
Keluarga Kyai Anwar kaget mendengar jawaban dari Yasmin. Dia tidak menjawab menerima atau menolak pinangan dari Ammar, melainkan memberikan syarat pada Ammar.
Kyai Anwar menoleh pada Ammar dan bertanya padanya.
"Bagaimana Ammar?"
"Saya ingin mendengar syarat dari Yasmin," jawab Ammar sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Yasmin, katakan pada kami apa syarat yang kamu ajukan jika kamu menerima Ammar menjadi suami kamu," tukas Kyai Anwar pada Yasmin.
Yasmin mengambil nafas dan menghelanya sebelum mengatakan keinginannya.
"Bismillahirrahmanirrahim, yang pertama, saya ingin menikah setelah saya lulus sekolah. Yang kedua, saya tidak mau dipoligami. Apa Kak Ammar mau menerimanya?" tanya Yasmin dengan melihat Ammar yang tersenyum mendengar persyaratan dari Yasmin.
"Tentu saja saya terima. Itu semua bisa saya janjikan padamu dan pasti tidak akan saya ingkari," tutur Ammar dengan memberikan senyumnya pada Yasmin yang memperlihatkan lesung pipi di kedua pipinya.
Yasmin pun terpanah dengan senyuman yang diberikan oleh Ammar padanya.
Ada apa ini, kenapa aku sekarang merasa deg-degan seperti ini melihat senyumnya? Padahal kemarin-kemarin biasa saja. Gawat, apa aku juga menaruh hati padanya? Yasmin berkata dalam hatinya dengan mata mereka yang masih saling menatap.
"Jadi bagaimana Kyai Fariz, apa keinginan Ammar diterima?" tanya Kyai Anwar pada Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz menoleh pada Yasmin yang masih saja saling bertatap mata dengan Ammar. Kemudian Ustadz Fariz beralih memandang istrinya.
Rhea mengerti apa maksud tatapan suaminya, dia bertanya pada Yasmin yang masih betah saling memandang dengan Ammar.
"Yasmin, apa kamu bersedia menerima Ammar menjadi calon suami kamu?" tanya Rhea pada Yasmin dengan memegang tangannya agar dia segera menjawab pertanyaan yang diajukan olehnya.
"I-iya Bunda," jawab Yasmin gugup karena kaget.
Kini setelah Yasmin tersadar karena pertanyaan dan sentuhan tangan dari Rhea, dia menundukkan kepalanya, tidak lagi melihat ke arah Ammar.
"Alhamdulillah...," semua orang mengucapkannya secara bersamaan kecuali Adiba.
__ADS_1
Adiba turut senang dengan diterimanya keinginan kakaknya untuk menjadi calon suami Yasmin. Tapi tidak dengan dirinya, hatinya sedih karena Izam tidak menerimanya menjadi calon istrinya.
Keluarga Kyai Anwar tidak lagi kecewa dengan penolakan dari Izam. Kini kebahagiaan dan keinginan mereka terganti dengan hubungan Ammar dan Yasmin yang akan menjadi suami istri kelak sesudah Yasmin lulus sekolah, sesuai dengan keinginan Yasmin.
Berita Izam yang akan menikah dengan Salsa serta Yasmin dengan Ammar tersebar di seluruh Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Mereka tidak akan menduga dengan berita yang mereka dengar. Tetapi mereka turut senang dengan berita tersebut.
Berita itu sangat diyakinkan ketika keluarga Kyai Anwar kembali datang berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Semua santri gempar melihat kedatangan keluarga Kyai Anwar dan mereka sangat yakin ketika melihat Izam, Salsa, Yasmin, Ammar dan Adiba berada di taman dengan saling mengobrol dan bercanda.
Hana, dia selama ini belum pernah datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sekarang ini dia datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk mengambil barang-barangnya yang masih ada di kamarnya.
"Gus Ammar, Ning Adiba," ucap Hana ketika melihat Ammar dan Adiba bersama dengan Izam, Yasmin dan Salsa.
Dari jauh Hana melihatnya, tapi sangat jelas baginya untuk bisa mengenali Ammar dan Adiba karena mereka adalah Gus dan Ning dari Pondok Pesantren yang Hana tinggali selama ini sebelum dia mengabdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Hana tersenyum senang melihat Ammar dan Adiba berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin saat ini. Niat hati Hana berniat akan menyapa mereka. Tapi dia mendengar ada beberapa santri yang melewatinya sedang membicarakan tentang mereka.
"Iya, mereka ganteng dan cantik. Pas sekali, jadi iri lihatnya," sahut santri yang lain.
