
Hari-hari pun berlalu, Ustadz Jaki masih saja dengan perhatian ekstra dan pengawalan ketatnya. Shinta sudah mulai terbiasa dengan hal itu, sehingga dia malah menikmatinya, menikmati perhatian lebih dari suaminya, menikmati kasih sayang berlebih dari suaminya dan menikmati larangan-larangan yang berlebihan menurutnya.
Malam ini Shinta tiba-tiba ingin sekali makan belut goreng yang masih fresh. Dia melirik suaminya yang sedang membaca kitab di dekatnya.
Ngomong gak ya? Tapi kalau gak ngomong, aku jadi kebayang terus. Tapi kira-kira dia mau gak ya? Shinta bertanya-tanya dalam hatinya.
"Sayang.... Suamiku....," Shinta memanggil Ustadz Jaki dengan suara mendayu-dayu.
Ustadz Jaki menyudahi bacanya dan menutup kitabnya setelah istrinya memanggilnya dengan suara yang membuatnya terpancing. Dia kaget karena tiba-tiba istrinya itu sudah berada di pangkuannya dengan duduk menyamping. Kedua tangannya melingkar di leher Ustadz Jaki. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin Shinta berkata,
"Sayang.... aku pengen.... mmm...," Shinta ragu-ragu mengatakannya.
Dengan sigap Ustadz Jaki berdiri dan menggendong istrinya menuju ranjang mereka. Kemudian dengan gerakan yang sangat lambat Ustadz Jaki merebahkan tubuh Shinta dan wajahnya mulai mendekat pada wajah Shinta.
"Loh... loh... sebentar, ini mau ngapain?" tanya Shinta yang sedang bingung karena keinginannya belum selesai diberitahukan pada suaminya.
"Lah kan tadi ngomongnya pengen," jawab Ustadz Jaki dengan senyum jahilnya.
"Ya emang lagi pengen-"
"Ya udah yuk..," ucap Ustadz Jaki sambil mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Shinta.
"Tapi bukan pengen yang ini," ucap Shinta sambil mendorong dengan perlahan tubuh Ustadz Jaki yang sedang mengungkungnya di atas tubuhnya.
"Hah? Lah terus pengen apa?" tanya Ustadz Jaki sambil mengganti posisinya menjadi duduk.
"Pengen... mmm... pengen... belut," jawab Shinta malu-malu dengan mengalihkan pandangan matanya dari wajah Ustadz Jaki kemudian dia menunduk.
Namun pandangan menunduk Shinta disalah artikan oleh Ustadz Jaki. Dia melihat bawahnya. Dia pikir Shinta melihat belut yang berada dalam sarungnya.
"Oooh pengen ini," Ustadz Jaki berdiri dan tangannya bergerak membuka lipatan sarungnya.
"Eee... eeeh... ngapain?" tanya Shinta bingung.
"Lah katanya pengen belut," jawab Ustadz Jaki yang menghentikan gerakan tangannya untuk membuka lipatan sarungnya.
"Iya, terus itu ngapain?" tanya Shinta kembali.
"Belut yang ini kan?" tanya Ustadz Jaki sambil melihat ke bawah, ke arah sarungnya.
"Ngaco! Bukan itu iiih... belut sungguhan, belut beneran, belut yang masih hidup terus digoreng. Ya... ya... aku pengen itu suamiku...," Shinta berucap manja agar suaminya mau mengabulkan keinginannya.
"Belut goreng? Ok, kita beli di warung yang di ujung jalan aja ya. Mau makan di sana apa di rumah aja?" ucap Ustadz Jaki sambil melipat kembali sarungnya.
"Emmm... maunya yang masih hidup, terus kamu yang gorengin di rumah," jawab Shinta dengan memandang Ustadz Jaki dengan mata puppy eyes nya.
