Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 43 Rencana


__ADS_3

Mirna kembali ke rumah Pamannya dengan amarah yang sangat memuncak. Baju yang dibawanya dikeluarkan dari tas dengan penuh amarah dan dilemparkannya baju-baju tersebut dengan kesal dan berteriak.


Bulan Ramadhan ini tidak seindah bulan Ramadhan sebelum-sebelumnya bagi Mirna.


"Semua ini gara-gara kamu. Gara-gara kamu Mas Fariz tidak memperhatikanku lagi. Gara-gara kamu Mas Fariz marah padaku. Dan gara-gara kamu Mas Fariz mengusirku. Aku benci kamu, benciiiii.........," Marni berteriak di dalam kamar meluapkan semua kemarahannya.


Berbeda dengan kondisi di rumah Umi Sarifah. Rhea dan Umi Sarifah sedang membuat aneka kue kering untuk lebaran.


"Sayang, kamu jangan kecapekan. Aku takut perut kamu kram lagi," ucap Ustad Fariz mendekat dan memperhatikan wajah istrinya yang tidak nampak kelelahan sama sekali.


"Gak capek Bie, buktinya dari kemarin aku aktifitas terus juga baik-baik aja. Biar tambah sehat diajak gerak terus dedeknya," ucap Rhea sambil mengaduk adonan kuenya.


"Biarkan aja Le, asal dia senang gak bakalan dia merasakan kram," sela Umi Sarifah yang ada di sebelah Rhea dan membuat adonan kue yang lain.


"Berarti kemarin kram karena lagi sedih dan banyak pikiran, bener gak?" sahut Ustad Jaki yang tiba-tiba datang dan duduk di dekat mereka.


"Siapa bilang? Aku di sini bahagia kok. Iya kan Umi?" Rhea menoleh Ke Umi dan tersenyum lebar padanya.


"Iya dong, anak Umi harus bahagia," jawab Umi Sarifah tidak kalah lebar senyumnya dengan Rhea.


"Umi kayaknya bahagia banget udah punya anak perempuan Ustad, kita dicuekin," sindir Ustad Jaki yang membuat Umi Sarifah dan Rhea tertawa.


"Kalian tetap anak-anak Umi yang ganteng, beda dong sam Rhea yang cantik," candaan Umi Sarifah membuat mereka tertawa membuat suasana rumah kembali hidup.


Karena Ustad Fariz dan Ustad Jaki tidak ada kegiatan, mereka ikut mambantu membuat kue, namun mereka hanya ikut meramaikan saja dan bertugas untuk memasukkan kue ke dalam oven dan mengangkat kue dari oven ketika sudah matang.

__ADS_1


Tak terasa kue yang mereka buat sudah jadi dan sudah mereka masukkan ke dalam beberapa toples. Masih ada lagi beberapa kue yang akan dibuat besok oleh Umi Sarifah dan Rhea.


Tentunya Ustad Jaki dan ustad Fariz juga ikut membantu karena kegiatan mereka di Pondok Pesantren sudah berakhir. Para santri sudah diperbolehkan pulang karena hari raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi.


Rencananya Umi Sarifah dan Rhea akan membuat banyak kue untuk dibawakan pada Ustad dan Ustadzah juga untuk saudara-saudara yang datang berkunjung.


Tentu saja itu merupakan kegiatan baru bagi Ustad Jaki dan Ustad Fariz. Membantu membuat kue merupakan kegiatan yang membuat mereka senang dan juga merepotkan. Mereka bisa bercanda dan tertawa bersama pada saat proses pembuatan kue dan juga kejahilan mereka bisa tersalurkan.


Takbir berkumandang di seluruh jagad raya. Banyak orang-orang sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin yang datang untuk bersilaturahmi dan tentunya sanak saudara yang berkumpul di rumah Umi Sarifah.


Umi Sarifah dan Rhea sudah menyiapkan banyak makanan yang mereka masak semalam sehingga bisa dinikmati semua tamu.


Siang harinya, Rhea dan Ustad Fariz akan pergi ke rumah orang tua Rhea, seharusnya besoknya, namun Rhea meminta untuk hari itu juga berangkatnya. Akhirnya diputuskan mereka berangkat sesuai dengan keinginan Rhea karena tidak ada yang bisa melawan keinginan ibu hamil.


