Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 72 Dokter cinta


__ADS_3

Saat ini pun tiba. Saat dimana Ustad Fariz dan Rhea harus berpisah. Rhea mengantar kepergian suaminya di depan teras dengan perasaan berat.


Rhea mengambil tangan Ustad Fariz dan mencium punggung tangan suaminya itu. Setelah itu kedua mata mereka saling bertemu, saling menatap dengan dalam seolah enggan berpisah.


Ustad Fariz mengecup lama kening Rhea dan menyimpannya dalam memory nya ketika dia merasa rindu pada istrinya.


Rhea tidak bisa menahan kesedihannya lagi, air matanya menetes tatkala matanya terpejam pada saat Ustad Fariz mengecup keningnya.


Rhea merasakan perasaan suaminya yang begitu dalam tersalurkan lewat kecupannya itu. Kemudian dia memeluk erat tubuh suaminya dan menempelkan kepalanya pada dada bidang suaminya seolah tidak ingin terpisah walau sedetik pun.


"Sayang... apa kamu ikut aku pulang aja ya? Rasanya aneh, rasanya ada yang kurang jika aku pulang gak ada kamu di rumah," Ustad Fariz mencoba mengubah keputusan istrinya.


"Aku juga Bie, tapi...," ucapan Rhea menggantung, dia enggan meneruskannya.


"Aku tau, ya udah kamu baik-baik ya di sini. Jangan lupa di minum susu ibu hamilnya dan selalu kasih kabar padaku," Ustad Fariz berucap sambil menyelami mata istrinya.


Rhea mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca. Kini dia harus melepaskan kepergian suaminya untuk sementara, memang terasa berlebihan, namun di saat kehamilannya yang sangat butuh sosok suaminya itu dia harus berjauhan dengan suaminya. Dan juga alasan dari ini semuanya yang membuat mereka menjadi lebih sedih.


Seharusnya sekarang ini mereka bisa bahagia bersama, Rhea bisa bermanja-manja pada suaminya dikala masa kehamilannya, Ustad Fariz juga bisa menjadi suami siaga untuk istrinya dan anak mereka yang masih berada di dalam kandungan. Dan pastinya hari-hari mereka akan lebih bahagia lagi seiring pertumbuhan janin yang ada di kandungan Rhea.


Tin.. tin...


"Udahan lope-lopeannya. Bentar lagi juga ketemu. Berangkat yuk keburu sore," Ustad Jaki menghentikan keromantisan mereka berdua karena mereka harus berangkat.


"Aku berangkat dulu ya Sayang. Doakan semoga semuanya lancar dan aku bisa cepat datang menjemputmu lagi," ucap Ustad Fariz yang mendapat anggukan dari Rhea.


"Senyum dong biar aku bisa tenang," Ustad Fariz menggoda Rhea agar mendapatkan senyuman manis dari istrinya yang akan dia rindukan selama mereka berjauhan.


Rhea pun tersenyum manis dan jejak air mata di pipinya dihapus oleh kedua tangan Ustad Fariz.


"Bekalnya tadi udah kan Bie?" tanya Rhea pada suaminya sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Ustad Fariz mengangguk dan mengucap salam, "Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam...," jawab Rhea yang matanya tidak mau beralih dari suaminya.


Kedua mata mereka masih saling memandang, sampai mobil yang dikendarai Ustad Jaki dan Ustad Fariz menghilang dari pandangan mata Rhea.


Kosong, hampa dan tidak nyaman kini yang dirasakan oleh Rhea.


Ya Allah... semoga semuanya berjalan dengan lancar dan cepat selesai, agar kami bisa kembali bersatu. Amin..., ucapan dalam hati Rhea seiring langkah kakinya masuk ke dalam rumah.


Ayah dan Ibu merasa senang melihat anak dan menantunya saling menyayangi dan mencintai, namun mereka juga merasakan kesedihan ketika melihat air mata Rhea mengiringi kepergian suaminya.


Sesampainya Ustad Fariz dan Ustad Jaki di Pondok Pesantren Al-Mukmin, mereka disambut cerita oleh Umi Sarifah dan Mbak Atik tentang keanehan sikap Mirna.

__ADS_1


"Ustad, ini gimana makanan yang dari Mbak Mirna? Apa perlu saya angetin dulu sekarang?" tanya Mbak Atik sambil memperlihatkan makanan-makanan yang diberikan oleh Mirna.


"Mbak Atik makan aja deh, saya sudah kenyang. Kalau Mbak Atik gak mau, terserah mau Mbak Atik apakan itu," ucap Ustad Fariz tanpa melihat makanan-makanan pemberian dari Mirna.


"Wooo banyak banget, ada rendang dan kawan-kawannya. Hahahaha... aku yakin dia membeli ini semua dari warung masakan Padang yang ada di depan," Ustad Jaki terkekeh melihat makanan-makanan pemberian dari Mirna.


"Dan tetep aja lebih enakan makanan yang kita makan tadi," sahut Ustad Fariz.


"Yoi Bro, istrinya siapa sih yang masak," goda Ustad Jaki.


"Istriku lah," jawab Ustad Fariz terkekeh sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Umi Sarifah tersenyum sambil menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya.


"Lah terus ini gimana Ustad?" tanya Mbak Atik bingung.


"Terserah Mbak Atik aja deh, tadi kita udah dibawain bekal juga sama Rhea rendang dan yang lainnya," jawab Ustad Jaki sambil berjalan menuju kamarnya.


"Gimana dong Umi?" kimi Mbak Atik bertanya pada Umi Sarifah.


Umi Sarifah menggeleng dan tersenyum seraya berkata, "Udah... makan aja, atau bagi sama yang lain."


