
"Masih belum tau Umi, saya bingung. Saya sangat menginginkannya, tapi saya bimbang, apakah saya bisa bersamanya?"
"Kapan dia akan kemari lagi?" tanya Umi Sarifah.
"Kemungkinan mulai lusa Umi," jawab Ustad Fariz lemah.
"Ya sudah kamu menghadap yang kuasa, kamu minta pada Nya yang terbaik untuk kalian berdua," Umi Sarifah memberinya nasehat.
"Enggeh Umi, saya pamit mau pulang dulu. Assalamu'alaikum," Ustad Fariz pamit sambil mencium punggung tangan Umi Sarifah.
"Wa'alikumusalam," jawab Umi Sarifah.
Aula sudah ditata sedemikian rupa. Hari ini hari kedua untuk bedah buku bersama Rhea. Dengan langkah yang sangat ringan dan ceria seperti biasanya Rhea memasuki wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Kali ini Rhea tidak segugup hari pertama, karena dia sudah lebih kenal dengan yang lain.
Umi Sarifah menyambutnya dengan gembira. Beliau memasak khusus untuk Rhea. Umi dan Rhea berjalan berdampingan menuju Aula dengan candaan dan cerita disepanjang jalan.
Mirna dari kemarin mendengar kasak-kusuk dari para santi jika mereka sangat menantikan hari ini karena ada acara yang mereka tunggu-tunggu.
Mirna jadi penasaran, oleh karena itu dia ingin sekali melihat acara tersebut. Dia melihat Umi Sarifah yang digandeng lengannya ketika berjalan oleh wanita yang kemarin makan bersamanya di rumah Umi Sarifah. Mirna melihat mereka yang sangat akrab dan dekat melebihi dirinya jika bersama dengan Umi. Mirna jadi penasaran siapa sebenarnya wanita tersebut.
"Assalamu'alaikum semuanya.... perkenalkan saya Rheina Az Zahra yang kali ini akan mengupas tentang buku saya yang berjudul Menanti Keajaiban," Rhea memperkenalkan dirinya.
Kali ini Ustad Fariz tidak menemani Rhea di atas panggung karena Rhea sudah tidak segugup hari pertama. Ustad Fariz duduk bersama dengan Ustad Jaki dan Umi Sarifah di barisan utama. Dan Ustad dan Ustadzah yang lain berada di belakang para santri.
Sedangkan Mirna berada bersama para Ustad dan Ustadzah.Mirna terbelalak kaget karena mendengar nama Rheina Az Zahra, karena nama itu tidak asing dengan telinganya, dan benar saja ketika dia melihat pandangan mata Rhea pada saat menatap Ustad Fariz menyiratkan sebuah rasa.
Mirna jadi teringat nama itu adalah sebuah nama yang disebutkan oleh suaminya dalam doanya. Hati Mirna bergemuruh, matanya memandang Rhea seolah memandang musuh. Tangannya mencengkeram kuat ujung bajunya. Dia mendengarkan penjelasan Rhea namun dengan hati yang sangat panas terbakar cemburu.
Susah payah dia menjauhkan suaminya itu darinya, namun sekarang ini mereka bertemu kembali. Ada rasa tidak ikhlas dalam dirinya. Dia bingung bagaimana caranya agar mereka tidak bisa bertemu kembali seperti dulu.
Saat Rhea meminta waktu untuk ke toilet, dia dihadang oleh Mirna. Rhea menyapanya dengan hangat, namun Rhea menghujatnya dan merendahkannya. Rhea disebut pelakor oleh Mirna.
Sungguh sakit hati Rhea mendengar cacian Mirna. Air matanya luruh tak terbendung. Hatinya sangat sakit karena dia bukanlah seorang pelakor, bahkan mereka yang saling mencintai tidak bisa bersatu dan mereka tetap menahannya karena tidak mau merusak rumah tangga masing-masing. Setelah mengeluarkan kemarahannya, Mirna meninggalkan Rhea yang masih terisak dalam diamnya.
__ADS_1
Ada seseorang yang melihat kejadian tersebut, ingin dia menghampiri mereka dan melindungi Rhea dari kemarahan Mirna karena dia tahu cerita yang sebenarnya. Namun dia tahu jika kemunculannya nanti akan membuat masalah bagi Rhea dan Ustad Fariz. Karena itu dia tetap sembunyi dan memperhatikannya.
