Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 201 Suatu kabar


__ADS_3

Bruk!


"Rhea!"


Shinta yang tidak terasa jika pegangan tangannya terlepas dari tangan Rhea sangat kaget ketika melihat tubuh Rhea jatuh di lantai rumah sakit.


Dengan segera Ustadz Fariz berlari dan mengangkat tubuh istrinya ke ruang Shinta dan Ustadz Jaki yang masih menggendong Salsa yang tertidur merasa cemas dengan kondisi Rhea yang tiba-tiba pingsan dengan kondisi hamil besar.


Hana bertambah takut ketika dia meminta maaf di depan Rhea dan berakhir membuat Rhea menjadi pingsan karena melihatnya.


Sebenarnya Rhea pingsan karena ketika Hana meminta maaf padanya, dia jadi terbayang akan Umi Sarifah dan Izam yang terkapar di jalanan karena menolongnya.


Pak Ratmo segera memeluk Hana untuk menenangkannya. Terlihat jelas jika Hana ketakutan dengan keadaan yang dialaminya saat ini.


Kurang lebih sepuluh menit Rhea tersadar dari pingsannya. Kini dia berada di ruangan Shinta dan sudah diperiksa oleh Shinta keadaan Rhea dan bayi dalam kandungannya.


Mata Rhea mengerjap-ngerjap menyesuaikan binar cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.


"Auch...," suara pertama yang keluar dari mulut Rhea setelah dia tersadar dari pingsannya.


Ustadz Fariz yang masih berada di situ merasa senang istrinya sudah tersadar. Sedangkan Shinta segera.mengambil stetoskopnya untuk memeriksa keadaan Rhea saat ini.


"Apa yang kamu rasakan Rhea? Apa ada yang sakit?"


Shinta bertanya pada Rhea sambil bersiap memakai stetoskopnya di telinganya.


Rhea hanya menggeleng lemah dengan ekspresi wajah tidak nyaman.


"Sebentar aku periksa dulu," ucap Shinta kemudian.


Sangat terlihat sekali jika Rhea tidak nyaman saat ini. Dan hal itu membuat Ustadz Fariz bertambah cemas. Di satu sisi dia mengkhawatirkan keadaan Umi Sarifah dan Izam yang masih berada di ruang ICU, sedangkan di hadapannya saat ini ada istrinya yang juga butuh dirinya karena dalam keadaan hamil besar dan keadaannya tak kalah mengkhawatirkan.


"Untung saja semuanya baik-baik saja. Apa kamu ada keluhan lain Rhea?" tanya Shinta setelah melepas stetoskopnya dari telinganya.


"Badanku rasanya sakit semua Shin. Apa ini mendekati HPL?" tanya Rhea yang meringis menahan rasa sakitnya.


Shinta tersenyum dan mengangguk sambil mengusap perut Rhea.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia akan lahir ke dunia ini," jawabnya dengan tersenyum pada Rhea.


Rhea menoleh pada Ustadz Fariz yang duduk di sampingnya. Bukannya bahagia wajah yang ditampakkan oleh Rhea saat ini. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangisan kesedihannya.


Ustadz Fariz segera meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Umi Bi... Izam... bagaimana mereka," ucap Rhea disela isakan tangisnya.


"Mereka akan baik-baik saja. Tenang saja. Kita akan sama-sama mendoakan Umi dan Izam agar mereka cepat sadar dan bisa kembali pulih bersama dengan kita."


Ustadz Fariz menahan tangisnya dan dia mengatakan seperti itu agar istrinya yang sedang menunggu kelahiran bayinya itu tidak terbebani dengan pikiran yang bisa membahayakan kesehatannya dan bayinya.


"Apa aku harus meninggalkan kalian di sini berdua?"


Shinta bertanya karena merasa tidak enak berada di antara mereka yang mungkin memerlukan ruang sendiri tanpa kehadirannya.


Ustadz Fariz mengurai pelukannya dengan Rhea dan berkata pada Shinta,


"Tidak Shin. Tolong jaga Rhea di sini. Biar aku yang berada di sana bersama dengan Ustadz Jaki."


"Kamu di sini saja ya sayang. Nanti aku pasti akan mengabarkan jika Umi dan Izam sudah sadar. Kamu harus beristirahat dan tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak," ucap Ustadz Fariz sambil memegang kedua pipi Rhea dengan telapak tangannya.


