
"Maaf, pegangan yang kuat biar gak jatuh," Pandu memperingatkan Mirna sewaktu motor mereka melewati jalan bebatuan yang tidak rata.
Tanpa sadar Mirna pun melingkarkan tangannya ke pinggang Pandu. Dan Pandu pun tersenyum tipis merasakan tangan Mirna yang melingkar erat di pinggangnya.
Hingga sampai di parkiran pasar, barulah tangan Mirna lepas dari pinggang Pandu.
Seperti biasa, Mirna menjadi bahan omongan orang-orang di pasar karena dirinya yang sering berboncengan dengan Pandu, bahkan Pandu mengantar Mirna ke pasar layaknya pasangan suami istri yang sedang berbelanja bersama.
"Bu Mirna, emang bener ya dia bukan suami Bu Mirna? Kenapa gak nikah aja sih kalian, daripada kalian berdua-duaan terus. Bu Mirna harusnya kan paham karena mantan suaminya-"
"Ini uangnya Bu, kembaliannya buat bayar yang besok aja," Mirna segera menyela ucapan pedagang sayur tersebut dan secepat kilat pergi dari kios sayur itu.
"Dikirain gak mau kembaliannya Bu, ternyata buat besok toh," ucap pedagang sayur tersebut sambil terkekeh membuat Mirna semakin kesal mendengarnya meskipun dia sudah berjalan sedikit jauh dari kios tersebut.
Pandu pun dengan segera mengikuti Mirna menuju kios berikutnya. Seperti biasanya Pandu membawakan semua belanjaan Mirna dengan mengikutinya dari kios ke kios dan selalu mendengarkan omongan-omongan para pedagang yang kenal dengan Mirna tentang Mirna dan Pandu.
"Para tetangga aja bingung Bu, laki-laki itu sebenarnya siapa. Lah wong kadang boncengan dengan Anita, tapi kadang juga boncengan dengan Bu Mirna. Bahkan tadi itu Bu Mirna pegangan erat banget Bu pas dibonceng sama laki-laki itu. Sampai jadi omongan para tetangga loh Bu," sahut tetangga sekitar rumah Pak Ratmo yang melihat Mirna berpegangan pada pinggang Pandu sewaktu dibonceng tadi.
"Gak nyangka ya Bu Mirna. Padahal dia kan mantan istrinya Kyai tapi kelakuannya begitu. Bukan mahram tapi udah main pegang-pegang aja," pedagang di kios sebelah ikut menanggapi perbincangan mereka.
"Pantas saja diceraikan sama suaminya yang Kyai itu. Lah wong kelakuannya seperti itu," ucap pedagang yang lain dengan sewotnya.
"Ini sudah semua?" tanya Pandu yang kerepotan membawa barang belanjaan Mirna.
"Sepertinya sudah semua. Ya udah yuk kita pulang," jawab Mirna sambil melenggang tanpa membantu Pandu untuk membawa barang belanjaannya.
Nasib... nasib... kerja udah jadi kuli panggul, sekarang pun tetap dijadikan kuli suruh bawa semua barang belanjaannya, mana gak dibantuin lagi. Untung aja dia bukan istriku, kalau dia jadi istriku, pasti dia bakalan semena-mena sama aku, Pandu menggerutu dalam hatinya di setiap langkahnya menuju parkiran motornya.
"Ini beneran ke rumah? Kenapa gak ke warung sekalian?" tanya Pandu pada Mirna pada saat dia mengendarakan motornya.
"Berangkat bareng sama Anita aja nanti ke warungnya," jawab Mirna datar.
Sesampainya di rumah, Mirna segera meletakkan semua barang belanjaannya di dapur tanpa mengeluarkannya karena semuanya akan dibawa ke warung milik Mirna.
__ADS_1
"Nit... kamu udah siap belum? Ayo kita ke warung sekarang," Mirna berbicara sambil berjalan menuju kamar Anita.
Di dalam kamar Anita sudah ada Pandu yang sedang menggendong baby Emir dan Anita yang sedang membuatkan minuman untuk Emir.
"Loh kok kamu ada di sini sih? Kalian kalau kayak gini udah kayak pasangan suami istri aja," ucap Mirna sambil terkekeh.
Tadi di pasar dibilang kayak pasangan suami istri ama dia, sekarang dia bilang aku kayak pasangan suami istri sama Anita. Udah kayak punya dua istri aja. Apa gini ya rasanya punya dua istri? Pandu berkata dalam hatinya dengan melihat ke arah Anita dan Mirna secara bergantian.
