Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 211 Apa ini yang terbaik?


__ADS_3

Izam kini sudah dalam masa pemulihan. Dia berusaha keras agar bisa cepat sembuh dari cidera kakinya.


Setiap dia menjalani fisioterapi, dokter rehab medik atau fisioterapis mengatakan bahwa Izam mengalami peningkatan.


Semangatnya sangat besar sekali dengan diantar oleh seluruh keluarganya dan tentu saja Salsa yang selalu ikut mengantar Izam untuk melakukan fisioterapi itu sangat gencar memberi semangat pada Izam.


"Ayo Kak Izam kamu bisa!"


"Kak Izam hebat!"


"Kak Izam pasti bisa!"


"Kak Izam! Kak Izam! Kak-"


"Ssst.... Salsa diem dong. Berisik tau gak?" Izam berseru memperingatkan Salsa yang sedari tadi berteriak menyemangatinya dengan suara cemprengnya itu.


"Iiih Kak Izam, Salsa kan cuma ngasih semangat aja," ucap Salsa dengan bibirnya yang maju ke depan.


Rengekan Salsa itu diacuhkan oleh Izam. Kini dia kembali berkonsentrasi pada terapinya.


"Kak Izam!"


"Kak Izam!"


"Yeee... Kak Izam hebat!"


Salsa kembali berteriak memberikan semangat pada Izam meskipun Izam telah melarangnya.


Ustadz Fariz dan Rhea tertawa kecil melihat Salsa yang sangat bersemangat memberikan dukungan pada Izam. Dan ngambeknya Salsa yang cepat berganti dengan keceriaannya itu membuat suasana selalu lebih hidup dan ceria.


Di tempat lain, Hana sedang dihadapkan dengan pilihan yang membuatnya berpikir untuk memutuskan pilihannya.


"Hana, apa Hana mau pindah sekolah?"


Pandu bertanya pada Hana ketika mereka sedang makan malam bersama di rumah Pak Ratmo.


"Pindah sekolah?" Hana mengulang apa yang ditanyakan oleh bapaknya, Pandu.


"Iya, pindah sekolah. Bapak tau Hana sekarang gak nyaman sekolah di sana. Apa Hana mau pindah sekolah?"


Pandu bertanya kembali pada Hana tentang rencana Pandu yang akan memindahkan sekolah Hana.


"Apa boleh Pak Hana pindah sekolah?" tanya Hana kembali pada bapaknya.

__ADS_1


"Jika Hana tidak nyaman di sekolah itu, Hana pindah saja di sekolah lainnya," jawab Pandu dengan tersenyum.


"Tapi Pak, uangnya bagaimana? Pasti nanti bayar mahal lagi. Uang Bapak kan untuk membeli susu adik Emir."


Hana mengatakan kekhawatirannya jika dia pindah ke sekolah lainnya.


"Hana tenang saja, Bapak pasti akan mengusahakannya."


Pandu menjawab dengan tersenyum pada Hana agar dia tidak merasa terbebani.


"Apa Hana mau masuk Pondok Pesantren?"


Kini Pak Ratmo mengutarakan pendapatnya.


"Pondok Pesantren?"


Hana mengulangi apa yang dia dengar dari Pak Ratmo.


Sontak saja Pandu dan Mirna membulatkan matanya. Sepertinya pikiran mereka sama. Pondok Pesantren Al-Mukmin yang ada di dalam pikiran mereka.


"Pondok Pesantren di rumah Izam itu ya Kek?" tanya Hana pada Pak Ratmo.


Pandu dan Mirna semakin memperlihatkan keantusiasan mereka mendengar nama Pondok Pesantren Al-Mukmin disebut oleh Hana.


"Bukan. Kalau Hana mau, Hana mondok saja di Pondok Pesantren yang sama dengan adiknya Mbak Anita, tidak jauh dari sini kok. Apa Hana mau?" Pak Ratmo kembali bertanya pada Hana.


Anita memberi pertimbangan pada Hana agar dia mau mempertimbangkan masuk Pondok Pesantren.


Seketika Pandu dan Mirna kembali ke ekspresinya semula. Keantusiasan mereka mengenai Pondok Pesantren kini lenyap.


Mereka berdua berharap jika Hana bisa masuk ke dalam Pondok Pesantren agar mereka bisa bertemu dengan mantan pasangan mereka dengan alasan mengantar, mengunjungi ataupun menjemput Hana.


"Apa Hana bisa masuk Pondok Pesantren? Hana kan masih belum bisa apa-apa Kek?"


