
Rhea kembali down, dia merasa jika kehadirannya di sana bisa membuat keadaan jadi tidak nyaman dan semakin kacau. Apalagi Rhea sedang sensitif karena kehamilannya, dia merasa dirinyalah yang menjadi sumber masalah.
"Bie, apa aku tinggal di rumah Ibu aja sementara?" Rhea mengatakannya dengan ragu, namun dia memberanikan dirinya untuk berbicara.
"Apa? Kenapa Sayang, apa kamu tidak percaya padaku?" Ustad Fariz memegang kedua tangan Rhea dan menatap intens manik matanya.
"Bukan begitu Bie, aku... aku hanya ingin menenangkan diri aja, agar tidak mempengaruhi kehamilanku," Rhea menunduk, tidak berani menatap mata suaminya.
Lama Ustad Fariz memandang wajah istrinya yang sepertinya sedang sedih dan mungkin juga dia merasa tidak nyaman karena gangguan dari Mirna yang secara terus menerus membuatnya semakin tertekan.
Ustad Fariz berpikir, dia tidak boleh egois. Memang dia tidak mau berpisah dengan istrinya, apalagi sekarang istrinya sedang mengandung buah hati mereka. Tapi dengan keadaan yang seperti ini tidak baik juga untuk keadaan istrinya yang sedang mengandung dan juga tidak baik untuk kandungannya.
Ustad Fariz tahu jika Rhea tidak bermaksud lari dari keadaan, dia hanya ingin mencegah terjadinya masalah yang lebih jauh lagi, karena semua tahu jika Mirna akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya.
"Kamu serius Sayang? Apa kamu tau jika aku tidak mau dipisahkan dari kalian?" Ustad Fariz mencoba membujuk istrinya.
Rhea tidak menjawab, dia hanya diam dan kepalanya masih menunduk ke bawah. Sebenarnya dia tidak mau jauh dari suaminya, pasti nantinya akan tersiksa baginya. Tapi jika batinnya terluka secara terus menerus, dia takut kandungannya akan melemah karena terlalu stress.
Ustad Fariz menoleh ke arah Umi Sarifah untuk meminta pendapatnya, namun Umi Sarifah hanya tersenyum yang menandakan itu harus diputuskan oleh Ustad Fariz sendiri.
Lalu Ustad Fariz menoleh ke arah Ustad Jaki yang masih sibuk mengunyah kue buatan Rhea, Ustad Fariz bertanya melalui matanya pada Ustad Jaki, namun lagi-lagi dia hanya mendapatkan senyuman dari Ustad Jaki.
Ustad Fariz menghirup udara dalam-dalam dan menghela nafasnya berat, bagaimanapun dia tidak boleh egois, dia harus memutuskan demi kebaikan istrinya dan anak yang masih ada dalam kandungannya.
"Zahra, Sayang....," Ustad Fariz mengambil dagu istrinya dan mendongakkan wajahnya agar istrinya melihat padanya.
"Aku akan pikirkan dulu ya, aku juga tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian. Aku ingin kamu dan anak kita tetap sehat sampai kita akan bertemu dengannya nanti," tangan Ustad Fariz mengusap lembut perut Rhea dan hal itu membuat Rhea lebih tenang dan bahagia.
Bagaimana aku bisa jauh darimu Bie? Aku rasa aku tidak bisa, aku rasa aku dan anak kita akan selalu merindukanmu. Aku harus bagaimana Ya Allah... sedangkan aku hanya ingin ketenangan agar tidak terbebani masalah ini, mata Rhea tak henti menatap lekat mata suaminya, menyelami dengan sangat dalam perasaan yang ada untuknya.
"Lebih baik sekarang kalian istirahat saja dulu. Jangan pikirkan apa-apa ya Nduk, agar kamu bisa beristirahat dengan nyenyak," senyuman dari Umi Sarifah menenangkan Rhea dan usapan tangan Umi Sarifah yang berada di kepala Rhea mampu membuat Rhea merasa di sayangi oleh Umi Sarifah.
"Yuk sayang kita istirahat dulu," Ustad Fariz membantu istrinya berdiri dan merangkul pundaknya ketika mereka berjalan menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Bie...," Rhea memanggil suaminya ketika mereka berada di dalam kamar, suaminya menyelimuti tubuh Rhea yang sudah berbaring di ranjang.
Ustad Fariz mendongak memandang wajah Rhea ketika istrinya itu memanggilnya.
"Hmmm? Ada apa Sayang?" senyuman Ustad Fariz mengembang ketika bertanya pada istrinya.
"Maaf Bie, maaf udah buat Hubby repot dan memikirkan hal yang tidak penting," Rhea menyesal telah meminta untuk tinggal di rumah Ibunya sementara.
Melihat wajah Ustad Fariz yang sepertinya banyak pikiran dan sedih ketika Rhea meminta untuk tinggal sementara di rumah ibunya, Rhea jadi tidak tega dan menyesali permintaannya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu tidak pernah merepotkanku Sayang, dan jika memang benar kamu merepotkanku dan membuatku memikirkanmu itu tidak masalah, karena kamu itu istriku, bukan orang lain. Kamu tenang aja ya, kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran dan tidak boleh bersedih, karena anak kita yang ada di sini pasti merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya," Ustad Fariz kembali mengusap lembut perut Rhea dan membuatnya kembali bersyukur mempunyai suami sepertinya.
