Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 105 Sinyal yang salah


__ADS_3

Ustadz Jaki berhenti melangkah ketika mendengar pertanyaan dari Ustadzah Farida. Sungguh dia sangat terkejut mendengar pertanyaan itu. Hingga dia bertanya kembali karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Ustadz Jaki menoleh dan memandang sejenak Ustadzah Farida yang menatapnya dnegan raut wajah mengharap.


"Maksud Ustadzah Farida apa?" tanya Ustadz Jaki untuk memperjelas.


"Mmm... selama ini saya selalu memberi sinyal pada Ustadz Jaki. Selama ini saya mendekati Ustadz Jaki karena saya menaruh hati pada Ustadz Jaki. Apa Ustadz Jaki tidak mengerti itu?" Ustadzah Farida menanyakan apa yang ingin dia tanyakan selama ini pada Ustadz Jaki.


"Sinyal? Sinyal apa? Mendekati? Menaruh hati? Ustadzah Farida? Sama saya?" tanya Ustadz Jaki beruntun karena tak percaya dengan keberanian Ustadzah Farida yang selama ini menurutnya sangat sopan dan tidak seperti saat ini.


"Iya. Saya mendekati Ustadz Jaki dan memberi sinyal untuk memberitahukan perasaan saya selama ini. Apa Ustadz-"


"Maaf Ustadzah, sepertinya sinyalnya salah arah. Saya tidak tau apa-apa dan saya tidak merasakan apa-apa pada Ustadzah Farida. Sejak dulu saya hanya mencintai satu wanita saja, dan sekarang dia akan menjadi istri saya," Ustadz Jaki menyela ucapan Ustadzah Farida karena dia tidak mau mendengar hal yang lebih dari itu.


"Tapi saya-"


"Ustadz Jaki, sekarang kita akan pergi mengambil pesanannya," tiba-tiba suara Rhea menghentikan ucapan Ustadzah Farida yang belum selesai.


Ustadz Jaki dan Ustadzah Farida menoleh ke arah pintu yang merupakan sumber dari suara yang mereka dengar. Di sana sudah berdiri Rhea yang siap menolong Ustadz Jaki dari Ustadzah Farida.


"Sekarang?" tanya Ustadz Jaki untuk berbasa-basi.


Rhea pun mengangguk dan memasang wajah tidak tahu apa-apa agar Ustadzah Farida tidak curiga padanya.


"Ya udah, yuk berangkat," Ustadz Jaki tidak jadi masuk ke dalam ruang tengah, kini dia keluar dari ruangan tersebut mengikuti Rhea.


"Mari Ustadzah Farida. Assalamu'alaikum," Rhea menyapa Ustadzah Farida sebelum dia meninggalkannya.


Sebenarnya Ustadz Jaki tahu jika Rhea menyelamatkannya dari Ustadzah Farida, karena dia tahu sekarang Rhea dan Shinta sudah menjadi partner untuk saling melindungi.


Ustadz Jaki tersenyum di belakang Rhea dan ketika mereka berada di gazebo belakang rumah yang sudah ada Ustadz Fariz di sana, Ustadz Jaki terkekeh dan berkata,


"Hebat kamu Rhea, bisa akting seperti itu. Coba kalau gak ada kamu tadi, pasti dia ngomongnya merembet kemana-mana," ucap Ustadz Jaki ketika duduk di gazebo bersama Ustadz Fariz.


"Ada apa sih, ada yang lucu?" tanya Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki.


"Tadi Nyonya Fariz ini menyelamatkan Ustadz Jaki yang masih polos ini dari Ustadzah Farida," ucap Ustadz Jaki yang mencoba menggoda Rhea.

__ADS_1


"Polos apaan? Kalau polos gak ngebet mau malam pertama," sahut Ustadz Fariz yang membuat Ustadz Jaki merasa kalah.


"Ck, malam pertama dibawa-bawa. Beda ini urusannya. Masa' nih ya, tadi Ustadzah Farida tiba-tiba mengatakan perasaannya sama Ustadz Jaki yang polos ini. Saking polosnya nih, Ustadz Jaki sampai tidak bisa menjawab, dia bingung karena baru kali ini ada wanita yang seberani itu padanya," ucap Ustadz Jaki mencoba menceritakan kejadian tadi.


"Ck, itu sih karena Ustadz gak laku aja," jawab Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Sembarangan, jelek-jelek gini-"


"Ya emang jelek," sahut Rhea dengan cepat.


"Dasar dua nyebelin kalian. Udahlah, tadi kamu kok bisa tau aku di ruang tengah?" Ustadz Jaki berwajah kesal menanggapi Ustadz Fariz dan Rhea yang menyerangnya dengan kata-kata mereka.


Ustadz Fariz dan Rhea tertawa senang melihat Ustadz Jaki yang kesal dan tidak bisa menang dari mereka.


