Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 125 Surat cinta


__ADS_3

"Apa ini Umi?" tanya Ustadz Jaki pada Umi Sarifah ketika Umi Sarifah memberikannya sebuah amplop.


"Baca saja dulu," jawab Umi Sarifah setelah Ustadz Jaki menerima amplop tersebut.


"Dari siapa Umi?" tanya Ustadz Fariz yang baru saja datang mengambilkan susu ibu hamil untuk Rhea.


Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah setelah makan malam usai. Shinta pun ada di sana, dia masih belum bekerja karena masih dalam masa pemulihan.


"Dari Ustadzah Farida untuk kalian semua," jawab Umi Sarifah yang membuat Ustadz Jaki menghentikan tangannya ketika membuka amplop surat tersebut dengan ekspresi kaget.


"Nih Umi gak jadi Jaki buka," Ustadz Jaki mengembalikan amplop surat tersebut pada Umi Sarifah.


"Buka aja dulu, tadi Umi sudah baca. Enggak percaya sama Umi?" ucap Umi Sarifah tanpa mengambil amplop surat tersebut dari tangan Ustadz Jaki.


Ustadz Jaki berdiam sejenak, kemudian dia melempar amplop surat tersebut di depan Ustadz Fariz. Dan Ustadz Fariz pun terlonjak kaget karena dia sedang melihat sesuatu di ponsel yang diperlihatkan oleh Rhea.


"Apaan ini Ustadz, kok dilempar ke sini? Ini kan buat Ustadz Jaki," ucap Ustadz Fariz sambil memegang amplop surat tersebut dan menyodorkannya kembali pada Ustadz Jaki.


"Kali aja ada bom nya, jadi biarlah Ustadz Fariz yang terhormat sebagai yang lebih tua dari saya, silahkan membukanya terlebih dahulu," jawab Ustadz Jaki dengan gaya formal dan tidak menerima amplop tersebut dari tangan Ustadz Fariz.


"Edyan," ucap Ustadz Fariz sambil menggelengkan kepalanya dan membuka amplop tersebut.


Ustadz Fariz membuka surat tersebut dan mengajak Rhea membacanya dengan meletakkan surat tersebut di depan Rhea dan membacanya bersama.


Ustadz Fariz tersenyum jahil diikuti dengan Rhea, sepertinya mereka berdua sepakat untuk menjahili Ustadz Jaki tanpa mengatakan kesepakatan.


"Kok malah ketawa sih, ada apa? Apa suratnya lucu?" tanya Ustadz Jaki penasaran.


"Lucu lah, ini surat cinta buat Ustadz Jaki kenapa malah kita yang baca," jawab Ustadz Fariz sambil melipat kembali surat tersebut.


"Surat cinta?" celetuk Ustadz Jaki sambil menoleh ke samping di mana Shinta duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Raut muka Shinta berubah menjadi sendu, hal itu membuat Ustadz Jaki gugup dan bingung.


"Gak mungkin itu surat cinta, kata Umi tadi surat itu buat kita semua," ucap Ustadz Jaki gugup sambil menatap Ustadz Fariz untuk menolongnya dengan memberikan kode mata bergerak ke arah Shinta.


Ustadz Fariz dan Rhea terkekeh melihat ekspresi kegelisahan dari Ustadz Jaki. Umi Sarifah tersenyum geli dengan candaan anak-anaknya yang selalu membuat rumahnya menjadi lebih ceria. Sedangkan Shinta, dia masih kalut dalam pemikiran-pemikirannya, apalagi kesedihan karena kelalaiannya menjaga kehamilannya terasa sangat menyedihkan baginya.


"Udah, baca aja sendiri, pasti senang deh," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh dan memberikan amplop tersebut pada Ustadz Jaki.


"Senang apaan? Enggak ah, buang aja," Ustadz Jaki menolak menerima amplop tersebut dengan membalikkan arah tangan Ustadz Fariz ke arah Ustadz Fariz sendiri.


"Eh jangan di buang, nanti malah penasaran loh gak bisa tidur," kini giliran Rhea yang menggoda Ustadz Jaki.


"Gak mungkin gak bisa tidur kan udah punya guling hidup," ucap Ustadz Jaki sambil melihat ke arah Shinta dan tersenyum lebar padanya.


Karena penasaran juga dengan isi surat tersebut, Shinta menyahut surat itu dari tangan Ustadz Fariz, kemudian membacanya.


Shinta terdiam tidak bisa berkata-kata. Dia bingung harus bereaksi seperti apa. Haruskah dia senang karena Ustadzah Farida tidak lagi mengganggu ketentraman keluarganya, atau dia harus bersedih karena iba melihat nasib percintaan Ustadzah Farida yang tidak berbalas. Jika Shinta berada dalam situasi seperti Ustadzah Farida, entahlah apa yang akan dia lakukan. Mungkin benar, menjauh lebih baik agar luka hatinya cepat terobati.


