Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 145 Indahnya cinta


__ADS_3

"Pasien yang sedang hamil tadi bukan termasuk korban dalam kecelakaan dok, dia pasien yang dilarikan ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Pasien tersebut menyayat pergelangan tangannya sendiri. Beruntung saat itu ada seseorang yang datang mencarinya dan mondobrak masuk rumahnya, sehingga bisa menolongnya datang ke rumah sakit tepat waktu," perawat yang biasa membantu Shinta menjelaskan keadaan Tasya pada Shinta dan Ustadz Jaki.


Mata Ustadz Jaki dan Shinta terbelalak mendengar penjelasan dari perawat tersebut. Memang perawat itu diutus oleh Ustadz Jaki untuk mencari tahu apa yang terjadi dan bagaimana keadaan dari Tasya.


"Lalu bagaimana keadaannya?" Shinta bertanya dengan cemas.


"Sekarang dia sudah tertolong dok, janin dalam kandungannya juga baik-baik saja. Apa dokter Shinta mengenalnya?" perawat tersebut menjelaskan kembali pada Shinta dan bertanya tentang hubungan Shinta dengan pasien di ruang UGD yang sedang hamil tadi.


"Dia... dia itu-"


"Siapa yang membawanya ke rumah sakit?" Ustadz Jaki menyahut Shinta yang ragu menjawab pertanyaan dari perawat itu.


"Tadi sih katanya yang membawanya ke rumah sakit ini seorang laki-laki yang mengaku sebagai suaminya," jawab perawat tersebut.


"Suaminya?" sontak Ustadz Jaki dan Shinta kaget mendengar kata suami dan perawat itupun mengangguk dengan memandang heran pada Ustadz Jaki dan Shinta.


"Lalu di mana dia sekarang?" Ustadz Jaki bertanya karena penasaran.


"Sedang diperiksa oleh pihak berwajib Pak di kantor Polisi," jawab perawat tersebut.


Ustadz Jaki dan Shinta saling memandang, mereka sepertinya memikirkan hal yang sama. Ustadz Jaki mengangguk pada Shinta dan Shinta pun ikut mengangguk pada Ustadz Jaki. Entahlah, sepertinya mereka mempunyai pemikiran yang sama sehingga mereka saling memahami dan mampu berkomunikasi hanya dengan tatapan mata mereka saja.


"Saya minta tolong, nanti jika suami pasien tadi sudah datang, tolong antarkan ke ruangan saya. Sekarang saya akan berisitirahat di ruangan saya saja," ucap Shinta pada perawat yang ada di hadapannya.


"Baik dok, nanti akan saya sampaikan. Dan saya akan menghubungi dokter Shinta terlebih dahulu jika orang tersebut akan datang ke ruangan dokter. Tapi... jangan lupa kunci pintunya ya dok," perawat tersebut melempar candaannya pada Shinta.


Hal itu membuat Shinta menjadi malu, namun berbeda dengan Ustadz Jaki yang melebarkan senyumnya dan menaik turunkan alisnya ketika Shinta melihatnya.


Tidak berapa lama, ada suara ketukan pintu yang terdengar dari dalam ruangan Shinta ketika Ustadz Jaki memaksa untuk menyuapi Shinta makanan yang dia beli dari kantin rumah sakit.


"Masuk!" teriak Shinta dari dalam ruangannya setelah meneguk minumannya.


Masuklah seorang laki-laki yang seumuran dengan Ustadz Jaki dan juga Shinta. Laki-laki tersebut merasa heran karena dia diperintahkan untuk menemui dokter Shinta di ruangannya.


"Maaf dok, apa ada yang salah dengan kesehatan istri saya?" tanya laki-laki tersebut pada Shinta yang duduk di kursi kebanggannya.


"Maaf, sebenarnya anda ini siapanya Tasya?" Shinta tidak menjawab pertanyaan laki-laki itu, Shinta malah memberikan pertanyaan pada laki-laki tersebut.


"Saya... saya su-"


"Anda ayah dari anak yang dikandung Tasya bukan?" Ustadz Jaki segera menyahut karena gemas dengan istri dan laki-laki di depannya itu yang tidak dengan segera mengatakan akar permasalahannya.

__ADS_1


Laki-laki tersebut mengangguk, namun wajahnya menjadi sedih. Dan itu terbaca oleh Ustadz Jaki.


