
Umi Sarifah dan Rhea sedang menunggu Ustad Fariz dan Ustad Jaki di ruang tengah sambil menonton TV dan memakan camilan serta kue buatan Rhea. Umi Sarifah menikmati secangkir teh dengan kue yang tersaji di atas meja. Sedangkan Rhea meminum susu hamil sambil menikmati kue buatannya.
Tiba-tiba ada suara pintu dibuka dengan kasar dan dibanting serta wanita yang berteriak memanggil-manggil nama Rhea.
Brak!!!
"Rhea! Dimana kamu? Dasar wanita tidak tau diri! Beraninya kamu mempermalukanku! Beraninya kamu menyingkirkanku! Keluar kamu, dasar pengecut!" Mirna masuk ke rumah Umi Sarifah tanpa permisi dan langsung berteriak-teriak di dalam rumah memanggil Rhea dan mencaci makinya.
Umi Sarifah dan Rhea kaget sewaktu pintu dibanting oleh seseorang, namun Rhea menghela nafasnya panjang berkali-kali untuk menetralkan detak jantungnya dan menenangkan hatinya.
Umi Sarifah mengambil tangan Rhea dan mengangguk padanya, kemudian keluar ke ruang tamu menemui Mirna yang masih belum berhenti mengomel.
"Oh ini orangnya, sok kecantikan banget sih jadi orang? Gini caramu menyingkirkan aku? Kamu itu orang ketiga dalam rumah tanggaku bersama Mas Fariz, jadi harusnya kamu yang keluar dari sini, kamu yang harusnya menghilang dari sini, bukannya aku. Dasar wanita tak tau diri! Wanita tak tau diuntung!" Mirna mencaci maki Rhea beruntun, sepertinya Mirna sudah latihan pernafasan, sehingga saat mengomel pun dia seperti lupa bernafas, mirip seperti petasan yang dinyalakan tanpa berhenti, atau mungkin juga dia sudah berlatih untuk menjadi rapper.
Mata Rhea sudah berkaca-kaca dan dia selalu menggeleng tiap dia mendengar kalimat yang dituduhkan untuknya dan setiap ucapan yang menyudutkannya dari mulut Mirna.
"Tidak Mbak, aku tidak melakukan apa-apa," Rhea menyangkal semua tuduhan yang ditujukan untuknya.
"Halah sok suci! Sok baik!" teriak Mirna kesal mendengar jawaban dari Rhea.
"Astaghfirullahaladzim Mirna, kamu kenapa jadi seperti ini? Apa salah Rhea sama kamu? Rhea tidak pernah menyakiti kamu," Umi Sarifah berseru pada Mirna.
"Umi memang pilih kasih, selama ini hanya dia yang Umi sayang, hanya dia yang Umi bela. Kalian semua tidak adil. Kenapa harus aku yang keluar dari sini? Kenapa bukan dia?" Mirna berteriak histeris tidak terima dengan nasibnya.
Bulir air mata Rhea menetes di pipinya pada saat Umi Sarifah memeluknya ketika Mirna berteriak histeris.
"Umi tidak pernah pilih kasih Mbak Mirna, Umi juga menyayangi Mbak Mirna sama seperti sayang dengan semuanya," Rhea membela Umi Sarifah dihadapan Mirna.
__ADS_1
"Lalu mengapa Umi diam saja ketika Mas Fariz menceraikan aku? Jika memang benar Umi menyayangiku, pasti Umi akan menghalangi Mas Fariz menceraikan aku. Tapi ini apa, aku malah diceraikan dan kalian semua bahagia dengan kehadiran wanita pengganggu ini!" Mirna menunjuk muka Rhea dengan tatapan bengis.
"Tutup mulut kamu Mirna!" Ustad Fariz berteriak dari arah pintu masuk dengan nafas ngos-ngosan.
Ustad Fariz dan Ustad Jaki berlari tergopoh-gopoh karena Mbak Atik berlari menyusul Ustad Fariz dan Ustad Jaki untuk memberitahu jika Mirna saat ini sedang mengamuk di rumah Umi Sarifah dengan berteriak memaki Rhea.
Ternyata ketika mereka sampai di sana, bukan hanya Rhea saja yang di maki dan menjadi sasaran kemarahan Mirna, ternyata Umi Sarifah pun juga ikut disalahkan oleh Mirna atas apa yang dia alami saat ini.
Mirna menoleh ke belakang dimana sumber suara berasal. Mirna mendekati Ustad Fariz dan berniat mengambil tangannya seperti biasanya. Namun Ustad Fariz segera menarik tangannya dan mundur satu langkah untuk menjauh dari Mirna.
"Maaf, kita bukan suami istri lagi," Ustad Fariz berjalan menuju Rhea dan Umi Sarifah.
"Ini balasanmu padaku Mas selama bertahun-tahun aku menjadi istrimu? Selama bertahun-tahun aku melayanimu?" pertanyaan Mirna membuat langkah kaki Ustad Fariz terhenti dan berbalik melihat ke arahnya.
"Aku sangat berterima kasih padamu Mirna telah menemaniku selama beberapa tahun ini, tapi maaf aku tidak bisa mendidik kamu, aku gagal mendidikmu menjadi istri yang shalihah, sikap dan sifat kamu bukannya bertambah baik malah bertambah buruk. Dan kamu tidak pernah menghargaiku dan menghormatiku selama menjadi suamimu," Ustad Fariz menghela nafasnya, dia sangat menyesalkan keadaan ini.
