
Acara syukuran aqiqah bayi laki-laki yang bernama 'Abrisam Gibran Mahadi' anak dari 'Fariz Mahadi' dan 'Rheina Az Zahra' berlangsung dengan meriah.
Acara tersebut diadakan di wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan banyak tamu yang berdatangan, tak terkecuali banyak para ulama yang datang memberikan selamat dan doa mereka pada bayi yang mereka panggil dengan nama 'Izam'.
Bayi yang rupawan itu mampu mencuri perhatian semua orang dalam acara tersebut. Umi Sarifah dan kedua orang tua Rhea terlihat sangat bahagia melebihi Ustadz Fariz dan Rhea. Cucu yang mereka idam-idamkan selama ini telah lahir ke dunia. Mereka sangat bersyukur hingga mengadakan acara syukuran tersebut dengan sangat meriah.
Berita kelahiran anak Ustadz Fariz dan Rhea terdengar oleh Mirna. Dia merasa sangat sedih mendengar berita itu.
Seandainya itu aku, pasti aku akan sangat bahagia. Kenapa aku harus mengidap penyakit ini? Apa penyakit ini sudah ada sejak aku menikah dengan Mas Fariz ya? Mirna meratapi hidupnya dengan membatin di depan jendela memandangi orang yang berlalu lalang dengan lantunan suara hadroh dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Mirna, kamu sedang apa?" Pak Ratmo bertanya pada Mirna.
Tadinya Pak Ratmo akan kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin setelah berganti baju, Namun dia melihat Mirna yang sedang melamun di depan jendela. Akhirnya Pak Ratmo menyadarkannya dengan bertanya padanya.
"Enggak ngapa-ngapain kok Paman. Loh kalian mau ke mana?" ucap Mirna yang heran melihat Pak Ratmo dan Anita memakai pakaian yang bagus dan rapi.
"Kita akan menghadiri acara di Pondok Pesantren Al-Mukmin Mir. Kamu di rumah saja ya. Ingat kamu tidak boleh memikirkan apapun agar proses penyembuhanmu bisa cepat berhasil.
Mirna mengangguk dan berkata,
"Apa aku boleh ikut?"
Pak Ratmo dan Anita saling menatap bingung dengan permintaan Mirna. Mereka takut jika mereka menyetujui permintaan Mirna, karena mereka sangat takut jika Mirna akan berbuat ulah kembali dan tentu saja Ustadz Fariz akan marah pada mereka.
Namun mereka sangat kasihan pada Mirna, karena Mirna meminta dengan penuh harap agar dia bisa ikut datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Gimana ini Pak?" tanya Anita pada Bapaknya dengan suara lirih hampir seperti berbisik.
__ADS_1
"Mirna, bukannya kita tidak mengajak mu atau tidak memperbolehkanmu ikut, tapi kamu ingat dengan larangan mantan suami kamu kan? Dia tidak ingin melihatmu datang lagi di wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Maafkan kami ya Mir, kami tidak bisa mengajakmu," Pak Ratmo menolak permintaan Mirna dengan halus.
"Paman, aku mohon. Aku janji tidak akan berulah di sana. Aku hanya ingin melihat anaknya Mas Fariz yang tidak bisa aku lahirkan, dan aku ingin meminta maaf pada mereka, itu saja Paman," Mirna kembali memohon dengan mengiba pada Pak Ratmo.
Pak Ratmo berpikir sejenak, dia sungguh tidak tega melihat ponakannya yang sedang berjuang untuk penyembuhan penyakitnya menginginkan bertemu dengan mantan suaminya dan meminta maaf padanya.
"Emmm... baiklah, tapi kamu jangan sampai lepas dari Anita dan Paman. Kamu harus berada di samping Paman dan Anita," Pak Ratmo akhirnya memperbolehkan Mirna untuk ikut dengannya ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Mirna merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, ingin rasanya dia menangis, ada sesuatu yang bergemuruh dalam hatinya ketika melihat begitu meriahnya acara tersebut.
Terlebih lagi ketika Mirna melihat mantan suaminya, Ustadz Fariz menggendong seorang bayi dengan wajah sumringah dan sangat bahagia. Rasanya iri sekali dia, ingin sekali dia berada di samping Ustadz Fariz untuk menggantikan Rhea yang kini menjadi istri satu-satunya dari mantan suaminya itu.
Mas Fariz bahagia sekali, sepertinya dia memang sangat menantikan kehadiran seorang anak dari dulu. Seandainya aku yang memberikannya seorang anak pasti sekarang aku tidak seperti ini, hanya sendirian tidak ada tempat bersandar. Apa tidak bisa aku bahagia seperti itu? Mirna berkata dalam hatinya dengan perasaan yang bergemuruh dalam hatinya.
"Mbak Mirna, ayo!" Anita berseru memanggil Mirna yang mematung tidak jauh dari tenda acara tersebut.
