
Tiba-tiba Ustadzah Indri berada di dekat mereka dan menanyakan kelanjutan cerita dari Ustadzah Farida dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ustadzah Indri ini datang-datang ngagetin," ucap Ustadzah Anisa yang merasa kesal, karena tidak mungkin dia bisa memberikan pendapatnya pada Ustadzah Farida jika Ustadzah Indri selalu saja menyuruhnya untuk melakukan seperti yang dia lakukan.
"Kan pengen tau juga Ustadzah," jawab Ustadzah Indri sambil menata kembali posisi duduknya agar nyaman ketika mendengarkan Ustadzah Farida bercerita.
"Terus bagaimana Ustadzah Farida jawabannya?" tanya Ustadzah Indri penasaran.
"Katanya selama ini dia tidak tau apa yang aku rasakan padanya dan dia mengatakan bahwa dia mencintai calon istrinya," jawab Ustadzah Farida lirih dengan menahan rasa sakit di hatinya.
"Sudah Ustadzah, sudah. Cukup sudah usaha Ustadzah Farida selama ini. Ikhlaskan saja rasa itu, perlahan nanti pasti akan hilang dan nantinya pasti ada rasa yang baru untuk lelaki lain," ucap Ustadzah Anisa sambil mengusap-usap punggung Ustadzah Farida.
"Jadi beneran udahan nih Ustadzah Farida? Saya gak punya partner perjuangan lagi dong," ucap Ustadzah Indri.
"Ustadzah Indri juga harus nyerah, karena sasarannya sudah pasti akan menolak tanpa harus berpikir terlebih dahulu," jawab Ustadzah Anisa.
"Ck, belum juga bertindak Ustadzah, masa' udah disuruh nyerah," jawab Ustadzah Indri merasa keberatan.
"Ustadzah Farida jadi begini sekarang karena Ustadzah Indri yang selalu mendorongnya untuk berani menyatakan perasaannya. Dan sekarang setelah tau jawabannya jadi lebih sakit hati kan. Daripada sakit hati seperti ini, harusnya mengikhlaskan saja rasa itu, pasti nanti akan terganti dengan rasa yang baru," ucap Ustadzah Anisa sedikit kesal.
"Tapi-"
"Maaf Ustadzah, saya mau ke kamar dulu. Assalamu'alaikum...," Ustadzah Farida memotong ucapan Ustadzah Indri dan beranjak dari kursinya.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustadzah Anisa dan diikuti oleh Ustadzah Indri.
"Saya juga permisi dulu Ustadzah. Assalamu'alaikum...," ucap Ustadzah Anisa seraya beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Ustadzah Indri sendiri di meja tersebut.
"Kok pada gak makan sih? Ustadzah Anisa, gak makan dulu?" seru Ustadzah Indri bermaksud menghentikan Ustadzah Anisa tanpa menjawab salamnya terlebih dahulu.
Ustadzah Anisa tetap berjalan pergi meninggalkan Ustadzah Indri tanpa menoleh ataupun menjawab pertanyaan yang diserukan Ustadzah Indri padanya.
Akhirnya Ustadzah Indri meneruskan makannya sendirian di meja tersebut karena meja yang lain sudah terisi dengan Ustadzah yang lain.
Hari ini, hari yang paling dinantikan oleh Ustadz Jaki. Hari bersejarah bagi Ustadz Jaki dan Shinta untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan mereka. Hari dimana Ustadz Jaki mengucapkan janji suci pada Shinta untuk dijadikannya sebagai istrinya.
Shinta begitu cantik dan anggun menggunakan pakaian pengantin berbalut hijab berwarna putih. Demikian juga Ustadz Jaki yang memakai pakaian pengantin berwarna senada.
"Santai... Rileks Ustadz. Ingat nanti malam mau ngapain biar gak tegang saat ijab kabul," canda Ustadz Fariz untuk menenangkan Ustadz Jaki yang terlihat tegang dari raut mukanya saat ini.
__ADS_1
"Ah Ustadz bisa aja. Kalau ingat itu langsung jadi pengen ngamar aja gak usah pesta-pestaan," jawab Ustadz Jaki malu-malu.
"Ngamar aja pikirannya. Udah siap belum?" tanya Ustadz Fariz yang tiba-tiba bersikap serius karena ustadz-ustadz yang lain sudah berada di dekat mereka.
"Eh iya. Ustadz Fariz sih ngomongin malam pertama aja, kan pikiranku jadi traveling," bisik Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz.
Kemudian Ustadz Fariz mendampingi Ustadz Jaki ketika mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu. Sedangkan Rhea menemani Shinta di dalam kamar pengantin yang sudah dihias indah seperti kamar pengantin pada umumnya.
Rhea mengajak Shinta mengobrol agar Shinta tidak merasa tegang hingga terdengar suara yang mengatakan kata 'sah' serentak yang mengagetkan Rhea dan Shinta. Umi Sarifah dan Mama Shinta menjemput Shinta untuk keluar dari kamar menuju tempat ijab kabul berada.
"Alhamdulillah..," ucapan itu keluar dari semua orang yang mendengarkan kata sah dari penghulu yang menikahkan mereka.
Senyum kebahagiaan merekah pada bibir Ustadz Jaki dan Shinta ketika mereka bertemu setelah Ustadz Jaki mengucapkan ijab kabul.
Ustadz Jaki mengulurkan tangannya untuk dicium oleh Shinta, namun Shinta merasa malu karena dia melihat banyak orang yang tersenyum melihat mereka.