"Oh iya, apa udah minum susu?" Ustad Fariz baru teringat kalau dia belum membuatkan istrinya susu ibu hamil.
"Udah Bie tadi, tapi belum abis keburu Mbak Mirna dateng," Rhea nyengir memperlihatkan deretan giginya.
"Pasti udah dingin. Aku buatkan lagi aja ya," Ustad Fariz menawari Rhea untuk dibuatkan susu yang baru agar lebih hangat di badan.
"Boleh, terserah Hubby aja deh," senyum kembali merekah di bibir Rhea untuk menenangkan hati suaminya.
Ustad Fariz berjalan ke ruang tengah untuk mengambil gelas susu Rhea yang masih tersisa separuh.
"Gimana keadaan Rhea?" Umi Sarifah bertanya dengan nada khawatir pada Ustad Fariz.
"Masih seperti tadi Umi, hanya saja dia merasa bersalah katanya sudah merepotkan dan membuat aku memikirkan hal yang tidak penting," Ustad Fariz tersenyum getir sambil memegang gelas susu tadi, namun kini dia beralih duduk karena diajak berbicara dengan Umi Sarifah.
"Terus gimana? Apa masih perlu dia tinggal di rumah ibunya? Kenapa gak di rumah neneknya aja sih?" sahut Ustad Jaki mencoba memberi saran.
"Mungkin kalau di rumah neneknya dia takut mendengar gosip dari orang sekitarnya kali, gak mungkin kan mereka gak tau gosip itu," Ustad Fariz mencoba menelaah jalan pikiran istrinya.
"Bisa juga sih. Terus gimana?" Ustad Jaki kembali menanyakan keputusan Ustad Fariz.
"Pikirkan dulu baik-baik Le, gak usah terburu-buru. Umi yakin kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik demi kalian, terutama demi istrimu dan anak yang ada dalam kandungannya," Umi Sarifah memberi saran pada Ustad Fariz.
__ADS_1
Sejenak Ustad Fariz berpikir, kemudian dia membuat keputusan.
"Baiklah, jika memang Rhea masih ingin tinggal di rumah ibunya, aku akan mengantarkan dia ke sana, tapi aku akan menjemputnya kembali ketika sidang putusan cerai sudah selesai sehingga Mirna tidak bisa lagi mengganggu kami," Ustad Fariz sudah memantapkan keputusannya demi yang terbaik meskipun dia tidak ingin jauh dari istri dan anaknya yang masih dalam kandungan.
"Semoga saja istrimu berubah pikiran, karena Umi tau jika kamu tidak ingin berpisah darinya," Umi Sarifah memberikan doanya sekaligus menggoda Ustad Fariz.
"Ah Umi... udah ah, aku mau bikin susu dulu buat Rhea," Ustad Fariz tersipu malu dan dia berdiri untuk beranjak ke dapur.
"Dasar, udah tua pakai malu," Ustad Jaki meledek Ustad Fariz.
"Daripada gak laku," ucap Ustad Fariz seraya berjalan menuju dapur.
"Siapa bilang, liat aja pasti sebentar lagi akan ada kabar pernikahan," Ustad Jaki berteriak agar Ustad Fariz mendengar perkataannya.
"Memangnya sudah diterima Le sama Shinta?" Umi Sarifah bertanya penasaran.
"Hehehe... doakan aja Umi, mungkin tampangku meragukan kali ya Umi, mangkanya Shinta masih belum jawab," Ustad Jaki mencoba bertanya pendapat dari Umi Sarifah.
"Bukannya meragukan, mungkin Shinta masih perlu waktu untuk memantapkan hatinya. Kamu sabar aja ya," Umi Sarifah menenangkan hati Ustad Jaki dan mendengar perkataan Umi Sarifah membuat Ustad Jaki mengangguk mantap serta kembali bersemangat menunggu jawaban dari Dokter Shinta, pujaan hatinya.
......................
Di dalam rumah Pak Ratmo, Mirna menangis karena dimarahi habis-habisan oleh Pak Ratmo. Sebenarnya Pak Ratmo sama seperti Ustad Fariz yang tidak tega memarahi Mirna, namun apa daya, Mirna tidak akan pernah bisa mengerti dan tidak akan berubah jika terus-terusan hanya diberi pengertian saja.
Kali ini Pak Ratmo mencoba untuk lebih keras lagi mendidik Mirna karena umurnya sudah lebih dewasa daripada Anita, harusnya Mirna bisa lebih cepat menyadari kesalahannya.
"Bukan aku Paman, bukan aku yang melakukannya," Mirna masih bersikukuh bahwa dia tidak bersalah.
"Mir, itu semua sudah terbukti dan nanti jika di pengadilan memang saksi dan buktinya lebih kuat, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tetap tidak mau mengaku?" Pak Ratmo kesal sekali dengan Mirna.
"Hah? Kalau gitu aku harus bagaimana Paman?" Mirna bingung harus berbuat apa nanti di pengadilan.
"Emboh Mir... karepmu, terserah kamu," Pak Ratmo meninggalkan Mirna sendiri duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Haduuuh..... mana tadi gagal bujuk Mas Fariz lagi, gimana caranya mbatalin pengadilan ya? Pokoknya aku gak mau persidangan ini tetap ada.