
Ustad Fariz menghempaskan tangan Mirna yang menariknya. Kemudian dia memegang tangan Mirna dan berkata,
"Mirna, aku mohon mengertilah aku. Sekarang Rhea sangat membutuhkanku. Aku akan bersamanya setiap saat jika dia membutuhkan. Ini keputusanku. Tolong patuhi aku sebagai suamimu. Sekarang pulanglah," ucap Ustad Fariz setelah itu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Mas... Mas... Mas mau kemana? Mas..."
Umi Sarifah mendekati Mirna dan mengusap pundaknya.
"Mirna hormati keputusan suamimu dan cobalah mengerti keadaannya. Pulanglah, tenangkan dirimu dan merenunglah," tutur Umi Sarifah.
Mirna besungut marah dengan keputusan suaminya. Dia tidak bisa menerima keputusan suaminya.
"Semua gara-gara kamu. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sama Mas Fariz. Aku benci kamu. Jangan karena kamu hamil kamu bisa menguasai Mas Fariz. Kamu-"
"Mirna cukup! Pulanglah selagi aku masih bisa memaafkanmu!" Bentak Ustad Fariz yang keluar dari persembunyiannya dibalik tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.
Kemudian dia meraih tangan Rhea dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka yang berada di rumah Umi Sarifah.
"Mirna, sudahlah Nduk, kamu harus mengerti. Umi yakin suamimu pasti akan bisa bersikap adil pada kalian, asalkan kamu bisa menghargainya dan Rhea. Umi mohon berdamailah dengan keadaan dan jangan menyalahkan Rhea lagi, karena dia hanya orang yang kalian bawa masuk ke dalam rumah tangga kalian. Sekarang pulanglah," Umi Sarifah mengantar Mirna keluar dari rumahnya.
"Dia yang memaksa masuk ke dalam rumah tangga kami Umi, dia pelakor," ucap Mirna kesal penuh emosi.
" Nduk ingat, dia bukan memaksa masuk, tapi dia kalian bawa masuk, karema kamu yang menyuruh suamimu menikahinya dan suamimu juga menyetujuinya. Jadi dimana letak kesalahannya? Kamu harus sadar Nduk," tutur Umi Sarifah menyadarkannya.
"Ah udahlah, semuanya memang tidak ada yang berpihak padaku," ucap Mirna penuh emosi.
Mirna berjalan menuju rumahnya dengan perasaan bercampur aduk antara marah, emosi dan kesal. Dia tidak bisa menerima jika dirinya kalah. Kalah karena dia belum bisa memberikan seorang anak pada suaminya dan kalah mendapatkan perhatian suaminya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah dia mencari cara agar suaminya memperhatikannya sama seperti memperhatikan Rhea. Emosi dan kemarahannya menjadikan dendam di hati Mirna. Dia bertekad akan membuat Rhea menyesal karena mengambil miliknya.
"Bie, kasihan Mbak Mirna. Hubby pulang aja deh ke rumah Mbak Mirna, biar aku sama Umi aja disini," ucap Rhea yang merasa tidak enak pada Mirna.
"Biarkan saja dia sendiri sekarang. Dia harus merenungkan kesalahannya agar dia bisa sadar," ucap Ustad Fariz yang membantu Rhea menyisir rambut panjangnya di depan cermin.
"Tapi Bie, memang benar sekarang waktunya Hubby bersama Mbak Mirna. Aku mengerti Bie, cuma....," Rhea ragu meneruskan ucapannya.
"Aku mengerti sayang tanpa kamu harus menjelaskan. Udah ya kamu gak usah memikirkan hal yang lain. Kamu harus pikirkan kesehatan anak kita agar dia selalu sehat di dalam sana," kini Ustad Fariz berjongkok di depan Rhea yang sedang duduk di depan cermin dan mengusap lembut perut Rhea yang masih datar.
Rhea tersenyum senang mendapatkan perlakuan itu dari suaminya. Tangan Rhea mengusap-usap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.
Ustad Fariz menciumi perut Rhea dan tersenyum bahagia. Dia merasa sangat bahagia jika seandainya mereka bisa setiap hari dan setiap saat seperti itu.
Di rumahnya seorang diri membuat Mirna semakin kalut. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. Semua barang yang ada di kamarnya disemburatkan ke sembarang arah. Kebiasaan Mirna ini yang sama sekali tidak berubah. Setiap dia marah, selalu saja bertindak seperti ini.
Ketika dia sibuk dengan kemarahannya, sepintas dia mendapatkan ide agar suaminya kembali memperhatikannya.
"Ya, aku harus melakukan hal yang sama dengan dirinya. Akan aku balas dengan cara yang sama," seringaian Mirna seolah menandakan keberhasilan rencananya.
