
Tangis haru menghiasi pemakaman Umi Sarifah. Banyak orang yang datang untuk mengantarkan kepergiannya dan menghormatinya untuk yang terakhir kalinya.
"Beliau orang yang baik. Semoga Allah memberinya tempat di surga."
Banyak sekali ucapan seperti itu yang disampaikan mereka pada Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.
Semasa hidupnya memang Umi Sarifah dikenal sebagai sosok seorang Umi yang benar-benar sangat keibuan, baik hati dan tidak memihak siapapun ketika menyelesaikan masalah.
Apa yang diucapkannya selalu bisa menenangkan hati mereka yang meminta saran padanya. Serta senyumannya yang sangat lembut itu membuat mereka tenang ketika melihatnya.
Salsa tak henti-hentinya menangis ketika mengantar jenazah Umi Sarifah ke pemakaman yang berada di dalam wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Tangisan Salsa itu membuat nyeri hati orang yang mendengarnya. Air mata Rhea dan Shinta pun lolos tak bisa terbendung lagi.
Hingga pada saat jenazah Umi Sarifah dimasukkan ke liang lahat, tangisan histeris Salsa membuat Rhea jatuh pingsan pada saat itu juga.
Dengan badan yang masih lemas dan pikiran beratnya pada Izam yang masih belum sadar, semakin membuat Rhea merasakan beban pikiran yang mendalam.
"Astaghfirullahaladzim, Rhea!"
Shinta yang berada di samping Rhea sedang menggendong Salsa dengan tangisannya itu membuatnya tidak bisa menghalau badan Rhea yang jatuh ke tanah.
Hanya ibu Rhea yang ada di sampingnya membantu mengangkat tubuh Rhea bersama dengan mbok Darmi yang juga ikut hadir di pemakaman tersebut.
Kondisi Rhea saat ini sangat lemah. Setelah melahirkan, dia memang memaksakan dirinya untuk menghadapi kenyataan yang memilukan ini.
Menghadapi kenyataan bahwa anak pertamanya yang masih kecil itu belum sadar setelah operasi dilakukan dan Umi yang selalu menemani hari-harinya sebagai ibu di tempat tinggalnya saat ini meninggalkannya untuk selamanya.
Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki yang sedang berada di dalam liang lahat untuk menerima jenazah Umi Sarifah menjadi panik ketika mendengar seruan dari Shinta yang memanggil nama Rhea dan beristighfar sebelumnya dengan nada kaget.
Ustadz Fariz mempunyai firasat jika istrinya kini kembali pingsan. Tentu saja dia sangat cemas dan khawatir jika terjadi apa-apa dengan istrinya yang baru saja melahirkan anaknya.
Namun mereka tidak bisa mengabaikan jenazah Umi Sarifah, ibu mereka yang harus mereka semayamkan dengan benar sebagai seorang anak yang berbakti.
Rhea, Shinta, Salsa, Bu Ratih dan mbok Darmi tidak mengikuti hingga selesai proses pemakamannya karena mereka harus membawa Rhea yang sedang pingsan kembali ke rumah.
__ADS_1
Salsa yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis, kini dia tanpa sadar tertidur. Sedangkan Rhea kini mendapatkan pemeriksaan dari Shinta dan dokter yang sedang berjaga di klinik Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Entah kenapa Rhea belum juga tersadar meskipun sudah diberikan beberapa aromatherapy yang bisa membuat orang tersadar dari pingsan pada umumnya.
"Rhea, Zahra, bangun sayang, Izam dan putri kita menunggu Bundanya."
Ustadz Fariz mengatakannya dengan mengusap lembut pipi istrinya yang masih saja terpejam matanya.
"Yasmin Zahra Mahadi, nama putri kita," bisik Ustadz Fariz di telinga Rhea yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Adik dari Abrisam Gibran Mahadi yang sedang menunggu kehadiran bundanya di dekatnya sekarang ini," ucap Ustadz Fariz kembali.
Mendengar nama Izam, Rhea hatinya tersentuh dan dalam pingsannya itu dia mendengar Izam memanggilnya dan meminta tolong padanya agar membantunya untuk keluar dari suatu tempat.
"Bunda... Abi... tolong Izam... bantu Izam keluar dari sini....!"
Masih berada di tempat yang sama Izam berteriak memanggil bunda dan abi nya.
"Izam, ayo Umi bantu keluar dari sini."
