
"Ustadz, apa Rhea udah bilang gak kalau dia sebenarnya mendengarkan obrolan kita pada saat di teras rumah Shinta waktu itu?" ucap Ustadz Jaki ketika duduk di ruangan kantor Ustadz Fariz.
Sontak saja Ustadz Fariz menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Ustadz Jaki.
"Benarkah? Ah pantas saja waktu itu sikapnya aneh. Mana Ustadzah Indri sekarang lebih berani nyamperin aku lagi. Huffftt....," Ustadz Fariz menghela nafasnya berat ketika berucap, dia takut istrinya akan terbebani dengan hadirnya Ustadzah Indri.
"Ustadz, aku jadi khawatir dengan Zahra. Apa kita perlu bertindak untuk memindahkan Ustadzah Indri ke Pondok Pesantren lain?" tanya Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki.
"Dipindahkan? Pindah kemana Ustadz? Apa ada yang mau menerimanya?" Ustadz Jaki memberondong Ustadz Fariz dengan beberapa pertanyaan.
"Entahlah Ustadz, aku sudah pusing hanya memikirkan itu saja. Jika mau mengeluarkan dia dari Pondok Pesantren ini pun dia harus melakukan kesalahan karena kita tidak boleh semena-mena memecat orang. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ustadz Fariz memijat kedua pelipisnya merasa pusing karena masalah sepeleh.
"Sementara ini biarkan dulu saja Ustadz, tapi beri pengertian saja pada Rhea agar dia tidak terpancing emosinya jika nanti Ustadzah Indri berulah," Ustadz Jaki menyampaikan pendapatnya.
"Hufffttt... semoga saja tidak ada kejadian yang membuat Zahra bersedih dan terbebani dengan pikirannya. Lalu, bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" ucap Ustadz Fariz mengalihkan pembicaraan dengan Ustadz Jaki.
"Alhamdullillah semuanya lancar. Tinggal menunggu hari H nya aja. Ini semua berkat mertuamu wahai saudaraku," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
"Hebat kan mertuaku?" Ustadz Fariz ikut terkekeh mendengar candaannya.
"Lebih hebat lagi menantunya, buktinya sampai pusing masalah wanita. Hahahaha...," Ustadz Jaki tertawa di sambut lemparan bolpoin oleh Ustadz Fariz ke arahnya namun sayangnya tidak bisa dihindarinya.
Bolpoin yang dilempar oleh Ustadz Fariz itu belum ditutup ujungnya, hasilnya sekarang baju koko yang dikenakan oleh Ustadz Jaki terkena coretan tinta oleh bolpoin tersebut.
"Ya kan... kena tinta nih. Ustadz sih kayak anak kecil aja main lempar-lemparan," Ustadz Jaki menggerutu sambil mengusap-usap bajunya yang terkena tinta.
Sayangnya tintanya itu malah meluber karena diusap-usap oleh Ustadz Jaki, sehingga Ustadz Fariz yang tadinya kesal padanya kini malah tertawa terbahak-bahak.
Drrrttt... drrttt... drrrttt...
Getar ponsel Ustadz Jaki membuat gerutuan Ustadz Jaki berhenti. Diambilnya ponselnya itu dari sakunya, dan tiba-tiba senyumnya mengembang ketika mata Ustadz Jaki menatap layar ponselnya.
"Hehehe... ane mau permisi pulang dulu Ustadz. Assalamu'alaikum....," Ustadz Jaki berpamitan pada Ustadz Fariz.
"Wa'alaikumussalam... Eh kenapa? Ada apa?" Ustadz Fariz kesulitan bertanya pada Ustadz Jaki karena Ustadz Jaki sudah bergegas keluar dari ruangannya.
"Ada apa sih? Ya udah ikut pulang aja habis ini, nyelesain yang ini dulu," ucap Ustadz Fariz pada dirinya sendiri.
Di ruang tamu rumah Umi Sarifah sudah ada Shinta yang sedang ditemani oleh Umi Sarifah dan Rhea. Mereka bertiga membahas tentang persiapan pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta. Memang Shinta tadi akan dijemput oleh Ustadz Jaki untuk fitting baju pernikahan mereka, namun Shinta meminta Ustadz Jaki untuk menunggu di rumah saja karena kebetulan Shinta sedang menangani banyak pasien.
"Assalamu'alaikum....," salam yang terdengar sangat ceria diucapkan oleh calon pengantin pria, Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam...," jawab mereka bertiga bersamaan dari dalam ruang tamu.
"Ya sudah Umi tinggal ke dalam dulu ya, kalian teruskan saja bicaranya," Umi Sarifah masuk untuk meneruskan pekerjaannya.
"Ustadz Fariz mana Ustadz?" tanya Rhea yang matanya sudah beredar mencari sosok suaminya.
"Masih di ruangannya. Cepetan susul sana, daripada nanti dipatok ular betina, nanti nangis....," canda Ustadz Jaki yang mendapatkan lemparan dari Rhea menggunakan kulit kacang di badan bagian depannya.
"Waduh, gak suami gak istri hobinya sama, main lempar-lemparan," Ustadz Jaki kembali mengomel sambil mengusap bagian bajunya yang terkena serpihan kulit kacang.
"Lah itu kenapa?" tanya Shinta sambil menunjuk luberan tinta yang diusap oleh Ustadz Jaki tadi.
"Suaminya itu main lempar bolpoin aja, jadi gini kan," ucap Ustadz Jaki yang tangannya masih mengusap-usap mencoba menghilangkan noda tinta tersebut dengan tisu.
"Sini aku bantu," tangan Shinta yang sudah mengambil tisu mengusap baju Ustadz Jaki yang terkena noda tinta.
