Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 157 Ingin meraih kembali


__ADS_3

Setelah kepergian Rhea dan Ustadz Fariz dari ruang tamu, Umi Sarifah juga ikut meninggalkan ruang tamu.


"Maaf, Umi tinggal masuk dulu," ucap Umi Sarifah sebelum pergi dari ruang tamu.


"Sayang, aku udah mau telat nih. Berangkat sekarang yuk," ucap Shinta pada Ustadz Jaki untuk mengajaknya mengantarkan Shinta berangkat kerja.


"Oh iya, yuk berangkat," Ustadz Jaki pun menyetujui ucapan Shinta.


Ustadz Jaki menggandeng Shinta untuk membantunya berdiri. Shinta tersenyum menerima bantuan dari suaminya.


"Oh iya, kami akan pergi sekarang. Apa kalian akan tetap di sini?" ucap Ustadz Jaki sebelum masuk bersama Shinta berniat untuk mengusir Pandu secara halus.


"Eh maaf, kami akan pergi sekarang," Ani mengucapkannya dengan malu.


"Terima kasih sudah memberi kami makan. Kami pergi dulu. Assalamu'alaikum....," Ani menyambung kembali ucapannya karena Pandu tak kunjung mengucapkan terima kasih pada mereka.


"Bu, kita mau ke mana lagi? Hana capek. Hana suka di sini," Hana merengek ketika digandeng oleh Ani untuk diajak keluar dari rumah Umi Sarifah.


"Udah yuk, ikut aja," ucap Ani dengan wajah sangat malu dan menarik tangan Hana agar lebih cepat pergi dari rumah itu.


Dengan terpaksa Pandu pun ikut keluar dari rumah itu tanpa berbicara apapun pada Ustadz Jaki dan Shinta ketika berjalan keluar dari rumah tersebut.


Ustadz Jaki dan Shinta merasa kasihan pada Hana yang menurut mereka Hana hanya menjadi korban dari keegoisan orang tuanya saja.


Dirasa sudah sedikit jauh dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ani berhenti di sebuah tanah lapang dan menatap Pandu dengan tatapan kesal.


Pandu pun ikut berhenti dan menatap istrinya yang sedang menatap kesal padanya.


"Ada apa? Kenapa berhenti di sini?" tanya Pandu tanpa rasa bersalah pada Ani.


Ani tidak mampu berkata-kata karena dia menahan rasa sakit yang menghimpit dadanya. Dia hanya menatap suaminya itu dengan rasa kesal dan amarah yang membuncah dalam dadanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu mau penjelasan dariku?" Pandu mencoba menerka-nerka perubahan sikap dari istrinya.


"Iya benar, aku ingin tau semuanya," ucap Ani dengan suara yang sedikit tersendat karena menahan tangisnya.


"Aku ingin meraih kembali semua yang aku miliki di masa lalu," ucap Pandu sambil duduk di bawah pohon yang ada di dekat mereka.


"Semua?" tanya Ani dengan wajah bingungnya.


"Iya, karena aku sudah bosan hidup susah seperti ini. Dulu aku bekerja keras, mempunyai pekerjaan yang bagus dan uang yang cukup banyak. Aku sudah bosan hidup susah seperti ini. Bahkan aku malu harus mengemis seperti sekarang ini," ucap Pandu dengan kesal sambil melempar batuan kecil yang ada di hadapannya ke tanah lapang yang ada di hadapannya.


"Bukan berarti kembali bersama mantan istrimu Mas. Dia sudah bersuami dan kalian tidak bisa kembali lagi bersama," Ani menanggapinya dengan kesal.


"Tapi aku selalu terbayang wajahnya dan aku tidak bisa melupakannya. Aku harap kamu bisa mengerti," ucap Pandu dengan menatap Ani mengharapkan Ani agar bisa mengerti kemauannya.


"Lalu bagaimana dengan kami? Bagaimana nasibku dan anak-anak kita?" Ani kembali bertanya dengan mata yang berkaca-kaca dan dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kalian akan tetap bersamaku karena kalian tanggung jawabku," dengan entengnya Pandu menjawabnya.


