Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 217 Bertemu di Pondok Pesantren


__ADS_3

"Hana pakai yang ini aja kalau berangkat besok."


Anita menempelkan gamis di depan badan Hana untuk melihat baju itu jika dipakai oleh Hana.


"Terus hijabnya pakai yang ini ya."


Anita menempelkan hijab pilihannya pada gamis yang masih ditempelkan pada badan Hana.


Hana hanya melihat apa yang ditempelkan di tubuhnya tanpa berkomentar.


"Bagus kan Hana?" tanya Anita pada Hana dengan memberikan senyumnya.


"Apa kita akan membeli semuanya Mbak?" tanya Hana pada Anita dengan wajah bingungnya melihat beberapa gamis dan hijab yang dipilih Anita.


"Iya, ini semua untuk dipakai Hana di Pondok Pesantren nanti. Masih ada lagi yang harus kita beli. Kita selesaikan yang ini dulu ya."


Anita sangat antusias membelikan perlengkapan dan keperluan Hana yang akan dibawa ke Pondok Pesantren.


"Mbak, gak usah banyak-banyak ya. Ini pasti mahal-mahal semuanya. Bapak Hana gak punya uang untuk beli semuanya Mbak."


Hana berkata lirih di sebelah telinga Anita. Dia takut jika Bapaknya tidak ada uang untuk membayar semua barang yang dipilihkan Anita untuknya.


"Semua ini hadiah dari Kakek dan Mbak Anita. Kami ingin Hana betah di sana. Jadi Hana tidak boleh menolak niat baik Kakek dan Mbak Anita ya," ucap Anita dengan lembut dan mengusap rambut Hana.


Seketika bibir Hana melengkung ke atas. Dia sangat bahagia bisa memiliki semua barang yang dipilihkan oleh Anita padanya.


Setelah mencoba semua baju, rok, gamis dan hijabnya, Anita membayar semua barang tersebut dan mengajak Hana pindah ke toko lain yang ada di pasar tersebut.


"Hana, kita beli perlengkapan yang lainnya ya. Setelah itu kita pulang," ucap Anita sambil berjalan menggandeng Hana dan menjinjing belanjaan mereka.


Hana mendongak melihat wajah Anita yang tersenyum padanya. Kemudian dia mengangguk dan membalas senyuman Anita.


Setelah semua keperluan selesai dibeli, mereka pulang dengan menggunakan ojek menuju rumah.


Hari ini Anita meminta ijin pada Mirna untuk membeli keperluan Hana, Mirna pun mengijinkannya dan sekalian dia meliburkan warungnya karena dia tidak bisa bekerja di warung sendiri tanpa Anita. Apalagi dengan adanya baby Emir yang membuat Mirna tidak bisa mengerjakan pekerjaan di warungnya tanpa ada yang membantunya.


"Assalamu'alaikum...," ucap Hana bersamaan dengan Anita memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Mirna dari dalam kamarnya.


"Adik Emir ke mana Bu?" tanya Hana ketika melihat Mirna keluar dari kamarnya tanpa membawa Emir.


"Ada di kamar lagi tidur," jawab Mirna sambil melihat beberapa kantong plastik yang berada di tangan Hana dan Anita.


"Kalian beli apa aja? Banyak banget," ucap Mirna yang kemudian duduk di kursi yang berada di dekatnya saat ini.


"Baju-baju, hijab dan perlengkapan Hana nanti untuk di Pondok Pesantren Mbak," jawab Anita sambil meletakkan semua kantong plastik yang dibawanya di atas kursi.


"Kamu yang membelikan?" tanya Mirna menyelidik.


"Semalam Anita disuruh Bapak untuk mengantar Hana membeli perlengkapan dan Bapak memberi Anita uang untuk membelinya," jawab Anita sambil melihat kembali barang belanjaannya di dalam beberapa kantong plastik tersebut.

__ADS_1


"Sebanyak ini?" tanya Mirna kembali menyelidik.


"Anita tambahin Mbak uangnya," jawab Anita segera.


"Oooo," ucap Mirna sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gak dikasih uang sama Mas Pandu kan?" tanya Mirna kembali.


Dahi Anita mengernyit, dia tidak mengerti kenapa Mirna menanyakan hal itu padanya.


"Enggak Mbak. Kenapa?" tanya Anita dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Gapapa kok," jawab Mirna dengan tersenyum puas.


Bagus Mas, berarti kamu menurut padaku. Lihat saja, aku akan membuatmu selalu menurut padaku, Mirna berkata dalam hatinya dan tersenyum.


Kenapa sih Mbak Mirna? Kok jadi aneh gitu ya? Ah sudahlah, memang Mbak Mirna kan agak aneh, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit baik. Gak bisa diprediksi, Anita bertanya-tanya dalam hatinya dengan memandang aneh pada Mirna.


