
"Ada ide Ustad?" tanya Ustad Fariz.
"Ustad mau tau?" goda Ustad Jaki.
Ustad Fariz hanya menatap Ustad Jaki karena merasa dipermainkan.
"Iya, iya Ustad bakalan aku kasih tau, tapi gak tau ini bisa direalisasikan atau tidak," Ustad Jaki kembali menggoda Ustad Fariz.
"Udah deh Ustad langsung aja," sewot Ustad Fariz.
"Gini ustad, Zahra kan penulis, kita undang saja dia kesini, pasti dong banyak yang tertarik belajar dengan penulis yang udah punya banyak buku," ucap Ustad Jaki.
Ustad Fariz diam, dia berpikir sejenak.
"Bener juga Ustad, tapi apa yang lain setuju?" Ustad Fariz ragu.
"Coba nanti kita bicarakan dengan yang lain. Tapi Ustad, apa Zahra mau?" tanya Ustad Jaki.
"Ustad Jaki panggilnya Rhea aja, jangan Zahra," protes Ustad Fariz.
"Rhea? Kenapa Ustad?" tanya Ustad Jaki heran.
"Namanya Rheina Az Zahra, biasa dipanggil Rhea. Kalau Zahra itu panggilanku buat dia," Ustad Fariz menjelaskan.
"Cieee yang punya nama panggilan," goda Ustad Jaki pada Ustad Fariz.
"Oiya dong biar gak sama manggilnya dengan yang lain," Ustad Fariz membanggakan dirinya.
"Ck, percuma punya panggilan sayang kalau gak bisa miliki orangnya," cibir Ustad Jaki.
Seketika raut wajah Ustad Fariz berubah, dia tersenyum getir mengingat nasib percintaannya dengan Zahranya.
"Maaf Ustad," Ustad Jaki berdiri dan mengusap pundak Ustad Fariz.
"Sekarang mending Ustad Fariz tanyakan pada Rhea dia mau apa tidak jika diadakan acara untuk mendatangkan dia ke pesantren ini?" hibur Ustad Jaki agar Ustad Fariz tersenyum kembali.
Ustad Fariz menatap Ustad Jaki dan dia tersenyum. "Terima kasih Ustad selalu bisa membantuku. Aku selalu bersyukur bisa berada di tempat ini dan bertemu dengan Kyai Farhan, Ustad Jaki dan Umi Sarifah. Kalian semua sangat berarti buatku."
"Sama-sama Ustad. Kita kan saudara," Ustad Jaki memeluk Ustad Fariz sebelum keluar dari ruangan itu.
Di rumah nenek Rhea, Bik Darmi bertanya pada Rhea tentang Ustad Fariz. Rhea ragu untuk bercerita, namun Bik Darmi mengatakan bahwa dia mengetahui sesuatu dari mata Rhea dan Ustad Fariz ketika saling memandang.
Pak Sardi juga mengatakan demikian. Pak Sardi adalah suami dari Bik Darmi. Jadi tidak ada rahasia yang mereka simpan.
Rhea melihat Bik Darmi yang begitu tulus kepadanya. Sebenarnya Rhea ragu untuk menceritakannya, namun Bik Darmi pun sudah sedikit mengetahui tentang perasaan mereka masing-masing, jadi Rhea pun menceritakan mulai dari awal dia bertemu dengan Ustad Fariz di rumahnya sampai mereka bertemu kembali di desa ini.
Rhea bercerita dengan tersenyum namun matanya berkaca-kaca, dia mengingat kembali masa-masa sakit hatinya karena tidak bisa bersatu dengan cinta pertamanya meskipun mereka saling mencintai.
Kadang dia berpikir apakah dia dipermainkan oleh takdir, namun pikiran itu ditepisnya karena dia yakin Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuknya meskipun bukan sekarang.
Bik Darmi meneteskan air matanya mendengar cerita tentang Rhea dan Ustad Fariz. Bik Darmi berharap Allah akan mempersatukan mereka dengan caranya sendiri. Rhea tersenyum mendengar harapan dari Bik Darmi, kemudian dia memeluk Bik Darmi dan menuntaskan kesedihannya.
Dia menangis dipelukan Bik Darmi hingga Bik Darmi ingin sekali memberitahukan pada Ustad Fariz perasaan Rhea yang sebenarnya, namun Bik Darmi harus menahannya sampai Ustad Fariz bertanya sendiri padanya.
Tangisan Rhea berhenti ketika mendengar suara dering telepon pada ponselnya. Rhea beranjak dari pelukan Bik Darmi dan meraih ponselnya.