__ADS_1
"Hah, masih hidup? Terus aku harus beli di mana Sayang malam-malam begini? Gak ada pasar yang buka jual belut hidup jam segini. Kita beli di warung aja ya, sama aja kok rasanya," Ustadz Jaki mencoba membujuk istrinya.
"Enggak, pokoknya mau yang hidup. Titik," kini wajah Shinta berubah menjadi kesal, bibirnya maju ke depan membuat Ustadz Jaki semakin gemas melihatnya.
Ustadz Jaki mendekat karena gemas dengan istrinya, dia ingin mencicipi bibir yang dimajukan itu.
"Eh, mau ngapain?" ucap Shinta dengan telapak tangan yang menutup mulutnya.
"Mau nyicipin dikit itu tadi yang di maju-majuin gini," jawab Ustadz Jaki sambil memajukan bibirnya menirukan Shinta ketika kesal tadi.
"Enggak mau sebelum dapat belutnya," jawab Shinta sambil memunggungi Ustadz Jaki.
Kini Shinta duduk menghadap tembok yang berada di punggung ranjang sambil membuat garis abstrak di tembok dengan jarinya, mirip sekali dengan anak kecil yang sedang ngambek sambil berkata,
"Pokoknya gak mau tau. Pokoknya mau belut yang masih hidup. Pokoknya mau makan itu."
Mulut Ustadz Jaki terbuka, melongo melihat tingkah istrinya yang tidak biasanya. Shinta yang biasanya terlihat dewasa dan berpikiran luas, kini mirip sekali dengan seorang bocah.
Apa ini bawaan bayi ya? Ustadz Jaki bertanya dalam hatinya karena dia takut disemprot oleh istrinya jika menanyakannya pada istrinya.
"Sebentar, aku tanya Umi dulu ya. Barangkali Umi tau di mana bisa beli belut hidup jam segini," ucap Ustadz Jaki.
"Aku ikuuuut...," Shinta turun dari ranjang dan berjalan cepat mengikuti suaminya.
Di ruang tengah tampak Umi Sarifah sedang bermain bersama Baby Izam yang baru saja terbangun ketika Abi dan Bundanya akan melakukan ritualnya. Dan berakhirlah Ustadz Fariz dan Rhea di ruang tengah bersama Baby Izam dan Umi Sarifah.
"Bukannya masih melek, tapi baru aja kebangun," jawab Rhea.
"Kok bisa? Pasti kalian krasak krusuk ya? Mangkanya kalem aja biar Izam gak denger," Ustadz Jaki meledek Ustadz Fariz dan Rhea.
"Enggak tau tuh, firasatnya tajam bener," jawab Ustadz Fariz membenarkan perkataan Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Jaki tertawa mendengar jawaban dari Ustadz Fariz. Dan lucunya Baby Izam malah ikut tertawa ketika mendengar Ustadz Jaki tertawa.
Rhea menggelengkan kepalanya dan menatap tajam suaminya, sedangkan Ustadz Fariz tersenyum lebar karena merasa keceplosan mengatakan pada Ustadz Jaki. Kemudian Ustadz Fariz menatap tajam Ustadz Jaki yang sedang menertawakannya. Dan Umi Sarifah, tentu saja dia tersenyum untuk menahan tawanya, sama seperti Shinta.
"Kalian sendiri mau ke mana?" tanya Umi Sarifah untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya Umi, di mana orang jual belut hidup jam segini Umi?" Ustadz Jaki baru ingat akan tujuannya.
"Belut hidup? Buat apa?" tanya Umi Sarifah yang heran dengan pertanyaan dari Ustadz Jaki.
"Shinta mau makan belut goreng, tapi mintanya yang masih hidup terus Jaki yang goreng sendiri," jawab Ustadz Jaki.
"Jam sembilan malam ya sekarang, di mana ya? Sepertinya udah tidak ada yang jual belut hidup jam segini Le," jawab Umi Sarifah sambil memikirkan tempat yang menjual belut hidup.
