
“Eh iya Bie, itu Mbak Mirna mau ngapain? Mungkin ada perlu sama Hubby. Apa gak berhenti dulu Bie?” tanya Rhea yang kini mobilnya berpapasan dengan Mirna.
Mirna tidak mengetahui jika di dalam mobil itu adalah Ustad Jaki, Ustad Fariz dan Rhea karena kaca mobil berwarna gelap jika terlihat dari luar.
“Jalan aja Ustad, gak usah berhenti. Kita udah gak ada urusan, jadi buat apa bertemu. Kamu gak mau kan Sayang suamimu ini bertemu dengan wanita lain?” Ustad Fariz enggan bertemu dan berdebat dengan Mirna.
“I-iya sih, cuma dia kan Mbak Mirna, istri kamu loh Bie,” Rhea ragu mengucapkannya.
“Mantan. Lebih tepatnya mantan istri,” kesal sekali sebenarnya Ustad Fariz mendengar nama Mirna karena dia yang menyebabkan Rhea terluka lahir dan batin.
“Ingat itu, man-tan. Jangan sampai salah,” Ustad Jaki terkekeh di akhir ucapannya.
Ustad Fariz menggelengkan kepalanya mendengar candaan Ustad Jaki, sedangkan Rhea memanyunkan bibirnya melihat Ustad Jaki dari kaca spion tengah yang sedang dilihat oleh Ustad Jaki.
“Ngapain ya Bie Mbak Mirna ke Pondok Pesantren?” tanya Rhea yang terlihat sedang berpikir.
“Udah gak usah dipikirin, kalau memang ada yang penting, pasti Umi menghubungi kita. Ini buktinya Umi gak menghubungi kita, berarti gak ada yang penting. Mungkin aja Mirna ke sana menemui Pamannya,” Ustad Fariz tidak mau jika Rhea kembali memikirkan Mirna.
“Udah gak usah mikirin orang lain, silahkan kalian uwu-uwuan di sini daripada sibuk mikirin hal yang gak penting. Kapan ya kursi di sebelahku terisi wanitaku,” Ustad Jaki mengeluarkan candanya agar Rhea tidak membahas Mirna lagi.
“Ustad Jaki mau Rhea bantuin gak biar Dokter Shinta cepat jawabnya?” Rhea mulai terpancing ucapan Ustad Jaki.
“Beneran? Gimana caranya?” dan kini Ustad Jaki yang malah terpancing oleh perkataan Rhea.
“Rahasia dong. Mau gak? Kalau gak mau ya udah,” Rhea bersikap sok jual mahal untuk menggoda Ustad Jaki.
“Iya bantuin dong Rhea yang cantik,” ucap Ustad Jaki berniat merayu Rhea, namun Ustad Fariz memelototkan matanya pada Ustad Jaki yang terlihat melalui kaca spion di tengah.
“Istrinya Ustad Fariz yang terhormat,” tambah Ustad Jaki setelah mendapatkan pelototan mata dari Ustad Fariz.
"Ok nanti aku bantuin, tenang aja, iya kan Bie?" Rhea meminta persetujuan Ustad Fariz dan Ustad Fariz pun tersenyum dan mengangguk.
......................
"Assalamu'alaikum....," Mirna mengucap salam ketika berada di depan pintu rumah Umi Sarifah.
"Wa'alaikumussalam....," Mbak Atik tergopoh-gopoh berlari kecil menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Eh Mbak Mirna, mau ketemu siapa Mbak?" Mbak Atik merasa sungkan dan tidak biasa bertemu dengan Mirna.
"Kok sepi Mbak? Pada kemana?" Mirna nyelonong masuk ke dalam rumah Umi Sarifah dan duduk di kursi yang terdapat di ruang tamu.
Mbak Atik hanya berdiri dan menggaruk hijab bagian belakangnya, bingung mau menjawab apa. Akhirnya Mbak Atik berinisiatif untuk memanggilkan Umi Sarifah.
"Sebentar Mbak, saya panggilkan Umi Sarifah dulu," Mbak Atik langsung masuk tanpa mendengar jawaban dari Mirna.
"Eh Mbak, jangan Umi Sarifah, panggilkan Mas Fariz saja," Mirna berteriak karena Mbak Atik sudah berjalan cepat masuk ke dalam.
Sebenarnya Mirna ingin masuk seperti biasanya, namun dia harus bersikap sopan dan baik karena tujuannya datang ke sini untuk mengambil kembali hati suaminya.
__ADS_1
Umi Sarifah segera keluar dari dalam menuju ruang tamu karena Mbak Atik memberitahu jika Mirna sedang menunggu di ruang tamu.
"Eh Mirna, baru datang? Maaf ya Umi agak lama di dalam," Umi Sarifah duduk di depan Mirna.
