
Semua anak adalah baik, karena Allah telah menginstal di dalam dirinya fitrah yang lurus.
Begitupula dengan Emir yang lahir dari seorang ibu yang meninggal demi melahirkannya ke dunia ini.
Bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu itu kini hanya mendapatkannya dari bapaknya saja.
Di kala bayi itu sedang merintih kesakitan, sangat terasa bagi si bapak jika dia membutuhkan seorang ibu sambung bagi bayi tersebut.
Kini Mirna merasa tenang dan damai ketika menggendong baby Emir yang sedang tertidur dengan nyenyaknya dalam gendongannya.
Tadinya dia memang selalu menolak jika dimintai tolong untuk menggantikan Anita yang sedang menggendong baby Emir, namun ketika baby Emir sudah dalam gendongannya, senyum Mirna selalu mengembang menyambut kemurnian jiwa seorang bayi yang diberi nama Emir.
Sedangkan Anita kini berangkat ke warung bersama dengan Hana diantarkan oleh Pandu.
"Pak, itu laki-laki yang tinggal di rumah Bapak sebenarnya pacarnya siapa sih Pak? Pacarnya Anita atau Bu Mirna?" tanya tetangga pada Pak Ratmo yang kebetulan melihat Anita dan Hana berboncengan dengan Pandu.
"Bukan pacarnya siapa-siapa Bu. Pandu hanya menyewa rumah saya yang ada di belakang. Permisi Bu saya mau siap-siap berangkat kerja dulu," Pak Ratmo berusaha menjawab dengan menjelaskannya agar tidak terjadi fitnah.
"Eh tunggu sebentar Pak. Itu loh semuanya pada nanya, karena laki-laki itu tidak hanya bonceng Anita tapi juga bonceng Mirna. Jadi mereka bertanya-tanya siapa-"
"Bu, Pandu itu tukang ojek. Jadi wajar saja jika dia membonceng wanita yang berbeda-beda, tanpa ada niatan dibalik semua itu. Banyak sekali wanita yang sudah diboncengnya karena dia tukang ojek. Mungkin juga anak ibu pernah dibonceng Pandu, Ibu tidak tau juga kan?" Pak Ratmo menyela ucapan orang tersebut karena sudah jengah dengan semua yang diucapkannya.
"Gak mungkin Pak. Meskipun dia seorang tukang ojek, gak mungkin dong dia mengantar Bu Mirna ke pasar pakai pegangan erat gitu tangannya di pinggang laki-laki itu. Dan mereka mesra sekali sewaktu berbelanja di pasar, persis banget kayak pasangan suami istri. Bahkan suami saya aja gak pernah seperti itu," orang tersebut berkata dengan sedikit kesal dan sewot pada Pak Ratmo.
"Itu hanya gosip Bu dan belum tentu kebenarannya," jawab Pak Ratmo yang sudah ingin sekali mengakhiri pembicaraan mereka.
"Gosip apaan Pak, orang saya lihat sendiri kok di pasar tadi. Semua penjual juga pada ngomong hal yang sama. Sampai mereka mengira jika laki-laki itu suami barunya Bu Mirna sejak pertama kali mereka ke pasar bersama. Gak salah kan kalau say nanya sama Bapak, wong Pak Ratmo ini bapaknya Anita dan pamannya Bu Mirna," ucap orang tersebut dengan kesal dan sewot sebelum pergi dari hadapan Pak Ratmo.
Pak Ratmo memandang dengan heran punggung tetangganya yang berjalan meninggalkannya setelah mengucapkan hal-hal yang membekas dipikiran Pak Ratmo.
__ADS_1
Apa semua ini Ya Allah... Kenapa mereka harus membicarakan Anita dan Mirna seperti itu? Kami hanya menolong Pandu dan anak-anaknya yang berjuang untuk kehidupan mereka, Pak Ratmo berkata dalam hatinya sambil menghela nafasnya melihat tetangganya tadi yang sesekali menoleh padanya sambil menggerutu.
Pak Ratmo masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap berangkat kerja. Namun ketika dia berada di ruang televisi, Pak Ratmo melihat Mirna yang menggendong baby Emir dengan tulus.
Ketulusan Mirna terpancar dari senyumannya ketika menimang baby Emir sambil tersenyum melihat wajah baby Emir yang selalu menenangkan hatinya.
