
Keesokan harinya, jenazah Ani dimakamkan di pemakaman desa sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Sebelumnya Ustadz Jaki sudah mengurusnya untuk perizinan pada warga sekitar dan perangkat desa, serta membayar untuk tanah makam yang akan digunakan oleh makam Ani nantinya.
Semalam Hana selalu berada di kamar inap Mirna. Anita dan Mirna tidak membiarkan Hana bersama Bapaknya di lorong rumah sakit karena mereka takut Hana akan kembali menangis dan sedih teringat akan ibunya yang baru saja meninggalkannya untuk selamanya.
Kini, mereka semua mengantarkan Ani untuk terakhir kalinya menuju pemakaman. Kebetulan sekali Mirna sudah diperbolehkan pulang pagi ini, sehingga Mirna dan Anita bisa menemani Hana yang sedari tadi menangisi kepergian ibunya.
Hati Mirna sangat trenyuh melihat Hana menangis ketika ibunya akan dimakamkan. Dia teringat akan dirinya sendiri yang ditinggalkan ibunya, sama seperti adik Hana yang dilahirkan ibunya dengan mengorbankan nyawanya.
Hana digendong oleh Anita ketika Hana berteriak histeris dan meronta ingin mendekat ke jenazah ibunya yang dimasukkan ke dalam liang lahat yang sudah dipersiapkan.
Mirna tidak bisa menggendong Hana karena Mirna habis melakukan operasi, namun dia bisa memeluk Hana untuk menenangkannya ketika tidak lagi berada dalam gendongan Anita.
Ustadz Fariz, Ustadz Jaki, Rhea dan Shinta turut hadir dalam pemakaman tersebut. Sedangkan Umi Sarifah di rumah bersama dengan Izam dan Salsa.
Rhea dan Shinta merasa prihatin dan kasihan pada Hana. Namun mereka tidak bisa membantu lebih dari itu, karena mereka takut jika Pandu akan berpikiran lain dan tidak akan mau melepaskan masa lalunya bersama dengan Rhea.
"Untung saja ada Anita dan Bu Mirna yang selalu ada untuk Hana, sehingga anak itu masih punya sandaran di saat Bapaknya juga terpuruk memikirkan nasib mereka setelah ini," Shinta berkata pada Rhea pada saat mereka melihat Hana yang sedang menangis bersama dengan Anita dan Mirna.
"Iya Shin, syukurlah mereka mau menemani Hana yang memang sedang membutuhkan wanita yang bisa menenangkannya layaknya ibunya sendiri. Eh tapi, bagaimana mereka bisa sedekat itu Shin?" Rhea bertanya pada Shinta.
"Entahlah, mungkin saja mereka bertemu di rumah sakit dan menjadi lebih dekat sampai sekarang," jawab Shinta yang memang tidak mengetahui kedekatan mereka.
"Di rumah sakit? Kenapa mereka bertemu di rumah sakit Shin?" Rhea heran dengan jawaban dari Shinta.
"Astaghfirullahaladzim.... aku lupa mau kasih tau kalian bahwa Bu Mirna menjalani operasi yang sama tempo hari, tapi penyakitnya tidak separah waktu itu," jawab Shinta yang menjelaskan penyakit Mirna saat ini.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim...., semoga Mbak Mirna diberi kesembuhan dan penyakit Mbak Mirna diangkat oleh Allah. Amin...," Rhea mendoakan kesembuhan Mirna.
"Amin...," sahut Shinta kemudian.
Rhea dan Shinta tidak bersama Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki yang berada di depan makam, mereka berdua di barisan paling. belakang.
Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki pun mempunyai pikiran yang sama dengan Rhea dan Shinta, oleh karena itu mereka bersepakat untuk menolong mereka hanya sebatas itu saja. Jikalau Pandu dan anak-anaknya meminta bantuan lain dan tidak mengusik keluarga Ustadz Fariz dan Rhea, mereka bisa membantunya.
Setelah pemakaman selesai, Ustadz Fariz bersama dengan Rhea dan Ustadz Jaki bersama dengan Shinta mengucapkan belasungkawa mereka pada Pandu yang sedang bersama Hana, Pak Ratmo, Mirna dan Anita.
Dan ucapan Rhea yang membuat Pandu tercengang saat itu adalah,
"Apa yang hilang darimu, berarti memang tidak tercipta untukmu, dan apa yang tercipta untukmu, tidak akan hilang darimu."
Kalimat itu terngiang di telinga Pandu seolah mengingatkan dia ketika akan mengingat tentang Rhea dan masa lalunya.
