Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 89 Dasar gak peka!


__ADS_3

Mata Rhea dan Shinta menatap tajam Ustad Jaki setelah mendengar candaan yang keluar dari mulutnya.


"Wow ngeri Ustad tatapan matanya seperti mengeluarkan laser yang bisa meluluhkan hati," Ustad Jaki mencoba lelucon agar para wanita itu tertawa setelah mendengarnya, namun sayangnya mereka malah lebih lebar lagi melototnya dan itu membuat Ustad Jaki langsung mengatupkan kedua bibirnya.


Sedangkan Ustad Fariz merasa ada yang aneh dengan istrinya, karena selama ini istrinya tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Sayang kenapa?" Ustad Fariz bertanya sambil menggapai kedua tangan Rhea dan menggenggamnya.


"Dasar laki-laki gak peka," Rhea mengomel tanpa melihat wajah suaminya.


"Gak peka? Siapa? Aku?" tanya Ustad Fariz bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kalian berdua. Iya gak Shin?" Rhea meminta dukungan Shinta dan Shinta menganggukkan kepalanya.


Ustad Fariz menoleh pada Ustad Jaki karena dia merasa bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya, berharap Ustad Jaki bisa membantunya.


Seolah Ustad Jaki mengerti apa yang ditanyakan oleh Ustad Fariz, dia menggeleng tanda bahwa dia tidak mengetahuinya. Ustad Fariz menghela nafasnya dan dia menyerah akan teka-teki yang bisa membuatnya pusing hingga berkepanjangan, karena bisa dipastikan jika wanita sudah ngambek, pasti akan bertahan lama dan itu akan membuat kaum pria terancam kesejahteraannya.


"Kenapa sih Sayang, jelasin dong biar aku ngerti," Ustad Fariz mendekatkan dirinya pada tubuh istrinya berharap istrinya akan luluh padanya.


"Ehemm... seneng banget kayaknya ngobrol sama Ustadzah-Ustadzah itu, sampai ketawa-ketawa gitu gak inget waktu, kitanya dilupain duduk nyempil dipojokan. Ya gak Shin?" Rhea menyindir Ustad Fariz dan Ustad Jaki dan meminta dukungan dari Shinta.


"He eh, tau gitu gak usah sempet-sempetin hadir ke sini tadi kalau akhirnya di cuekin kayak tadi," kini giliran Shinta yang menyindir Ustad Jaki dan Ustad Fariz.


"Eh mana ada kalian nyempil di pojokan, orang kalian duduk di depan sama Umi," Ustad Jaki meralat perkataan Rhea dan dukungan Shinta pada Rhea.


Ustad Fariz memukul lengan Ustad Jaki yang ada di sebelahnya berharap agar Ustad Jaki tidak meneruskan kata-katanya. Namun naasnya, mood para wanita semakin bertambah buruk, muka mereka semakin kesal dan lirikan matanya tajam menghunus mereka berdua.


Glek!


Ustad Fariz dan Ustad Jaki menelan ludahnya sendiri melihat ekspresi kesal dengan lirikan tajam dari pasangannya.


"Masih aja gak peka," sewot Shinta yang diangguki oleh Rhea.


"Kita kan lagi bahas acara Sayang, jangan curiga gitu dong," baru kali ini Ustad Fariz merayu Rhea karena cemburu.


Tangan Ustad Fariz menggenggam kembali kedua tangan Rhea. Dan itu menyebabkan Ustad Jaki iri, karena dia tidak bisa membujuk Shinta dengan memegang tangannya.

__ADS_1


"Ck, pegang-pegangannya di dalam kamar aja, bikin orang lain ngiri aja," sindir Ustad Jaki pada Ustad Fariz.


"Mangkanya cepat dihalalkan biar bisa pegang-pegang tangan kayak gini," Ustad Fariz memperlihatkan tangan Rhea dan tangannya yang saling bertautan.


Rhea tersenyum namun ditahannya, karena baru kali ini dia merasakan dibujuk dan dirayu oleh suaminya, rasanya senang sekali hatinya.