Pak Ratmo tidak meneruskan langkah kakinya, dia berhenti untuk melihat Mirna dan Pak Ratmo pun tersenyum melihat Mirna yang tidak marah-marah ataupun kesal meskipun direpotkan oleh baby Emir yang sedang rewel-rewelnya seusai mendapatkan imunisasi.
"Mir, apa Emir masih rewel?" Pak Ratmo bertanya pada Mirna ketika sudah berada di dekatnya.
"Sudah enggak Paman. Emir sudah tidur nyenyak," jawab Mirna yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari wajah baby Emir dan senyumnya masih tersungging di bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu Paman tinggal kerja dulu ya. Kalau butuh bantuan atau apapun kamu hubungi Paman atau Anita saja," ucap Pak Ratmo yang diangguki oleh Mirna.
Siang harinya Pandu menyempatkan pulang ke rumah di jam istirahatnya sesuai dengan amanat dari Anita sewaktu mengantarkannya tadi pagi.
"Mir.... kalian di mana?" Pandu bersuara ketika masuk ke dalam ruang tamu.
Namun dia tidak menemukan Mirna di sana, dia hanya menemukan baby Emir yang sedang terbangun dengan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Pandu mengambil tubuh baby Emir dari kasur bayinya dan membawanya dalam gendongannya.
Kemudian Pandu menggendongnya ke luar rumah untuk mencari Mirna dan agar baby Emir mendapatkan udara luar, karena dia yakin jika Mirna tidak mengajaknya di luar rumah selama dalam asuhannya tadi.
"Harusnya tadi Emir berjemur sebentar ya," ucap Pandu pada Emir yang belum tahu apa-apa.
"Penculik! Mau kamu bawa ke mana anakku?" Mirna berteriak dari dalam rumah sambil berlari ke luar rumah di mana Pandu telah berada di sana sambil menggendong Emir.
Mirna tidak mengetahui bahwa itu adalah Pandu karena Mirna hanya melihat punggung Pandu yang berbalut jaket dan topi, sehingga Mirna tidak mengetahui jika dia adalah Pandu.
__ADS_1
Plak!
Mirna memukul punggung Pandu dengan sangat keras menggunakan tangannya hingga Pandu merintih kesakitan.
"Aduh....!" Pandu berseru merasakan punggungnya yang merasa sakit dan panas akibat pukulan yang dilayangkan oleh Mirna dengan sekuat tenaganya.
"Jangan bawa anakku, dasar penculik tidak tau diri!" omel Mirna dengan berteriak.
Teriakan Mirna itu membuat tetangga disekitar datang melihat mereka. Tak ayal mereka mengerubungi Mirna dan Pandu yang sedang menggendong Emir yamg dengan tenangnya dalam gendongan Pandu tanpa terusik dengan teriakan Mirna.
"Saya bukan penculik. Saya Pandu, bapak Emir, bapaknya bayi ini," Pandu menjelaskan pada para tetangga yang dengan sigap mengerubungi Pandu.
Mendengar ucapan Pandu, Mirna segera melepaskan cengkeraman tangannya pada jaket di punggung Pandu dan Mirna segera berjalan ke hadapan Pandu.
Mirna sangat kaget ketika melihat bahwa yang dia teriaki penculik adalah Pandu. Dan segeralah dia menjelaskan pada orang-orang yang ada di depannya agar mereka tidak salah sangka pada Pandu.
"Maaf semuanya, dia memang benar Bapaknya Emir, bayi ini. Tadi saya tidak tau jika dia yang menggendong Emir pada saat saya ke belakang sebentar. Habisnya saya panik dan lihatnya dari belakang, jadi saya tidak mengenalinya," Mirna berkata dengan sungkan dan merasa tidak enak telah menimbulkan keributan.
"Owalah... Bu Mirna ini gimana, bapaknya anaknya sendiri kok gak kenal," ucap salah satu orang yang berada di sana.
"Iya, Bu Mirna ini aneh. Suami sendiri kok pangling."
"Untung dulu pas bikin anaknya gak pangling sama suaminya."
Mereka saling menyahuti meledek Mirna dengan diselingi tawa ledekan mereka.
"Oh jadi Bu Mirna gak pernah keluar dari rumah itu karena sedang hamil toh."
"Eh apa mereka sudah menikah? Kok tiba-tiba aja bayinya sudah lahir."
__ADS_1