"Gapapa kok Umi," Mirna tersenyum manis dan berkata dengan lembut dan sopan tidak seperti Mirna yang biasanya.
Umi Sarifah mengernyitkan dahinya heran dengan sikap Mirna yang berbanding terbalik 100% dengan Mirna yang biasanya, berbeda dengan Mirna yang Umi Sarifah kenal selama beberapa tahun ini.
Mirna kenapa ya? Tumben banget kayak gini, jadi kayak Rhea sikapnya. Masa' iya dia niru Rhea? Astaghfirullahaladzim mikir apa aku ini, saking heran dan tidak percayanya, Umi Sarifah bertanya dalam hatinya.
"Umi.. Umi... kok ngelamun? Ada apa Umi? Apa Umi sakit?" Mirna bertanya saat melihat Umi Sarifah melamun dengan memandangnya.
"Eh enggak, gak ada apa-apa kok," Umi Sarifah tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan Mirna.
Coba kalau ada Ustad Jaki, pasti langsung disahut, kamu doain Umi sakit ya? Hahahaha... jadi ingat Ustad Jaki padahal ditinggal mereka baru sebentar tapi rasanya rumah ini sepi, kembali Umi Sarifah berbicara dalam hatinya.
"Umi... Umi... Umi melamun ya? kok gak jawab pertanyaan Mirna?" sebenarnya Mirna sudah ingin sekali bersikap seperti biasanya, tidak sabaran, namun demi misinya dia harus bersikap sopan dan lemah lembut seperti Rhea agar mereka semua senang dan menyayanginya.
"Apa tadi? Eh maaf, Mirna tadi ngomong apa?" Umi Sarifah benar-benar tidak mendengar perkataan Mirna karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Mas Fariz kemana Umi? Mirna ingin bertemu dengan Mas Fariz, ada hal yang ingin Mirna sampaikan," kini Mirna sebisa mungkin untuk bersikap seperti Rhea agar berkesan di depan Umi Sarifah.
"Waduh kamu telat, baru aja Ustad Fariz dan Ustad Jaki berangkat," Umi Sarifah tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Mirna karena takut jika Mirna nekat menyusul ke rumah orang tua Rhea.
"Hah? Kemana Umi?" tanya Mirna ingin tahu.
"Ya udah Umi, Mirna tunggu aja ya di sini," Mirna menaruh rantang makanan yang dibawanya sedari tadi di meja tamu.
Umi hanya melihat rantang yang diletakkan oleh Mirna di meja dan tidak berani bertanya.
"Assalamu'alaikum....," terdengar suara santriwati mengucap salam dari depan pintu masuk.
"Wa'alaikumussalam....," Umi Sarifah dan Mirna menjawab salam tersebut.
Masuklah tiga santriwati yang sepertinya sudah ditunggu oleh Umi Sarifah sedari tadi.
"Kalian udah datang? Ayo masuk, kita mulai sekarang," ucap Umi Sarifah pada tiga santriwati tadi.
"Mir, Umi tinggal dulu ya. Ini mereka mau murojaah. Kamu gapapa kan di sini sendiri?" tanya Umi Sarifah pada Mirna.
"Iya Umi, Mirna akan tunggu Mas Fariz di sini aja. Silahkan Umi tinggal aja," Mirna tersenyum manis dan berkata sangat sopan dan lembut hingga ketiga santriwati tadi melongo dan saling menatap heran.
"Bu Mirna kesambet ya? Bisa berubah gitu," ucap salah satu santriwati dengan berbisik disaat mereka berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan yang biasanya mereka gunakan untuk murojaah.
"Huss.. ngawur kamu, tapi aneh juga ya," jawab santriwati yang lain.
"Apa itu bukan Bu Mirna? Apa Bu Mirna sakit?" sahut santriwati yang satunya lagi.
"Huss... kali aja udah insyaf setelah bercerai," sela santriwati yang lain.
__ADS_1
Umi Sarifah hanya menggeleng mendengar percakapan santriwati-santriwatinya. Kemudian mereka segera memulai murojaah mereka satu persatu setelah mereka duduk di dalam ruangan yang biasanya mereka gunakan untuk murojaah.
Lama Mirna menunggu, tapi Ustad Fariz tidak juga datang. Mirna sudah uring-uringan menggerutu. Untung saja tidak ada orang disekitarnya sehingga penyamarannya tidak terbongkar.
Letih, lelah dan capek Mirna menunggu ketidakpastian kedatangan Ustad Fariz. Akhirnya, untuk hari ini dia menyerah.
