Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 37 Bersyarat


__ADS_3

Goresan pena yang terukir terasa indah bersama cinta yang diterapkannya dalam setiap kata.


Kerinduan yang diterapkannya tertuang dalam sejumlah bait yang mengalun indah dalam helaan nafasnya.


Rhea menulis setiap kerinduannya pada suaminya. Setiap kata yang tertuang mengungkapkan kebahagiaan dan rasa cintanya pada suami dan anak yang masih ada dalam kandungannya.


Pena yang menjadi saksi bisu kerinduan dan rasa cintanya pada suaminya itu kini diletakkan. Rhea berjalan menuju jendela kamarnya yang masih terbuka.


Terlihat jelas mentari pagi yang bersinar dengan indahnya dan semilir angin yang sangat segar terasa di kulitnya.


Mata Rhea terpejam menikmati semilir angin dan heningnya suasana pagi, berharap angin membawa kerinduannya pada orang yang terkasih.


Rhea ditemani oleh Ibunya berjalan-jalan disekitar rumah neneknya. Banyak tetangga yang sudah mengenal Rhea sebagai istri kedua Kyai Fariz dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Mereka semua menghormati Rhea layaknya menghormati Umi Sarifah. Dan tentunya mereka senang mempunyai tetangga yang merupakan keluarga dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Setelah sampai di rumah, Rhea berhenti berjalan ketika memasuki ruang tamu. Matanya tertuju pada satu sosok yang sangat dia rindukan.


Mata mereka saling menatap penuh kerinduan, terlihat jelas dari binar mata keduanya yang saling merindu dan menginginkan.


Bu Ratih lebih memilih meninggalkan mereka berdua untuk melepaskan kerinduan mereka. Ibu Rhea itu berbalik keluar pintu dan berjalan lewat pintu belakang menuju dapur.


"Sayang...," Ustad Fariz berhambur memeluknya.


"Bie...," mulut Rhea bergetar dan matanya berkaca-kaca menahan tangisnya.


"Maaf, maafkan aku sayang, maaf... maaf," Ustad Fariz merapal kata maaf berharap Rhea memaafkannya.


Roboh sudah tembok yang membentengi tangisnya. Kini mata Rhea yang tadinya berkaca-kaca, kini meneteskan buliran bening di pipinya. Bahunya bergetar menandakan kini dia sedang menangis, dia tidak bisa mendengar kata maaf yang diucapkan oleh suaminya berkali-kali.


Dia merasakan perasaan suaminya yang sungguh meminta maaf padanya. Rhea tahu jika suaminya sangat mencintainya dan tidak pernah bermaksud menyakitinya.


Ustad Fariz mengurai pelukannya ketika dia merasa istrinya menangis. Dilihatnya wajah istrinya yang sangat dia rindukan, dan dia kecup lama kedua mata Rhea agar air matanya tidak menetes kembali.


Seolah menjadi mantra, air mata Rhea berhenti. Setelah itu Ustad Fariz menghapus jejak air mata Rhea yang menetes di pipinya dan berkata,


"Jangan menangis sayang, hatiku sangat sakit melihatmu menangis."


Rhea tersenyum dan mengangguk, kemudian dia memeluk kembali suaminya dengan erat, seolah tidak ingin terpisahkan kembali.


Hingga Bu Ratih memanggil mereka untuk berbicara mengenai putrinya. Bu Ratih tidak mau menyalahkan Ustad Fariz karena dia, suaminya dan Rhea tahu jika posisi Ustad Fariz sulit karena dia harus bersikap adil pada kedua istrinya dan pada saat itu memang kebetulan waktunya bersama dengan Mirna.


Jadi Bu Ratih dan Pak Adrian hanya bisa berharap Allah akan memberikan yang terbaik untuk mereka. Kebetulan Pak Adrian kembali pulang ke kota bersama Pak Sardi pagi tadi karena ada banyak pekerjaan yang harus di urus.

__ADS_1


Karena Ustad Fariz ke rumah nenek Rhea dengan menggunakan motor, kini Ustad Fariz dan Rhea menggunakan mobil yang biasa digunakan Pak Sardi untuk ke rumah sakit menemui Dokter Shinta.


Dokter Shinta memberitahukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kram perut di usia kehamilannya yang masih muda. Setelah berkonsultasi dan diperiksa oleh Dokter Shinta, mereka berdua merasa sangat lega karena kondisi kandungan Rhea baik-baik saja.