Setelah acara tanya jawab, mereka dari grup ekstra musik meminta Rhea agar mau menyanyikan sebuah lagu dan diiringi oleh musik yang dimainkan oleh mereka.
Rhea tidak bisa menolaknya, mereka sangat memohon karena mereka ingin sekali mendengarkan suara Rhea jika bernyanyi.
Akhirnya Rhea menyanyikan lagu Ayat-ayat Cinta.
Rhea begitu menghayati lagu tersebut hingga buliran air matanya jatuh menetes di sudut matanya.
Ustad Fariz merasa tersayat dalam hatinya. Dadanya terasa sesak dan sakit sehingga dia kesusahan bernafas. Rasanya dia ingin sekali menangis keras dan berteriak untuk melegakan sesak di dalam dadanya. Namun sekuat tenaga dia tahan agar rasa itu tidak membuatnya menangis di tempat itu.
Tepuk tangan riuh bergema di dalam aula. Mereka sangat menyukai dan mengagumi sosok Rhea yang pintar, ceria serta mampu berinteraksi dengan mereka dan tentunya cantik.
Rhea minta ijin untuk pulang karena Mirna selalu berada di sisi Ustad Fariz. Hal itu membuat Rhea merasa bersalah.
Umi Sarifah mengerti akan kesedihan yang mendalam di mata Rhea. Namun dia tidak tahu apa penyebabnya.
Umi Sarifah meminta Rhea untuk menginap dirumahnya, namun Rhea menolaknya, tapi dia tidak mempunyai alasan yang tepat. Karena merasa tidak enak juga menolak Umi, jadinya Rhea akan menginap di lain hari.
Malam harinya, setelah makan malam di rumah Umi Sarifah, Mirna pulang terlebih dahulu, karena dia menyiapkan sesuatu. Umi Sarifah kembali bertanya pada Ustad Fariz.
Ustad Fariz menangis pada saat Umi Sarifah bertanya kepadanya. Dia mencurahkan segala isi hatinya yang tertahan tadi ketika mendengar Rhea bernyanyi. Umi Sarifah tak kuasa membendung air matanya melihat anaknya menangis. Bahkan Umi Sarifah sendiri melihat kesedihan yang sangat mendalam di mata Rhea tadi ketika dia pamit pulang.
Umi Sarifah ingin bersikap egois sekali ini saja. Dia ingin mempersatukan Ustad Fariz dan Rhea dalam suatu ikatan pernikahan. Namun dia tidak bisa bersikap egois, disini dia harus mencontohkan kepada semuanya, dia harus bersikap adil. Dia hanya bisa berdoa agar Allah membiarkan mereka berdua bersatu tanpa menyakiti siapapun.
Tak disangka, Mirna mendengarkan percakapan Umi Sarifah dan suaminya. Tadinya Mirna cepat-cepat pulang ke rumah karena dia ingin menyiapkan kejutan untuk suaminya. Karena dia tidak ingin suaminya meninggalkannya untuk Rhea, jadi Mirna bersiap-siap akan memberikan malam yang indah untuk hubungan mereka.
Sengaja Mirna menyusul suaminya ke rumah Umi Sarifah agar suaminya itu cepat pulang. Mirna terpaku karena dia tidak bisa menerima apa yang barusan dia dengar. Suaminya itu masih sangat mencintai Rhea, dan dia menangis tersedu-sedu hanya karena merasakan sakit di dadanya mendengarkan nyanyian wanita itu. Rhea Az Zahra, nama yang menyakitkan bagi Mirna. Dia tidak menyangka Allah akan mempertemukan mereka kembali.
Padahal selama ini dia selalu mengawasi suaminya mulai dari awal mereka pindah ke desa ini, tapi tidak ada yang mencurigakan. Suaminya memang benar- benar ingin melupakan wanita itu. Dan sekarang Mirna merasa kecolongan karena dia tidak tahu tentang pertemuan mereka.
"Ada apa Mbak Mirna disini?" tanya seseorang yang tiba-tiba ada di belakang Mirna.
"Nyari suami saya Ustad," jawab Mirna.