"Mbak Mirna nih ngaco. Emir rewel lagi gak bisa tidur, padahal badannya udah gak panas lagi," Anita memberikan pembelaannya.
"Sini biar aku yang coba gendong Emir," ucap Mirna sambil meminta Emir dari Pandu untuk dia gendong.
Seketika senyum Mirna mengembang ketika Emir mulai tidur dengan nyenyak dalam gendongan Mirna. Anita merasa heran karena sedari tadi Emir tidak bisa nyenyak tidurnya meskipun dalam gendongan Anita ataupun Pandu.
"Kok bisa langsung anteng Mbak? Apa Emir kecapekan ya?" Anita bertanya pada Mirna dengan suara lirih.
"Mungkin juga Nit. Ini ditidurkan di mana Emirnya?" tanya Mirna pada Anita dan Pandu dengan suara lirih.
"Lebih baik Emir Mbak Mirna gendong dulu aja, takutnya nanti dia bangun lagi. Kasihan Mbak," Anita mencegah Mirna yang akan melepaskan kain gendongnya.
"Jangan Mbak, Emir baru aja enakan badannya. Takutnya nanti dia panas lagi," jawab Anita sambil mengikatkan kembali kain gendongan ke tubuh Mirna.
"Lalu?" tanya Mirna bingung.
"Biar Emir sama saya saja," sahut Pandu yang merasa tidak enak pada Anita dan Mirna.
"Loh jangan Mas, bisa-bisa Mas Pandu gak dipekerjakan lagi loh sama mereka. Lebih baik Mas Pandu kerja aja, biar Emir sama Mbak Mirna aja di rumah," sahut Anita dengan cepatnya tidak menyetujui ucapan Pandu.
"Loh kok sama aku Nit? Kenapa bukan sama kamu aja? Ini kamu aja yang gendong Emir," ucap Mirna sambil mendekat ke arah Anita.
"Anita yang jaga warung sama Hana mbak. Biar Mbak Mirna di rumah aja jagain Emir," jawab Anita.
"Aku aja yang jaga warung Nit. Kamu jagain Emir aja," Mirna tidak setuju dengan yang diucapkan Anita.
__ADS_1
"Mbak Mirna yang masak?" tanya Anita pada Mirna.
"Ya enggak," jawab Mirna dengan sedikit kesal.
"Ya udah Mbak Mirna di rumah aja jagain Emir. Biar Anita dibantuin Hana jagain warungnya," Anita memberikan keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat oleh Mirna.
"Ya udah, jangan malam-malam pulangnya," ucap Mirna dengan kesal.
"Biar saya antar aja Nit, belum waktunya berangkat kerja kok sekarang," Pandu berkata pada Anita.
"Ya udah Mas Pandu bawa aja motornya sekalian berangkat kerja. Nanti sorenya Mas Pandu jemput saya sama Hana di warung," Anita memerintahkan pada Pandu.
"Baiklah, kita berangkat saja sekarang. Kamu siap-siap dulu aja, biar saya bangunkan Hama dulu, sepertinya dia tadi tertidur di depan TV," ucap Pandu sebelum keluar dari kamar Anita.
Setelah itu Anita dan Hana berangkat ke warung dengan diantar oleh Pandu menggunakan motor Pak Ratmo.
"Kalian mau berangkat ke warung sekarang?" tanya Pak Ratmo pada Anita ketika melihat Anita sudah berada di dekat motor dengan membawa keranjang belanjaan bersama dengan Hana dan Pandu.
"Iya Pak, Mbak Mirna biar jagain Emir di rumah. Kasihan kalau sampai Emir dibawa ke warung, dia kan baru enakan badannya," jawab Anita sambil mencium tangan Pak Ratmo.
"Ya udah hati-hati ya," ucap Pak Ratmo yang mendapatkan anggukan dari Anita.
"Assalamu'alaikum...," Anita mengucap salam diikuti oleh Hana yang terlihat masih mengantuk.
"Wa'alaikumussalam...," Pak Ratmo menjawab salam dari Anita.
Pak Ratmo melihat kepergian Anita bersama dengan Hana dan Pandu hingga mereka tidak terlihat lagi.
"Pak, Pak Ratmo!" seorang tetangga memanggil Pak Ratmo.
Pak Ratmo yang tadinya akan masuk ke dalam rumah, kini berbalik menghadap orang yang memanggilnya.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Pak Ratmo.
__ADS_1
"Pak, itu laki-laki yang tinggal di rumah Bapak sebenarnya pacarnya siapa sih Pak? Pacarnya Anita atau Bu Mirna?"