Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 80 Karma?


__ADS_3

Pondok Pesantren Al-Mukmin kini diselimuti dengan berita tentang Mirna yang menyakiti kembali Rhea. Berita itu tersebar dengan cepatnya karena bukan hanya satu atau dua orang saja yang membicarakannya, karena mereka melihat sendiri kejadian tersebut. Bahkan berita itu tersebar dengan cepatnya di luar Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Entah bagaimana ceritanya berita itu hingga sampai ke masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin. Jadilah mereka tahu kelakuan Mirna yang sebenarnya dari sumber terpercaya yaitu orang dalam Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Mirna pulang dengan perasaan kecewa, marah, sedih dan sakit hati. Semua yang dia lakukan kini menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Habis dari mana Mbak?" Anita bertanya pada Mirna ketika melihat Mirna masuk ke dalam rumah.


Mirna tidak menjawab pertanyaan Anita. Dia hanya berlalu masuk ke dalam kamarnya dengan membawa kertas yang sedari tadi dia bawa ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Kertas yang mengubah statusnya dari seorang istri menjadi seorang janda.


Anita jadi heran dengan perubahan ekspresi Mirna. Tidak biasanya dia diam seperti itu. Biasanya dia selalu menjawab bahkan mendebat setiap perkataan Anita.


Anita jadi curiga dan ingin tahu apa yang terjadi dengan sepupunya itu.


Pasti ada yang terjadi dengan Mbak Mirna. Ada apa ya sebenarnya? Apa aku harus melaporkannya pada Bapak? Anita bertanya-tanya dalam hatinya.


Di dalam kamarnya Mirna merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menerawang semua apa yang dilakukannya. Dia masih merasa benar karena selama ini dia mempertahankan semua yang dimilikinya. Yang menjadi sumber kebahagiaannya.


Mata Mirna terpejam ketika dia mengurut semua kejadian yang dihadapinya akhir-akhir ini. Akhirnya dia ketiduran di waktu yang seharusnya dia masih terjaga, dimana orang-orang masih bekerja untuk mencari nafkah.


Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya, Mirna masih belum juga keluar dari kamarnya. Sedangkan waktu sudah menunjukkan saat untuk melaksanakan shalat maghrib.


Anita bingung karena tidak mendapati Mirna keluar dari kamarnya sedari tadi. Niat hati Anita ingin masuk dan melihat keadaan Mirna, namun dia takut jika nanti Mirna akan memarahinya seperti biasanya. Tapi hati Anita mengatakan agar dia melihat keadaan sepupunya itu sekarang.


Akhirnya Anita memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam kamar Mirna. Awalnya Anita hanya mengintip saja, melihat Mirna yang tidur dengan pulasnya, Anita menjadi khawatir karena sedari tadi Mirna tidak bangun.


Anita mendekati Mirna dan mendekatkan telinganya pada wajah Mirna.


"Syukurlah masih terdengar nafasnya," ucap Anita ketika sudah menjauhkan telinganya dari wajah Mirna.

__ADS_1


Namun terdengar rintihan kecil dari mulut Mirna. Anita kembali memeriksa keadaan tubuh Mirna.


"Astaghfirullahaladzim, badan Mbak Mirna panas," ucap Anita ketika memegang dahi dan tangan Mirna.


"Mbak... Mbak Mirna bangun Mbak... badan Mbak Mirna panas, aku belikan obat di apotek dulu ya Mbak," Anita berjalan cepat keluar dari kamar Mirna, namun ketika sampai di depan pintu kamar Mirna, Anita kembali membangunkan Mirna.


"Mbak Mirna bangun Mbak, aku belikan obat di apotek dulu, Mbak Mirna bangun Mbak," Anita menepuk-nepuk tubuh Mirna agar Mirna tersadar.


Mata Mirna terbuka dan dia hanya bisa mengangguk. Kemudian Anita meninggalkan Mirna pergi ke Apotek membelikan obat untuknya dengan menggunakan sepeda.


Pak Ratmo hanya mempunyai satu motor dan itu setiap hari menjadi alat transportasi yang dipakai Pak Ratmo ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Jarak dari rumah Pak Ratmo ke apotek tidak begitu jauh, namun jika memakai sepeda bisa lumayan jauh jaraknya.


