
"Apa Mbak?" seru Anita kaget.
"Ayo dong Nit, tolongin Mbak ya...," Mirna kembali memelas pada Anita.
"Gak mau ah Mbak, pasti nanti aku dimarahi sama Bapak," Anita menolak keinginan Mirna.
"Paman pasti gak akan tau Nit kalau gak ada yang ngasih tau, ya... bantuin Mbak ya Nit... sekali ini aja Nit, ya...," Mirna kembali memaksa Anita untuk mau membantunya.
"Mbak jangan gini dong, aku nanti yang disalahkan kalau bantuin kebohongannya Mbak Mirna," Anita kembali memberikan alasannya, namun Mirna tetaplah Mirna yang tidak mau menyerah sebelum keinginannya tercapai.
"Aku gak bohong Nit, aku beneran sakit. Jadi kamu gak usah takut karena memang aku lagi sakit," bujuk Mirna pada Anita.
"Mbak sakit? Sakit apa?" tanya Anita dengan menelisik memandang Mirna dari atas sampai bawah.
Mirna mengangguk dan menjawab dalam hati, Sakit hati Nit.
"Ayo Nit sekali ini aja, gak akan ada masalah kok, beneran," Mirna kembali meyakinkan Anita.
"Terus Mbak mau ngapain?" tanya Anita menyelidik.
"Aku cuma mau minta maaf Nit," Mirna bermuka sedih agar Anita mau membantunya.
"Kenapa gak lewat telepon aja sih Mbak? Kenapa harus disuruh ke sini?" tanya Anita heran, karena Anita curiga dengan rencana licik Mirna lainnya.
"Mas Fariz udah gak mau terima teleponku lagi Nit," Mirna kembali memberikan alasannya.
"Ya udah Mbak gak usah maksain, mungkin memang kalian gak jodoh," Anita mencoba memberi pengertian pada Mirna.
"Aku tau Nit, mangkanya aku cuma mau minta maaf aja kok. Apa gak boleh?" mata Mirna berkaca-kaca mengatakannya, dan itu membuat Anita menjadi iba padanya.
"Baiklah Mbak, aku bantu, tapi cuma sekali ini aja ya dan aku gak mau terseret masalah Mbak Mirna," akhirnya Anita bersedia membantu Mirna.
Seketika binar kebahagiaan muncul pada wajah Mirna. Wajahnya yang tadi sedih, kini berganti dengan kebahagiaan.
"Beneran Nit?" tanya Mirna untuk memastikan.
Anita mengangguk dan berkata, " Cuma sekali ini aja Mbak. Mana nomernya?"
Mirna memberikan nomer Ustad Fariz pada Anita, dan detik itu juga Anita melakukan panggilan pada nomer Ustad Fariz.
"Halo, Assalamu'alaikum, maaf Kyai ini saya Anita keponakannya Mbak Mirna. Apa Kyai bisa datang ke sini? Mbak Mirna sedang sakit sekarang," Anita memberanikan diri berbicara melalui telepon dengan Ustad Fariz.
__ADS_1
Jujur saja Anita tidak berani melakukannya, namun atas desakan Mirna, Anita terpaksa melakukannya.
"I-iya Kyai, maaf. Assalamu'alaikum," dengan segera Anita mematikan teleponnya setelah dia selesai berbicara.
"Hufffft....," Anita menghela nafasnya panjang dan dia menutup matanya mengingat jawaban dari Ustad Fariz ketika di telepon tadi.
"Gimana Nit? Apa Mas Fariz mau datang ke sini sekarang? Apa nanti?" tanya Mirna tidak sabar.
"Iiiih.... malu... malu... malu....," Anita menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa Nit?" tanya Mirna bernada khawatir pada Anita.
"Malu tau gak Mbak sama Kyai Fariz," Anita masih saja menutup wajahnya sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan jika Bapaknya mengetahui bahwa dia membantu Mirna untuk menelepon Ustad Fariz.
"Memangnya apa jawaban Mas Fariz Nit?" tanya Mirna tidak sabar dengan menarik tangan Anita menjauh dari wajahnya.
......................
Sedari tadi pagi Rhea sibuk membantu Ibunya memasak dan membuat kue untuk bekal Ustad Fariz dan Ustad Jaki di jalan nanti.
Tiba-tiba ada suara dering telepon dari ponsel Ustad Fariz ketika Ustad Fariz dan Ustad Jaki sedang asyik mengobrol dan menikmati kopi serta kue buatan Rhea. Sedangkan Rhea berada di dekat mereka.
"Wa'alaikumussalam...," Ustad Fariz menjawab salam dari telepon.
"Telepon dari siapa Bie?" tanya Rhea pada suaminya sambil menata beberapa makanan untuk bekal makan Ustad Fariz dan Ustad Jaki di jalan.
