Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 29 Gagal


__ADS_3

"Ada apa Bie?" tanya Rhea menghampiri suaminya yang berada di depan kaca jendela.


"Gak ada apa-apa sayang, yuk kita makan, kamu pasti belum makan kan?" ucap Ustad Fariz berhadapan dengan Rhea dan dia membelai rambut panjang Rhea yang indah menurutnya.


Mirna mengintip dari tempat persembunyiannya. Dia bertambah geram melihat suaminya yang bersikap manis pada madunya. Dia tidak rela miliknya menjadi milik orang lain.


Tapi dia sudah kepalang basah karena ucapannya sendiri yang menyuruh suaminya untuk menikahi Rhea. Dia berpikir mencari cara lain untuk menjauhkan ataupun memisahkan mereka berdua, agar suaminya menjadi miliknya seorang.


"Belum makan Bie?" tanya Rhea ketika dituntun untuk duduk bersama suaminya.


"Belum, mau makan sama kamu. Aku tau kamu pasti belum makan, iya kan?" tutur Ustad Fariz.


Rhea tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menata makanan yang tadi sore sengaja dia masak untuk suaminya karena hari ini suaminya akan tinggal bersamanya.


Salah satu momen yang sangat mereka rindukan. Makan bersama orang yang mereka cintai sambil bercanda bahkan romantis-romantisan, menumpahkan kasih sayang mereka di meja makan.


Seperti sekarang ini, mereka saling menyuapi diselingi dengan canda tawa. Betapa harmonisnya keluarga mereka, apalagi jika sudah ada anak yang hadir diantara mereka, pasti keluarga mereka akan bertambah bahagia.


Kini ranjang yang ditiduri Rhea tidak terasa dingin seperti malam-malam kemarin. Kini ranjang itu terasa hangat penuh cinta dan kasih sayang. Ranjang itu acak-acakan dan penuh peluh akibat ulah mereka berdua yang memadu kasih untuk melampiaskan kerinduan mereka selama tiga hari tidak tinggal bersama.


Saat ini mereka berbincang sebelum tidur. Tangan kanan Ustad Fariz merangkul pundak Rhea dan tangan kirinya menggenggam tangan Rhea.


"Sayang, bentar lagi masuk bulan Ramadhan. Selama aku tidak disini, untuk sahur dan berbukanya kamu gimana?" tanya Ustad Fariz sedih dengan memandang wajah istrinya.


"Gapapa Bie sendiri, udah biasa," jawab Rhea dengan senyumnya agar suaminya tidak kepikiran.


"Bukannya kamu tidak biasa makan sendiri? Waktu di rumah nenek kamu kan minta ditemani Bik Darmi dan Pak Sardi kalau makan," tanya Ustad Fariz menyelidik.


Rhea lupa jika suaminya tahu masalah itu. Dia hanya nyengir tidak bisa menjawab.


"Kamu tinggal di Ndalem aja ya sama Umi kalau pas aku gak disini," pinta Ustad Fariz dengan meletakkan kepala istrinya di dadanya dan mengusap-usap rambutnya.


"Iya, terserah hubby aja, aku manut," jawab Rhea dengan senyumnya membuat suaminya bertambah gemas padanya.


Suaminya itu mencubit gemas hidungnya dan memainkannya ke kiri dan ke kanan.


"Tidur yuk," lalu dia membawa istrinya dalam dekapannya.

__ADS_1


Mereka tidur dengan nyaman dan nyenyak saling merangkul dan mendekap untuk mengganti tidur mereka yang tidak nyenyak selama tiga hari kemarin.


Saling memikirkan, saling merindukan dan saling mendamba untuk bisa saling bersama, itulah yang mereka rasakan selama tiga hari yang lalu.


Namun kini mereka bisa bersama untuk tiga hari kedepan, semua rasa mereka tumpahkan seolah tidak ada lagi hari esok. Mereka berdua tidak ingin melewatkan saat ini, saat mereka bisa bersama.


Di dalam rumahnya Mirna tidak bisa tidur, dia selalu terbayang kemesraan suaminya bersama madunya. Padahal biasanya suaminya juga berlaku manis padanya jika dia tidak berulah. Namun emosi dan cemburu Mirna menguasai hatinya sehingga perlakuan suaminya selama ini padanya tidak pernah teringat dan terlihat dimatanya.


Kalau aku yang seperti itu sama Mas Fariz pasti Rhea bakalan cemburu juga, pasti dia akan pergi dari sini. Tunggu saja pembalasanku wanita pengganggu, seringaian terbit di bibir Mirna.


Kini pikiran Mirna dipenuhi oleh rencana-rencana liciknya untuk membuat Ustad Fariz dan Rhea bertengkar atau berjauhan.


Sebisa mungkin dia akan mencari cara untuk memisahkan mereka. Dia lupa jika ada hukum memberi dan menerima,hukum tuai dan tabur. Dia tidak sadar jika bisa saja nantinya dia sendiri yang akan menerima buah dari perbuatannya kepada orang lain, terlebih lagi orang yang tidak pernah menyakitinya.


Keesokan harinya sebelum suaminya pulang, Mirna sengaja datang ke ruangan kantor suaminya. Dia meminta untuk diantarkan suaminya berbelanja ke mini market di depan Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Ustad Fariz heran, karena selama ini Mirna tidak pernah minta diantar jika akan pergi ke sana, karena jaraknya memang hanya menyeberang jalan saja.