Di kota lain terlihat seorang wanita yang terlihat sedih. Malam ini Rhea merasa sangat kesepian meskipun dia bersama Ayah dan Ibunya. Sama seperti Ustad Fariz yang merasakan sepi tanpa Rhea di malam pertama mereka berjauhan.


......................


Usaha Mirna selama ini gagal. Tidak ada yang mau membantunya. Pak Ratmo benar-benar menjaga dan mengawasi Mirna agar tidak keluar dari rumah. Apalagi setelah Anita melapor pada Bapaknya masalah permintaan Mirna yang meminta bantuannya untuk menelepon Ustad Fariz dan mencari tahu keberadaan Ustad Fariz.


Bahkan setiap hari Pak Ratmo selalu memberikan wejangan pada Mirna agar dia bisa mengikhlaskan semuanya dan menata hidupnya yang baru. Pak Ratmo selalu mengingatkan Mirna agar berubah menjadi lebih baik lagi agar bisa mengawali hidupnya kembali menjadi lebih baik.


Di kota lain, Rhea merasa tidak kuat menahan rindunya meskipun setiap saat Ustad Fariz dan Rhea selalu saling menghubungi.


Seperti malam ini, mereka berdua sedang melakukan panggilan video untuk mengobati kerinduan mereka.


Dalam layar ponsel Ustad Fariz terlihat dengan jelas seorang wanita cantik menggunakan dress warna pink muda dengan rambut panjang hitam legam terurai indah. Cantik, sangat cantik malah menurut Ustad Fariz. Tanpa make up yang menghiasi wajahnya terlihat sangat natural dan mempesona. Membuat orang yang melihatnya dari layar ponselnya kini ingin segera menemuinya untuk memeluknya melampiaskan kerinduannya.


Kamu kenapa Sayang, kok mukanya pucat gitu? Ustad Fariz bertanya pada Rhea dari seberang sana.


"Gapapa Bie," Rhea menampakkan senyum manisnya agar suaminya tidak khawatir padanya.


Kamu sakit? tanya Ustad Fariz sangat khawatir.


Rhea mengangguk membenarkan pertanyaan suaminya.


Udah ke dokter? tanya Ustad Fariz yang terlihat sangat khawatir jelas terlihat dari layar ponsel Rhea.

__ADS_1


Rhea menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya untuk menjawab.


Kenapa gak ke dokter? kecemasan Ustad Fariz sangat jelas, tadinya dia duduk sekarang dia membawa ponselnya sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir karena mendengar istrinya sakit.


"Gak ada yang bisa ngobatin," jawab Rhea enteng.


Tidak tahu saja jika suaminya itu sangat cemas dan khawatir mendengar istrinya yang jauh di sana sedang sakit, dengan entengnya Rhea hanya mengangguk, menggeleng dan menjawab dengan singkat pertanyaan dari suaminya.


Loh emangnya sakit apa kok sampai gak ada dokter yang bisa ngobatin? kini Ustad Fariz jadi bingung ditengah kekhawatiran dan kecemasannya.


"Sakit rindu, jadi gak butuh dokter yang di rumah sakit," jawab Rhea sambil tersenyum jahil.


Seketika senyuman lega terlihat di wajah Ustad Fariz.


Alhamdulillah... aku kira kamu sakit beneran, jahil kamu ya, Ustad Fariz kini bisa tersenyum lega dan bahagia melihat senyum dan tawa dari istrinya meskipun hanya melalui layar ponsel.


Lalu butuhnya siapa? tanya Ustad Fariz menggoda istrinya berharap dialah yang dibutuhkan oleh istrinya.


"Dokter cinta," jawab Rhea sambil terkekeh.


Dokter cinta? Emang ada? kini ekspresi Ustad Fariz menjadi bingung dan juga sedikit kesal karena jawabannya berbeda dari yang diharapkannya.


"Ada dong, Hubby kan dokter cintanya aku," Rhea mengerlingkan matanya menggoda suaminya.


Ustad Fariz tersenyum malu mendapatkan gombalan dari istrinya.


Sayang.... bisa gak sih sekarang aku ke sana? Rasanya aku ingin sekali memelukmu, Ustad Fariz menatap lekat wajah cantik istrinya yang tampak pada layar ponselnya.


Rhea tertawa lepas menertawakan suaminya yang tidak seperti biasanya.


"Ditahan dulu Bie, anggap aja lagi dipingit gak bisa ketemu," canda Rhea menimpali perkataan suaminya.


Ck, dipingit apaan, itu diperut udah ada isinya. Lagian kamu juga rindukan? tanya Ustad Fariz untuk memastikan kerinduan istrinya pada dirinya.


Rhea pun mengangguk dan berkata, "Banget."


Ok fix, Assalamu'alaikum.... panggilan diakhiri Ustad Fariz tanpa mendengar jawaban dari Rhea.


"Wa'alaikumussalam.... kok ditutup buru-buru banget sih? Terus apa tuh tadi artinya? Ah tau ah pusing, bobok aja biar gak rindu-rindu amat. Tapi ini masih jam tujuh, mana bisa tidur? Coba aja deh siapa tau bisa tidur," Rhea merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang beberapa minggu yang lalu pernah ditidurinya bersama Ustad Fariz dan lama kelamaan mata Rhea terpejam sempurna.


Mata Rhea mengerjap tatkala merasakan kehangatan seperti dipeluk suaminya dan pinggangnya terasa berat.


Mata Rhea terbuka lebar ketika melihat tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Sepertinya dia mengenali siapa pemilik tangan tersebut, tapi menurut Rhea itu tidak mungkin terjadi, karena orang yang dia maksud tidak berada bersamanya.


Rhea menoleh ke belakang dan benar saja dia melihat sosok suami yang dirindukannya sedang tidur memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Hubby? Apa benar ini kamu Bie?"


__ADS_2