Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 177 Seperti keluarga


__ADS_3

"Apa Mbak Anita sudah sembuh?" tanya Hana pada Anita yang keluar dari kamar mandi.


"Alhamdulillah rasa sakitnya sudah sedikit reda. Kenapa? Apa Hana lapar?" Anita mendekati Hana dan mengusap rambut Hana yang sedang mendongak melihatnya.


"Iya, Hana lapar," jawab Hana dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


"Biasanya Mbak Anita dan Bu Mirna sarapan bersama di warung sekalian masak untuk dijual di sana. Kita ke sana aja yuk, pasti Bapak Hana juga ada di sana," ucap Anita kemudian.


Hana pun mengangguk dengan antusias dan senyum lebarnya masih saja ditampilkannya.


"Tunggu sebentar ya, Mbak Anita mau ganti baju dulu," Anita tersenyum mengatakannya sebelum berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Hana, kita naik ojek saja ya, motornya dibawa Bapaknya Hana tadi ngantar Bu Mirna ke pasar," ucap Anita pada Hana.


"Iya Mbak, tenang saja, Hana sudah terbiasa jalan kaki kok," jawab Hana dengan tersenyum lebar.


"Kamu benar-benar anak yang pintar Hana. Sekarang kita jalan dulu yuk sampai pangkalan ojek di depan sana," Anita berucap sambil menggandeng tangan Hana.


Mereka berdua berjalan hingga pangkalan ojek dengan bergandengan tangan dan sesekali Anita tertawa menanggapi beberapa pertanyaan Hana setiap melihat sesuatu yang selama ini Hana tidak ketahui.


"Assalamu'alaikum....," Anita mengucap salam diikuti oleh Hana ketika masuk ke dalam warung.


"Wa'alaikumussalam...," Mirna menjawab salam dari Anita dan Hana.


"Bapak!" Hana berlari memeluk Pandu.


"Kok Hana ada di sini?" Pandu bertanya pada Hana.


"Hana di ajak Mbak Anita ke sini naik ojek," jawab Hana.


Hana membantu Pandu yang sedang mengeluarkan sayuran dari kantong plastik belanjaan dan memilah sayuran yang masih segar untuk dimasak.


Sedangkan Mirna sedang mencuci ikan, ayam dan daging yang akan di masaknya sambil memasak nasi.


"Kita buat sarapan apa Mbak?" Anita bertanya pada Mirna.


"Terserah kamu aja Nit," jawab Mirna yang masih sibuk membersihkan ikan.


"Anita buat sarapan dulu ya Mbak, setelah itu Anita bantu Mbak Mirna masak yang lain," ucap Anita sambil melihat-lihat bahan yang ada.


"Sarapan nasi goreng aja ya Mbak, ini nasinya udah matang," Anita mengatakannya pada Mirna karena Mirna tidak menanggapi perkataan Anita sebelumnya.


"Terserah kamu Nit," jawab Mirna dengan malas.

__ADS_1


Anita pun segera mempersiapkan bahannya dan dengan cekatan dia memasak nasi goreng untuk empat porsi.


"Mbak Mirna, makanannya sudah siap. Kita. sarapan dulu Mbak," Anita berkata sambil membawa dua piring nasi goreng menuju Pandu dan Hana yang sudah menunggunya di meja untuk pembeli yang makan di sana.


Mirna pun segera membersihkan tangannya dan menuju meja tempat biasanya mereka makan.


"Loh Nit, perasaan tadi kamu udah bawa dua piring keluar," ucap Mirna ketika berpapasan dengan Anita ketika kembali ke dapur dengan membawa dua piring nasi goreng untuk dibawa keluar.


"Kan ada Hana dan bapaknya Mbak, jadi Anita bikin empat porsi nasi gorengnya," jawab Anita sambil berhenti karena Mirna menghalangi jalannya.


"Kenapa gak dibungkus aja sih Nit, biar mereka makan di rumah?" tanya Mirna dengan kesal.


"Kenapa harus dibungkus Mbak? Makan di sini juga gapapa kan? Kasihan mereka sudah lapar," jawab Anita sambil melewati Mirna yang berdiri menghalanginya.


"Anita, apa gapapa kita ikut makan di sini? Apa Mbak kamu gak marah?" Pandu bertanya pada Hana ketika Anita meletakkan nasi goreng di hadapan Pandu dan Hana.


"Gapapa Mas, Mbak Mirna juga kok yang nyuruh untuk mengajak kalian makan bersama kita," jawab Anita sambil membereskan sayuran untuk dibawanya ke dapur.


Pandu terkesiap, dia tidak menyangka jika Mirna benar-benar baik pada mereka sesuai dengan pemikirannya kemarin.