Ternyata ada udang dibalik batu, ada niat tersembunyi dalam tindakannya. Dia melihat Rhea sedang berjalan dan ditanya salah satu santriwati, Rhea menjawab hendak ke mini market depan Pondok, langsung terbersit ide Mirna untuk membuat Rhea cemburu.


Ustad Fariz mengantarkan Mirna ke mini market depan pondok, karena dia memang sedang tidak ada pekerjaan. Niatnya dia ingin pulang, bermesra-mesraan dan bermanja-manja bersama Zahra nya. Namun Mirna datang dan dia harap setelah ini Mirna tidak akan mengganggu kebersamaannya dengan Zahra nya.


Sengaja Mirna memanas-manasi Rhea dengan bergelayut manja di lengan Ustad Fariz, dia berharap agar Rhea emosi dan terpancing cemburunya.


Namun apa, keinginan Mirna tidak berbalas. Rhea mengembangkan senyumnya menyapa mereka. Pandangan Ustad Fariz pada Rhea merasa bersalah, namun Rhea tersenyum seolah mengatakan dia baik-baik saja.


Disaat Rhea membayar di kasir, Ustad Fariz ditarik oleh Mirna untuk mengikutinya ke lorong untuk memilih barang belanjaan, sengaja dilama-lamakan oleh Mirna agar suaminya tidak cepat pulang ke rumah Rhea.


Namun, lagi-lagi Mirna salah. Rhea menghampiri mereka dan berpamitan akan pulang terlebih dahulu. Rhea mencium punggung tangan suaminya dan diakhiri senyuman manisnya.


Melalui bahasa isyarat mata mereka berdua seolah berkomunikasi.


*Kutunggu di rumah Bie, cepatlah pulang.


Tunggulah di rumah sayang, aku akan cepat pulang*.


Mirna menatap kesal pada Rhea karena usahanya untuk membuat Rhea cemburu dan kepanasan tidak mempan.

__ADS_1


Kok gak cemburu sih dia? katanya cinta tapi kok malah senyum lihat kita jalan mesra gini.


Tok... tok... tok...


Pintu rumah Rhea diketuk. Rhea yang memang berada di ruang tamu sengaja menunggu suaminya, dengan sigap dia menuju pintu. Namun dia ingat pesan suaminya agar melihat dulu dari jendela siapa yang datang sebelum membukakan pintu rumah. Dilihatnya sosok yang tadi dia tunggu kedatangannya.


"Sayang, buka pintunya," seru Ustad Fariz dari luar.


Rhea membuka pintunya. Betapa kagetnya dia ketika pintu dibuka, suaminya langsung memeluknya dengan erat dan meminta maaf padanya.


Pada saat Mirna berbelanja tadi, Ustad Fariz hendak mengirim pesan pada Rhea, namun dia kaget karena Rhea selama beberapa menit yang lalu telah mengirim pesan padanya untuk berpamitan pergi ke mini market yang ada di depan Pondok.


Ustad Fariz sangat merasa bersalah pada Rhea, bersalah karena tidak membaca pesannya dan bersalah karena malah datang ke mini market dengan Mirna padahal hari ini waktu yang harusnya dia habiskan dengan Rhea.


Rhea mengusap punggung suaminya dan menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu. Rhea tahu jika suaminya merasa bersalah padanya. Dia membawa suaminya untuk duduk di ruang tamu.


Kemudian Ustad Faris menceritakan apa yang terjadi tadi pada Rhea. Dan sesuai dengan yang diketahui Ustad Fariz bahwa Rhea lebih dewasa daripada Mirna, padahal umur mereka terpaut jauh, Mirna lebih tua daripada Rhea, namun umur tidak bisa menjadi patokan sikap dewasa seseorang.


Rhea tersenyum dan berkata,


"Aku tau suamiku tidak akan sengaja melakukan itu padaku, karena aku tau jika suamiku sangat mencintaiku dan menghargai ku, sehingga dia tidak akan bisa membuatku bersedih."


Jawaban Rhea membuat tenang hati suaminya, dan senyumnya itu sungguh obat yang mujarab untuk mengobati kesedihan suaminya.


Ustad Fariz memeluk Rhea dan mencium lama keningnya.


"Aku sangat bersyukur dan bangga punya istri seperti kamu. Aku sangat mencintaimu istriku."


Rhea mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya. Dia sangat bahagia meskipun selalu ada rasa sakit yang harus ditahannya.


"Aku juga bersyukur bisa jadi istri kamu Bie."


"Kamu gak mau ngomong kalau cinta sama aku?" goda Ustad Fariz pada Rhea.


"Gak usah diungkapin, malu," Rhea menelusupkan kepalanya pada dada suaminya.


"Kenapa malu, sama suami sendiri masa' malu?" godanya kembali.

__ADS_1


"Kalau gak cinta kenapa mau dijadikan istri Bie, jadi yang kedua lagi," jawab Rhea dengan muka ngambeknya.


"Hehehe... iya ya. Kalau ngambek gini tambah cantik deh," Ustad Fariz lagi-lagi menggoda Rhea yang membuatnya semakin malu dan ada semburat merah di pipinya.


__ADS_2