Setelah itu mereka menebus obat yang diresepkan oleh Dokter Shinta di apotek rumah sakit tersebut.


Ustad Fariz melarang Rhea untuk berpuasa jika keadaannya tidak memungkinkan, namun Rhea meyakinkan suaminya jika dia mampu untuk berpuasa, dan itu pun tak luput dari kekhawatiran suaminya.


Rhea ingin sekali bermanja-manja dengan suaminya, mungkin itu juga efek dari hormon kehamilannya. Tak dipungkiri jika Ustad Fariz pun juga ingin sekali selalu dekat dengan Rhea. Mereka tidak tahu itu pengaruh dari kehamilan Rhea atau memang mereka yang tidak ingin terpisah satu sama lain.


Ustad Fariz menjadi dilema karena hari ini seharusnya dia bersama dengan Mirna, namun dia sungguh tidak ingin terpisah dari Rhea.


Rhea mempersilahkan suaminya untuk kembali pulang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin, namun dia tidak ingin kembali bersamanya, karena Rhea merasa lebih tenang jika berada di rumah neneknya.


Bagaimanapun Ustad Fariz tidak mau berpisah kembali dengan Rhea apalagi saat ini dia sedang mengandung.


Tapi Ustad Fariz juga tidak mau Rhea menjadi stress dan kram perut lagi jika Mirna kembali berulah.


Lama dia berfikir setelah dia melaksanakan shalat dan berdoa. Akhirnya dia memutuskan bahwa dia akan memberitahukan Mirna yang sebenarnya tentang kehamilan Rhea meskipun Rhea tidak memperbolehkannya untuk memberitahu terlebih dahulu.


Setelah itu Ustad Fariz akan meminta pengertiannya agar dia bisa diberi banyak waktu untuk bersama Rhea.


Meskipun dirinya tidak yakin bahwa Mirna bisa mengabulkan permintaannya, namun dia akan berusaha agar tidak menyakiti mereka berdua.


"Tapi Bie aku-"


"Aku janji sayang aku akan selalu ada untuk kamu dan anak kita," Ustad Fariz mengusap lembut perut Rhea.


Hancur sudah benteng pertahanan Rhea. Dia tidak bisa menolak keinginan suaminya karena dia sendiri juga tidak ingin jauh dari suaminya.


Dengan mata yang kembali berkaca-kaca, Rhea menganggukkan kepalanya. Dan dengan bahagianya Ustad Fariz bangkit dan memeluk erat tubuh Rhea.


"Bu, saya mohon ijinkan saya membawa Zahra pulang kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin," Ustad Fariz meminta ijin pada Bu Ratih.


"Ibu tidak bisa menghalangi kamu jika memang Rhea bersedia ikut kembali bersamamu, tapi Ibu mempunyai syarat yang harus kamu tepati. Apa kamu bersedia?" ucap Bu Ratih.


"Iya Bu saya akan lakukan apa saja agar saya bisa kembali berkumpul dengan Zahra," jawab tegas Ustad Fariz.


"Ibu hanya ingin kamu menjaga benar-benar Rhea dan kandungannya. Jangan biarkan dia sakit, kelelahan atau stres. Kamu tau kan akibatnya jika itu terjadi? Dan Ibu minta tolong untuk sementara kamu bisa luangkan banyak waktu untuk Rhea karena dia lebih membutuhkanmu. Jangan sampai Mirna menyakitinya, baik itu secara mental atau pun jasmani," ucap Bu Ratih panjang lebar menguraikan keinginannya.


"Baik Bu, Insya Allah akan saya lakukan. Sebenarnya saya sangat ingin melakukan itu semua meskipun tanpa Ibu perintahkan, namun kadang ada suatu halangan yang... ya.. Ibu pasti tau sendirilah. Tapi saya janji akan melakukannya Bu bukan untuk janji saya pada Ibu, tapi sebagai tanggung jawab saya sebagai suami Zahra," Ustad Fariz meyakinkan Bu Ratih.


"Ibu tau Nak, tapi Ibu harap kamu bisa tegas dan bisa mendahulukan mana yang memang harus didahulukan. Dan Ibu pegang janji kamu, jika Rhea terluka kembali, Ibu akan menjemputnya sendiri ke Pondok Pesantren Al-Mukmin," kali ini Ibu bersikap tegas menggantikan Ayah Rhea yang sedang tidak ada di tempat dan karena dia seorang Ibu yang tidak bisa melihat anaknya menderita ataupun sedih.