Dia bingung akan mengangkat panggilan itu atau tidak, karena yang meneleponnya sekarang adalah Ustad Fariz. Jika dia angkat, dia takut Ustad Fariz tau dia sedang menangis, namun telepon itu terus-terusan berdering jika tidak diangkat.
Akhirnya Rhea menetralkan suaranya, dia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah itu diangkatnya telepon itu, namun naasnya Ustad Fariz tahu jika Rhea habis menangis. Rhea mengelak tapi Ustad Fariz tidak percaya.
Akhirnya Ustad Fariz mengakhiri telepon itu dan ternyata dia mengalihkannya pada video call.
Rhea baru bernafas lega ketika Ustad Fariz mengakhiri panggilan teleponnya, namun dia kembali kaget dan bingung karena sekarang Ustad Fariz malah melakukan video call padanya.
Sungguh Rhea tidak tahu harus bagaimana, karena dia takut jika Ustad Fariz menanyakan alasan dia menangis tadi.
__ADS_1
Bik Darmi yang mengetahui itu memberi saran pada Rhea agar mengangkatnya karena pasti Ustad Fariz sangat khawatir padanya.
Akhirnya Rhea mengangkat video call dari Ustad Fariz tanpa memandang layar ponselnya. Dia hanya menunduk dan diam. Ustad Fariz memberitahukan niatannya untuk meminta Rhea berbagi ilmu di Pondok Pesantren Al-Mukmin meskipun Rhea tidak menatapnya sekarang ini, namun Ustad Fariz yakin setelah Rhea mendengar niatan Ustad Fariz dia pasti akan menatapnya.
Benar saja, setelah mendengar Ustad Fariz ingin dia berbagi ilmu di Pondok Pesantren Al-Mukmin, reflek Rhea menatap layar ponsel dan dia mengangguk setuju disertai senyum manisnya.
Ustad Fariz hanya diam menatap wajah Rhea dari ponselnya, dia tahu Rhea habis menangis dari suaranya dan dari matanya yang sembab, namun dia tidak mau bertanya itu sekarang, karena dia tahu Rhea pasti akan menolak untuk memberitahunya.
Keesokan harinya Ustad Fariz menyatakan pendapatnya pada Ustad dan Ustadzah yang lain tentang mendatangkan seorang penulis ke Pondok Pesantren ini, dan mereka semua setuju.
Ustad Jaki tersenyum melihat raut kebahagiaan pada wajah sahabat serta saudara angkatnya itu. Dia merasa bahwa memang kebahagiaan Ustad Fariz adalah bersama dengan Rhea. Dia berdoa agar Alah memberikan jalan yang terbaik untuk mereka berdua.
Selepas shalat ashar Ustad Fariz datang ke rumah Rhea. Saat itu Rhea sedang merekam adegan membuat kue. Dia membuat brownies dengan varian rasa yang berbeda-beda. Ustad Fariz memandang takjub wanita yang ada di hadapannya itu. Rhea terus saja melanjutkan acara membuat kuenya tanpa dia sadari ada Ustad Fariz di sana.
Bik Darmi menyadari tatapan Ustad Fariz yang penuh cinta dan mendamba anak majikannya itu. Sampai akhirnya Bik Darmi mengatakan jika dia mengetahui tentang awal pertemuan Ustad Fariz dengan keluarga Rhea sampai pertemuan mereka yang tidak sengaja di desa ini.
Sebenarnya Bik Darmi hanya memancing saja agar Ustad Fariz bertanya lebih jauh padanya. Karena jujur saja Bik Darmi gemas melihat dua insan itu yang saling mencintai namun sepertinya mereka tidak menyadari perasaannya.
Ustad Fariz pun terpancing, dia menanyakan tentang Rhea yang semalam, dan Bik Darmi membenarkan bahwa Rhea semalam menangis dan dia pun menceritakan semuanya. Ustad Fariz menundukkan kepalanya dan dia menghela nafas berat, rasanya dia juga tidak sanggup menahan air matanya.
Ditahannya air mata itu sekuat tenaganya karena perasaan perih dihatinya kembali terbuka sehingga dia merasakan sakit yang teramat dalam di dadanya. Berkali-kali dia menghirup nafas dan menghembuskannya agar rasa sesak di dadanya cepat hilang, dia tidak mau Rhea mengetahuinya karena Ustad Fariz tahu jika dia sedih pasti Rhea juga akan bersedih.