"Kenapa anda bersedih? Apa karena dia menolak keinginan anda untuk bertanggung jawab?" Ustadz Jaki menanyakan kembali kebenaran yang pernah dia dengar dari Tasya waktu itu.


"Bagaimana kalian bisa tau? Apa kalian...," laki-laki tersebut menggantungkan ucapannya, dia ragu untuk meneruskannya.


"Kami teman Tasya, dan dia kemarin bercerita pada kami. Hmmm... apa anda mau mendengarkan nasehat kami? Karena kami ingin Tasya menikah dengan anda agar dia tidak lagi egois dengan bayinya.


"Hah? Apa kalian memihakku?" tanya laki-laki tersebut heran.


"Tidak juga. Kami hanya memihak pada kebenaran. Dan jangan coba- coba berbohong, karena kami mengetahui jika kamu berbohong," ucap Ustadz Jaki dengan senyum yang meremehkan.


Terlihat jelas jika tubuh laki-laki tersebut menegang setelah mendengar ala yang dikatakan oleh Ustadz Jaki padanya.


"Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada Tasya di saat dia tidak sadar?" Shinta bertanya pada laki-laki tersebut dengan harapan bisa memancingnya untuk mengatakan semuanya pada mereka.


"Sebenarnya aku hanya menyelamatkannya. Dia sepertinya meminum minuman yang sudah dicampurkan dengan obat yang bisa membuatnya menginginkan hubungan badan dengan lawan jenisnya.


"Malam itu kami sedang menghadiri pesta perpisahan teman kerja kami, dan tiba-tiba saja saya melihat Tasya tidak seperti biasanya. Pada saat dia akan ke kamar mandi, saya mengikutinya karena merasa khawatir padanya. Dan ternyata teman kami yang mengadakan pesta perpisahan itu menarik tangan Tasya untuk masuk ke dalam mobilnya dengan paksa meskipun Tasya memberontak. Karena saya lihat Tasya tidak mau, jadi saya bawa Tasya meninggalkan tempat itu, tentunya setelah saya adu hantam dengan teman kami itu. Ketika di dalam mobil, Tasya meminta untuk pergi ke tempat tinggalku karena jaraknya lebih dekat dari tempat kami sekarang. Dan pada saat kami sudah berada di tempatku, Tasya.... Tasya memaksaku untuk menyentuhnya karena dia menginginkannya. Dan aku memang mau melakukannya karena aku sangat mencintai Tasya, terlebih dia sendiri yang memintanya tanpa aku memaksanya. Jadi, saya tidak tau sekarang harus bagaimana, sedangkan saya siap sekali untuk bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya," laki-laki tersebut menceritakan apa yang terjadi pada Ustadz Jaki dan Shinta.


"Astaghfirullahaladzim....," Ustadz Jaki dan Shinta mengucap istighfar bersamaan.


"Sabar Mas, Insya Allah Mas pasti bisa meluluhkan hati Tasya jika terus berusaha mengambil hatinya. Terlebih sekarang pada saat dia mengandung anaknya Mas," Ustadz Jaki mencoba mengembalikan semangat laki-laki tersebut.


"Kalau boleh tau sedekat apa hubungan kalian dengan Tasya, hingga dia menceritakan semuanya pada kalian?" laki-laki itu kembali mengutarakan rasa penasarannya.


"Dia ingin merusak kebahagiaan kami. Tapi maaf, saya tidak ada keinginan untuk memenuhi keinginannya," jawaban Ustadz Jaki ini membuat laki-laki tersebut bingung.


"Maksudnya?" tanya laki-laki itu dengan wajah bingungnya.


Shinta menghela nafasnya dan akhirnya dia menceritakan semuanya pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Mata laki-laki itu berkaca-kaca, setelah itu dia menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sedang menangis.


"Apa anda menangis?" tanya Shinta ragu.


"Maaf... maaf dok, saya... saya... huffttt... saya hanya sedih saja, ternyata perjuangan saya selama ini sepertinya sia-sia saja. Tasya tidak pernah menghargai perasaan cinta saya padanya," ucapnya sambil tersenyum getir.


"Tidak, anda tidak salah. Anda berhak berusaha untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anda. Terlebih perbuatan kalian pada malam itu sekarang membuahkan hasil. Bayi itu tidak bersalah, dan dia berhak untuk mendapatkan kasih sayang kalian berdua," Shinta menenangkan laki-laki tersebut agar tetap mau berusaha memenangkan hati Tasya.