"Izam!"
Rhea berteriak bangun dari pingsannya. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan keringat dingin di dahi dan pelipisnya, Rhea memanggil nama Izam dengan lantangnya.
"Sayang, ada apa? Kamu sudah sadar?"
Ustadz Fariz yang sejak tadi berada di sampingnya, kini merasa lega melihat istrinya sudah sadar dari pingsannya.
"Izam... Izam Bi, dia... dia minta tolong kita untuk membawanya keluar dari suatu tempat. Ayo Bi kita bantu Izam, kita ke sana sekarang."
Tanpa memikirkan hal lainnya Rhea mengajak Ustadz Fariz ke rumah sakit untuk menemui Izam. Sepertinya Rhea benar-benar lupa jika Umi Sarifah baru saja dimakamkan dan masih banyak tamu yang berdatangan ke Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk bertakziah.
"Sayang... sayang... tenanglah dulu. Kita pasti akan ke rumah sakit. Sebentar ya, masih banyak tamu di luar."
Sejenak Rhea diam dan berpikir, ingatannya kini kembali. Dia sadar jika saat ini di rumah sedang dalam keadaan berduka.
__ADS_1
"Maaf Bi, Bunda lupa," ucap Rhea menyesal dengan suara lirih.
Ustadz Fariz mengusap dengan lembut kepala Rhea yang masih berbalut hijab untuk membuat istrinya itu lebih tenang.
"Kenapa Abi ada di sini? Bukankah Abi harus ada di sana bersama mereka?"
Reha bertanya pada suaminya dengan pandangan heran yang penuh dengan tanya.
"Bunda belum sadar, dan percuma saja Abi berada di luar jika pikiran Abi ada di sini mengkhawatirkan Bunda yang masih belum sadar dari pingsan."
Sejenak Ustadz Fariz menghela nafasnya dengan berat sebelum dia meneruskan perkataannya.
"Maafkan Abi ya sayang... Maafkan karena Abi tadi tidak bisa menolong istriku ini ketika pingsan tadi."
Berat sekali rasanya Ustadz Fariz mengatakannya karena dengan mengatakan hal itu sama saja mengingatkannya pada saat proses pemakaman Umi Sarifah dan pada saat pingsannya Rhea ketika Ustadz Fariz berada di liang lahat untuk meletakkan jenazah Umi Sarifah ke dalam liang lahat tersebut.
"Abi tidak salah. Bunda saja yang tidak kuat menahan tubuh Bunda. Dan Abi sudah menjalankan kewajiban Abi sebagai anak yang berbakti pada Umi. Bunda selalu bangga menjadi istri Abi."
Rhea mencoba menguatkan suaminya. Karena dia tahu jika Ustadz Fariz, suaminya itu harus kuat agar semua bisa berjalan dengan lancar.
Kini semua bergantung pada Ustadz Fariz. Pundaknya memikul beban Pondok Pesantren Al-Mukmin selain sebagai kepala keluarga yang sedang diuji kesabarannya dengan musibah yang terjadi pada Izam serta Umi Sarifah.
Di rumah sakit, Izam mengalami mimpi yang sama pada waktu yang bersamaan dengan Rhea. Dia berusaha sangat keras agar bisa kembali pada dunianya dengan dibantu oleh Umi Sarifah pada mimpinya.
Tiba-tiba saja dokter dan perawat yang sedang memeriksanya melihat pergerakan jari Izam dan perlahan dia membuka matanya.
Dokter segera melakukan pemeriksaan pada Izam dengan dibantu oleh perawat yang ada di ruangan tersebut, sedangkan perawat yang tidak membantu segera menghubungi keluarga Izam agar bisa datang ke rumah sakit dengan segera.
Ponsel Ustadz Fariz bergetar, dan dia segera mengangkatnya karena sedang menunggu berita yang sangat penting sehingga membuatnya harus selalu siaga dengan ponselnya.
Halo, apa benar ini dengan keluarga ananda Abrisam Gibran Mahadi? terdengar suara seseorang di seberang sana.
"Assalamu'alaikum. Iya benar, apa terjadi sesuatu dengan anak saya?"
Seketika Ustadz Fariz kaget dan cemas mendengar nama Izam disebut oleh orang yang sedang meneleponnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rhea, dia sangat panik mendengar ucapan Ustadz Fariz yang menanyakan tentang Izam, anak mereka.