Sebenarnya dia sudah tahu cerita itu dari buku pertama yang diberikan oleh Rhea, namun dia berpikir bahwa buku tersebut dibumbui dengan bahasa-bahasa yang membuat orang lain tersentuh.
Tidak disangkanya bahwa semua itu benar adanya. Bukan hanya dirinya yang selama ini menderita, Zahra nya juga menderita, bahkan lebih dari yang dia rasakan.
Rhea sudah selesai dengan kegiatannya. Lagi-lagi dia kaget mendapati Ustad Fariz berada disitu pada saat dia merekam aktifitas memasaknya.
Karena saking bahagianya, tanpa sadar dia menyuapi Ustad Fariz dengan brownies dari piring yang dia bawa. Bik Darmi yang melihat itu segera menyingkir dan pergi ke teras menemani Pak Sardi, dia tidak mau mengganggu kebahagiaan dua orang itu.
Tadinya Ustad Fariz kaget menerima suapan dari Rhea, namun dia teringat masa-masa dulu ketika dia mencicipi masakan atau kue buatan Rhea ataupun Ibu pasti seperti ini, dia dipaksa mencicipi dan disuapi oleh Rhea.
Mungkin karena sudah terbiasa jadi Rhea reflek menyuapi Ustad Fariz ketika dia selesai membuat kue tadi.
Ustad Fariz tersenyum bahagia melihat senyuman bahagia dari Rhea. Sepertinya senyum kebahagiaan Rhea menular padanya.
Namun dia tetap mempertahankan senyumannya meskipun Ustad Fariz tahu jika dibalik senyuman itu terdapat kesedihan yang mendalam.
Untuk mengalihkan kesedihan Rhea, Ustad Fariz membicarakan tentang tawarannya tempo hari, dan Rhea sangat senang sekali mendengar bahwa dirinya diberi kesempatan untuk membagi ilmunya di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustad Fariz bertanya pada Rhea kapan dia akan datang ke sana, dan Rhea mengatakan kemungkinan lusa dia baru bisa ke sana, karena dia harus mempersiapkan semuanya sebelum datang ke sana. Dan Ustad Fariz pun setuju, dia akan mempersiapkan segala yang dibutuhkan Rhea selama di sana. Setelah itu mereka membahas apa saja yang akan Rhea butuhkan di sana.
Begitu asiknya mengobrol, tak terasa waktu sudah berjalan dengan begitu cepat sehingga Ustad Fariz harus pulang. Rhea memberikan bungkusan brownies buatannya tadi. Ustad Fariz mengatakan bahwa dia akan membaginya dengan Umi Sarifah.
Sedikit Rhea tahu bahwa Umi Sarifah adalah istri dari pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin yang telah mengangkat Ustad Fariz sebagai anaknya. Hanya itu saja yang Rhea tahu dari cerita Ustad Fariz tempo hari.
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustad Fariz baru datang dari rumah Rhea, dia memarkir motornya di depan rumah Umi Sarifah seperti biasanya. Umi Sarifah berada di teras dengan Ustad Jaki menikmati teh hangat dan singkong rebus.
Terpancar jelas binar kebahagiaan dari wajah Ustad Fariz. Ustad Jaki sudah mengerti, namun Umi Sarifah belum mengerti, sehingga dia heran melihat anaknya itu sepertinya sangat bahagia.
"Asaalamu'alaikum....," salam dari Ustad Fariz.
"Wa'alaikumusalam...," jawab serentak Umi Sarifah dan Ustad Jaki.
"Ada apa to le kok sepertinya bahagia sekali?" tanya Umi Sarifah.
"Baru menang lotre kali Umi," canda Ustad Jaki.
"Hussss sembarangan kamu ini le kalau ngomong. Dengarkan dulu Ustad Fariz kalau ngomong," Umi Sarifah mencegah Ustad Jaki bercanda karena Umi Sarifah ingin mengetahui apa yang membuat anaknya itu begitu bahagia.
"Ini Umi silahkan di makan," Ustad Fariz memberikan bungkusan kue dari Rhea.
"Ini apa le?" Umi Sarifah bertanya ketika menerima kotak bungkusan tersebut.
__ADS_1
"Brownies Umi, monggo dicicipi," Ustad Fariz membukakan kotak kue itu dan Umi Sarifah mengambil sepotong untuk dicicipi.
"Enak banget le, ini beli dimana?" tanya Umi Sarifah menyelidik.
"Dikasih Umi. Ini barusan matang loh Umi," Jawab Ustad Fariz dengan bangganya.