Rasa ingin memiliki wanita itu kembali masih ada dalam hati Pandu. Namun untuk sekarang dia merasa minder dan malu pada Rhea. Untuk kedepannya dia akan berusaha membaut rasa malu yang sekarang dia rasakan menjadi rasa bangga ketika bertemu dengan Rhea di kesempatan yang selanjutnya.
Mirna juga demikian. Dia menatap mantan suaminya itu dengan perasaan yang aneh. Apalagi ketika melihat mantan suaminya itu bergandengan tangan dengan begitu mesranya bersama istrinya.
Rasa iri sudah pasti ada, apalagi Mirna belum mengikhlaskan perceraian mereka. Namun apa yang dikatakan oleh Rhea yang notabene nya adalah istri dari mantan suaminya kepada Pandu yang juga menjadi mantan suami Rhea itu, Mirna merasa tersindir ketika mendengarnya.
Mirna merasa Rhea mengatakan itu untuknya. Karena Mirna belum tahu jika Pandu adalah mantan suami dari Rhea. Begitupula Pandu yang belum tahu jika Mirna adalah mantan istri dari suami Rhea.
"Kalian akan tinggal di mana setelah ini?" Pak Ratmo bertanya pada Pandu yang sedang menatap kepergian Rhea bersama dengan Ustadz Fariz dan berjalan beriringan dengan Shinta bersama dengan Ustadz Jaki.
"Masih belum tahu Pak. Apa di sini ada Temat tinggal dengan harga yang murah? Karena saya masih belum mendapatkan pekerjaan, dan saya masih bingung Pak, bagaimana nantinya anak saya yang masih bayi ketika saya tinggal bekerja," Pandu menjawab dengan lesu.
__ADS_1
"Jangan khawatir Pak, biar Hana dan adiknya kita berdua yang merawatnya ketika Bapak bekerja," Anita menyahuti percakapan Pak Ratmo dan Pandu.
"Iya kan Mbak Mirna?" Anita mencari dukungan pada Mirna.
"Hah?! Kok aku Nit?" Mirna bertanya dengan reflek ketika namanya disebut oleh Anita untuk mengasuh Hana dan adiknya.
"Mau siapa lagi Mbak, Bapaknya Hana gak ada saudara di sini," jawab Anita kemudian.
"Maaf, nama saya Pandu. Panggil saja nama saya agar tidak terlalu formal," Pandu menyahuti pembicaraan Mirna dan Anita.
"Baiklah Pak Pandu sekarang Bapak cari saja tempat tinggal di dekat sini agar lebih mudah ketika menitipkan Hana dan adiknya nanti jika Bapak tidak berada di rumah," Anita kembali memberikan sarannya pada Pandu.
"Tapi, apa kalian tidak merasa keberatan? Mereka masih kecil, pasti nantinya akan merepotkan kalian," Pandu merasa tidak enak pada mereka.
"Hana anak yang baik Pak, saya rasa dia tidak akan merepotkan kami. Iya kan Mbak Mirna?" Anita menjawab pertanyaan Pandu dan bertanya pada Mirna untuk mendapatkan dukungan dari Mirna.
Mirna hanya tersenyum terpaksa, kemudian dia berbisik di telinga Anita,
"Kok jadi aku lagi sih Nit? Kamu main mutusin sendiri aja Nit. Awas aja kalau kamu nantinya kewalahan terus minta bantuan aku."
Anita hanya tersenyum, dalam hatinya dia mengerti nantinya pasti Mirna tidak bisa menolaknya untuk membantunya.
"Lalu, apa Bapak bisa membantu saya untuk mencari tempat tinggal yang murah Pak?" Pandu bertanya pada Pak Ratmo.
"Sebenarnya ada rumah kecil di belakang rumah kami yang dulunya pernah ditempati oleh adik dari istri saya. Tapi sudah lama tidak di tempati dan sudah kamu jadikan tempat penyimpanan barang. Ya... hampir mirip seperti gudang. Jika kamu mau tinggal saja di sana dan bersihkan supaya layak di tempati. Tapi jika kamu ingin tinggal di tempat lain, saya akan bantu mencarikannya. Mungkin saja ada tempat tinggal yang seperti kamu inginkan," jawab Pak Minto.
Loh kok malah tinggal di belakang rumah kita sih? Malah gak bisa tidur nantinya kalau ada bayi. Haduuuuh... Paman sama Anita ini kenapa gak sekalian buka panti asuhan aja sih? Mirna menggerutu dalam hatinya.
__ADS_1
Ternyata Bapak sama anaknya sama-sama baik. Pak Ratmo dan Anita, mereka hampir sama seperti Pak Minto dan Ani, Pandu berkata dalam hatinya dan tersenyum pada Pak Ratmo setelah mengucapkan terima kasih padanya.