Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 153 Hana?


__ADS_3

Rhea tidak menyangka jika dirinya bisa kembali bertemu dengan Andri, mantan suaminya yang dulu dinyatakan meninggal oleh pihak berwajib karena tidak ditemukan jasadnya.


Entah apa yang Allah inginkan dengan mempertemukan mereka. Apakah untuk memberitahukan jika Andri masih hidup? Atau untuk mereka bisa saling memaafkan? Atau mungkin agar apa yang selalu menjadi pertanyaan di dalam benak Rhea selama ini bisa terjawab? Pertanyaan tentang hubungan Andri dengan Silvi, sekretarisnya pada saat itu yang dikabarkan berselingkuh dengannya.


Aku harus bagaimana? Ya Allah... apa aku harus menemuinya agar semuanya bisa lebih jelas? Rhea bertanya dalam hatinya.


"Bunda... Bunda... ayo bikin bubur ayamnya," Izam kembali menggoyang-goyangkan lengan Rhea hingga membuatnya tersadar dan Salsa pun melakukan hal yang sama, dia selalu meniru apa yang dilakukan oleh Izam.


"I-iya, Bunda buatkan ya sekarang," ucap Rhea sambil tersenyum pada Izam dan Salsa.


Kemudian Rhea berjalan menuju dapur. Rhea berusaha mengalihkan pikirannya dengan memasakkan bubur ayam untuk Izam dan Salsa.


Sedangkan Umi Sarifah tahu jika terjadi sesuatu dengan Rhea. Tapi Umi Sarifah tidak mau bertanya sekarang pada Rhea, dia menunggu saat yang tepat agar tidak membuatnya terbebani.


Di ruang tamu, suasana berubah menjadi tegang. Tatapan Ustadz Fariz pada Pandu berubah. Perasaan Ustadz Fariz sekarang bercampur aduk.


Bukan karena dia takut jika Andri kembali mengambil Rhea, tapi karena dia takut jika kebahagiaan keluarganya terusik dengan kehadirannya ditengah-tengah keluarganya yang sangat bahagia.


Ustadz Jaki tidak mengerti apa yang terjadi, hanya saja dia mengerti jika Ustadz Fariz sedang cemburu saat ini. Dan Ustadz Jaki menebak jika tamu laki-laki yang ada di hadapan Ustadz Fariz sekarang ini adalah orang di masa lalu Rhea. Namun Ustadz Jaki tidak mengerti jika tamu laki-laki tersebut adalah mantan suami Rhea.


"Maaf, apa saya bisa berbicara dengan Rhea?" ucap Pandu yang kini sudah diketahui oleh semua orang di ruang tersebut bahwa namanya yang sebenarnya adalah Andri Brahmana.


"Ada perlu apa ya? Bukannya tujuan anda dan keluarga anda kemari untuk mencari pekerjaan?" Ustadz Fariz bertanya dengan nada menyelidik pada Pandu.


"Iya memang tujuan kami adalah mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Tapi saya mohon sebentar saja, tolong ijinkan saya berbicara dengan Rhea," Pandu memohon pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz diam, dia berpikir. Memang masalah ini harus diselesaikan agar tidak lagi ada masalah dikemudian hari. Dia tidak mau jika nantinya keluarganya terusik hanya karena masa lalunya dan masa lalu Rhea. Dia tidak ingin Izam memiliki masalah akibat masa lalu kedua orangtuanya.


"Sebentar, biar saya panggilkan," ucap Ustadz Fariz datar sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Ustadz Fariz menatap Ustadz Jaki, dan seolah Ustadz Jaki tahu maksud Ustadz Fariz , dia mengangguk. Setelah itu Ustadz Fariz masuk ke dalam untuk menemui istrinya.


"Bunda di mana Zam?" Ustadz Fariz bertanya pada Izam yang sedang tertawa bersama Salsa menonton tayangan kartun kesukaan mereka.


"Dapur," jawab Izam singkat kemudian kembali tertawa tanpa menoleh pada Abi nya.


"Ada apa Le?" tanya Umi Sarifah yang merasakan ada hal yang tidak beres.


"Tidak ada apa-apa Umi, Fariz mau ke dapur dulu, ke Bundanya Izam," ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum.


Di dapur, Rhea mengaduk buburnya sambil melamun. Dia masih saja memikirkan semuanya. Hingga ada tangan kekar yang melingkar indah di pinggang ramping Rhea menyadarkannya dari lamunannya.