"Waah enak sekali loh, siapa yang buat?" Umi Sarifah bertanya kembali.
Ustad Fariz hanya tersenyum malu dan tidak menjawab.
"Umi, pasti Zahra yang ngasih kue ini, karena tadi kan Ustad Fariz datang ke rumahnya," sahut Ustad Jaki berniat untuk menggoda Ustad Fariz.
"Beneran le? Kamu ketemu sama dia?" Umi Sarifah menatap Ustad Fariz menunggu jawabannya.
"Enggeh Umi. Waktu itu gak sengaja ketemu di toko buku saat aku belanja buku untuk perpustakaan," Ustad Fariz kini berwajah serius namun tak bisa menutupi kebahagiaannya.
Umi Sarifah mengerti bahwa anaknya ini sangat bahagia. Dia hanya ingin melihat kebahagiaan anaknya sebelum dia meninggal.
Umi Sarifah mengusap-usap pelan rambut Ustad Fariz, dia ingin memberitahukan bahwa dia merestui semua keinginan anaknya itu demi kebahagiaannya.
"Jadi gak acaranya disini?" Ustad Jaki bertanya tentang acara Rhea di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Jadi, dia sangat senang sekali. Katanya lusa acaranya. Apa bisa?" Ustad Fariz bertanya pada Ustad Jaki.
"Gak masalah, kita adakan dimana acaranya? Di aula, halaman atau kelas?" tanya Ustad Jaki kembali.
"Menurutku langsung sekalian di tempat yang bisa menampung semuanya saja, karena ini bukan acara mengajar atau ekstrakurikuler yang bisa diajarkan di kelas," Ustad Fariz menyatakan pendapatnya.
"Semoga jadi, biar bisa ngajar rutin di kelas," Ustad Jaki kembali menggoda Ustad Fariz.
"Ada apa to ini le, apa kamu bisa menceritakan pada Umi?" Umi Sarifah ingin mengetahui yang terjadi pada anaknya.
"Nanti nggeh Mi, jangan sekarang, ini sudah mau maghrib," jawab Ustad Fariz disertai senyumnya yang selalu bisa menenangkan hati Umi Sarifah.
"Ya udah cepat ke Masjid, dan ini untuk kuenya tolong ucapkan terima kasih dari Umi ya," Umi Sarifah ikut menggoda Ustad Fariz.
"Enggeh Mi," Ustad Fariz tersipu malu.
Umi Sarifah kembali memakan kue tersebut sedangkan Ustad Fariz dan Ustad Jaki pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan para santri.
Setelah shalat Isya' Ustad Fariz dan Ustad Jaki makan bersama Umi Sarifah dan Mirna di Ndalem.
"Beli kue dimana Mi kok rasanya beda?" tanya Mirna ketika mencicipi kue brownies yang ada di meja makan.
"Enak kan? itu gak dijual loh di toko," jawab Umi Sarifah.
"Iya Mi enak, siapa yang buat Mi?" tanya Mirna kembali.
"Tadi ada yang ngasih Umi karena kebanyakan buatnya," jawab asal Umi Sarifah.
Mirna mengernyitkan dahinya bingung karena menurutnya tidak ada orang yang seperti itu.
"Kenapa kok sepertinya kamu bingung?" tanya Umi Sarifah sembari mengambil nasi ke piringnya.
"Gak ada Mi, cuma heran aja kok ada orang buat banyak kue malah ngasihnya ke orang yang gak dikenal," jawab Mirna sambil mengunyah brownies-nya.
"Tuh buktinya ada. Udah gak usah dipikirin. Kalau kamu suka dengan kuenya, kamu bisa belajar bikin kue darinya kalau kamu bertemu dengannya," ucap Umi Sarifah disela makannya.
"Bisa Mi'? Kalau bisa aku sangat beruntung," seru Mirna kegirangan.
Ustad Jaki menatap Ustad Fariz yang sedang makan dan menggeleng pelan sambil tersenyum.
Ustad Fariz hanya terdiam dan dia baru ingat belum memberitahukan ucapan terima kasih Umi Sarifah atas kue brownies pemberian darinya.
Setelah makan malam, Ustad Fariz mengirim pesan pada Rhea jika Umi Sarifah berterima kasih atas pemberian kuenya yang sangat enak kata Umi Sarifah dan Rhea sangat senang sekali karena kuenya mendapat pujian dari orang lain, dia berjanji akan membawa lagi jika ke sana. Mendengar itu Ustad Fariz jadi tidak sabar menunggu harinya.
__ADS_1
"Le bisa cerita sama Umi?"