Mirna merasakan badannya semakin panas, dan dia merasa tidak tahan lagi.


Dia sudah tidak tahan lagi menunggu Anita yang membelikan obat untuknya. Rasa panas ditubuhnya sangat menyiksanya. Akhirnya, Mirna tidak sabar dan dia turun dari ranjang, mengambil dompetnya di dalam laci dan membawanya.


Dengan membawa dompetnya Mirna keluar rumah berniat membeli obat di warung di daerah depan rumah Pak Ratmo. Dengan berjalan terhuyung-huyung, Mirna menapaki jalan setapak demi setapak, rasanya jauh sekali tidak sampai-sampai, padahal biasanya hanya perlu beberapa menit saja dia bisa sampai ke toko tersebut dengan cepat.


Mirna melewati beberapa tetangga yang sedang duduk-duduk di teras rumah mereka.


"Eh tuh Bu Mirna mau kemana? Kayaknya sedang sakit deh, pucat gitu wajahnya."


"Kena karma tuh, tadi aja dia kembali nyerang istri dari mantan suaminya gara-gara dia gak terima putusan pengadilan kalau mereka sudah bercerai."


"Beneran? Masa' Bu Mirna ngelakuin itu?"


"Beneran, ini kan udah tersebar dimana-mana, dari sumber yang akurat. Dulu Bu Mirna aja tega ngolesin minyak goreng di lantai sumur Bu Rhea, jadi pas dia mau jemur pakaian kepleset jatuh langsung pendarahan. Untung aja gak keguguran, lah tadi dia malah ngejambak hijab Bu Rhea dan mendorongnya sampai jatuh. Setelah itu dibawa ke rumah sakit. Kabar selanjutnya kita belum tau."

__ADS_1


"Ya ampun, jahat banget sih Bu Mirna. Mantan istri dari seorang Kyai akhlaknya kok jelek banget, mangkanya diceraikan."


"Iya ya, hatinya busuk banget."


"Harusnya dari dulu aja diceraikan. Ingat gak dia malah memfitnah Bu Rhea yang jahat padanya, padahal mah dia yang jahat banget orangnya."


Langkah kaki Mirna tidak bisa cepat, dia pun kadang harus mencari pegangan ketika tiba-tiba kepalanya pusing. Mirna tertatih-tatih menuju warung untuk membeli obat dengan mendengar semua yang dibicarakan orang-orang tentang dirinya. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk berdebat dengan mereka. Mirna yang biasanya akan melawan siapa saja yang merendahkannya. Namun kini dia hanya bisa diam dan mendengarkannya saja.


"Mbak Mirna, Mbak Mirna mau kemana?" Anita menghentikan sepedanya dan menuntunnya.


"Mau beli obat Nit, gak kuat aku pusing banget, badanku panas banget," jawab Mirna dengan suara lirih dan dengan nafas yang tidak beraturan.


"Ini udah aku beliin Mbak, ayo pulang," Anita menuntun sepedanya dengan berjalan beriringan bersama dengan Mirna.


Sesampainya di rumah, Anita segera memberikan obat yang dia beli tadi dan segelas air putih.


"Mbak Mirna gak makan dulu?" tanya Anita sembari memberikan obat dan segelas air putih.


"Gak enak makan Nit, pahit mulutku," jawab Mirna, setelah itu dia mengambil gelas yang berisi air putih dan meminumnya.


Setelah meminum obatnya, Mirna kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Aku ke kamarku dulu Nit, mau tidur," Mirna berpamitan pada Anita dan berjalan menuju kamarnya.


Anita menatap punggung Mirna dengan rasa iba. Anita baru tahu kejadian tadi pagi dari para tetangga yang menggunjingkan Mirna pada saat Anita akan membelikan Mirna obat tadi.


Di dalam kamar Mirna kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Cibiran-cibiran dari para tetangga masih terngiang-ngiang di telinga Mirna.


Apa benar aku yang salah? Tapi jelas-jelas dialah yang merebut suamiku. Apa aku salah mempertahankan kebahagiaanku? belum selesai pertanyaan-pertanyaan Mirna dalam hatinya, namun matanya tidak kuat dan memaksanya untuk terpejam.

__ADS_1


__ADS_2