Ustad Jaki yang ada di sebelah mereka turut mendengarkan sambil meminum kopi dan memakan kue buatan Bu Ratih.
"Dari anaknya Pak Ratmo," jawab Ustad Fariz singkat sambil meminum kopinya.
"Mau apa dia kok bawa dokter-dokter segala?" tanya Ustad Jaki heran.
"Katanya Mirna sakit dan aku disuruh ke sana," jawab Ustad Fariz yang kini sedang menikmati kue buatan istrinya.
"Hah, sakit? Palingan juga akal-akalannya Mbak Mirna aja," celetuk Ustad Jaki menanggapi perkataan Ustad Fariz.
Ustad Fariz mengedikkan bahunya sambil mengunyah kuenya.
"Apa gak perlu dijenguk Bie?" tanya Rhea ragu.
"Gak usah, kita udah bukan suami istri lagi jadi tidak perlu mengkhawatirkan wanita lain selain istriku. Dan juga ada Pak Ratmo yang kini menjaganya, karena dia Pamannya, jadi tidak akan mungkin membiarkan keponakannya sakit," jawab Ustad Fariz disela makannya.
__ADS_1
Rhea memandang wajah Ustad Fariz dengan intens dan tersenyum mendengar jawaban dari suaminya itu. Ada rasa bahagia karena suaminya tidak lagi mengkhawatirkan istrinya yang lain karena dia kini menjadi istri satu-satunya dan ada rasa sedih karena mereka akan berjauhan sedangkan suaminya akan berada di daerah yang sama dengan mantan istrinya.
Ustad Fariz memandang heran pada Rhea yang sedari tadi menatapnya seperti itu.
"Kenapa Sayang?" tanya Ustad Fariz heran sambil menatap lekat wajah istrinya.
Rhea memajukan wajahnya sambil bertopang dagu dan tersenyum, kemudian dia berkata, "So sweet...."
"Uhuuuk...," reflek Ustad Jaki tersedak kue yang sedang dia makan.
Ustad Fariz terkekeh mendengar jawaban dari istrinya, kemudian dia meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi istrinya seraya berkata,
"So sweet apanya, emangnya kamu mau suamimu ini mengkhawatirkan wanita lain selain istrinya?" Ustad Fariz bertanya untuk menggoda istrinya.
"Enggak, gak boleh, enak aja," jawab Rhea sambil menggelengkan kepalanya yang pipinya masih diapit oleh kedua telapak tangan Ustad Fariz.
"Haduuuh... nasib... nasib jadi jomblo, pagi-pagi udah disuguhi yang beginian," gerutu Ustad Jaki sambil meminum kopinya.
"Mangkanya cepetan nikah biar bisa kayak gini," kini Ustad Fariz mengecup kening Rhea untuk menggoda Ustad Jaki.
"Ckckck... awas aja kalian kalau aku udah nikah pasti kalian berdua bakal aku buat baper," ucap Ustad Jaki jumawa.
"Lemper kali," sahut Ustad Fariz disambut tawa dari Rhea.
......................
Di rumah Pak Ratmo, Mirna sedang kesal karena rencananya tidak bisa terwujud. Ingin rasanya dia datang kembali ke rumah Umi Sarifah, namun Pak Ratmo sudah mengancamnya.
Mirna tidak tahu lagi harus bagaimana. Kini dia memikirkan kembali rencananya agar Ustad Fariz membatalkan perceraian mereka karena persidangan akan segera terlaksana.
Sedangkan Anita, dia masih merasa malu. Anita merutuki kebodohannya yang mau saja disuruh oleh Mirna menghubungi Ustad Fariz. Rasanya dia kini tidak punya muka jika bertemu dengan Ustad Fariz.
"Nit, kamu bantu Mbak lagi ya?" Mirna masuk ke dalam kamar Anita.
"Enggak mau Mbak. Aku gak mau terlibat lagi sama urusannya Mbak Mirna. Aku malu Mbak... malu... Mbak Mirna kok gak punya malu banget sih, aku aja malu," ucap Anita yang masih kesal dengan nada sewot.
Kurang ajar banget sih nih anak ngatain aku gak punya malu, batin Mirna kesal pada perkataan Anita tentang dirinya namun tidak dia tampakkan kekesalannya agar Anita mau membantunya kembali.
"Cuma bantu gitu aja loh Nit. Gak susah. Tolong kamu ke rumah Umi Sarifah cari tau apa Mas Fariz ada di rumah?" pinta Mirna dengan menyembunyikan perasaan kesal dan emosinya.
"Mbak Mirna aja yang datang ke sana sendiri," ucap Anita sambil melangkah keluar kamar meninggalkan Mirna sendiri dalan kamar Anita.
__ADS_1
Lama-lama kurang ajar ini anak, Mirna berucap dalam hati dengan kesal, nafasnya naik turun menahan kekesalannya dan hidungnya kembang kempis melihat Anita mengacuhkannya.