Ketika tahu Ustad Fariz dan Rhea akan pergi ke rumah orang tua Rhea, Mirna memaksa untuk ikut, namun Ustad Fariz mengerti jika nantinya akan membuat Rhea tidak nyaman meskipun Rhea berkata tidak masalah.


Untung saja Paman Mirna cepat tanggap. Dia mengatakan akan mengantar Mirna ke sana jika memang Mirna ingin berkunjung ke makam orang tuanya besok.


Tapi seperti biasanya, Mirna tetap saja keras kepala, dia memaksa untuk ikut. Ustad Fariz mengatakan akan mengantarkannya sendiri setelah mereka kembali pulang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Dan seperti yang mereka duga bahwa Mirna tidak mau dibantah, kemauannya harus dituruti. Terjadilah perdebatan sebelum Rhea dan Ustad Fariz berangkat.


Paman Mirna dan anaknya sangat malu dengan sikap Mirna, hingga tangan Mirna ditarik oleh Paman Mirna keluar dari rumah Umi Sarifah.


"Mir, kamu apa-apaan sih? Kayak anak kecil tau gak?" tanya Pak Ratmo emosi.

__ADS_1


"Paman yang apa-apaan. Aku cuma mau ikut mereka ke sana sekalian ke makam orang tuaku, apa gak boleh?" ucap Mirna tidak kalah emosi.


"Bukannya tidak boleh Mir, tapi kamu harus belajar melihat situasi dan kondisi. Sangat tidak memungkinkan jika kamu ikut dengan mereka. Udah gini aja, biar besok Paman yang antar kamu ke sana, Paman kan juga udah lama gak ke sana," Paman Mirna mulai melunak karena memang benar harusnya Mirna sowan ke makam orang tuanya.


"Tapi aku pengennya ke sana sama Mas Fariz," Mirna merengek agar Pamannya mau membantunya meyakinkan suaminya.


"Kata suamimu tadi jika kamu mau ke sana akan diantar setelah mereka pulang kembali ke sini, bagaimana?" Pak Ratmo membujuk Mirna agar mau menerimanya.


Mirna diam nampak berpikir namun tetap saja hatinya berkata tidak mau.


"Mir, jika kamu tetap seperti ini, suamimu tidak akan mengijinkanmu kembali kesini. Percuma saja kamu kesini membawa pakaianmu, jika nantinya kamu kembali ke rumah Paman," Pak Ratmo masih setia membujuk Mirna.


Akhirnya dengan berat hati Mirna mengatakan bahwa dia tidak jadi ikut suaminya dan Rhea yang akan pergi mudik.


Ustad Jaki meninggalkan rumah dan berpamitan pada Umi Sarifah akan pergi ke rumah Shinta untuk bersilaturahmi pada keluarganya ketika dia mulai jengah dengan perdebatan yang disebabkan oleh Mirna.


Kini Mirna sendiri di rumahnya karena suaminya sudah berangkat mudik bersama Rhea. Tadinya dia di rumah Umi Sarifah berkumpul bersama saudara-saudara Umi yang sedari tadi datang sebelum Mirna datang.


Mereka membicarakan tentang Rhea dan memujinya dengan segala kelebihannya. Apalagi ketika mereka memakan masakan Rhea dan kue buatan Rhea. Mirna seperti tidak ada diantara mereka. Akhirnya dia memilih untuk pulang ke rumahnya.


Kesepian kini dirasakan oleh Mirna. Hidupnya serasa sendirian. Biasanya ada suaminya yang menemaninya dan mengajaknya kemanapun pada saat lebaran seperti ini. Tapi kini dia merasa hampa, tidak ada yang menemani. Karena perasaannya itu Mirna mulai menyusun rencana yang paling menguntungkan untuknya dan pastinya akan membuat Rhea menderita.


Silahkan kau bersenang-senang sekarang. Tunggu sebentar lagi, kau pasti akan menangis.


Terbitlah seringai licik di bibir Mirna kare a kini hatinya dikuasai oleh kemarahan dan kebencian sehingga dia ingin membalas dendam.

__ADS_1


__ADS_2