"Jadi dia istri shalihah? Mana ada wanita shalihah yang mengganggu ketentraman rumah tangga orang lain? Jika dia wanita shalihah, dia pasti tidak mau membuat wanita lain menderita, seperti aku saat ini," Mirna bertambah kesal mendengar perkataan Ustad Fariz tentang dirinya.
"Setelah kamu mendapatkan cinta pertamamu kau tinggalkan aku Mas, kamu membuangku seolah aku tidak berguna lagi. Apa karena dia lebih muda dan lebih cantik dari aku?" sahut Mirna yang masih tidak terima.
"Mirna, kamu keterlaluan! Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Kamu yang membuat semua ini terjadi, kamu yang menggali lubang untuk dirimu sendiri terperosok ke dalamnya. Jangan salahkan orang lain untuk apa yang terjadi padamu," marah sudah Ustad Fariz, kini dia sudah tidak bisa menahan emosinya yang sedari tadi disebabkan oleh Mirna.
"Mirna, ayo sudah kita pulang," Pak Ratmo menarik tangan Mirna hingga Mirna terseret, namun Mirna masih berusaha bertahan agar tubuhnya tidak ikut terseret oleh Pak Ratmo.
Tadinya Pak Ratmo tidak tahu jika Mirna berada di rumah Umi Sarifah. Pak Ratmo mengira jika Mirna tadi berlari pulang karena malu. Ternyata ketika Pak Ratmo berjalan pulang, dia mendapat telepon dari Ustad Jaki yang mengatakan bahwa Mirna sedang membuat keributan di rumah Umi Sarifah.
Langsung saja Pak Ratmo berlari menuju rumah Umi Sarifah untuk menghentikan perbuatan Mirna dan segera mengajaknya pulang.
__ADS_1
"Tapi Paman aku masih belum selesai, aku masih ingin bertanya pada Mas Fariz," Mirna mempertahankan kedua kakinya agar tidak terseret oleh Pak Ratmo.
"Semua sudah selesai Mir, ayo kita pulang. Jangan lagi kamu mempermalukan dirimu sendiri," Pak Ratmo masih berusaha menarik tubuh Mirna.
"Pulanglah Mirna bersama Pamanmu. Dan aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh lagi. Jangan kamu mengusik kami lagi Mir. Sadarlah dan bertaubatlah!" Ustad Fariz membalikkan badannya akan berjalan meninggalkan Mirna.
Namun dia kembali berbalik mengahadap Mirna karena ingin menyampaikan sesuatu pada Mirna.
Wajah Mirna yang tadinya kesal berubah menjadi sumringah, bibirnya tersenyum tatkala melihat Ustad Fariz kembali berbalik dan membuka mulutnya, dia mengharapkan Ustad Fariz ingin mengajaknya kembali ke rumahnya.
"Oh iya Mirna, kamu kan pernah menjadi bagian dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, jadi tolong jangan membuat nama Pondok Pesantren Al-Mukmin menjadi jelek di mata masyarakat," kemudian Ustad Fariz berbalik kembali dan berjalan tanpa menunggu jawaban dari Mirna.
"Kenapa Mas, kenapa kamu berbuat seperti ini padaku? Aku tidak akan terima diperlakukan seperti ini! Mas Fariz ayolah kembalikan aku menjadi istrimu seperti dulu. Mas... Mas...," Mirna sudah berhasil ditarik keluar rumah oleh Pak Ratmo.
Ustad Fariz sudah berada di dekat Rhea dan Umi Sarifah. Dan kini Rhea sudah beralih dari pelukan Umi Sarifah ke dalam pelukan Ustad Fariz. Sedangkan Ustad Jaki berjalan menghampiri mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Mirna yang masih saja mengeluarkan makiannya ketika sudah berada di luar rumah Umi Sarifah dengan keadaan tangannya di tarik oleh Pak Ratmo menuju rumahnya.
"Sayang, kamu gapapa kan? Tolong jangan dengarkan dan jangan masukkan hati semua perkataan Mirna tadi," Ustad Fariz menghapus jejak air mata Rhea dengan tangannya.
"Iya, semua sudah selesai, kamu tidak perlu khawatir lagi karena semua orang di luaran sana sudah mengetahui yang sebenarnya," sambung Ustad Jaki kemudian.
"Apa sudah beres Le?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Fariz dan Ustad Jaki.
"Alhamdulillah Umi, semua sudah selesai, tinggal sidangnya aja beberapa hari lagi," Ustad Fariz menjawab pertanyaan Umi Sarifah.
"Sempat tegang sih Umi tadi. Pasti Umi taulah bagaimana mantan istri Ustad Fariz itu. Sama seperti tadi, jadi lama debatnya. Wuiih pokoknya seru deh Umi," canda Ustad Jaki untuk mencairkan suasana.
"Coba ceritakan," Umi Sarifah mencoba mengalihkan pikiran Rhea agar tidak bersedih lagi.
__ADS_1
Kemudian Ustad Jaki menceritakan semua kejadian sesuai yang terjadi tadi ketika mereka sudah duduk di ruang tengah. Dengan semangatnya Ustad Jaki menceritakannya sambil mengunyah kue buatan Rhea yang tersaji di meja.
"Bie, apa aku tinggal di rumah Ibu aja sementara?"