Huffft.... Mas Fariz kemana sih? Gak mungkin pergi sama Rhea kan? Eh tapi tadi Umi ngomongnya Mas Fariz pergi sama Ustad Jaki kok, jadi gak mungkinlah Rhea ikut mereka. Tapi tumben tuh anak gak nongol? Udahlah aku pulang aja sekarang, nanti aku akan ke sini lagi, Mirna menggerutu dalam hati.
"Umi... Umi.... eh Mbak Atik, Umi dimana?" tanya Mirna dengan suara yang sopan dan lembut disertai senyum manis yang mengembang dari bibirnya.
"Umi ada di ruangan dekat kamarnya Mbak," Mbak Atik tersenyum kikuk mendapatkan sikap Mirna yang berubah.
"Ya udah Mbak, aku ke sana sebentar ya," Mirna kembali tersenyum pada Mbak Atik sebelum dia meninggalkan Mbak Atik menuju ruangan yang ditunjukkan Mbak Atik untuk menemui Umi Sarifah.
"Umi...," Mirna masuk tanpa salam dan memanggil Umi Sarifah.
Umi Sarifah menoleh dan santriwati yang sedang murojaah jadi berhenti, terganggu oleh Mirna.
Umi Sarifah beranjak dari duduknya dan mendekati Mirna.
"Ada apa Mir?" tanya Umi Sarifah.
"Umi, Mirna mau pulang dulu, nanti Mirna ke sini lagi. Ini Mirna nitip makanan untuk Mas Fariz," Mirna memberikan rantang makanan tadi pada Umi Sarifah.
"Kamu titipkan ke Mbak Atik ya, Umi sedang repot sekarang," Umi Sarifah kembali duduk menghadap santriwati tadi dan memulai kembali murojaah mereka.
Mirna kembali ke dapur dengan perasaan kesal, sungguh tidak sesuai harapannya.
Niatnya pengen ngambil hati Mas Fariz sama Umi Sarifah, tapi malah jadi kayak gini. Harus cepat ini, gawat sebentar lagi udah mau sidang, Mirna meninggalkan rantang makanannya di dapur, kemudian dia berjalan keluar pintu. Namun di saat dia menuju pintu, dia berpapasan dengan Mbak Atik.
"Mbak, rantang makanan yang di dapur untuk Mas Fariz ya, tolong disampaikan suruh makan semuanya, dan bilang itu dari saya," Mirna mewanti-wanti Mbak Atik agar menyampaikan rantang makanan yang dibawanya untuk Ustad Fariz.
"Iya Mbak nanti saya sampaikan," Mbak Atik juga ikut tersenyum kikuk karena tidak terbiasa ketika Mirna tersenyum padanya.
Setelah Mirna pulang, ketiga santriwati tadi pun juga sudah selesai murojaah dan mereka kembali ke Pondok Pesantren.
"Umi, itu rantang makanan dari Mbak Mirna diapakan? Katanya tadi harus dimakan Ustad Fariz," Mbak Atik bertanya karena bingung mau diapakan rantang makanan dari Mirna, sedangkan Ustad Fariz tidak pulang hari ini.
"Masukin kulkas aja Mbak, kasih tau Ustad Fariz kalau dia datang. Terserah Ustad Fariz mau makan atau tidak, yang penting kita sudah menyampaikan amanat dari Mirna," ucap Umi Sarifah memerintahkan Mbak Atik.
Umi Sarifah mengambil ponselnya dari saku gamisnya, dia berniat akan mengabari Ustad Fariz atas kedatangan Mirna tadi.
"Wa'alaikumussalam.... , Le, tadi Mirna ke sini bawa rantang makanan katanya buat kamu. Dia nunggu kamu lama, akhirnya dia pulang dan nitipin makanan itu, katanya kamu disuruh makan makanan yang dia bawa tadi. Umi sama Mbak Atik gak berani makan, kita simpan di kulkas aja ya, terserah besok kamu mau makan atau tidak," Umi Sarifah memberi kabar pada Ustad Fariz yang ada di seberang sana melalui telepon.
"Titip salam buat keluarga Rhea ya. Kalian besok pulangnya hati-hati ya. Assalamu'alaikum....," Umi Sarifah menutup percakapan mereka.
Ketika berada di dapur, Umi Sarifah menatap makanan yang dibawa Mirna tadi sedang dipindahkan oleh Mbak Atik ke dalam wadah dan ditaruh di dalam kulkas.
Apa rencanamu Mirna? Kenapa kamu masih tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas? Dulu disaat kamu mendapatkan kesempatan, kamu tidak mempergunakannya dengan baik, kamu tidak mau berubah, dan sekarang disaat semuanya sudah berakhir, kamu ingin merubah segalanya, Umi Sarifah mengucapkan dalam hati sambil mengingat sikap Mirna dulu dan tadi yang berbeda jauh.
__ADS_1