Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 232 Apa aku hamil?


__ADS_3

Keesokan harinya Mirna diantar oleh Pandu periksa ke dokter kandungan di rumah sakit tempat Shinta bekerja.


Sebenarnya kemarin sore Pandu sudah mengantar Mirna periksa ke dokter umum dan mereka menyarankan agar Mirna memeriksakan ke poly obgyn karena menurut mereka Mirna tidak sakit, melainkan sedang hamil.


Tentu saja Mirna sangat senang. Sepanjang hari dia tidak henti-hentinya tersenyum dan sangat ramah sekali pada Pandu. Hingga satu sikap Mirna yang berubah menurut Pandu, dia sangat manja kepadanya dan tidak mau lepas sama sekali dari Pandu.


Tiba di rumah sakit Mirna segera mendaftarkan dirinya di poly obgyn. Dia lebih memilih di periksa oleh dokter yang menangani penyakitnya daripada diperiksa oleh Shinta.


Alasan yang pertama karena dokter yang memeriksanya kali ini sangat tahu tentang riwayat penyakitnya dan yang kedua karena dia tidak menyukai Shinta yang merupakan istri dari Ustadz Jaki.


"Selamat pagi Bu Mirna, mau periksa kehamilan ya?" tanya dokter Dita pada Mirna ketika Mirna dan Pandu sudah duduk di depannya.


"Saya belum tau dokter Dita, mangkanya saya datang ke sini untuk memeriksa," jawab Mirna.


"Oh baiklah, kapan hari pertama haid terakhir Bu Mirna?" tanya dokter Dita kembali.


"Sekitar tanggal sembilan bulan Juli dok," jawab Mirna sambil mengingat-ingat kalender menstruasinya.


"Sekarang tanggal dua September, jadi Bu Mirna melewatkan periode menstruasi bulan Agustus," tukas dokter Dita pada Mirna.


"Iya benar dok," jawab Mirna dengan antusias.


"Apa yang Bu Mirna rasakan?" tanya dokter Dita menyelidik.


"Saya merasakan pusing, kemudian mual dan muntah, badan juga rasanya lemas sekali dok," jawab Mirna secara langsung, tanpa berpikir.


"Bu Mirna silahkan berbaring, biar saya periksa dulu," ucap dokter Dita sambil beranjak dari kursinya.


Mirna pun menurut, dia berbaring pada bed pemeriksaan untuk diperiksa. Dokter Dita memeriksa perut Mirna beberapa saat, kemudian memintanya untuk duduk kembali.


"Cek darah saja ya Bu Mirna, agar lebih akurat," ucap dokter Dita yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Iya dok, terserah dokter saja," jawab Mirna dengan antusias tanpa berpikir.


Dokter Dita mengeluarkan peralatan untuk mengambil darah Mirna. Seketika mata Mirna terbelalak kaget dan dia menggeser kursinya agar menjauh dari meja dokter Dita.


"Kenapa Bu?" tanya dokter Dita heran.


"Dok, itu saya mau disuntik gitu?" tanya Mirna dengan bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kan mau diambil darahnya Bu, biar lebih akurat hasilnya," jawab dokter Dita sambil tersenyum.


"Tapi kan saya takut disuntik dok," ucap Mirna sambil beralih memegang tangan Pandu.


Pandu menghela nafasnya, dia merasa jika Mirna berubah seperti anak kecil hingga sifatnya lebih manja daripada Hana waktu dulu.


"Gak sakit kok Bu, hanya seperti digigit semut saja," bujuk dokter Dita pada Mirna.


"Ayolah Mir, sebentar saja. Turuti apa kata dokter. Katanya kamu senang dengan kehamilanmu ini," Pandu membujuk Mirna.


Mirna memandang Pandu, kemudian dia memandang peralatan yang telah disiapkan oleh dokter Dita untuk mengambil darahnya. Kemudian dia berkata,


"Baiklah dok saya akan lakukan. Tapi jangan sakit-sakit ya dok," pinta Mirna pada dokter Dita.


Dokter Dita tersenyum, dia pun mulai mempersiapkan alatnya dan meminta tangan Mirna.


"Mas, pegangin," ucap Mirna sambil memandang penuh harap pada Pandu.


Pandu pun menurut, dia memegangi tangan Mirna agar Mirna tidak berulah lagi.


Punya istri tiga tapi yang satu ini merepotkan sekali, mana harus minta dituruti, suka ngomel tapi ada kalanya dia bersikap manis. Berbeda dengan Rhea dan Ani yang sangat penurut. Aah... aku jadi kangen sama mereka, batin Pandu sambil memegangi tangan Mirna.