Mirna mengemasi baju dan barang-barang pribadinya untuk dia bawa pergi ke rumah Pamannya. Tidak ada lagi tempat yang bisa dia tuju selain rumah Pamannya. Kali ini dia bertekad tidak akan kembali pulang selama dia belum dijemput suaminya.
Beruntungnya rumah Pamannya berjarak dekat dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin sehingga dia bisa kesana hanya dengan berjalan kaki saja.
Pak Ratmo kaget ketika membukakan pintu dan mendapati Mirna ke rumahnya larut malam tanpa ditemani atau diantar oleh suaminya.
Mirna bersikeras menginap di rumah Pamannya sampai suaminya menjemputnya. Pak Ratmo menasehati Mirna agar dia kembali pulang ke rumahnya dan membicarakan masalah mereka baik-baik, namun Mirna menolak dan dia menceritakan semua yang terjadi berdasarkan versinya.
__ADS_1
Pak Ratmo kecewa dengan suami Mirna tetapi dia kenal baik dengan suami Mirna yang menjadi Kyai penanggung jawab di Pondok Pesantren tempat dia mengabdi. Pak Ratmo tidak percaya jika suami Mirna bersikap seperti itu, maka dia harus mengambil jalan tengah, dia harus bertanya pada suami Mirna.
Keesokan harinya, Ustad Fariz ditemui Pak Ratmo di ruangan kantornya. Pak Ratmo mengatakan bahwa semalam Mirna datang ke rumahnya dengan membawa baju-bajunya. Pak Ratmo meminta penjelasan dari Ustad Fariz sebagai suami Mirna.
Dengan sangat terpaksa Ustad Fariz menceritakan semua yang terjadi tanpa menutup-nutupinya. Sebenarnya Ustad Fariz tidak mau menceritakan masalah rumah tangganya dengan orang lain, namun karena ulah Mirna yang kabur dari rumah dan tinggal di rumah Pamannya tanpa sepengetahuannya, mau tidak mau Ustad Fariz harus menjelaskannya karena Paman Mirna meminta penjelasan padanya.
Pak Ratmo menjadi pusing karena cerita versi Mirna dan Ustad Fariz berbeda. Bahkan Pak Ratmo lebih mempercayai Ustad Fariz dibandingkan dengan Mirna yang merupakan keponakannya sendiri.
Pak Ratmo meminta maaf kepada Ustad Fariz untuk sikap dan sifat Mirna yang sangat keterlaluan. Dan dia meminta agar Ustad Fariz mau memaafkan Mirna dan menjemputnya untuk kembali pulang ke rumah.
Namun sayangnya Ustad Fariz mengatakan bahwa dia tidak akan menjemput Mirna karena Mirna pergi tanpa ijin dari suaminya. Dia akan memaafkannya jika Mirna pulang dengan sendirinya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Pak Ratmo untuk membujuk Kyai nya itu. Dia juga merasa sangat malu karena ulah dari keponakannya sendiri. Apalagi dengan Umi Sarifah, dia merasa enggan bertemu karena terlalu malu padanya.
Malam hari ketika Pak Ratmo pulang dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, Mirna menanyakan dengan antusias pada Pamannya. Dia menanyakan apakah suaminya kebingungan mencarinya dan bertanya pada Pamannya.
Namun Pak Ratmo tidak menjawabnya. Dia hanya memberi nasehat pada Mirna agar Mirna segera pulang dan bersikap layaknya istri yang baik. Dan dia memberikan contoh-contoh sikap istri yang baik pada Mirna.
Mirna tetaplah Mirna yang memang keras kepala. Dia tidak mendengarkan Pamannya menasehatinya, dia malah sibuk mengumpat suami dan madunya dalam hati.
Seperti biasa, selepas shalat tarawih di kediaman Umi Sarifah mereka makan bersama. Umi Sarifah, Ustad Jaki, Ustad Fariz dan Rhea berada di meja makan dan menyantap makanan yang sudah disediakan di meja makan.
"Tumben Mbak Mirna gak kesini? Sepertinya seharian ini damai ketika dia tidak berbuat ulah," Ustad Jaki memulai pembicaraan pada saat mereka meminum teh di ruang keluarga sambil menonton TV.
"Dia tidak ada di rumah," jawab Ustad Fariz sambil mengambilkan susu Ibu hamil yang ada di meja untuk meminumkannya pada Rhea.
"Loh Mbak Mirna kemana Bie?" tanya Rhea sebelum membuka mulutnya ketika gelas susu yang dipegang Ustad Fariz berada di depan mulutnya.
__ADS_1
"Tadi siang Pamannya datang ke kantor dan mengatakan bahwa Mirna menginap disana semalam," Ustad Fariz menjawabnya dengan enteng.
"Minggat?"