Mirna terhenyak dari lamunannya, dan dia berjalan menghampiri Anita dan Pak Ratmo yang menunggunya di depan sana.
Pak Ratmo bersalaman dengan Ustadz Fariz untuk memberikan selamat, kemudian dibelakangnya Anita juga memberikan ucapan selamat atas kelahiran bayi mereka.
Senyum Ustadz Fariz tidak pernah luntur, sungguh sangat bahagia terpampang jelas pada raut wajahnya. Namun seketika senyum dan tawa itu lenyap ketika melihat seseorang di belakang Anita yang membuatnya harus waspada.
"Mas Fariz, aku minta maaf atas kesalahanku dan selamat atas kelahiran bayinya. Apa aku boleh menggendongnya?" Mirna mengucap penuh permohonan dan mengiba pada Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz menoleh ke samping di mana istrinya berdiri di sampingnya. Rhea tersenyum pada Ustadz Fariz dan mengangguk menyetujui permintaan dari Mirna. Namun Ustadz Fariz yang ragu jika harus memberikan bayinya untuk di gendong oleh Mirna. Dia takut kejadian serupa terjadi pada bayi yang masih sangat lemah itu.
"Eh gak usah di gendong, dilihat aja. Tuh lihat gini aja kan udah jelas," Ustadz Jaki menyahut dari samping Ustadz Fariz dengan menyentuh pipi Izam yang sedang tertidur.
__ADS_1
Memang mereka berjejer berdiri untuk menyambut para tamu. Ustadz Jaki berdiri di sebelah kiri Ustadz Fariz dan di samping Ustadz Jaki berdirilah Shinta di sana. Sedangkan Rhea berdiri di samping kanan Ustadz Fariz. Dan keluarga Rhea berada di sisi lain bersama Umi Sarifah.
"Ya beda lah. Aku kan inginnya menggendong, ingin merasakan gendong bayi, bukannya cuma melihat saja," kini Mirna berhasil terpancing oleh ucapan Ustadz Jaki.
"Tapi yang punya bayi takut bayinya kamu celakain," ceplos Ustadz Jaki yang selalu tidak bisa menahan ucapannya jika sudah berdebat dengan Mirna.
"Ustadz!" Rhea berseru dan memelototkan matanya pada Ustadz Jaki.
"Kan bener. Sekarang kamu aja dijambak sampai kayak gitu, gimana ini anak yang masih bayi kalau ada di tangannya?" Ustadz Jaki mengeluarkan pikirannya.
Rhea menghela nafasnya, dia tidak bisa berkata-kata lagi karena memang benar apa yang dikatakan oleh Ustadz Jaki. Dan Ustadz Fariz pun juga tidak bisa menyalahkan pikiran Ustadz Jaki karena dirinya juga merasa was-was jika Mirna menggendongnya.
Pikiran Mirna dan tindakan Mirna tidak ada yang bisa menebak, oleh karena itu Ustadz Fariz enggan memberikan bayinya untuk digendong oleh mantan istrinya. Sedangkan Shinta hanya diam saja karena dia tidak pernah masuk dalam masalah mereka, jadi dia tidak bisa menempatkan dirinya untuk berbicara.
"Tapi aku cuma ingin menggendongnya saja Mas. Apa gak boleh?" Mirna kembali mengiba melihat wajah mantan suaminya, dan Ustadz Fariz memalingkan wajahnya dari pandangan mantan istrinya.
"Mirna, ayo cepat ke sini. Kasihan orang di belakangmu udah ngantri banyak mau ngucapin selamat!" Pak Ratmo berseru memanggil Mirna dengan melambaikan tangannya agar Mirna segera mendekat padanya.
Sebenarnya Pak Ratmo dari tadi mengawasi Mirna, dia memang berada tidak jauh dari mereka, namun dia tidak bisa langsung menyeret Mirna karena itu akan mempermalukannya.
Anita diberi tanda oleh Bapaknya dengan dagunya yang digerakkan ke arah Mirna. Anita pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Bapaknya. Anita berjalan ke arah Mirna dan menggandeng tangan Mirna untuk berjalan menjauh dari Ustadz Fariz dan keluarganya.
Umi Sarifah melihat kejadian itu dari tempatnya berada. Dia kasihan pada Mirna, namun dia tidak bisa melarang Ustadz Fariz mengacuhkannya.
Dari tempatnya saat ini, Mirna masih melihat Ustadz Fariz dan Rhea yang tersenyum dan tertawa bahagia saat mereka bergantian menggendong bayinya. Mirna jadi teringat dengan mimpi yang pernah dia curi dengar saat Umi Sarifah mengatakannya pada mereka.
Apa ini yang dilihat Umi pada mimpinya waktu itu meskipun Umi belum bertemu dengan Rhea? Kenapa Umi tidak berpikiran jika wanita itu aku? Jika Umi tidak menyadari wanita itu Rhea, apa mereka akan menikah? Apa aku masih jadi istri Mas Fariz?
__ADS_1