Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 185 Apa kamu bersedia?


__ADS_3

Sepulangnya Pak Ratmo dari bekerja, dia menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan pak RT sesuai dengan perintahnya tadi.


"Assalamu'alaikum...," Pak Ratmo mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam...," jawab seseorang dari dalam rumah tersebut.


"Oh Pak Ratmo, silahkan masuk Pak," ucap pak RT sambil tangannya mempersilahkan pak Ratmo untuk masuk ke dalam ruang tamu.


"Terima kasih Pak," ucap pak Ratmo sambil berjalan masuk ke dalam ruang tamu.


"Maaf Pak, ada apa ya sebenarnya saya dipanggil kemari?" Pak Ratmo bertanya pada pak RT dengan sungkan.


"Begini Pak, saya ingin menanyakan pada Bapak, sebenarnya apa hubungan Bu Mirna dengan laki-laki yang tinggal di rumah Pak Ratmo?" tanya pak RT pada Pak Ratmo.


"Ada apa ya Pak, kok Pak RT sampai menanyakan hubungan mereka?" Pak Ratmo bertanya pada pak RT.


"Begini Pak, saya mendapatkan laporan dari warga bahwa Bu Mirna dengan laki-laki tersebut memiliki seorang bayi. Apa mereka sudah menikah Pak? Jika belum,saya mohon Bapak segera menikahkan mereka karena ini merupakan permintaan dari seluruh warga Pak," pak RT menjelaskan pada pak Ratmo.


"Tapi bayi itu bukan anak mereka Pak. Bayi itu memang benar anak Pandu dengan istrinya yang meninggal pada saat melahirkan bayi tersebut. Dan Mirna hanya membantu menjaganya saja apabila Pandu sedang bekerja. Saya rasa itu tidak masalah Pak. Kita kan cuma membantunya saja karena dia menyewa rumah saya yang di belakang itu untuk tempat tinggalnya bersama anaknya," pak Ratmo berusaha menjelaskan pada pak RT.


"Tapi mereka merasa hubungan Bu Mirna dan laki-laki itu sudah terlalu dekat Pak, kata semua orang mereka sudah seperti suami istri. Dan bukan hanya warga sekitar sini saja Pak yang berkata seperti itu. Orang-orang di pasar juga berpendapat seperti itu," pak RT menanggapi penjelasan dari Pak Ratmo.


"Lalu bagaimana kami menjelaskannya pada mereka semua Pak. Saya harap Pak RT bisa menjelaskannya pada mereka agar mereka tidak berpikiran seperti itu lagi," pak Ratmo memohon pada pak RT.


"Sebentar Pak, lebih baik saya panggilkan perwakilan dari mereka saja biar Pak Ratmo bisa berbicara sendiri pada mereka," ucap pak RT kemudian.


Pak RT pun meninggalkan Pak Ratmo untuk memanggil perwakilan dari warga yang membuat laporan tentang Mirna dan Pandu padanya.


Tidak lama setelah itu, datanglah beberapa orang yang diketahui pak Ratmo sebagai warga sekitar daerahnya. Mereka memulai pembicaraan tentang keluhan mereka yang mengatakan bahwa Mirna dan Pandu mencoreng nama baik desa mereka.


Mereka meminta agar Mirna dan Pandu segera dinikahkan apabila mereka memang belum menikah. Dan apabila mereka sudah menikah, mereka ingin Mirna dan Pandu menunjukkan akta nikah mereka sebagai bukti.


Kurang lebih selama dua jam mereka berdiskusi masalah Mirna dan Pandu. Setelah itu Pak Ratmo pulang dengan diselimuti pikiran dan kekhawatiran pada Mirna, Pandu dan juga kedua anak Pandu.

__ADS_1


Pak Ratmo benar-benar sangat kasihan pada Hana dan Emir yang masih sangat kecil jika tidak memiliki tempat tinggal.


"Assalamu'alaikum...," Pak Ratmo memberi salam ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Anita yang keluar dari dalam kamarnya.


"Kok lama Pak pulangnya? Apa ada acara di Pondok Pesantren Al-Mukmin?" tanya Anita ketika menyambut kedatangan Pak Ratmo.


"Tidak ada acara di Pondok Pesantren Al-Mukmin, hanya saja Bapak tadi mampir ke rumah Pak RT terlebih dahulu," jawab pak Ratmo sambil memandang Anita seolah ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa Pak? Kok tumben-tumbenan Pak RT memanggil Bapak?" tanya Anita kembali dengan menampilkan wajah herannya.