"Gimana bisa cepat halal kalau ngambek gini," jawab Ustad Jaki yang juga ikut kesal sekarang.


"Mangkanya jadi laki-laki harus peka," kini Rhea menjawab karena sudah tidak tahan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya mereka obrolkan tadi sehingga mereka tertawa senang sampai waktu acara akan dimulai.


"Gak peka gimana sih? Kita itu lagi ngurusin acara loh, gak ngapa-ngapain juga, dan kita ngobrolnya rame-rame, di tempat terbuka juga, terus apa masalahnya?" Ustad Jaki mengeluarkan kekesalannya karena merasa tidak bersalah.


"Iya kalian gak ngerasain apa-apa, merekanya aja yang cari-cari kesempatan, deket-deket laki orang, gak nyadar apa kalau yang dideketin udah punya pasangan?" keluar sudah semua kekesalan Rhea yang dia rasakan sejak tadi.


"Owalah ini ceritanya kalian sedang cemburu toh," Ustad Fariz tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, senang sekali rasanya istrinya cemburu dengan wanita lain yang dekat dengannya.


"Seneng banget dicemburui," Rhea menatap kesal Ustad Fariz sambil menghempaskan genggaman tangannya.


Seketika senyum Ustad Fariz menjadi luntur karena tangannya dihempaskan oleh istrinya. Diraihnya kembali tangan Rhea, namun lagi-lagi Rhea menghempaskannya. Begitulah seterusnya sampai Ustad Jaki kembali meledek.


"Cieee.... yang lagi cemburu....," Ustad Jaki meledek Rhea yang jelas-jelas kesal dan ngambek karena cemburu dengan Ustadzah Indri.


Ustad Jaki mengatupkan kedua bibirnya ketika Ustad Fariz menatap tajam ke arahnya. Daripada dia pusing melihat Ustad Fariz yang masih membujuk dan merayu Rhea, akhirnya dia ikut membujuk dan merayu Shinta agar tidak ikut kesal seperti Rhea karena kini Shinta benar-benar menatapnya dengan penuh kekesalan.


"Shinta cantik banget deh kalau pakai gamis syar'i kayak gini," Ustad Jaki mencoba merayu Shinta.


"Oh biasanya gak cantik ya, kan biasanya gak pakai gamis syar'i kayak gini. Mangkanya lebih seneng deket sama Ustadzah Farida kan dia tiap hari pakai gamis syar'i," Shinta menjawab rayuan Ustad Jaki dengan memojokkannya.


Gawat, kenapa jadi aku yang gali lubang kematianku sendiri? batin Ustad Jaki merutuki kebodohannya.


Ustad Fariz yang sedang sibuk merayu Rhea, jadi berhenti dan menahan tawanya karena mendengar jawaban dari Shinta yang membuat Ustad Jaki menjadi frustasi. Tampak jelas wajah Ustad Jaki yang frustasi karena rayuannya berimbas pada dirinya sendiri.


"Enggak lah, aku gak pernah tuh merhatiin Ustadzah Farida. Lagian kita tadi cuma ngobrol biasa Shin, beneran. Tuh tanya aja sama Ustad Fariz kalau gak percaya," Ustad Jaki mencoba membela dirinya kembali.


"Gak pernah merhatiin apanya, tadi ngomongnya saling pandang tuh, terus ngomong biasa apanya, wong kalian ketawa-ketawa sampai gak ingat kalau kita tungguin di kursi tamu," Shinta mewakili Rhea untuk membahas kejadian tadi.


"Iya, Hubby juga gitu, gak ingat aku udah nunggu lama di kursi tamu malah asyik ngobrol sampai ketawa-ketawa sama Ustadzah Indri. Ngomongin apaan sih? Dia kan bukan panitia. Apa maksudnya dari tadi ambil kesempatan deket-deket suami orang?" kini giliran Rhea mengeluarkan unek-uneknya pada suaminya.