"Baiklah dok, saya permisi dulu. Siapa tau Tasya sudah sadar," laki-laki tersebut berpamitan, kemudian dia keluar dari ruangan Shinta menuju UGD tempat Tasya berada.

__ADS_1


"Sip. Sesuai rencana, ini tinggal kamu kirimkan ke wanita yang katanya mengaku sebagai sahabatmu itu," ucap Ustadz Jaki seraya memberikan ponsel Shinta pada Shinta.


"Apa ini? Bukannya ini HP ku?" tanya Shinta heran.


"Iya, coba kamu lihat video itu," Ustadz Jaki menyuruh Shinta untuk melihat video yang terlihat di layar ponselnya saat ini.


"Ini... ini..."


"Iya, itu rekaman video kita berbicara tadi dengan laki-laki barusan. Cepat kamu kirimkan ke wanita itu agar dia tau apa yang sebenarnya terjadi, dan agar dia merasakan ketulusan laki-laki yang benar-benar mencintainya itu," ucap Ustadz Jaki sambil kembali duduk setelah mengambil ponsel Shinta tadi yang dia letakkan pada rak peralatan yang ada di belakang mereka.


Shinta pun melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Dalam hatinya dia berharap agar Tasya dan laki-laki tadi bisa bersatu dan Tasya tidak lagi menginginkan Ustadz Jaki sebagai suaminya.


Tring!


Suara notifikasi pesan terdengar pada ponsel Tasya. Dia sedang termenung meratapi nasibnya yang tidak dia ketahui lagi bagaimana kelanjutannya. Percobaan untuk mengakhiri hidupnya telah gagal. Kini dia tidak tahu lagi harus bagaimana.


Tasya membuka pesan tersebut dan tiba-tiba air matanya keluar dengan sendirinya ketika melihat dan mendengar rekaman video tersebut.


"Sya, kamu kenapa menangis?" suara laki-laki yang ada di dalam rekaman video tersebut membuat Tasya mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya pada lelaki yang ada di hadapannya itu.


Mata Tasya sakin banyak mengeluarkan air mata dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari lelaki itu karena dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya menangis. Yang dia tahu hanyalah hatinya merasa sakit melihat laki-laki dihadapannya itu menangis di dalam video tersebut dan disaat dia mendengar kenyataan tentang cerita pada malam itu, dia merasa bersalah.


"Jangan menangis ya," lelaki tersebut duduk di depan Tasya dan mengusap air mata Tasya dengan lembut.


Seketika tubuh Tasya memeluk erat tubuh lelaki dihadapannya itu secara tidak sadar. Tubuhnya seperti bergerak sendiri dikomando oleh hatinya. Tasya memeluk erat laki-laki itu dengan air matanya yang kembali menetes mengenai baju laki-laki tersebut.


"Maaf...," ucap Tasya tanpa sadar.


Seketika bibir laki-laki tersebut tersenyum mendengar permintaan maaf dari wanita yang dicintainya dan dipeluk erat oleh wanita tersebut.


"Tuh, udah gituan. Sekarang kita pulang yuk, gituan juga," ucap Ustadz Jaki pada Shinta ketika mereka mengintip Tasya di depan ruang UGD.


"Masih jam kerja!" jawab Shinta sambil berjalan menuju ruangannya.


Dengan semangatnya Ustadz Jaki berlari menyusul Shinta dan berjalan di sampingnya.


"Udah, aku udah gapapa, kamu pulang aja sana," ucap Shinta sambil berjalan.


"Gak mau. Aku mau di sini nungguin kamu, jagain kamu. Aku takut nanti kamu pingsan lagi," jawab Ustadz Jaki sambil berjalan di sebelah Shinta.


"Ok, karena aku habis pingsan, jadi aku harus berisitirahat kan suamiku?" Shinta kini menghentikan langkahnya dan menghadap ke suaminya.

__ADS_1


Ustadz Jaki pun ikut berhenti dan mengangguk setuju dengan ucapan Shinta.


"Berarti untuk hari ini gak ada jatah," ucap Shinta sambil tersenyum jahil melihat suaminya yang merubah ekspresi bahagianya tadi menjadi kesal.


__ADS_2