil tersenyum geli melihat kelakuan suaminya uang selalu saja bisa membuatnya tertawa.


"Sayang, tadi istri dari mantan suami Rhea dilarikan ke rumah sakit," Shinta melapor pada Ustadz Jaki.

__ADS_1


Ciiiiiit.....!!!


__ADS_2