Hana kembali mengatakan kekhawatirannya pada Pak Ratmo.


"Justru di sana Hana akan diajari semuanya. Kakek yakin Hana bisa belajar dengan cepat di sana. Hana pintar, dan Hana anak yang mandiri, pasti Hana tidak akan merasa kesulitan berada di sana."


Pak Ratmo meyakinkan Hana agar dia bisa yakin dengan dirinya sendiri.


Sebenarnya sejak kejadian kecelakaan itu, Pak Ratmo ingin sekali memasukkan Hana ke Pondok Pesantren agar dia tidak teringat kembali tentang peristiwa tersebut.


Di Pondok Pesantren, Hana pasti tidak mempunyai waktu untuk memikirkan atau mengingat-ingat kembali tentang kecelakaan tersebut.

__ADS_1


Sangat disayangkan sekali jika mental Hana yang masih sangat kecil itu akan terganggu jika selalu dihantui oleh perasaan takut dan bersalah atas kecelakaan tersebut.


"Bagaimana Hana, apa Hana bersedia?" tanya Pak Ratmo kembali pada Hana.


Hana melihat ke arah Pandu dan Mirna bergantian untuk bertanya pada mereka.


"Kalau Bapak sih terserah Hana saja," ucap Pandu yang tahu akan tatapan mata Hana seolah bertanya padanya tentang keputusannya.


"Tapi nanti Hana gak bisa kumpul bersama semuanya seperti ini dan apa Hana bisa jauh dari adik Emir?" Hana kembali ragu akan dirinya sendiri.


"Kenapa gak dicoba dulu aja Hana? Nanti kamu pasti akan tau dan lama-lama kamu pasti akan betah di sana. Bahkan menurut pengalaman Mbak Anita dulu itu, Mbak Anita jadi gak mau pulang karena gak mau pisah sama teman-teman Mbak."


Anita mencoba membujuk Hana agar mau masuk Pondok Pesantren dengan menceritakan pengalamannya.


Bukannya Anita tidak mau Hana berada di rumahnya, hanya saja Anita khawatir akan Hana yang terlihat jelas ketakutan dan merasa bersalah sehingga tidak mau bersekolah dalam waktu beberapa hari setelah kecelakaan itu terjadi.


"Apa di sana banyak temannya Mbak?" Hana bertanya dengan antusias pada Anita.


"Banyak sekali temannya di sana Hana. Mereka semuanya baik-baik dan kalian akan tidur dengan beberapa teman dalam satu kamar."


Anita kembali menjelaskan pada Hana, dia berharap agar Hana tergiur dengan ceritanya.


Seketika senyum Hana mengembang di bibirnya. Hana yang tidak pernah mempunyai teman, sangar tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Anita.


Bahkan dia berharap jika nanti dia benar-benar jadi masuk Pondok Pesantren, dia akan mempunyai banyak teman dan bisa merasakan pertemanan seperti teman-temannya di sekolah.


Selama ini Hana hanya melihat teman-temannya yang mempunyai teman banyak selalu bersama dan bercanda. Hal itu tidak pernah dia rasakan.


Dan lebih parahnya lagi setelah kecelakaan itu terjadi, Hana dikucilkan oleh teman-temannya karena semua mengira dirinya adalah pembawa bencana, anak yang membawa kesialan.


"Kapan Hana harus berangkat?" tanya Hana kemudian.


"Apa Hana setuju?" Pak Ratmo berbalik tanya pada Hana.


"Hana mau coba dulu Kek. Apa boleh?" Hana ragu mengatakannya


"Boleh. Jika memang Hana tidak betah, Hana boleh kembali ke rumah. Kita akan mencari sekolah lainnya nanti," jawab Pak Ratmo sambil mengusap kepala Hana dengan lembut.


"Sekolah di tempat lain? Di mana itu Kek? Bukannya sekolah Hana itu satu-satunya yang dekat di daerah ini?" Hana bertanya dengan wajah bingungnya.


Pak Ratmo hanya tersenyum dan terkekeh mendengar ucapan Hana yang memang benar adanya. Kemudian Pak Ratmo menjawab pertanyaan Hana,


"Di mana saja asal Hana nyaman bersekolah di sana."

__ADS_1


"Apa ini yang terbaik untuk Hana?"


Tiba-tiba Mirna berceletuk setelah sekian lama pembicaraan, dia hanya diam mendengarkan semuanya saja tanpa berkomentar.


__ADS_2