"Kenapa Sayang? Ada apa? Udah dibilang gak usah di baca kok, kamu malah.....," Ustadz Jaki mengambil surat tersebut dari tangan Shinta dan ucapannya tidak dilanjutkan ketika dia membaca surat tersebut yang berisi permintaan maaf dari Ustadzah Farida padanya dan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kata-kata cinta dari Hongkong," ucap Ustadz Jaki dengan kesal sambil menghempaskan surat tersebut di meja yang ada di depannya.


Ustadz Fariz dan Rhea tertawa melihat kekesalan dari Ustadz Jaki.


"Gak kebayang anak kalian besok seperti apa, emak bapaknya pada jahil. Terlebih emaknya noh, jahilnya gak ketulungan," cibir Ustadz Jaki sambil melihat Ustadz Fariz dan Rhea.


"Gapapa anak kita jahil, daripada anak Ustadz Jaki super jahil, banyak akal pula. Bercocok tanam pas lagi mati lampu aja tetap jalan pakai GPS, mangkanya gak bisa nyasar," sindir Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki yang membuat Shinta tersedak ketika minum saat itu.


"Bercocok tanam di mana pas mati lampu? Emang bisa?" tanya Umi Sarifah heran dan bingung.


"Cuma Jaki Umi yang bisa bercocok tanam di ladangnya," jawab Ustadz Fariz sambil terkekeh dan Ustadz Jaki hanya menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal sambil meringis kaku pada Umi Sarifah.

__ADS_1


"Loh Jaki punya ladang sendiri? Di mana?" tanya Umi Sarifah kembali.


Sontak saja Ustadz Jaki memukul punggung Ustadz Jaki karena membuat Umi Sarifah bingung dan membuatnya malu jika akan menjelaskannya pada Umi Sarifah.


......................


Di lain tempat, Ustadzah Farida berjalan tak tentu arah. Kini dia duduk di sebuah taman yang berjarak dekat dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Ustadzah Farida bingung bagaimana di menjelaskan nanti pada kedua orang tuanya bahwa dia sudah pergi dari Pondok Pesantren Al-Mukmin sekarang ini.


Pikirannya sangat kacau, entah apa yang akan dia perbuat untuk sekarang ini, dia tidak tahu sama sekali. Yang dia tahu hanya dia harus pergi secepatnya dari Pondok Pesantren Al-Mukmin agar tidak lagi merasakan malu di hadapan semua orang.


"Huffft... sekarang aku harus bagaimana?" Ustadzah Farida bertanya pada dirinya sendiri, dia mengeluhkan dirinya pada dirinya sendiri.


Langkah kaki Ustadzah Farida begitu berat menuju rumah sakit. Dia kecewa dengan keadaan yang tidak berpihak padanya.


"Assalamu'alaikum....," Ustadzah Farida mengucap salam ketika memasuki kamar inap Ayahnya.


"Wa'alaikumussalam...," jawab kedua orang tua Ustadzah Farida yang menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung.


"Farida? Kok datang lagi? Bukannya kamu tadi pagi barusan berangkat? Loh... loh... ini apa semua tas ini?" pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan oleh Ibu Ustadzah Farida ketika Ustadzah Farida baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ini semua baju-baju Farida Bu," jawab singkat Ustadzah Farida ketika sudah duduk di kursi yang ada di kamar tersebut.


"Semua baju-baju kamu? Kamu pergi dari Pondok Pesantren Al-Mukmin?" ibu Ustadzah Farida bertanya dengan ekspresi kaget.


Ustadzah Farida mengangguk dan beranjak untuk mengambil minuman setelah menaruh tas-tasnya.


"Kenapa kamu pergi dari sana? Apa mereka mengusirmu? Tapi kenapa? Apa karena kamu beberapa hari tidak masuk? Bukannya kata mereka tidak apa-apa?" pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan ibu Ustadzah Farida itu ditanyakan semuanya pada Ustadzah Farida.


"Farida tidak di usir Bu, Farida malu. Semua orang di sana menggunjingku, mereka tau kita datang ke rumah Umi waktu itu, bahkan santri-santri juga membicarakanku Bu. Apa bisa aku bertahan di sana? Aku sangat malu sekali Bu... Bahkan untuk berpamitan pada Ustadzah Anisa dan Umi Sarifah saja aku gak bisa, malu Bu," Ustadzah Farida mengeluarkan semua apa yang dirasakannya dengan ekspresi penuh kesedihan.

__ADS_1


"Ya sudah Nduk, kamu istirahat saja dulu. Lagipula Bapak besok sudah boleh pulang. Setelah itu kamu bisa menenangkan diri ke rumah Nenek kamu jika kamu mau. Rumah nenek kamu kan dekat dengan Pondok Pesantren juga. Siapa tau kamu bisa mengajar di sana," Bapak Ustadzah Farida menengahi percakapan Ustadzah Farida dengan ibunya.


Ibu Ustadzah Farida masih saja mengomel tanpa henti untuk memberikan saran pada Ustadzah Farida. Namun Ustadzah Farida mengacuhkannya, dia lebih memilih memejamkan matanya berharap dia akan benar-benar tertidur dengan nyenyak untuk saat ini, agar dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti.


__ADS_2