"Ehemm.... belum mahram. Ingat!" Rhea memperingatkan dengan mengacungkan jari telunjuknya.
"Ck, iya... iya Bu Nyai. Silahkan susul saja Kyai Fariz yang terhormat di singgasananya," Ustadz Jaki berdiri sambil mengarahkan telapak tangannya ke pintu keluar untuk mempersilahkan Rhea keluar dari ruangan tersebut.
Rhea tersenyum melihat tingkah Ustadz Jaki yang tidak bisa di duga, tapi bisa selalu membuat ramai suasana.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustadz Jaki dan Shinta serentak.
"Itu tadi bagaimana bisa sampai seperti itu baju-"
"Eits, awas ati-ati, belum mahram," suara Rhea yang tiba-tiba kembali masuk menyela ucapan Shinta.
"Cerewet. Iya... iya... ngapain balik?" ucap Ustadz Jaki kesal.
"Gapapa, cuma pengen balik aja, lihat kalian melanggar atau tidak. Hehehe...," ucap Rhea yang tertawa sambil tersenyum lebar.
"Sekalian aja jadi satpam di sini," ucap Ustadz Jaki yang masih kesal.
"Gak mau ah, masa' ada satpam cantik gini? Lagian turun jabatan dong, gak asyik ah, masa' habis jadi Ibu negara, terus jadi Bu Nyai, eh langsung anjlok jadi satpam. Ckckck... terlalu...," Rhea menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah beneran udah ketularan somplak nih bumil," sahut Shinta yang heran melihat Rhea berdebat dengan Ustadz Jaki.
"Ketularan siapa?" tanya Rhea bingung.
"Nih... siapa lagi yang rada'-rada' somplak disini," Shinta menunjuk Ustadz Jaki yang malah kaget karena arah telunjuk Shinta mengarah padanya.
__ADS_1
"Hahaha... bener Shin, calon suamimu somplak," ucap Rhea yang setelah itu langsung berjalan keluar sambil tertawa.
Rhea tertawa kecil disepanjang perjalanan ke ruangan suaminya. Namun tawanya itu berhenti ketika Rhea melihat Ustadzah Indri yang duduk berada di luar ruang pengajar. Entah apa yang ditunggunya atau ada keperluan apa hingga dia berada di sana, Rhea tidak mau tahu. Dia terus saja berjalan menuju ruangan suaminya.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum....," Rhea mengucap salam yang langsung disambut oleh suaminya.
Ceklek!
"Wa'alaikumussalam... Sayang, baru aja aku mau pulang. Eh tapi aku senang kamu menjemputku ke sini," ucap Ustadz Fariz yang kemudian menutup pintu ruangannya dan merangkul pinggang istrinya untuk berjalan bersamanya.
Tampak Ustadzah Indri memperhatikan mereka dari tempatnya berada. Rhea dan Ustadz Fariz tahu, namun mereka pura-pura tidak tahu. Mereka berbicara disepanjang perjalanan dan tertawa, ternyata mereka saling menceritakan tentang Ustadz Jaki.
Tanpa sadar tangan Rhea melingkar di pinggang Ustadz Fariz dan Ustadz Fariz pun semakin erat memeluk pinggang Rhea. Mereka tidak bermaksud untuk memperlihatkan kemesraan mereka pada Ustadzah Indri, hanya saja tanpa sadar mereka melakukannya karena asyiknya menertawakan cerita tentang Ustadz Jaki.
Ustadzah Indri memang melihat mereka berdua, tapi entahlah apa yang ada dipikirannya, dia hanya terdiam melihat ke arah sepasang suami istri itu yang berjalan dengan mesra dan bahagia.
Acara fitting baju pernikahan Shinta dan Ustadz Jaki memang diundur oleh Ustadz Jaki beberapa jam lagi karena tadi Shinta masih banyak pasien yang harus ditanganinya. Oleh karena itu Shinta dan Ustadz Jaki masih berada di rumah untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka. Tiba-tiba Shinta teringat sesuatu, dia teringat Mirna yang datang untuk periksa padanya.
"Jaki, tadi Bu Mirna ke rumah sakit," ucap Shinta secara tiba-tiba.
"Mbak Mirna? Ngapain? Dia hamil?" tanya Ustadz Jaki heran.
"Ngawur kamu. Bu Mirna sakit mioma," Shinta memukul ringan lengan Ustadz Jaki.
"Miom? Apa karena itu dia susah hamil selama ini?" tanya Ustadz Jaki ingin tahu.
"Sepertinya iya. Hanya saja dia terasa sakitnya sekarang. Kasihan ya dia pas udah cerai malah tau sakitnya, gak ada yang support dia sebagai orang terdekatnya," ucap Shinta dengan menerawang saat Mirna diantar oleh wanita yang lebih muda darinya.
"Sudahlah kamu gak usah merasa kasihan pada nasibnya, cukup kasihani dia sebagai pasienmu saja," Ustadz Jaki memberikan Shinta saran.
Tanpa disadari oleh Ustadz Jaki dan Shinta, Ustadz Fariz dan Rhea sudah ada di depan pintu hendak mengucap salam namun mendengar percakapan mereka tentang Mirna membuat Ustadz Fariz dan Rhea menghentikan langkah dan salamnya.
"Bie...," Rhea kaget mendengar penuturan Shinta tentang Mirna.
Ustadz Fariz menahan tubuh Rhea yang terasa lemas karena mendengar berita tentang penyakit Mirna.
Seketika Ustadz Jaki dan Shinta menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara di depan pintu.
"Rhea?!" ucap Ustadz Jaki dan Shinta bersamaan dengan ekspresi kaget dan tidak percaya.
__ADS_1