"Tadi, kita mau mengajak Ustadz Jaki untuk makan bakso di luar. Berhubung di dalam banyak Ustadzah yang sedang membantu, jadi aku suruh Hubby nunggu di sini. Gawat kan kalau ketemu Ustadzah Indri kayak Ustadz Jaki tadi bertemu dengan Ustadzah Farida. Lah pas aku mau ke ruang tengah malah denger Ustadzah Farida ngomong masalah sinyal. Ya udah aku dengerin aja, ternyata bener kan dugaanku," Rhea menceritakan apa yang tadi dia lakukan.


"Tau tuh, katanya dia ngirim sinyal ke aku. Lah aku gak nerima sinyalnya kok, mau apa terusan?" ucap Ustadz Jaki sambil memakan cemilan di toples yang di makan oleh Ustadz Fariz.


"Sinyalnya trouble kali Ustadz. Hahaha....," Rhea tertawa menanggapi ucapan Ustadz Jaki.


"Salah kirim tuh Ustadzah Farida. Orang modelan gak peka kayak gini pakai dikirimin sinyal," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Hahaha... iya bener, sesama orang gak peka dilarang saling mengejek Kyai," Ustadz Jaki meledek Ustadz Fariz sambil tertawa melihat Ustadz Fariz yang bermuka masam.


"Udah... udah, jadi makan bakso gak?" ucap Ustadz Fariz kesal.


"Ayo lah, kebetulan tadi aku mau nyari makanan malah ketemu sama Ustadzah Farida," jawab Ustadz Jaki.


"Eh tapi Ustadz, kok Ustadzah Farida bisa berani gitu ya? Padahal selama ini menurutku dia seperti Ustadzah Anisa yang sopan, ramah dan gak mungkin seberani itu pada ikhwan," tanya Rhea heran.


"Gak ada orang yang sama Sayang, semua orang berbeda, bahkan yang kembar siam aja beda kok. Udah yuk kita berangkat," ucap Ustadz Fariz sambil mengulurkan tangannya ke depan Rhea.


"Iya juga ya. Hehehe... ya udah yuk," ucap Rhea sambil menerima uluran tangan dari Ustadz Fariz.


"Gak usah mesra-mesraan deh, gak kasian apa sama yang di belakang ini?" Ustadz Jaki memprotes Ustadz Fariz yang merangkul pinggang Rhea ketika berjalan.


"Tahan, sebentar lagi ada gandengannya," jawab Ustadz Fariz sambil berjalan.

__ADS_1


"Dikira truk apa gandengan," celetuk Ustadz Jaki.


"Bukan, Ustadz kan-"


"Setan," Rhea menyahut ucapan Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz dan Rhea terkekeh mendapati Ustadz Jaki yang kesal dan berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Ngawur, orang ganteng gini dibilang setan," Ustadz Jaki protes pada Rhea.


"Lah kan katanya kalau dua orang laki-laki dan perempuan bersamaan yang ketiga....," Rhea menggantung ucapannya.


"Setan," jawab Ustadz Fariz meneruskan ucapan Rhea.


"Ck, udah ah gak bakalan menang aku kalau musuh kalian berdua. Tunggu pasanganku untuk melawan kalian," ucap Ustadz Jaki.


"Baik Ustadz Jaki yang terhormat," jawab Rhea.


"Eh tapi beneran loh, kok Ustadzah Farida bisa senekat dan seberani itu ya?" tanya Ustadz Jaki yang penasaran sedari tadi.


"Udah gak usah dibahas," Ustadz Fariz memutus pembahasan tentang Ustadzah Farida.


Di rumah Umi Sarifah semua Ustadzah yang membantu kembali ke Pondok Pesantren setelah pekerjaan mereka sudah selesai. Ustadzah Indri dan Ustadzah Anisa melihat Ustadzah Farida yang sepertinya menjadi diam semenjak membantu di rumah Umi Sarifah tadi.


Ustadzah Anisa mendekati Ustadzah Farida yang termenung di depan makanannya.


"Ustadzah Farida kenapa?" tanya Ustadzah Anisa ketika sudah berada di dekat Ustadzah Farida.


"Gapapa Ustadzah," jawab Ustadzah Farida disertai gelengan kepalanya.


"Kalau butuh teman berbagi cerita, saya siap Ustadzah. Seperti yang Ustadzah Farida lakukan selama ini, berbagi cerita padaku," Ustadzah Anisa berkata dengan lembut agar Ustadzah Farida nyaman bercerita dengannya.


Ustadzah Farida menoleh pada Ustadzah Anisa. Beberapa detik kemudian dia yakin jika Ustadzah Anisa bisa membantunya.


"Tadi saya mengatakan perasaan saya pada Ustadz Jaki," ucap Ustadzah Farida yang kemudian menundukkan kepalanya, dia malu melihat Ustadzah Anisa.


"Apa? Kenapa Ustadzah Farida seberani itu?" Ustadzah Anisa kaget tidak percaya dengan yang diucapkan Ustadzah Farida padanya.

__ADS_1


"Terus... terus... gimana?"


__ADS_2