__ADS_1
"Sudah puas tadi mencaci maki Rhea? Mbak gak berpikir bahwa apa yang Mbak katakan tadi itu bisa saja tidak benar? Mbak disini adalah istri Ustad Fariz. Suami Mbak yang bertanggung jawab atas seluruh Pondok Pesantren Al-Mukmin ini. Mbak gak malu sikap Mbak yang tadi seperti itu jika ada santri yang melihat? Mbak harusnya tanya dulu sama suami Mbak cerita yang sebenarnya bagaimana. Aku gak habis pikir Mbak, Ustad Fariz bisa menikahi wanita seperti Mbak," Ustad Jaki mengatakan apa yang ingin dia katakan sedari tadi.
"Ada apa ini?" suara Umi Sarifah menghentikan perdebatan antara Ustad Jaki dan Mirna.
"Tidak ada Umi. Ustad Jaki hanya salah paham saja," sanggah Mirna.
"Salah paham? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Mbak Mirna mencaci maki Rhea dan mengatainya sebagai pelakor. Tanpa mendengarkan penjelasan dari Rhea, Mbak terus aja memojokkan dia merendahkan dia. Apa Mbak tau perasaannya bagaimana? Apa Mbak tau dia sangat terpukul dan menangis tersedu-sedu? Aku saja yang melihatnya gak tega. Kenapa Mbak yang sesama wanita malah tega menyakiti sesamanya?" Ustad Jaki marah karena Mirna tidak berterus terang.
"Mirna!!" Ustad Fariz membentak Mirna didepan Ustad Jaki dan Umi Sarifah.
"Apa Mas? Apa Mas juga membela wanita itu? Pantaskah Mas yang sudah beristri mencintai wanita lain?" Mirna tidak terima dibentak oleh Ustad Fariz.
"Mirna, jaga sikapmu!" Umi Sarifah meradang melihat Mirna yang meninggikan suaranya di depan Ustad Jaki dan Umi Sarifah.
"Umi tidak tau apa yang terjadi. Saya yang meminta Paman saya untuk mencarikan pekerjaan di Pondok ini untuk suami saya, karena saya tau jika suami saya mencintai wanita lain di sana. Saya sengaja menjauhkan mereka agar mereka terpisah, tapi apa? Mereka malah bertemu disini, wanita itu mengikuti suamiku sampai kesini. Apa bukan pelakor itu namanya?" Mirna berapi-api menjelaskannya pada Umi Sarifah.
"Umi tau bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kamu tenanglah dulu biar suamimu menjelaskannya," Umi Sarifah mencoba menenangkan Mirna meskipun dia sudah kurang ajar padanya.
"Umi sudah tau? Apa Umi diberi tau anak kesayangan Umi ini?" Mirna menunjuk muka Ustad Fariz.
"Jaga sikapmu Mbak, dia suamimu!" Ustad Jaki berseru pada Mirna.
"Kalian semua sekongkol untuk menyingkirkan ku kan? Apa salahku? Apa kelebihan wanita itu?" suara Mirna agak melemah.
"Tidak nak, kami tidak melakukan apa-apa. Bahkan Ustad Fariz dan Rhea bertemunya juga tidak sengaja di desa ini. Rhea menempati rumah neneknya yang ada di desa ini. Dan dari dulu mereka tidak pernah berselingkuh," Umi Sarifah menjelaskan.
"Bohong, kenapa Umi membelanya? Apa Umi percaya itu semua?" tanya Mirna dengan emosi.
"Umi percaya pada takdir Allah. Dan kamu sendiri sudah menjadi istri Ustad Fariz bertahun-tahun, apa kamu tidak mempercayainya?" tanya Umi berniat untuk menyadarkan Mirna.
"Tidak ada yang bisa merubah takdir Allah. Mungkin saja Allah menakdirkan mereka berdua berjodoh, kita tidak tau bukan?" sahut Ustad Jaki.
"Kenapa kalian semua membelanya? Apa karena sampai sekarang aku belum mempunyai anak?" tanya Mirna dengan nada bersedih.
"Kalau kamu nyadar harusnya biarkan mereka bersatu, siapa tau mereka langsung dianugerahi keturunan, kamu juga bisa mengasuhnya bersama," ucap Ustad Jaki.
__ADS_1
"Ustad!" seru Ustad Fariz tak tega melihat Mirna bersedih karena masalah ketutunan.
"Kenapa Ustad? Memang benar kan? Kalau Ustad gak mau menikahi Rhea, biar aku saja yang menikah dengan dia," seru Ustad Jaki, setelah itu dia langsung pergi tanpa mendengar apapun dari orang-orang di sana.