__ADS_1
"Cari aja di sungai belakang Pondok Pesantren, pasti nyemplung sebentar langsung dapat belutnya," sahut Ustadz Fariz memberikan pendapatnya.
"Huss... gak usah ngadi-ngadi deh. Ngasih saran itu yang lurus-lurus aja, gak usah menyesatkan," Ustadz Jaki mengomel pada Ustadz Fariz.
"Ah iya bener, cari di sungai belakang aja Sayang," Shinta menyetujui pendapat dari Ustadz Fariz.
Seketika mata Ustadz Jaki melotot dan mulutnya sedikit terbuka. Dia tidak mengira jika istrinya menyetujui pendapat dari Ustadz Fariz yang pastinya berniat menjahilinya.
"Udah malam Sayang... gelap...," ucap Ustadz Jaki memohon pada Shinta.
"Tapi aku pengeeeeen... ya... ya.. ya... mau ya...," Shinta kembali merengek pada Ustadz Jaki.
"Enggak," jawab Ustadz Jaki dengan tegas.
"Iya," sahut Shinta tak kalah tegas dengan Ustadz Jaki.
"Enggak."
"Iya."
"Enggak."
"Ya udah, aku ngambek pokoknya. Bye!" ucap Shinta sambil berjalan menuju kamarnya.
Ustadz Fariz dan Rhea tertawa melihat perdebatan Ustadz Jaki dan Shinta layaknya kakak dan adik yang masih kecil sedang berdebat. Umi Sarifah ikut tertawa namun tidak sekeras Ustadz Fariz dan Rhea.
"Udah Le sana cariin belut, daripada anakmu ngiler," ucap Umi Sarifah yang sebenarnya hanya ingin agar Ustadz Jaki mau menuruti ngidamnya Shinta.
"Udah cepetan cari belutnya. Mau tuh belut gak dapat jatah gara-gara belut hidup?" ledek Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki dengan melihat belut Ustadz Jaki yang berada di balik sarungnya.
"Ck, masa' sendirian sih? Ayo temenin. Kita kan selalu berjuang bersama," Ustadz Jaki menggeret tangan Ustadz Fariz dengan kencang sehingga mau tidak mau Ustadz Fariz mengikutinya.
"Umi... kita berangkat cari belut. Asaalamu'alaikum...," teriak Ustadz Jaki sambil berjalan menuju pintu.
"Eh.. eh sebentar, wadahnya," seru Rhea mengikuti mereka berdua.
"Oh iya, tolong dong Bundanya Izam ambilkan wadahnya ya," ucap Ustadz Jaki dengan nada semanis mungkin.
Tak lama kemudian Rhea memberikan wadah untuk belut tangkapan mereka nanti dan tak lupa juga membawakan senter untuk mereka berdua.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Do'akan agar belutku juga selamat saat pulang nanti supaya kita bisa meneruskan yang tadi setelah Izam tidur," ucap Ustadz Fariz pada Rhea sebelum tangannya kembali ditarik oleh Ustadz Jaki.
Sekitar satu jam Shinta menunggu di kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Ustadz Jaki ke dalam kamar tersebut dengan tampilan yang tidak rapi. Sarungnya tidak serapi seperti sebelumnya karena efek mencari belut di sungai tadi.
"Sayang, ini belutnya gede kan?" ucap Ustadz Jaki sambil memperlihatkan belut ditangannya ke atas dan sangat kebetulan sekali sarung Ustadz Jaki melorot ke bawah, sehingga pandangan Shinta terbagi antara belut yang dipegang Ustadz Jaki dan belut milik suaminya.
__ADS_1
"I-itu belutnya....," ucap Shinta sambil menunjuk belut milik suaminya.
"Gede kan?" ucap Ustadz Jaki dengan percaya diri dan senyum lebarnya, dia tidak merasa jika sarungnya sudah jatuh ke lantai.