"Eh Bi," ucap Rhea yang kaget merasakan pelukan dari suaminya.


"Kenapa, kaget ya?" ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum memandang wajah istrinya dari samping.


"Bunda, Abi tau dia siapa. Dia sekarang mau bertemu dan berbicara dengan Bunda. Apa Bunda keberatan?" Ustadz Fariz mencoba berbicara dengan Rhea selembut mungkin agar Rhea tidak berpikiran macam-macam, karena Ustadz Fariz tahu jika Rhea selalu memikirkan semua hal yang terjadi sehingga membuat dia bersedih.


"Apa menurut Abi Bunda harus menemuinya?" tanya Rhea dengan memandang intens manik mata Ustadz Fariz.


"Abi tidak memaksa Bunda, jika Bunda keberatan lebih baik gak usah. Tapi jika Bunda berkenan, yuk kita temui dia bersama-sama. Asal Bunda tau, Abi sangat mencintai Bunda sejak dulu sampai sekarang gak pernah sekalipun berkurang. Bahkan sekarang tiap hari malah bertambah," ucap Ustadz Fariz yang masih dengan nada lembut dan mengusap pipi Rhea dengan lembut.


"Apa Abi berpikiran sama dengan Bunda jika ini harus segera diselesaikan?" Rhea bertanya dengan hati-hati pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz mengangguk dan tersenyum manis pada Rhea.


"Abi akan selalu berada di samping Bunda, jadi jangan khawatir ya," ucap Ustadz Fariz pada Rhea.


Rhea mengangguk dan tersenyum paksa, kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Apa Abi tidak khawatir?"


Ustadz Fariz menggeleng dan tersenyum kembali, kemudian dia menjawab,


"Enggak, Abi gak takut sama sekali karena Abi yakin Bunda sangat cinta dan sangat sayang sama Abi dan Izam. Benar bukan?"


Rhea pun mengangguk dengan cepat dan memeluk tubuh Ustadz Fariz dengan erat, sambil berkata,


"Bunda sangat... sangat.... sangat mencintai Abi dan Izam. Bantu Bunda ya Abi, bantu doa juga agar semuanya selesai dan baik-baik saja. Semoga tidak akan ada masalah untuk ke depannya."


"Ehem... gak gosong tuh bubur dicuekin gitu?" suara Shinta membuyarkan acara romantis-romantisan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Eh Shin, tolong aduk ini ya. Pastikan jangan gosong," ucap Rhea setelah mereka melepaskan pelukannya.


"Lah kalian mau ke mana? Mau bikin anak? Gak jadi bikin bubur?" tanya Shinta yang semakin hari ketularan kesomplakan suaminya.


"Huss... Shin masih pagi. Udah... aduk aja itu buburnya," jawab Rhea sambil menggandeng tangan suaminya, kemudian berjalan ke ruang tamu meninggalkan Shinta yang sedang mengaduk-aduk bubur sesuai perintah Rhea.


Kaki Rhea terasa berhenti ketika mendekati ruang tamu. Langkah Ustadz Fariz pun otomatis juga berhenti, dia mengerti akan kegelisahan dan keraguan yang sedang Rhea rasakan. Ustadz Fariz memegang telapak tangan Rhea dan berkata,


"Tenang Sayang, rileks, Abi selalu ada di samping kamu. Dan ingat bagaimana besarnya cinta Abi pada Bunda," Ustadz Fariz berbisik di telinga Rhea.


Rhea mengangguk dan tersenyum mendengar bisikan dari suaminya. Kemudian dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Setelah dirasa cukup, Rhea segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu.


Semua mata yang ada di ruang tamu itu beralih melihat ke arah Rhea dan Ustadz Fariz yang masuk ke ruang tamu dengan tangan Rhea yang melingkar di lengan Ustadz Fariz.


"Rhea, aku mau bicara," ucap Pandu yang dulunya bernama Andri ketika menjadi suami Rhea.


Rhea tidak menjawab, dia duduk di samping Ustadz Fariz yang berarti duduk di depan Pandu.

__ADS_1


"Bu... pipis... Hana mau pipis?" ucap Hana merengek pada Ani setelah meletakkan kembali kue yang sedari tadi dia makan pada piring kue tang dihidangkan oleh Rhea tadi.


"Ha-Hana?" ucap Rhea kaget.


__ADS_2