__ADS_1


Ustad Fariz pun mengangguk dengan terpaksa karena dia sungguh tidak mau mendengar kalimat terakhir dari Ibu Rhea yang akan menjemput Rhea dari Pondok Pesantren, karena bisa dibayangkan entah apa yang akan terjadi pada hidupnya jika tanpa Zahra nya.


Bu Ratih memerintahkan Ustad Fariz agar membawa mobil agar lebih aman untuk kandungan Rhea, namun kali ini Rhea yang ingin berboncengan motor berdua dengan suaminya.


Bu Ratih tidak bisa memaksa jika itu sudah keinginan putrinya. Dia hanya bisa berdoa agar putrinya dan suaminya juga anak-anak mereka kelak selalu diberi kebahagiaan.


Mereka berboncengan dengan mesra menjelajahi jalanan yang seolah tidak berujung. Jalanan mereka lewati tidak mengarah ke Pondok Pesantren Al-Mukmin karena mereka ingin menikmati waktu berdua mereka.


Rhea membeli beberapa makanan dan jajanan yang diinginkannya untuk dibawa pulang dan membelikan makanan untuk Umi Sarifah.


Setelah sampainya di rumah Umi Sarifah, Rhea segera memeluk Umi nya itu. Dia merasa kangen dengan Umi Sarifah meskipun bersama dengan Ibunya.


Ustad Fariz memberitahukan pada Umi tentang keinginannya untuk lebih memberikan banyak waktu pada Rhea karena Rhea lebih membutuhkannya. Umi pun sangat mendukung keputusan Ustad Fariz karena itu yang Umi inginkan dari ustad Fariz, lebih tegas untuk menghadapi sikap Mirna yang sangat keterlaluan.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Mirna datang ke rumah Umi Sarifah karena sedari tadi dia mencari suaminya tidak ketemu.


"Mas Fariz kemana aja sih dari tadi?" seru Mirna kesal melihat suaminya.


"Eh bukannya kamu minggat dari rumah ya malem-malem kemarin?" tanya Mirna pada Rhea yang ada di sebelah Ustad Fariz.


"Mirna, duduklah disini sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Ustad Fariz dengan tegas.


Apaan ini? Bicara apa? Apa Mas Fariz akan memarahiku? Jangan-jangan wanita itu bilang yang enggak-enggak sama Mas Fariz, Mirna membatin.


"Mirna.. Mir.. duduklah disini sebentar," ucap Ustad Fariz kembali hingga menyadarkan Mirna dari lamunannya.


"Eh.. e-i-iya," jawab Mirna sambil berjalan duduk di kursi depan suaminya.


"Mir, aku minta kamu dengarkan aku dulu sampai aku selesai berbicara, dan jangan menyelaku. Saat ini Rhea sedang hamil, aku harap kamu bisa memaklumi jika aku lebih banyak meluangkan waktu bersama Rhea, karena dia lebih membutuhkanku untuk saat ini," ucap Ustad Fariz.


Jeduwaar... seperti tersambar petir rasanya hati Mirna sakit, dia sedih karena Rhea lebih dulu hamil dibandingkan dengannya.


Mirna terdiam dan Rhea menangkap ada kesedihan dimatanya. Inilah yang membuat Rhea enggan memberitahu Mirna, karena dia tidak mau Mirna merasa sedih dengan kehamilannya.


"Mir.. Mirna, kamu mengerti kan?" tanya Ustad Fariz menyadarkan Mirna.


"Tapi Mas, meskipun dia hamil, Mas Fariz harus tetap bisa membagi waktu denganku," bantah Mirna.


"Aku tetap akan membagi waktu bersamamu Mirna, tapi aku harap kamu bisa mengerti jika Rhea sedang membutuhkanku tolong ijinkan aku bersamanya, demi kandungannya. Bukankah kamu juga ingin aku mempunyai keturunan?" tutur Ustad Fariz pada Mirna.


"Pokoknya aku gak mau tau, hari ini Mas Fariz harus bersamaku. Sekarang juga kita harus pulang Mas, ayo....," ucap Mirna sambil menarik tangan Ustad Fariz.


"Mirna!" bentak Ustad Fariz yang geram dengan sikap Mirna.

__ADS_1


__ADS_2