"Ayo Shin, buruan. Tangan suamimu ini sudah pegal Shinta," ucap Ustadz Jaki yang membuat Shinta bertambah malu karena menyebut kata suami di depan orang banyak.
Dengan malu-malu Shinta meraih tangan Ustadz Jaki dan menciumnya. Setelah itu Ustadz Jaki meraih kepala Shinta dan mencium keningnya.
"Ssst... nyosor aja, udah doa belum?" bisik Ustadz Fariz yang berada di dekat Ustadz Jaki.
Ustadz Fariz, Rhea dan Umi Sarifah menggeleng dan tersenyum geli melihat Ustadz Jaki yang sangat bahagia hari ini.
Di belakang deretan para Ustadzah, Ustadzah Farida tersenyum getir merasakan sakit hatinya kembali melihat Ustadz Jaki mengucapkan ijab kabul untuk wanita lain dengan lantang dan lancar, dan air matanya sedikit menetes ketika melihat pengantin wanita itu mencium tangan Ustadz Jaki dan Ustadz Jaki mencium kening istrinya.
Air matanya yang sedikit menetes itu segera diusap oleh Ustadzah Farida ketika Ustadzah Anisa menyadarinya.
"Ustadzah, balik ke kamar aja yuk, atau kita ke tenda saja bantu-bantu di sana," Ustadzah Anisa mengajak Ustadzah Farida pergi dari tempat tersebut.
Sedangkan Ustadzah Indri selalu melihat Ustadz Fariz yang tidak lepas dari istrinya. Mereka selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi sehingga tidak ada kesempatan bagi Ustadzah Indri untuk sekedar menyapa Ustadz Fariz.
Setelah itu pesta berlangsung tak kalah meriah dengan pesta pernikahan Ustadz Fariz dan Rhea kala itu. Banyak para Ulama dan warga sekitar yang hadir dalam acara tersebut.
Ketika Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki, Shinta dan Umi Sarifah selesai berfoto bersama, mereka di datangi oleh seseorang.
"Wah...wah Ustadz Jaki jadi nikah sama wanita pilihannya nih? Pantas saja Bapak jodohkan dengan anak Bapak gak mau, rupanya ini pilihannya. Pinter milihnya, cantik, dokter lagi. Selamat ya Ustadz," ucap Pak Gunadi ketika bersalaman dengan Ustadz Jaki.
Pak Gunadi merupakan donatur tetap di Yayasan panti asuhan milik Pondok Pesantren Al-Mukmin.
__ADS_1
"Makasih Pak," ucap Ustadz Jaki singkat, dia tidak tahu harus berkata apa di depan istrinya.
"Selamat Umi sudah mempunyai menantu lagi. Ternyata kita tidak jadi berbesan, habisnya anak-anak Umi dua-duanya menolak perjodohan dengan anak saya," ucap Pak Gunadi ketika berada di depan Umi Sarifah untuk memberikan selamat.
"Bukan jodohnya Pak," jawab Umi Sarifah sambil terkekeh.
"Mungkin kalau diantara mereka berdua ingin poligami bisa dijodohkan dengan putri saya Umi nanti. Itu putri saya, cantik kan Umi," ucap Pak Gunadi sambil terkekeh dan menunjuk seorang wanita yang duduk tidak jauh dari mereka.
Sontak saja Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki saling memandang dan menggelengkan kepalanya ketika melihat istri mereka menatap horor pada mereka.
"Tidak akan Pak, cukup satu saja," jawab Ustadz Fariz.
"Iya Pak, baru aja nikah masa' poligami. Satu aja gak habis Pak, gak akan nambah lagi," ucap Ustadz Jaki menambahi ucapan Ustadz Fariz.
Pak Gunadi terkekeh mendengar jawaban dari Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki, yang sepertinya mereka ketakutan melihat istrinya.
"Baiklah, saya tinggal ke sana dulu menemani putri dan istri saya," ucap Pak Gunadi sebelum berjalan menuju tempat anak dan istrinya duduk.
"Shin, gawat. Kenapa banyak orang yang menginginkan suami kita?" bisik Rhea di telinga Shinta.
"Iya, kayak gak ada laki-laki lain aja. Lagian apa istimewanya suami kita coba," Shinta berbisik pada Rhea dengan nada kesal.
"Oh jelas istimewa dong suamiku. Kamu mau suamimu yang menurutmu gak istimewa jadi milik wanita lain?" Rhea kembali berbisik pada Shinta.
"Jangan dong, baru aja nikah masa' jadi janda. Lagian kalau gak istimewa mana mau aku sama dia," Shinta balas berbisik pada Rhea.
"Kalian ngomongin apaan?" suara Ustadz Fariz mengagetkan Rhea dan Shinta yang sedang berbalas bisikan.
"Istimewa," jawab Shinta reflek karena kaget
Rhea melotot kaget mendengar jawaban Shinta.
"Istimewa? Apanya yang istimewa?" tanya Ustadz Jaki heran.
"Martabak. Iya martabak istimewa kan Shin," ucap Rhea cepat dengan senyum terpaksa.
"Ooooh mau martabak? Apa kita beli sekarang Sayang?" tanya Ustadz Fariz dengan memandang dan tersenyum pada istrinya.
"Emm nanti aja deh Bie, sekarang lagi banyak tamu," jawab Rhea yang masih dengan senyum paksanya dan diangguki oleh Ustadz Fariz.
__ADS_1