Sepertinya dia memang benar-benar baik pada kami. Buktinya bukan hanya kemarin saja dia menyuruh Anita untuk membawakan kami makanan, sekarang juga dia mengajak kami makan bersamanya, Pandu berkata dala. hatinya.


Mirna kesal dengan jawaban Anita, tapi dia mengikuti Anita dan segera duduk di dekat Anita untuk memakan makanannya.


Kalau gak terpaksa, ogah aku makan sama kalian, Mirna berkata dalam hatinya sambil memakan makanannya.


"Hana, Bapak akan ke rumah sakit untuk melihat Emir, adikmu," Pandu berpamitan pada Hana setelah mereka selesai makan.


"Emir? Jadi nama adik Hana Emir Pak?" Hana bertanya pada Pandu dengan antusias.


Pandu mengangguk, kemudian dia berkata, "Iya, Ibumu yang memberikan namanya."


"Hana ikut ya Pak?" Hana bertanya pada Pandu dengan penuh harap.


"Hana di sini saja ya.... Habis dari rumah sakit, rencananya Bapak akan mencari kerja," Pandu menjawab mengharapkan pengertian dari Hana.


"Anita, Mirna, apa boleh saya menitipkan Hana di sini? Saya mau ke rumah sakit, setelah itu saya akan mencari pekerjaan," Pandu meminta bantuan pada Anita dan Mirna.


"Biar Hana di sini saja. Hana anak yang pintar, dia tidak pernah merepotkan kok," Anita menanggapi ucapan Pandu dengan senyum dan membawa Hana mendekat padanya.


Udah pantes Nit kamu jadi ibunya, Mirna berkata dalam hatinya sambil tersenyum.


Setelah mengingat-ingat jalan, sampailah Pandu di rumah sakit tempat anaknya dirawat.

__ADS_1


"Permisi Sus, bagaimana keadaan anak saya?" Pandu bertanya pada perawat yang berada di ruangan tersebut.


"Pak Pandu, anak Bapak perkembangannya sangat baik. Jika keadaannya semakin membaik, kemungkinan minggu depan sudah boleh pulang," jawab perawat tersebut.


"Baiklah Sus, saya titip anak saya dulu. Permisi," Pandu berpamitan pada perawat tersebut.


"Tunggu Pak, apa Bapak sudah memutuskan nama untuk anak Bapak?" tanya perawat tersebut pada Pandu.


"Emir Firmansyah," jawab Pandu singkat.


"Baiklah, akan saya tulis namanya," ucap si perawat tersebut sambil menuliskan nama si bayi.


Pandu pun meninggalkan ruangan setelah berpamitan kembali pada perawat tersebut.


"Aku harus mencari pekerjaan ke mana?" Pandu bertanya pada dirinya sendiri sambil memakai helmnya.


Pada saat dia berkendara, dia teringat akan pasar tempat dia mengantar Mirna berbelanja tadi.


Aku coba ke pasar saja, siapa tau mereka membutuhkan tenagaku, Pandu berkata dalam hatinya dan mengemudikan motornya ke arah pasar.


Di teras rumah Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki duduk sambil menikmati kopi dan kue buatan Rhea dengan memperhatikan Izam dan Salsa yang bermain di halaman rumah.


"Ustadz, apa hubungannya laki-laki itu dengan Pak Ratmo?" Ustadz Jaki bertanya pada Ustadz Fariz.


"Gak tau. Pada saat di pemakaman juga mereka ada bersamanya," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum melihat tingkah Izam dan Salsa yang sedang bermain bersama.


"Mungkin Shinta yang tau. Nanti coba aku tanyakan pada Shinta," ucap Ustadz Jaki setelah meminum kopinya.


"Apa mungkin dia tinggal di rumah Pak Ratmo?" kini Ustadz Fariz yang bertanya pada Ustadz Jaki.


"Kurang tau juga. Apa kita tanyakan saja ya pada Pak RT?" Ustadz Jaki mengeluarkan pendapatnya.


"Siapa yang tinggal di rumah Pak Ratmo?" tiba-tiba saja suara Rhea menyahuti pembicaraan mereka.


Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki menoleh ke belakang, ternyata tidak jauh dari belakang mereka sudah ada Rhea yang berdiri sambil membawa minuman untuk Izam dan Salsa.


"Bukan, bukan siapa-siapa kok," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum untuk menutup-nutupi agar Rhea tidak cemas dalam keadaannya mengandung saat ini.


Rhea menatap tidak percaya pada Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki, kemudian dia berkata,


"Sepertinya ada bau-bau yang mencurigakan."


"Enggak, kamunya aja yang-"

__ADS_1


"Izam.... Salsa... ini minumannya!" Rhea menyela Ustadz Jaki yang sedang berbicara padanya sebagai perwujudan dia sedang kesal karena ada yang ditutup-tutupi darinya.


__ADS_2