Dokter Dita kemudian mengambil darah Mirna untuk diperiksa kadar bhcg dalam darahnya.


"Kita tunggu aja ya Mas?" tanya Mirna pada Pandu.


Pandu mengangguk setuju pada Mirna. Namun dalam hatinya dia berkata,


Alamat gak bisa kerja ini.


"Kami tunggu saja dok hasilnya," ucap Mirna pada dokter Dita.


"Baiklah, silahkan Bu Mirna dan Bapak tunggu di luar. Nanti akan saya panggil jika hasilnya sudah ada," tukas dokter Dita sembari memberikan senyumnya.


Mirna dan Pandu keluar dari poly obgyn tempat dokter Dita memeriksanya. Mirna keluar dengan mata yang berbinar berharap jika dia memang benar-benar sedang mengandung anaknya bersama dengan Pandu.


Mereka berdua duduk di kursi tunggu untuk menunggu hasil pemeriksaan darah milik Mirna.


Beberapa saat kemudian, dokter Dita memanggilnya dan menjelaskan hasil pemeriksaannya.

__ADS_1


"Selamat ya Bu Mirna," ucap dokter Dita sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Mirna.


"Apa saya hamil dok?" tanya Mirna pada dokter Dita.


Dokter Dita mengangguk dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Usia kandungan Bu Mirna sudah delapan minggu."


"Terima kasih dok," jawab Mirna dengan raut wajah bahagianya sambil menerima uluran tangan dokter Dita.


Mirna keluar dari ruang dokter Dita dengan perasaan bahagia dan mata yang berbinar. Sedangkan Pandu, entahlah mengapa dia merasa hatinya seperti hampa, tidak merasakan senang seperti mengetahui kehamilan Ani ketika mengandung Hana dan Emir.


Sesampainya di rumah, Pandu segera membawa Mirna ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Mas, aku hamil. Di dalam perutku ini ada anak kita," ucap Mirna dengan memancarkan binar kebahagiaan pada wajahnya.


Pandu tersenyum dan memeluk tubuh Mirna yang kini sudah duduk di ranjang mereka.


"Selamat ya Mir, akhirnya kamu bisa hamil juga setelah menunggu beberapa tahun lamanya," ucap Pandu ketika sudah mengurai pelukannya.


Mirna mengambil tangan Pandu dan meletakkannya di atas perutnya.


"Mas Pandu di sini saja temani Mirna. Aku gak mau sendirian, aku maunya tidur ditemani mas Pandu," pinta Mirna pada Pandu dengan suara manjanya.


"Tapi Mir aku harus bekerja. Mau makan apa kita nanti jika aku tidak bekerja?"


Pandu menatap wajah Mirna dan menjelaskan padanya agar bisa mengerti keadaannya.


"Tapi aku gak ada temannya Mas," rengek Mirna pada Pandu.


"Kita suruh Hana untuk menemani kamu ya," bujuk Pandu kemudian.


Mirna diam, sepertinya dia sedang berpikir, namun beberapa detik kemudian dia mengangguk setuju.


"Ya sudah kamu hati-hati ya di rumah. Aku berangkat kerja dulu," ucap Pandu sebelum dia keluar dari kamarnya.


"Ckckck... dia pelupa sekali. Kebiasaan gak berubah, udah gak mau salam, gak cium tangan lagi. Aku juga lupa gak ngingetin. Ah bodoh amat, yang penting sekarang aku sedang hamil," ucap Mirna bermonolog dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian Mirna benar-benar bosan. Dia merasa kesepian sejak Anita tidak lagi bersamanya. Anita dan suaminya hanya pulang ke rumah Pak Ratmo ketika akhir minggu saja karena Anita mengikuti suaminya yang mengajar sebagai Ustadz di Pondok Pesantren yang Hana dan adik Anita tempati.

__ADS_1


Adik Anita kini membantu Ustadzah untuk mengajar di Pondok Pesantren itu dan tinggal di Pondok Pesantren tersebut. Sedangkan Hana membantu Ustadzah untuk mengajar dan bantu-bantu di Pondok Pesantren Al-Mukmin sesuai permintaan dari Pak Ratmo.


"Sepi sendirian. Ah, kenapa aku gak jemput Hana aja supaya menemani aku di rumah, sekalian aku akan pamer pada Rhea kalau aku sedang hamil anak dari mantan suaminya. Dia kan kehilangan anaknya dan tidak bisa hamil lagi, pasti dia akan iri mendengar berita kehamilanku," ucap Mirna dengan antusias sambil bangkit dari ranjangnya bersiap untuk datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.


__ADS_2