__ADS_1


"Gak usah cemburu gitu Sayang, kamu kan tau aku gak bakalan kayak gitu. Baru kemarin masalah Mirna selesai, aku gak mau tambah masalah lagi. Udah cukup masalah Mirna yang buat aku pusing, dan aku gak mau kepalaku bertambah pusing dengan masalah-masalah seperti itu," Ustad Fariz mencoba menjelaskan pada istrinya.


"Ustadzah Indri?" celetuk Ustad Jaki keheranan.


"Iya, Ustadzah Indri tuh sepertinya suka sama Ustad Fariz," ucap Shinta.


"Dan Ustadzah Farida suka sama Ustad Jaki," Rhea menimpali ucapan Shinta.


"Masa' sih? Kok kita gak tau ya Ustad?" Ustad Jaki bertanya pada Ustad Fariz.


Ustad Fariz hanya menggerakkan bahunya tanda dia tidak tahu. Sejujurnya dia bingung bagaimana caranya meredakan rasa cemburu istrinya, karena baru kali ini dia berada dalam situasi seperti ini.


"Tapi kita kan gak nanggepin mereka, iya kan Ustad? Kecuali kalau Ustad Fariz akan menikah dengan Ustadzah Indri, baru kamu boleh cemburu," ucap Ustad Jaki yang bermaksud membela Ustad Fariz, namun karena Rhea sedang kesal dan sedang sensitif karena kehamilannya, dia menganggapnya berbeda.


Rhea menganggap ucapan Ustad Jaki sangat menyakiti hatinya karena mendengar kata menikah. Sungguh Rhea sekarang membenci kata poligami, karena dia sudah pernah merasakan sakitnya dipoligami.


"Oh gitu, nikah ya? Jadi Hubby mau nikah lagi?" suara Rhea kini sudah bergetar, dia menahan tangisnya, matanya juga berkaca-kaca.


"Enggak Sayang, enggak. Sampai kapanpun aku gak akan nikah dengan siapapun. Cuma kamu satu-satunya istriku," Ustad Fariz bertambah pusing membujuk Rhea agar tidak marah lagi, dan dia menatap horor pada Ustad Jaki yang telah melontarkan kata pernikahan sehingga Rhea menanggapinya dengan hal yang berbeda.


Rhea ingin mengatakan jika dia tidak ingin dipoligami, namun rasanya dia egois dan kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya.


Rhea beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sayang... Sayang...," seru Ustad Fariz memanggil Rhea agar berhenti menunggunya.


"Ustad, pokoknya kalau ada apa-apa, kamu harus tanggung jawab," ancam Ustad Fariz pada Ustad Jaki.


"Udah tau orang hamil lagi sensitif malah ngomong kayak gitu. Dasar gak peka!" Shinta mengomel pada Ustad Jaki.


"Lah kamu gak hamil kenapa ikut marah-marah dari tadi? Kamu sensitif juga? Kamu gak sedang hamil kan?" Ustad Jaki malah membahas soal kesensitifan Shinta.


"Aku lagi mens!" Jawab Shinta dengan kesal dan beranjak dari kursinya berjalan meninggalkan rumah Umi Sarifah tanpa berpamitan pada Umi Sarifah yang berada di dalam rumah, saking kesalnya dia sampai melupakan harus berpamitan pada Umi Sarifah.


"Waduh gawat pada marah semua, gimana ini Ustad?" tanya Ustad Fariz pada Ustad Jaki.


"Ya udah ayo dikejar, ngapain malah Ustad di sini?" tanya Ustad Jaki heran sambil berdiri hendak mengejar Shinta yang masih terlihat berjalan akan keluar dari gerbang Pondok Pesantren.

__ADS_1


"Lah aku kira dia butuh waktu untuk sendiri," jawab Ustad Fariz yang tidak berpengalaman masalah seperti itu.


"Dasar gak peka!" seru Ustad Jaki sambil berjalan meninggalkan Ustad Fariz yang juga sudah berdiri hendak menyusul Rhea.


__ADS_2