"Kamu pikir kami sebagai wanita mau dimadu? Dan aku pikir Mas Pandu salah mengira jika Mas Pandu terbayang akan wajah mantan istri Mas Pandu karena kalian harus bersama. Karena sebenarnya itu cara Allah menyadarkan Mas Pandu untuk meminta maaf pada mantan istri Mas Pandu," kini air mata Ani jatuh membasahi pipinya ketika mengucapkannya.


Ani tidak bisa membayangkan bagaimana anak sekecil Hana jika mengetahui permasalahan yang terjadi sekarang ini dan pastinya Hana akan bersedih jika melihat air mata ibunya.


"Kamu ini ngomong apa? Aku yang merasakannya, jadi hanya aku yang tau apa maksudnya itu semua," Pandu masih saja mengelak.


Seketika Ani merasakan perutnya semakin mengencang dan nyeri. Dia hanya memejamkan matanya sambil berkali-kali menghirup nafas dan mengeluarkannya untuk menahan rasa itu agar tidak lagi dirasanya.


Sedangkan Pandu melihat bangunan Pondok Pesantren Al-Mukmin tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh istri dan anaknya.


Setelah dirasa sudah tidak merasakan apa yang dia rasakan tadi, Ani mencoba untuk berdiri dan dia berjalan untuk menenangkan pikirannya.


"Ibu... ibu di mana? Ibu....," Hana berteriak mencari ibunya ketika dia menoleh ke tempat ibunya dan ternyata ibunya sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


Pandu mengalihkan pandangannya dari bangunan Pondok Pesantren Al-Mukmin setelah mendengar Hana berteriak mencari ibunya.


"Hana, ada apa?" tanya Pandu mendekati Hana yang sedang menangis.


"Ibu... ," jawab Hana sambil menangis tersedu-sedu.


"Ibu di mana?" tanya Pandu pada Hana.


"Ta-tadi di situ, terus... terus gak ada," Hana menjawab di sela tangisnya.


"Ani.... di mana kamu?!" Pandu berteriak memanggil istrinya.


"Ayo kita cari Pak... nanti ibu hilang. Ayo cepetan," ucap Hana yang masih terisak sambil menarik paksa tangan Pandu.


Ani memang berniat untuk berjalan-jalan disekitar sana saja untuk menenangkan hatinya dan mencari tempat tinggal dan pekerjaan, namun naasnya, dia tidak tahu jalan kembalinya di mana. Sudah berkali-kali dia bertanya pada orang, namun tetap saja dia tidak menemukan jalan yang dimaksudnya.


Dia kini sudah berjalan jauh dan tersesat karena salah mengambil arah untuk kembali ke tempatnya tadi bersama dengan anak dan suaminya.


Hingga kini dia sudah berada di jalan raya. Dan dia melihat ada warung sederhana yang terdapat beberapa pembeli sedang makan di sana.


Ah aku coba tanya pekerjaan di sana saja, barangkali mereka membutuhkan tenagaku dan aku akan bertanya tentang arah menuju pondok pesantren tadi. Semoga saja Hana dan mas Pandu masih menungguku di sana, Ani berkata dalam hati sambil mengusap peluhnya yang menetes di pelipisnya.


"Maaf Mbak, apa ada pekerjaan yang bisa saya lakukan di sini?" tanya Ani pada wanita yang ada di warung tersebut.


"Sebentar Mbak saya tanyakan dulu pada pemilik warung," ucap wanita tersebut.


Ani mengangguk dan menunggu wanita tersebut untuk memberikan jawabannya. Dalam hati Ani berharap jika pemilik warung tersebut bisa menerimanya bekerja di sana.


Mata Ani menangkap beberapa macam lauk pauk yang tersedia di dalam etalase. Ani menelan ludahnya, dia sangat lapar setelah berjalan dari Pondok Pesantren Al-Mukmin tadi menuju jalan raya.


"Bagaimana Mbak, apa saya bisa bekerja di sini?" Ani bertanya pada wanita tadi ketika wanita tersebut sudah kembali di hadapannya.

__ADS_1


"Sebentar Mbak, orangnya tadi masih di kamar mandi," ucap wanita tersebut pada Ani.


"Eh itu dia orangnya. Mbak... Mbak Mirna....!" Anita berseru memanggil nama Mirna.


__ADS_2