Ustadz Fariz membalikkan badannya untuk berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba dia memutar kembali tubuhnya menghadap Rhea dan Shinta.


"Oh iya Shin, kenapa Rhea tadi bisa tiba-tiba pingsan? Apa dia kurang makan atau bagaimana?" tanya Ustadz Fariz pada Shinta.


Shinta menggeleng. Dia memang benar-benar tidak tahu tentang itu. Dia tidak tahu penyebab Rhea tiba-tiba pingsan pada saat itu.


"Aku tiba-tiba terbayang Umi dan Izam seperti yang diceritakan oleh Pak Ratmo. Gambaran mereka tiba-tiba ada di depan mataku ketika melihat Hana meminta maaf padaku."


Tiba-tiba Rhea mengatakan penyebab dirinya pingsan dengan suara lirih dan bergetar serta air mata yang kembali keluar dari pelupuk matanya.


Deg!


Ustadz Fariz terkejut mendengar apa yang katakan oleh istrinya. Dia tidak mengira jika cerita Pak Ratmo dan kehadiran Hana berdampak sangat besar pada kondisi Rhea saat ini.


Ustadz Fariz kembali memeluk tubuh Rhea yang masih saja mengeluarkan air matanya. Di ciumnya berkali-kali kepala istrinya itu dan membisikkan doa untuk menenangkannya.

__ADS_1


Diambilnya botol air mineral yang tersedia di meja Shinta untuk minuman Rhea ketika sudah sadar. Dibacakan lah doa pada minuman tersebut. Kemudian diberikannya pada istrinya.


"Diminum dulu ya sayang supaya tenang," ucapnya sambil membantu meminumkan air tersebut pada istrinya.


Setelah melihat Rhea sudah agak tenang, Ustadz Fariz meninggalkannya di ruangan tersebut bersama dengan Shinta.


Ustadz Fariz kembali bergabung dengan Ustadz Jaki yang tak henti-hentinya mulutnya merapalkan ayat-ayat suci Al-quran untuk meminta kesembuhan Umi Sarifah dan Izam pada sang Khalik.


Terlihat di sana masih ada Pak Ratmo dan Hana yang setia menunggu mereka.


"Pak, lebih baik Pak Ratmo pulang saja sekarang. Dan ajaklah anak ini pulang Pak. Kasihan dia pasti lelah dari tadi menunggu seharian di sini," ucap Ustadz Fariz pada Pak Ratmo.


"Hana namanya Ustadz. Dia yang meminta agar menunggu di sini. Sepertinya dia merasa bersalah," Pak Ratmo menanggapi ucapan Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz hanya menghela nafasnya berat. Dia melihat Hana yang memang seperti merasa bersalah dan dia juga mengkhawatirkan istrinya yang nantinya akan kembali terbayang Umi Sarifah dan Izam jika melihat Hana.


Terdengar suara sepatu orang yang berlari mendekati ruang ICU. Mereka para dokter yang tadi melakukan operasi pada Umi Sarifah dan Izam.


Sontak saja Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki menjadi panik melihat para dokter tersebut memasuki ICU dengan tergesa-gesa.


Sedangkan di ruangan Shinta, Rhea merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.


"Shin, ini sepertinya udah mau lahir," ucap Rhea sedikit tercekat karena menahan rasa sakitnya.


"Sebentar, biar aku periksa dulu," ucap Shinta dengan tergesa-gesa mendekat ke arah Rhea.


Shinta memeriksa kandungan Rhea dan dia menganggukkan kepalanya.


"Sebentar lagi dia akan lahir," tutur Shinta sambil tersenyum pada Rhea.


Shinta menghubungi Ustadz Fariz untuk mengabarkan kondisi Rhea saat ini.


Kini di ruang ICU masih berada dokter yang sepertinya memeriksa Umi Sarifah dan Izam. Sedangkan di ruang persalinan kini sedang Shinta yang menolong kelahiran bayi Rhea.


Keadaan Rhea yang sangat lemas membuat Shinta merasa cemas. Dia benar-benar mengupayakan agar Rhea dan bayinya bisa selamat.


Suara pintu salah satu ruangan di rumah sakit itu dibuka.

__ADS_1


"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un...."


__ADS_2