
"Assalamu'alaikum...," suara salam dari luar pintu mengalihkan perdebatan Ustadz Jaki dan Rhea.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Umi Sarifah, Ustadz Jaki dan Rhea.
"Ada apa ini kok seru sekali kedengaran dari luar," Ustadz Fariz bertanya sambil mendekati baby Izam dan mencium pipinya.
"Ustadz, nih aku bawa kabar ba-"
"Tumben udah balik Bie, gak ada ngajar lagi?" Rhea menyela ucapan Ustadz Jaki.
"Satu setengah jam lagi balik, aku kangen sama Izam," ucap Ustadz Fariz sambil meminta baby Izam untuk digendongnya.
"Izam aja nih, Bundanya enggak?" tanya Rhea ketika mengalihkan tubuh baby Izam ke dalam gendongan Ustadz Fariz.
"Enggak, ngapain kangen sama kamu," sahut Ustadz Jaki yang merasa kesal karena perkataannya tadi disela oleh Rhea.
"Dih, ikut-ikutan," ucap Rhea pada Ustadz Jaki.
"Lagian kamu ada orang lagi ngomong malah disela. Gak tau apa kalau aku lagi pamer," Ustadz Jaki mengatakan kekesalannya.
"Pamer? Pamer apa?" tanya Ustadz Fariz heran sambil menggendong baby Izam.
"Ini, positif-" ucap Ustadz Jaki sambil mengeluarkan testpack dari dalam sakunya.
"Gila," sahut Rhea pada ucapan Ustadz Jaki yang belum selesai.
"Allahu Akbar.... ini istrinya ngeselin banget sih Ustadz? Izam sayang, kalau besar jangan ngeselin kayak Bundamu ya," Ustadz Jaki mengadu pada Ustadz Fariz dan Izam.
Umi Sarifah tidak lagi berdiri, Umi Sarifah malah duduk di kursi tamu sambil tertawa menonton perdebatan mereka layaknya sedang menonton pertunjukan.
"Udah... udah Sayang, yang waras ngalah," ucap Ustadz Fariz menengahi perdebatan istrinya dan Ustadz Jaki.
"Bener-bener ngeselin nih suami istri. Ini Shinta positif hamil. Ha-mil," Ustadz Jaki sungguh kesal dengan Ustadz Fariz dan Rhea yang selalu bisa mengalahkannya jika berdebat dengan mereka, sehingga dia menekankan kata 'hamil'.
"Hah beneran?" tanya Rhea dengan antusias.
"Beneran Le, Shinta hamil?" kini Umi Sarifah berdiri dan mendekat ke arah Ustadz Jaki.
"Iya Umi, ini buktinya. Tadi aku juga lihat USG nya," Ustadz Jaki memamerkan testpack yang dia bawa tadi.
"Oh itu toh yang mau dipamerin dari tadi," ucap Rhea meledek Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Iya dong," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar dan memegang ke atas testpack tersebut sambil membolak-balikkan testpack tersebut seperti memamerkan pada semuanya.
"Kenapa gak sekalian dipigura aja Ustadz, dipajang, dipamerin," ucap Rhea yang bermaksud meledek Ustadz Jaki.
"Wah bener juga ide kamu. Sebentar, aku mau beli pigura dulu," ucap Ustadz Jaki sambil mengantongi kembali testpack tersebut dan berjalan menuju pintu.
Rhea dan Ustadz Fariz saling menatap. Mereka tidak mengira jika Ustadz Jaki benar-benar melakukan apa yang diucapkan oleh Rhea.
Beberapa menit kemudian Ustadz Jaki pulang dengan membawa pigura yang benar-benar sudah ia isi dengan testpack milik Shinta.
Ustadz Fariz tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan jempolnya pada Ustadz Jaki ketika dia memamerkan pigura yang dibawanya. Umi Sarifah sedari tadi duduk di sana bermain bersama Izam yang digendong Ustadz Fariz. Umi Sarifah juga ikut tertawa melihat kekonyolan Ustadz Jaki yang selalu bisa membangkitkan suasana di rumah tersebut.
Rhea berjalan cepat dari arah dapur sambil membawa teh hangat dan kopi untuk Ustadz Fariz dan Umi Sarifah menuju ruang tamu.
"Ada apa sih kok rame banget?" ucap Rhea sambil meletakkan gelas-gelas tersebut di atas meja.
"Tuh lihat," jawab Ustadz Fariz sambil menunjuk Ustadz Jaki.
Rhea mengalihkan pandangannya dari Ustadz Fariz menuju Ustadz Jaki yang sedang mengangkat pigura yang terpampang dengan jelas testpack milik Shinta di dalamnya.
Rhea melongo. Mulutnya terbuka melihat apa yang ditunjukkan oleh Ustadz Jaki padanya. Hingga dia tersadar ketika Ustadz Fariz menjapit mulut Rhea yang terbuka dengan tangannya.
"Bie, itu... itu beneran?" tanya Rhea pada Ustadz Fariz ketika tangan Ustadz Fariz sudah dilepaskan oleh Rhea dari mulutnya.
