
Berhari-hari telah berlalu, berminggu-minggu telah dilalui dan kini sudah dua bulan lebih Pandu dan kedua anaknya berada di rumah milik Pak Ratmo.
Keseharian Pandu masih sama seperti sebelumnya, bekerja di pasar setiap hari, dan setelah dia pulang bekerja, dia menyewa motor milik Pak Ratmo untuk menjadi tukang ojek.
"Nit, ayo ke pasar, keburu siang," Mirna berbicara pada Anita yang sedang menggendong baby Emir.
"Kayaknya Mbak Mirna ke pasar sendiri deh Mbak. Ini Emir baru aja tidur, sebentar-sebentar dia bangun. Kasihan dia Mbak," ucap Anita sambil menimang baby Emir.
"Masih panas badannya?" Mirna bertanya pada Anita sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi baby Emir.
"Udah agak mendingan sih Mbak," jawab Anita sambil menurunkan perlahan baby Emir di tempat tidurnya.
"Tau gitu gak usah di imunisasi ya Nit, kasihan kan jadi panas badannya, rewel juga kan jadinya. Padahal Emir anak yang gak pernah rewel seperti itu," ucap Mirna yang merasa kasihan pada Emir.
"Ya harus imunisasi dong Mbak, badannya panas kan cuma efeknya saja Mbak. Dan kita yang dewasa ini bertugas menenangkannya kalau rewel," Anita menimpali ucapan Mirna.
"Kamu itu Nit udah kayak ibunya aja. Ya udah kalau gitu aku ke pasarnya sama siapa? Apa Paman mau mengantarku ke pasar?" Mirna berkata dengan sedikit kesal.
"Mbak Mirna diantar Mas Pandu saja Mbak, biar diantar sekalian pulang nanti. Siapa tau Emir nanti udah sembuh, jadi kita bisa ke warung sama-sama," Anita memberi saran pada Mirna.
"Hah?! Mas Pandu? Kok sama dia sih Nit? Gak mau ah, masa' aku sering banget sih diantar ke pasar sama dia? Penjual di sana ngira dia itu suamiku yang baru loh Nit," Mirna dengan cepatnya menolak saran dari Anita dan menjelaskan alasannya dengan lemas.
"Terus mau sama siapa lagi Mbak?" tanya Anita dengan menghela nafasnya.
"Atau Mbak Mirna yang menjaga Emir di rumah? Biar Anita yang diantar Mas Pandu ke pasar," Anita menyambung kembali perkataannya sambil tersenyum menggoda Mirna dan menaik turunkan alisnya.
"Malah keenakan kamu pacaran sama dia. Bisa gak pulang-pulang nanti dari pasar," Mirna menjawab dengan sewot pada Anita.
"Ya iya lah, kapan lagi bisa ke pasar tanpa Mbak Mirna," ucap Anita sambil terkekeh menggoda Mirna.
"Sialan kamu Nit. Ya udah biar aku aja yang ke pasar. Kamu jagain baik-baik itu Emir, jangan sampai dia nangis," ucap Mirna dengan kesal.
"Baik Bu Mirna," jawab Anita dengan nada meledek Mirna.
__ADS_1
Mirna bertambah kesal, dia akan keluar dari kamar Anita, namun Anita menghentikannya.
"Eh Mbak, Mbak Mirna beneran gapapa ke pasar sama Mas Pandu? Gak takut dibilang suaminya yang baru sama orang-orang?" Anita kembali meledek Mirna sambil terkekeh.
"Kenapa, kamu cemburu?" Mirna bertanya dengan sewot pada Anita.
"Cemburu gak ya?" ucap Anita sambil berpura-pura berpikir.
Ternyata di luar kamar Anita, Pandu mendengarkan pembicaraan antara Anita dengan Mirna. Tadinya Pandu ingin melihat keadaan Emir yang sejak semalam rewel setelah mendapatkan imunisasi.
Beruntunglah Pandu karena Anita yang pada saat itu sedang menjalankan shalat malam mendengar tangisan Emir sehingga dia membantu Pandu untuk menenangkannya.
Sejak itu Emir tidur bersama Anita di kamarnya, dan pagi harinya Pandu bermaksud untuk melihat keadaan Emir sebelum dia berangkat bekerja.
Namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar pembicaraan Anita dan Mirna yang membawa-bawa namanya.
Apa Anita menyukaiku? Kenapa dia berkata seperti itu jika tidak menyukaiku? Dan kenapa Mirna sepertinya cemburu? Apa Mirna juga menyukaiku? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya.
Memang sedari dulu Pandu selalu percaya diri jika menyangkut masalah perempuan. Apalagi jika perempuan tersebut menyukainya, maka dengan rasa percaya dirinya itu Pandu mendekatinya dan dengan dia merasa bangga jika perempuan tersebut jatuh cinta padanya.
Jika sudah seperti itu, Pandu menjauh dari Silvi karena dia tidak mencintainya, dan yang dicintainya hanya Rhea, istrinya. Sehingga terjadilah insiden tarik menarik kemudi mobil dan berakhir masuk ke dalam jurang di hutan yang mereka lewati saat itu.
"Ah udahlah Nit, lama-lama kesiangan ke pasar kalau meladeni kamu," Mirna mengakhiri perdebatannya dengan Anita.
Anita hanya cekikikan melihat Mirna yang terlihat kesal dengan ledekannya. Dan Mirna pun keluar dari kamar Anita menuju dapur untuk mengambil tas belanjaannya.
Sedangkan Pandu yang mengerti Mirna akan keluar dari kamar itu, dia segera pergi menuju dapur agar tidak ketahuan sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Eh Mirna, mau ke pasar Mir?" tanya Pandu dengan kikuk pada Mirna yang sedang mengambil tas di dapur.
"Iya. Terus kamu ngapain di sini?" Mirna bertanya pada Pandu karena dia merasa heran dengan adanya Pandu di dapur rumahnya.
"Eh enggak, tadi mau buatkan minum untuk Emir, ternyata botolnya gak ada," jawab Pandu dengan senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
"Kalau botol minumnya Emir ya pasti ada di kamar Anita lah, kan Emir ada di sana," jawab Anita sambil menggelengkan kepalanya merasa tak percaya melihat kebodohan Pandu.
"Oh iya ya," jawab Pandu dengan senyum bodohnya.
"Ya sudah kalau gitu antarkan saya saja ke pasar sebelum kamu berangkat kerja," Mirna memberi perintah pada Pandu sambil berjalan keluar dari dapur.
Dengan segera Pandu mengikuti Mirna di belakangnya tanpa menjawab perintah Mirna padanya.
Kadang manggil mas, kadang manggil kamu. Sebenarnya perasaan kamu ke saya itu gimana sih? Pandu bertanya dalam hatinya seraya langkah kakinya berjalan mengikuti Mirna di belakangnya.
"Mau ke pasar Mir?" tanya Pak Ratmo pada Mirna ketika mereka berpapasan di ruang tamu.
"Iya Paman. Mirna berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," jawab Mirna sekalian memberi salam untuk berpamitan pada Pak Ratmo.
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Ratmo.
"Loh Nak Pandu mau ke mana?" tanya Pak Ratmo ketika berpapasan dengan Pandu.
"Mau mengantar Mirna ke pasar Pak," jawab Pandu sambil berhenti di depan Pak Ratmo.
"Ya sudah kalau gitu kamu antar Mirna sekarang. Hati-hati ya," Pak Ratmo mempersilahkan Pandu untuk segera mengantarkan Mirna.
"Yuk Mir," ucap Pandu ketika sudah siap berada di atas motor.
Mirna pun segera naik ke atas boncengan motor tersebut, setelah itu dia berkata,
"Udah, buruan berangkat. Hati-hati," ucap Mirna ketika sudah duduk di boncengan motor tersebut.
Pandu pun segera melajukan motornya menuju pasar, namun di saat dia melewati jalan yang agak rusak di daerahnya, Pandu tidak menghindari jalan tersebut, sehingga Mirna reflek berpegangan erat di pinggang Pandu.
"Eh lihat, laki-laki itu kan yang tinggal di rumah belakang Pak Ratmo itu kan? Apa laki-laki itu calon suaminya Mirna?" tanya tetangga yang melihat mereka pada tetangga lainnya.
"Bukannya itu calonnya Anita? Kapan hari boncengan sama Anita," jawab tetangga yang satunya.
__ADS_1
"Lah yang benar yang mana?"