"Huss... gak boleh iri. Kita harus mendoakan pernikahan mereka nanti agar bisa sakinah, mawadah, warahmah," tukas santri yang lainnya.
Mata Hana terbelalak, dia kaget mendengar apa yang dikatakan oleh para santri yang sedang berjalan melewatinya.
"Maaf, apa yang kalian bicarakan tadi benar?" tanya Hana pada santri yang melewatinya tadi.
"Eh Mbak Hana, maaf Mbak tidak lihat tadi," ucap salah satu santri tersebut yang dihentikan oleh Hana.
"Iya, maaf Mbak," ucap santri yang lain bergantian.
"Iya, tidak apa-apa. Apa benar yang kalian bicarakan tadi?" tanya Hana pada mereka yang kini berhadapan dengan Hana.
__ADS_1
"Iya Mbak, Ustadz Izam akan menikah dengan Mbak Salsa dan Mbak Yasmin akan menikah dengan Gus Ammar," jawab salah satu dari santri tersebut.
Jedar!
Rasanya Hana seperti tersambar petir. Dua Gus yang dia sukai kini akan menikah dengan orang lain.
Gus Ammar yang dia sukai sejak dia menjadi santri di Pondok Pesantren Al Hikmah kini akan menikah dengan Yasmin dan Izam, Gus dari Pondok Pesantren Al-Mukmin yang juga teman sekolahnya sejak kecil kini akan menikah dengan Salsa, temannya yang selalu menjauhkannya dari Izam.
Betapa sedih hatinya mendengar berita tersebut. Dia hanya terdiam, tidak mendengar suara apapun kecuali rasa tidak percayanya dengan berita yang dia dengar.
"Mbak, Mbak Hana, kami permisi dulu Mbak. Assalamu'alaikum...," ucap salah satu santri dan diikuti ucapan salam dari santri yang lain.
Hana tidak menjawab, dia masih saja diam dengan mata yang masih melihat ke arah taman.
Kenapa malang sekali nasibku? Mereka sangat bahagia mendapatkan semuanya yang ingin aku dapatkan selama ini. Sebenarnya apa salahku sehingga semua keinginanku tidak ada yang bisa aku dapatkan? Bahkan mereka yang sudah bahagia sedari kecil bisa mendapatkan apa yang aku inginkan sekarang ini, Hana berkata dalam hatinya melihat ke arah taman yang terdapat Izam, Salsa, Yasmin, Ammar dan Adiba saling tertawa dan terlihat sangat bahagia.
Adiba memang sangat kecewa pada Izam, tapi dia berhasil diyakinkan oleh Ammar jika Izam bukanlah jodoh yang diberikan Allah untuknya. Adiba mencoba mengerti dan sekarang dia sudah mengikhlaskan semuanya.
Dia pun sadar ketika melihat Izam dan Salsa yang terlihat saling menyayangi serta tatapan mereka berdua memperlihatkan cinta mereka. Berbeda ketika Izam melihatnya.
Hana sadar ketika Salsa melihat ke arahnya. Dengan terburu-buru Hana berjalan ke kamarnya. Di dalam kamarnya dia melampiaskan kesedihannya. Air matanya dia habiskan sebelum meninggalkan kamar itu.
Dia berharap kesedihannya dan tangisnya itu bisa dia tinggalkan di Pondok Pesantren Al-Mukmin saja, sehingga dia tidak merasakan sakit hati lagi ketika sudah meninggalkan Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Kini dia harus bisa merelakan semuanya. Merelakan keinginan kakeknya untuk mengabdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin dan merelakan cintanya pada Izam dan Ammar.
Ketika dia berada di Pondok Pesantren Al Hikmah, dia menaruh hati pada Ammar dan ingin sekali menjadi istri dari seorang Gus Ammar.
Namun, ketika dia berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin, dia menyadari jika rasa sukanya pada Izam semenjak kecil belum pudar. Sejak itulah dia ingin kembali dekat dengan Izam.
Sekarang semua itu sia-sia. Dua orang yang dia kagumi itu tidak bisa dia miliki. Hanya kekecewaan dan sakit hati yang kini dia rasakan.
Kini Hana membawa luka itu pulang dengan hati yang sangat perih. Dukungan dari Mirna untuk mendapatkan Izam kini sudah percuma. Semuanya hanya akan menjadi luka jika dia tetap mengingatnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum....," ucap Hana ketika masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikumussalam, Hana kamu kenapa kok kayak kusut banget gitu?" tanya Mirna pada Hana.