" Ustadz Jaki, seneng banget ya?" tanya Rhea pada Ustadz Jaki sambil duduk di samping Ustadz Fariz.
"Oh iya dong, ternyata perjuanganku tidak sia-sia. Terbukti kan aku seorang pejantan tangguh," ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar duduk di dekat Umi Sarifah.
"Pejantan, ayam kaliiii....," Ustadz Fariz meledek Ustadz Jaki sambil kembali terkekeh.
"Terus ini mau ditaruh di mana Le?" Umi Sarifah bertanya dengan terkekeh sambil memegang pigura yang dibawa oleh Ustadz Jaki.
"Apa boleh dipajang di situ Umi?" Ustadz Jaki bertanya pada Umi Sarifah sambil menunjuk salah satu ruas tembok di ruang tamu tersebut.
"Huss ngawur, pajang di kamarmu sendiri sana biar tambah semangat kalau mau nganu," Ustadz Fariz menyahuti ucapan Ustadz Jaki.
Reflek Rhea memukul lengan Ustadz Fariz dan berkata,
"Ngomongnya hati-hati, ada Izam."
"Kan belum ngerti Sayang," jawab Ustadz Fariz membela dirinya.
__ADS_1
"Biar gak jadi kebiasaan," Rhea memperingatkan Ustadz Fariz.
"Iya... iya.. maaf...," Ustadz Fariz mengucap maaf sambil tersenyum lebar agar istrinya tidak marah padanya.
"Kalian gak ada jadwal ngajar?" Umi Sarifah berniat mengingatkan Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.
"Eh iya loh, sebentar lagi jadwalku ngajar. Ustadz Jaki... let's go kita mencerdaskan anak bangsa," ucap Ustadz Fariz sambil memberikan Baby Izam pada Rhea.
"Sebentar, aku taruh ini dulu di kamar," ucap Ustadz Jaki sambil menunjukkan pigura tadi.
Setelah Ustadz Jaki menyimpan pigura tadi di kamarnya, dia bersama Ustadz Fariz berjalan menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Telepon sapa sih sibuk banget dari tadi?" Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki sambil berjalan menuju ruangannya.
"Shinta. Kok gak diangkat-angkat ya? Eh ini malah di reject," ucap Ustadz Jaki yang masih sibuk menghubungi Shinta.
"Mungkin lagi sibuk, banyak pasien. Kan musimnya ibu hamil," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.
Tring!
Suara notifikasi pesan dari ponsel Ustadz Jaki yang sibuk dipakainya untuk menghubungi Shinta.
"Eh ini dia malah kirim pesan," ucap Ustadz Jaki sambil membaca pesan dari istrinya.
Seketika Ustadz Jaki terkekeh ketika membacanya. Dan itu membuat Ustadz Fariz menjadi kepo, ingin tahu apa yang dikirimkan oleh Shinta sehingga Ustadz Jaki terkekeh ketika membaca pesan darinya.
Ustadz Fariz melongok ikut membaca pesan Shinta, seketika dia tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ustadz Jaki.
"Terlalu lama itu Ustadz, harusnya setengah jam sekali kamu menghubungi Shinta, jangan satu jam sekali. Jadi marah kan dia," ucap Ustadz Fariz yang masih tertawa dan menepuk-nepuk pundak Ustadz Jaki.
"Masa' iya sih? Eh apa iya ya? Jadi setengah jam sekali nih harusnya?" tanya Ustadz Jaki sambil mempercepat langkahnya menyusul Ustadz Fariz yang sudah lebih dulu berjalan dan kini berada di depannya.
"Coba deh biar tau reaksi Shinta gimana," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh kembali.
Di rumah sakit, di dalam ruang prakteknya Shinta mendengus kesal melihat ponselnya kembali berbunyi. Siapa lagi yang menghubunginya jika bukan suaminya.
Ustadz Jaki menghubunginya setiap satu jam sekali setelah mereka berpisah pagi tadi. Dan Ustadz Jaki juga mengiriminya pesan setiap beberapa menit sekali menanyakan keadaan Shinta dan kehamilannya. Hingga Shinta merasa terganggu ketika sedang memeriksa pasien. Namun hatinya bersorak gembira mendapatkan perhatian seperti itu dari suaminya. Sampai-sampai baru dua jam berlalu Ustadz Jaki sudah mengatakan akan menjemput Shinta karena Shinta harus beristirahat lebih awal dari biasanya agar tidak terlalu lelah.
Luar biasanya suamiku hingga sampai seribut ini hanya karena aku sedang hamil, Shinta membatin dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Dok, dok... apa ada yang lucu dengan kandungan saya?" tanya seorang pasien yang sedang di USG oleh Shinta yang sedang menatap layar sambil tersenyum ketika dia sedang berkata dalam hatinya tentang suaminya.
__ADS_1
"Eh.. enggak bu, gak ada. Bayinya baik-baik aja," ucap Shinta gugup karena merasa bersalah tidak fokus memeriksa pasiennya, pikirannya malah mengarah pada tingkah konyol suaminya.