Hari inilah tiba, Hana diantarkan oleh semuanya menuju Pondok Pesantren yang akan menjadi tempatnya mengenyam ilmu setelah ini.


Pandu, Mirna, baby Emir, Anita dan Pak Ratmo mengantar Hana menggunakan mobil yang disewa oleh Pak Ratmo dari tetangganya.


Pak Ratmo memang tidak meminjam mobil milik Pondok Pesantren Al-Mukmin yang biasanya dipakainya karena Pak Ratmo tahu diri.


Hana yang menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang menewaskan Umi Sarifah dan membuat Izam menjadi terluka seperti sekarang ini. Jadi sangat tidak mungkin jika Pak Ratmo meminjam mobil Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk mengantar Hana.


Setelah beberapa jam, sampailah mereka di Pondok Pesantren yang dituju. Mereka mendaftarkan Hana dan setelah itu Anita yang mengurus semuanya karena dia yang lebih berpengalaman menjadi santri di Pondok Pesantren.


"Anita?"


Terdengar suara seorang laki-laki yang memanggil nama Anita dan membuat Anita menoleh ke arah sumber suara.


Anita memicingkan matanya, dia mengingat-ingat nama orang yang ada di hadapannya.


"Siapa ya?" tanyanya sambil mengingat-ingat kembali.


"Kamu benar-benar lupa sama aku Nit? Kamu ngajar di sini juga?" tanya lelaki yang ada di hadapan Anita saat ini.


"Aku tidak mengajar. Aku hanya mendaftarkan keponakanku saja jadi santri di sini mulai hari ini. Dan menjenguk adikku yang sudah dari dulu menjadi santri di sini," jawab Anita.


"Oooo begitu....," ucap lelaki tersebut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu benar-benar lupa sama aku Nit?" tanyanya kembali pada Anita.


Anita mengangguk sambil tersenyum lebar, kemudian dia berkata,


"Maaf ya, aku orang pelupa sih."


"Aku Fadli, kamu masih ingat?"


"Fadli? Astaghfirullahaladzim.... Fadli yang itu?" ucap Anita dengan ekspresi kagetnya.

__ADS_1


Fadli tersenyum melihat ekspresi kaget dari Anita ketika mengetahui siapa dirinya. Kemudian dia berkata,


"Iya, ini aku Fadli yang pernah mengirimkan surat padamu di hari kelulusan kita."


"Maaf aku lupa, sudah lama kita tidak berjumpa," ucap Anita menanggapi perkataan Fadli.


"Bagaimana kabarmu Nit?" tanya Fadli pada Anita.


"Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana?" jawab Anita.


"Baik juga. Kamu sudah menikah Nit?" tanyanya kembali.


Anita tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Siapa yang mau menikahi perempuan seperti aku?"


Fadli membuka mulutnya hendak menanggapi ucapan dari Anita, namun terdengar suara orang yang memanggilnya.


"Ustadz Fadli, sudah ditunggu yang lain," ucap santri yang sepertinya memang sedang mencari Fadli.


"Baik, terima kasih. Saya akan ke sana sekarang," ucap Ustadz Fadli pada santri tersebut.


"Ustadz? Kamu Ustadz di sini?" tanya Anita pada Ustadz Fadli.


Ustadz Fadli pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia berkata,


"Aku harus segera ke sana. Apa aku boleh meminta nomormu?" ucap Ustadz Fadli sambil mengeluarkan ponselnya dari saku baju koko nya.


"Boleh. Sini biar aku tuliskan nomernya," ucap Anita sambil mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel milik Ustadz Fadli.


Ustadz Fadli pun memberikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku baju koko nya setelah ponselnya dikembalikan oleh Anita.


"Aku ke sana dulu ya Nit. Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Fadli berpamitan pada Anita.


Anita tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan menjawab salamnya,


"Wa'alaikumussalam."


Fadli berjalan sambil meletakkan ponselnya di telinganya. Dan terdengar dari tempat Ustadz Fadli saat ini suara dering ponsel Anita.


Ustadz Fadli membalikkan badannya, kemudian berkata,


"Nit, itu nomorku. Simpan ya."


Anita yang sedang melihat ponselnya kini beralih melihat ke arah Ustadz Fadli berada. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ustadz Fadli, Anita mengangguk seraya tersenyum lebar melihat tingkah Ustadz Fadli yang menurutnya lucu dan mengangkat jempolnya ke arah Ustadz Fadli sebagai jawaban atas perintahnya.


"Kemana aja sih kamu Nit? Lama banget," ucap Mirna dengan sewotnya ketika Anita sudah kembali ke tempat mereka.


"Ada deh Mbak," jawab Anita sumringah.


"Pacaran kamu ya? Seneng banget gitu mukanya," ucap Mirna dengan kesal sambil berdiri dan berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


__ADS_2