"Bisa Bapak bicara sebentar sama kamu?" pak Ratmo bertanya dengan ragu.


"Boleh aja dong Pak. Kita mau bicara di mana Pak?" Anita menjawab sekaligus bertanya kembali pada bapaknya.


"Di dalam kamarmu saja Nit," jawab Pak Ratmo sambil berjalan masuk kamar Anita.


Anita pun mengikuti Pak Ratmo masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ranjangnya bersebelahan dengan pak Ratmo.


"Begini Nduk, ini tentang Mirna dan Pandu," pak Ratmo menjeda ucapannya untuk berpikir sejenak.


"Mbak Mirna dan Mas Pandu? Memangnya ada apa dengan mereka Pak?" tanya Anita heran.


Pak Ratmo menceritakan pada Anita kenapa dia dipanggil oleh pak RT dan juga menceritakan pembahasannya dengan perwakilan warga tentang permasalahan Mirna dan Pandu.


"Lalu Pak bagaimana dengan keputusan Bapak?" tanya Anita pada Pak Ratmo.


"Bapak ingin menikahkan mereka berdua, Mirna dengan Pandu," jawab Pak Ratmo sambil menatap wajah Anita.


Anita kaget mendengar jawaban dari bapaknya, dan dia berpikir sejenak sebelum akhirnya dia bertanya pada bapaknya.


"Apa tidak ada cara lain Pak?"

__ADS_1


"Bapak sudah tidak bisa berpikir ada jalan lain Nduk. Tadi Bapak juga berdiskusi dengan mereka, mangkanya Bapak tadi lama sekali berada di sana. Dan keputusan mereka tetap saja seperti itu. Mirna dan Pandu harus menikah. Jika tidak, mereka berdua harus pindah dari desa ini. Bapak bingung sekali Nduk," ucap Pak Ratmo dengan lesu.


"Apa kira-kira mereka berdua mau Pak?" tanya Anita kembali pada bapaknya.


"Tidak ada jalan lain jika mereka tidak mau pindah dari rumah ini," jawab pak Ratmo.


"Bapak kan tau sendiri jika Mbak Anita sikapnya seperti itu dengan Mas Pandu dan kedua anaknya. Apa kira-kira Mbak Mirna mau ya Pak?" tanya Anita kembali pada bapaknya.


"Tapi Bapak lihat Mirna sangat senang sekali mengurus Emir dan Hana. Kalau dengan Pandu, Bapak belum tau. Tapi mungkin saja perasaan cinta mereka akan tumbuh seiring jalannya mereka hidup bersama," jawab pak Ratmo.


Anita hanya diam mendengarkan apa yang bapaknya katakan, dan dia memikirkan lagi tentang Mirna dan Pandu.


"Bagaimana Nit, apa kamu menyetujui pernikahan ini? Dan apakah Pandu mau melakukannya?" tanya Pak Ratmo pada Anita.


Pada saat Pandu melewati kamar Anita untuk mengambil baby Emir, dia mendengar apa yang Pak Ratmo tanyakan pada Anita.


"Kalau Anita sih setuju-setuju aja Pak. Dan kalau Mas Pandu.... mending Bapak tanya sendiri aja deh," jawab Anita sambil tersenyum pada bapaknya.


Apa Pak Ratmo akan menikahkan aku dengan Anita? tanya Pandu dalam hatinya.


"Ya udah Nit, bapak mau ke Mirna dulu," ucap Pak Ratmo sambil berdiri dan berjalan keluar kamar.


Pandu segera bersembunyi ketika mendengar jika Pak Ratmo akan keluar dari kamar Anita. Dan dia berpura-pura berjalan memasuki rumah pak Ratmo ketika Anita keluar dari kamarnya.


"Eh Nit, Emir di mana ya?" tanya Pandu dengan menampakkan senyumnya.


"Mau dibawa pulang?" tanya Anita pada Pandu.


"Iya Nit. Apa dia tidur?" tanya Pandu kembali.


"Sebentar, biar Nita ambil dulu di kamar Mbak Mirna. Dari tadi Emir sama Mbak Mirna terus di kamarnya. Mas Pandu duduk aja disitu," ucap Anita sambil menunjuk kursi di ruang untuk menonton televisi.


Dan Anita pun masuk ke dalam kamar Mirna untuk mengambil Emir. Di dalam sana suasana sedang tegang. Anita hanya berharap agar dia tidak terkena amukan dari Mirna.

__ADS_1


"Bagaimana Mir, apa kamu bersedia menikah dengan Pandu?" tanya Pak Ratmo pada Mirna.


__ADS_2