Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 53 Labil


__ADS_3

Ustad Fariz dan Rhea turun dari kamarnya menuju ruang tamu dimana Umi Sarifah dan Pak Ratmo berada.


Mereka duduk berhadapan dengan Pak Ratmo yang sepertinya memang merasa tidak enak ketika melihat mereka berdua.


Pak Ratmo kembali meminta maaf sebagai Paman Mirna yang merasa gagal dalam mendidik dan mengingatkan Mirna. Dan Pak Ratmo juga meminta maaf mewakili keluarga Mirna dan tentunya mewakili Mirna.


"Bapak tenang saja, kami tidak akan menyalahkan Bapak atas apa yang terjadi. Ini sudah jalan yang sudah ditakdirkan untuk kami, jadi kami harus menjalaninya dengan sabar. Dan maaf Pak, saya sudah menyerah atas Mirna, maaf tidak bisa lagi menjalankan permintaan Ayah nya Mirna," ucap Ustad Fariz dengan tangannya masih menggenggam tangan Rhea agar tidak merasa bersalah.


"Bapak yakin, Ayahnya Mirna tidak akan menyalahkan Kyai," ucap Pak Ratmo untuk menenangkan Ustad Fariz agar tidak merasa bersalah.


"Ah, Bapak jangan panggil saya Kyai, panggil saja Ustad atau Fariz nama saya," Ustad Fariz sungkan jika dipanggil Kyai oleh orang yang lebih tua.


"Ah tidak sopan itu," sanggah Pak Ratmo.


"Tidak apa-apa Pak, kalau gitu panggil Ustad saja ya Pak, saya mohon," pinta Ustad Fariz.


Dan Pak Ratmo pun mengangguk setuju dengan berat hati.


"Maaf Pak tolong dijaga Mirna baik-baik, karena sebenarnya saya lebih takut jika dia nekat untuk menyakiti Rhea lagi. Maaf, bukannya saya suudzon, cuma alangkah baiknya jika kita berjaga-jaga agar hal buruk tidak terjadi," suara Ustad Jaki mengalihkan perhatian mereka.


Ustad Jaki keluar dari ruangan tengah, sedari tadi dia mendengarkan pembicaraan mereka dari ruang tengah.


"Baik Ustad, saya akan berusaha untuk membuat Mirna sadar dan mengetahui kesalahannya. Jujur saja dari semalam saya berdebat dengan Mirna, memang sungguh keras kepala sekali dia dan egoisnya dia tidak mau mengakui kesalahannya. Sampai-sampai saya menyerah semalam berdebat dengannya. Saya sampai salut dengan Ustad Fariz yang bisa berdampingan dengan Mirna selama bertahun-tahun," ucap Pak Ratmo yang diakhiri kekehannya.


Ustad Fariz hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Ratmo.

__ADS_1


"Sebenarnya udah gak tahan Pak, tapi di tahan-tahanin sama di sabar-sabarin," sahut Ustad Jaki yang sudah bergabung duduk diantara mereka.


"Huss... kamu itu Le...," Umi Sarifah menepuk punggung Ustad Jaki dan dibalas senyuman jahil oleh Ustad Jaki.


"Saya kira benar memang yang dikatakan oleh Ustad Jaki. Saya benar-benar minta maaf dan saya mau pamit undur diri dulu. Assalamualaikum....," ucap Pak Ratmo sambil berdiri.


"Wa'alaikumussalam...," ucap mereka serentak.


"Ayah sama Ibu mana ya Umi?" tanya Rhea pada Umi Sarifah.


"Ada, lagi keliling Pondok Pesantren di antar Ustad Bani dan Ustadzah Anisa. Paling juga sebentar lagi ke sini," sahut Ustad Jaki.


Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya melihat Ustad Jaki yang memegang ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Bie, kita ketemu Dokter Shinta yuk," ucap Rhea sambil tersenyum dan melirik Ustad Jaki.


"Ada apa sayang, apa ada yang sakit lagi?" tanya Ustad Fariz khawatir.


"Tuh yang sakit," jawab Rhea sambil mengarahkan dagunya ke arah Ustad Jaki.


Ustad Fariz dan Umi Sarifah tersenyum melihat wajah Ustad Jaki yang ketahuan seperti habis melakukan sesuatu.


"Kapan Ustad nikahnya?" tanya Rhea mewakili Umi Sarifah dan Ustad Fariz.


"Au ah, Shita tuh yang ngegantungin gak mau jawab dari kemarin-kemarin," jawab Ustad Jaki kesal.

__ADS_1


"Cieee... curhat....," ucap Rhea disahuti tawa semua orang yang ada di sana.


"Apaan sih, enggak... eh kok kamu tau aku ngajak nikah Shinta?" tanya Ustad Jaki heran.


"Udah kelihatan dari muka kamu," jawab Ustad Fariz sambil menutup muka Ustad Jaki dengan telapak tangannya.


"Dih, bau terasi tuh tangan," Ustad Jaki menghempaskan tangan Ustad Fariz dari wajahnya.


"Masa' sih orang tadi abis pegang Rhea terus kok. Berarti Rhea bau terasi dong. Aaah Umiiii....," ucap Rhea sambil merajuk pada Umi Sarifah dan memeluk Umi Sarifah yang ada di samping kirinya.


Ustad Fariz dan Ustad Jaki melongo dan kaget dengan perubahan sikap Rhea.


"Udah Nduk, jangan didengerin. Ustad Jaki emang begitu mulutnya ngada-ada," ucap Umi Sarifah sambil melepas sandalnya dan melemparkannya pada Ustad Jaki.


"Bro, orang hamil tuh emejing, bisa berubah-ubah gitu mood dan sikapnya," ucap lirih Ustad Jaki yang mendekat ke tempat duduk Ustad Fariz.


"Sekarang dia tambah manja. Tapi aku suka," jawab Ustad Fariz sambil terkekeh.


"Aku dengar ya semuanya," sahut Rhea yang masih merajuk di pelukan Umi Sarifah.


Sontak saja Ustad Jaki dan Ustad Fariz mengatupkan bibirnya agar tidak bicara lagi. Takutnya Ibu hamil yang satu itu akan marah.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam..."

__ADS_1


Ayah dan ibu masuk sehingga menyelamatkan Ustad Fariz dan Ustad Jaki yang sedang merasa tidak aman karena Rhea akan marah pada mereka.


"Alhamdulillah....," gumam Ustad Jaki dan Ustad Fariz bersama.


__ADS_2